Selasa, 17 Februari 2009

Rumah Melayu


KEARIFAN BUDAYA MELAYU
DALAM PENGELOLAAN TEMPAT TINGGAL
DI SUMATERA UTARA

Oleh Sudirman


Pendahuluan
Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan, dimiliki, dan digunakan oleh masyarakat untuk menjalankan kehidupannya. Wujud kebudayaan tersebut dapat berupa nilai-nilai, norma, prilaku, adat istiadat yang dimiliki masyarakat untuk mengatur kehidupannya. Juga dapat berbentuk tingkah laku, aktivitas yang dijalankan oleh masyarakat, serta benda-benda yang dihasilkan oleh masyarakat. Demikian juga halnya dengan masyarakat Melayu di Sumatera Utara, memiliki budaya tersendiri dalam pengelolaan dan adaptasi lingkungan, khususnya tempat tinggal yang akan dibicarakan pada artikel ini.
Dalam pengelolaan tempat tinggal itu sangat dipengaruhi oleh adat dan lingkungan yang disesuaikan nilai agama Islam.

Jenis Bangunan
a. Rumah tempat tinggal
Rumah tempat tinggal orang Melayu pada umumnya terdiri atas tiga jenis, yaitu rumah tiang enam, rumah tiang enam berserambi dan rumah tiang dua belas atau rumah serambi.
Tinggi tiang penyangga sekitar dua hingga dua setengah meter. Tinggi rumah induk bagian atas sekitar tiga hingga tiga setengah meter. Ruangan banyak memiliki jendela serta lobang udara (ventilasi), sehingga suasananya sejuk dan segar.
Bagian rumah
Tiang rumah. Tiang utama rumah ditanam ke dalam tanah sekitar tiga kaki. Penampang tiang ada yang dibuat berbentuk bulat atau bersegi empat dengan jenis kayu yang kuat. Tiang rumah diberi hiasan kumaian, yakni hiasan yang berbentuk lurus dan melengkung ke dalam sejajar dengan panjang tiang.
Selain tiang utama dibuat pula tiang pembantu yang penampangnya lebih kecil diberi nama tongkot atau soskong, tidak ditanam ke dalam tanah tetapi dibuat dengan memakai alas. Tiang gantung dibuat untuk keperluan anjung, beranda dan lain-lain.Tongkat-tongkat itu dibuat tidak sampai ke tiang tetapi hanya sampai ke gelegar atau bantalan lantai, sedangkan tiang di atas gelegar disesuaikan menurut ukuran.
Lantai. Lantai rumah orang Melayu tidak sama tingginya. Pada rumah induk lantainya lebih tinggi dibandingkan dengan lantai beranda depan dan belakang. Tinggi lantai rumah induk biasanya lima hingga enam kaki dari permukaan tanah. Bagi orang yang mampu, lantai rumah dibuat dari kayu pilihan dengan tebal papan satu inci. Bagi masyarakat biasa lantai dibuat dari papan biasa bahkan dari bambu atau anyaman tepas dan pelupuh.
Letak serambi depan dibuat lebih rendah satu kaki dari lantai ruang induk, demikian pula dengan beranda belakang. Lantai dapur dibuat lebih rendah lagi dari lantai beranda belakang namun yang paling rendah lagi adalah lantai selang atau pelataran. Lantai selang dibuat jarang yang berjarak sekitar dua jari dari lebar papan empat inci.
Dinding. Dinding rumah dibuat dari papan yang dipasang tegak lurus dan dijepit dengan kayu penutup (dinding kembung). Di bawah tutup tiang biasanya dibuat lobang angin yang diberi hiasan dengan tebukan. Semakin tinggi nilai tebukan itu semakin tinggi pula martabat orang yang punya rumah.
Anggal. Anggal terdapat pada dinding dapur, dibuat berbentuk para-para kecil yang menonjol keluar dinding di bawah atap dan dipisahkan dengan tempat piring atau alat dapur lainnya. Anggal disebut juga dengan selang pinggan. Selain itu terdapat pula anggal tikar yaitu tempat menyimpan tikar yang terdapat pada serambi belakang.
Pintu. Pintu masuk rumah orang Melayu dibuat mengarah ke jalan umum. Sebuah pintu ada yang terdiri atas satu daun pintu dan adapula yang terdiri atas dua daun pintu. Pengaman atau kunci pintu biasanya dibuat dengan memakai belah pintu atau palang pintu dari dalam. Belah pintu sebatang broti yang dipalangkan pada kedua kosen pintu. Pintu rumah dibuat terletak di sebelah kiri rumah. Di atas pintu biasanya dibuat tebukan yang indah dan juga menunjukkan status sosial yang punya rumah.
Jendela. Dalam istilah Melayu, jendela sama dengan tingkap atau kursi. Tingkap pada singap disebut tingkap bertongkat. Tingkap ini merupakan jendela anak dara di ruangan atas. Tingkap yang letaknya pada hubungan dapur disebut angkap. Jendela dibuka keluar, ada yang berdaun satu namun kebanyakan berdaun dua. Jendela dibuat dari papan dan digantung dengan engsel pada kosen. Pada kosen itu dipasang kisi-kisi atau telai yang tingginya 80-90 cm, biasanya dibuat ukiran.
Tangga. Tangga naik ke rumah dibuat mengarah ke jalan umum, pada kiri-kanan tangga diberi tangan tangga sebagai tempat pegangan atau untuk mencegah jatuhnya anak-anak di tangga. Tiang dan kepala tangga diberi hiasan dengan kumaian. Anak tangga biasanya dibuat ganjil karena menurut kepercayaan bahwa bilangan genap kurang baik artinya. Tangga depan selalu dibuat berada di bawah atap dan terletak pada pintu serambi depan atau selang muka. Tangga penghubung setiap ruangan terdiri atas satuan atau tiga buah anak tangga. Curam tangga sekitar 60 derejat dan sangat jarang tegak lurus.
Ikat pinggang. Ujung papan lantai maupun sisinya tidak terbuka, demikian juga kedua ujung gelegar dan harus tersembunyi dari pandangan. Untuk itu, sebagai penutupnya dipasang papan di sekeliling rumah, sehingga baik lantai maupun telan dan gelegar tidak kelihatan dari luar. Penutup itu dinamakan ikat pinggang.
Bubungan. Rumah Melayu memiliki bubungan panjang sederhana dan tinggi. Terkadang terjadi bubungan kembar panjang pada pertemuan atap dengan palang yang gunanya untuk menampung air hujan. Pada kedua perabung rumah induk dibuat terjungkit ke atas. Sedangkan pada bagian bawah bubungan atapnya melengkung, sehingga menambah keindahan rumah. Pada bahasan dapur sebelah belakang bubungan atap dibuat lebih tinggi dan terjungkit. Pada bagian itu disebut gajah minum atau gajah menyusui. Pada ujung rabung yang terjungkit dibagi dengan sekeping papan bertabuk sebagai hiasan. Sekaligus berfungsi sebagai penutup ujung kayu perabung. Selanjutnya pada bagian bawah, papan penutup dibuat semacam lesplang dibuat berukir memanjang menurun hingga ke bagian yang sejajar dengan tutup tiang. Lesplang yang berukir itu disebut pamelas. Bentuk pamelas itu melengkung mengikuti bentuk rangkas atap. Pamelas itu juga dihiasi dengan berbagai macam ukiran.[1]
Pada umumnya atap rumah dibuat dari daun nipah. Namun setelah ada seng maka atapnya diganti dengan atap seng.
Tata ruangan
Susunan ruangan rumah terdiri atas serambi depan dan selang depan. Ruang selang depan merupakan tempat untuk meletakkan barang yang tidak perlu dibawa ke dalam ruangan. Ruang selang itu merupakan bagian depan yang terendah. Sebelum menaiki tangga untuk sampai ke ruang selang maka dekat kaki tangga terdapat sebuah guci air untuk mencuci kaki.
Ruangan serambi depan letaknya lebih tinggi satu kaki dari selang depan. Untuk sampai ke serambi itu harus menaiki beberapa anak tangga yang jumlahnya ganjil. Pada ruang serambi depan tidak dijumpai kursi dan meja tetapi tikar atau permadani yang terbentang. Pada ruangan ini terdapat banyak jendela yang tingginya sejajar bahu orang duduk, sehingga memungkinkan orang duduk di ruangan itu dapat melihat ke halaman.
Ruangan induk. Terletak dari serambi depan hingga serambi tengah. Lantainya lebih tinggi sekitar 30 cm dari serambi depan. Antara serambi depan dengan rumah induk pada zaman dahulu tidak terdapat dinding namun sekarang sudah dibuat dinding pemisah antara ruang serambi depan dan rumah induk. Pada ruang induk dibuat tangga menuju ke ruang tempat tidur anak perempuan. Jendela-jendela yang terdapat di ruang ini sama dengan di serambi depan dan dihiasi dengan terawang berukir.
Serambi belakang. Pada sisi kanan rumah terdapat selang samping yang hampir sama dengan selang depan.. Juga terdapat guci air dekat tangga naik dan jumlah anak tangga yang ganjil.
Ruang dapur dan lantai selang. Dari serambi belakang melalui sebuah pintu sampailah ke ruang dapur dengan menuruni anak tangga yang ganjil. Dapur dibuat lebih rendah dari serambi belakang dan depan. Pada dinding dapur dibuat selangan pinggan tempat meletakkan piring. Di samping dapur dibuat lantai selang dengan tidak beratap. Lantai selang itu dibuat jarang-jarang dan untuk sampai ke bawah harus menuruni lagi beberapa anak tangga ganjil, diletakkan juga guci air untuk mencuci kaki.
Selang depan dibuat sebagai tempat meletakkan barang-barang tamu yang tidak dibawa ke dalam ruangan. Ruang serambi depan berfungsi sebagai tempat menerima tamu pria, tetangga dekat, orang-orang terhormat dan yang dituakan. Ruang serambi tengah atau ruang induk berfungsi sebagai tempat menerima tamu agung dan yang sangat dihormati. Ruang selang samping sebagai tempat meletakkan barang-barang yang tidak dibawa ke dalam ruang serambi belakang. Tempat ini merupakan jalan masuk bagi tamu wanita.
Dapur. Ruang dapur sebagai tempat memasak dan menyimpan barang-barang keperluan dapur.
Pada ruangan kalong rumah biasanya digunakan sebagai tempat bekerja sehari-hari dan menyimpan alat-alat rumah tangga. Sedangkan WC dan kandang ternak dibuat di belakang rumah.[2]
b. Rumah ibadah
Orang Melayu sebagai penganut agama Islam maka rumah ibadahnya adalah surau, langgar dan mesjid. Rumah ibadah orang Melayu ada yang berbentuk panggung dan adapula yang berbentuk rumah biasa. Demikian juga dengan bagian-bagian bangunan, ada tiang, lantai, atap, dan lainnya.
Susunan dalam ruangan terdiri atas ruangan yang luas dan pada bagian barat atau arah kiblat terdapat ruang yang menjorok keluar atau disebut dengan mihrab. Pada ruang mihrab terdapat mimbar tempat khatib membaca khutbah. Tempat wuduk dibuat terpisah dengan bangunan mesjid, biasanya di samping kiri atau kanan.
c.Tempat Musyawarah
Bagi orang Melayu setiap ada masalah diselesaikan secara bersama dengan prinsip musyawarah. Tempat musyawarah tidak dibangun tempat tersendiri tetapi musyawarah dilaksanakan di mesjid, surau atau langgar. Oleh karena itu, tempat ibadah sekaligus dipakai untuk tempat musyawarah atau sosial lainnya.
d. Tempat menyimpan
Bangunan khusus untuk menyimpan tidak ada pada masyarakat Melayu, yang adalah tempat untuk menyimpan padi atau disebut dengan lumbung padi. Pintu masuk ke dalam lumbung padi dibuat melalui ruang tidur si pemilik rumah. Dengan anggapan bahwa harta yang paling bernilai adalah padi sebagai makanan pokok, sehingga harus dijaga dengan baik.
Upacara Mendirikan bangunan
Bagi orang Melayu adat merupakan identitas atau jati diri, hal itu seperti terdapat dalam peribahasa Melayu hidup dikandung adat, mati dikandung tanah atau biar mati anak asal jangan mati adat. Adat berarti perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan kemudian menjadi kebiasaan yang dihormati.[3] Adat merupakan tradisi, kebiasaan, tingkah laku dan diamalkan secara turun-temurun dalam masyarakat.[4] Seorang anggota masyarakat merasa bersalah apabila tidak melaksanakan adat tersebut dan yang melanggar adat akan mendapat sanksi sosial. Menurut Husny[5] pada dasarnya adat berperan untuk memelihara keharmonisan, tata susila, kejujuran, kepatuhan, dan merupakan perintah tidak tertulis.
Aktivitas adat berfungsi menanamkan kebersamaan atau senasib sepenanggungan sebagai wujud kehidupan masyarakat Melayu. Scheiner[6] menyatakan bahwa adat merupakan sikap tradisi yang sesuai dengan norma-norma yang diajarkan oleh nenek moyang sebagai ikatan yang harus dilaksanakan oleh individu atau kelompok. Oleh karena itu, masyarakat Melayu termasuk masyarakat yang berpegang teguh dengan adat walaupun zaman terus mengalami perubahan. Adat bagi orang Melayu menggunakan benda sebagai simbol yang dijadikan alat penghubung antara dunia nyata dan alam gaib. Menurut Malinowski[7] kedudukan benda yang digunakan dalam upacara ritual tidak hanya diukur dari nilai materil benda itu tetapi mempunyai nilai tertentu dari segi magis dan religi, namun ritual adat tersebut bagi orang Melayu merupakan ritual yang bercorak keislaman karena bercirikan kemelayuan. Islam dengan Melayu seperti daging dengan darah yang sukar memisahkannya.[8] Pembauran antara nilai agama dan adat dalam ritual yang dinyatakan dalam bentuk simbol harus ada pada setiap upacara. Simbol dalam ritual dijadikan sebagai paradigma yang mengandung nilai-nilai kepercayaan. Simbol dalam ritual menjadi sangat penting bagi suatu masyarakat yang cenderung percaya akan adanya kekuatan lain diluar kekuatan manusia.[9]
Sebelum mendirikan bangunan rumah terlebih dahulu diadakan beberapa uapacara. Upacara itu antara lain upacara meramal tempat, pada upacara ini juga ditetapkan hari baik untuk mendirikan rumah. Selanjutnya upacara tepung tawar. Upacara ini dilakukan supaya selama menempati rumah tidak mendapat gangguan makhluk halus. Juga diharapkan berkah dan selamat sejahtera hingga anak cucu.
Tempat upacara meramal dan menentukan hari baik adalah di tempat lokasi tanah yang akan didirikan rumah. Seorang pawang melihat situasi tempat yang akan didirikan rumah. Ke arah mana rumah itu dibuat, letak pintu, bangunan induk, dan jendela harus didirikan. Supaya pemilik rumah mendapat berkah dan limpahan rezeki serta kesehatan.
Upacara meramal tempat dan hari baik cukup dilaksanakan oleh seorang pawang kemudian hasilnya diberitahukan kepada pemiliknya. Untuk upacara tepung tawar dilaksanakan pada tapak rumah yang sudah ditentukan. Upacara tepung tawar dilakukan oleh pemilik rumah dengan dihadiri oleh pawang, keluarga, tetangga, dan orang tua kampung. Upacara tepung tawar dipimpin oleh pawang dibantu oleh orang tua kampung.
Bahan-bahan yang dipakai untuk upacara meramal tempat dan hari baik adalah perdupaan. Dalam perdupaan itu dimasukkan kemenyan yang dibakar. Sedangkan upacara tepung tawar memakai bahan ramuan penabur dan perdupaan. Pada ramuan penabur terdapat beras putih, beras kuning, bertih, bunga rampai dan tepung beras.
Pada saat sedang mendirikan rumah dilakukan lagi upacara, yaitu uapacara tepung tawar tiang tengah. Upacara itu dilaksanakan supaya selama mendirikan rumah tidak terjadi kesulitan dan halangan, baik si pekerja maupun pemilik rumah. Selanjutnya juga bertujuan supaya rumah yang dibangun itu serasi dan dapat memberikan ketenangan serta berkah bagi penghuninya.
Tepung tawar tiang tengah dilaksanakan di lokasi tapak rumah pada pagi hari. Upacara itu dilaksanakan oleh pemilik bangunan yang dipimpin oleh pawang, dihadiri keluarga, tetangga, dan orang tua kampung. Bahan yang dipakai dalam upacara ini adalah setandan pisang emas, sebuah kelapa yang sudah tumbuh, satu buah kundur dan ikatan rinjisan tepung tawar, perca kain berwarna putih, merah, kuning dan hitam.
Setelah tiang tengah pertama didirikan baru dilakukan upacara tepung tawar. Setandan pisang emas, kelapa tumbuh, buah kundur dan rinjisan tepung tawar digantungkan pada tiang tengah hingga rumah selesai dibangun. Pada puncak tiang tengah dipasang selembar panji yang merupakan lambang kebesaran si pemilik bangunan. Setelah semua tiang berdiri, pada setiap atas diletakkan perca merah, kuning dan hitam. Perca merah melambangkan keberanian dan kehidupan, perca putih melambangkan kebersihan, dan perca hitam melambangkan tenaga gaib. Dengan demikian, keseluruhan perca itu bahwa tiang-tiang sebagai penegak dan pendukung rumah telah diberkati dengan kekuatan gaib.
Bahan upacara berupa setandan pisang emas melambangkan kebahagiaan dan kecukupan. Buah kelapa tumbuh melambangkan pertumbuhan dan kehidupan yang sempurna. Buah kundur melambangkan kesejahteraan dan ketentraman. Ikatan rinjisan tepung tawar berarti seruan atau doa atas kesempurnaan kehidupan di rumah tersebut.
Setelah selesai mendirikan rumah, diadakan lagi upacara tepung tawar rumah sekaligus menaiki rumah baru. Upacara itu dilakukan supaya penghuni rumah memperoleh berkah dan ketenangan. Selain itu, juga sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa semenjak hari itu rumah tersebut mulai dihuni. Upacara itu dilaksankan di rumah baru, waktunya ketika matahari terbit. Hal itu diartikan bahwa berkah dan rezeki terus naik. Upacara itu dihadiri oleh keluarga, tetangga atau orang kampung dan dipimpin oleh seorang yang ditunjuk, seperti imam atau pawang.
Bahan-bahan dalam upacara itu adalah sesumpit beras, setandan pisang emas, sebutir telur dan seperangkat alat tepung tawar. Upacara dimulai semenjak pemilik rumah menjejakkan kakinya di tangga rumah hingga seluruh keluarga berada dalam ruangan rumah.
Pada keempat penjuru rumah ditanam pohon kalijuhang dan karat besi untuk mengusir makhluk halus atau hantu tanah.
Ketika memasuki rumah baru dibawa serta alat-alat rumah tangga dan barang keberkahan lainnya, yaitu air sekendi yang telah diisi sehari semalam sebelum menghuni rumah baru, untuk ketenangan dan kejernihan pemilik rumah. Alquran, sebagai lambang iman, sehingga setiap prilaku pemilik rumah harus mengikuti syariat agama Islam.
Dekat tiang rumah sudah disediakan sesumpit beras sebagai perlambang kesuburan, setandan pisang emas sebagai perlambang rezeki, tepung tawar sebagai satuan untuk kesempurnaan dan sebutir telur yang berarti tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Famili menaburkan bertih dan ramuan penabur lainnya diiringi dengan upacara selamat. Keluarga pemilik rumah diantar ke ruang tengah dan diadakan upacara tepung tawar oleh orang tua-tua.
Setelah selesai upacara diadakan jamuan makan bersama setelah lebih dahulu diadakan pembacaan doa selamat. Sisa air tepung tawar digunakan untuk menepungtawari setiap ruangan dan tiang rumah. Sedangkan air sekendi dan Alquran diletakkan pada tempat yang baik dekat tiang tengah. Pada hari ketiga setelah upacara mendaki rumah, beras, pisang dan beberapa benda lainnya disedekahkan kepada fakir miskin atau siapa saja yang dianggap berhak menerima sedekah.
Ragam hias bangunan
Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh budaya luar maka bentuk-bentuk fauna dalam hias Melayu mulai memasuki pola ragam hias Melayu. Namun kebanyakan masih berbentuk salur-salur yang saling berkaitan dan mempunyai hubungan dengan ragam hias Arab. Bermotifkan flora berasal dari saluran-saluran bunga melati, ragam hias bunga matahari, ragam hias tampung pinang, ragam hias genting tak putus, ragam hias roda bunga, ragam hias lilit kangkung, dan ragam hias pucuk rebung.
Ragam hias berbentuk fauna antara lain ragam hias naga berjuang. Bentuk ragam hias naga berjuang adalah dua ekor naga yang saling berhadapan dalam ruangan setengah lingkaran dari bagian empat persegi panjang yang dikomposisikan. Ragam hias naga berjuang diletakkan pada lobang udara di atas pintu depan. Ragam hias roda bunga dan burung diletakkan pada lobang udara pintu depan atau di atas sebuah jendela. Demikian juga ragam hias tumbuh-tumbuhan dan burung diletakkan di atas pintu atau jendela sebagai lobang udara.
Ragam hias itu diletakkan pada tempat tertentu, misalnya, ragam hias bunga matahari ditempatkan pada singap dalam yaitu penyekat bagian atas antara ruang induk dengan ruang belakang atau depan. Ragam hias genting tak putus terletak pada lobang bawah bagian dalam yaitu batas antara serambi tengah dengan ruang kamar dan dibatasi oleh dinding sebagai penyekatnya. Pada bagian atas dinding penyekat itu ditempatkan papan yang diberi ukiran terawang yang dapat berbentuk segi tiga atau segi empat, sesuai dengan bentuk susunan konstruksi atap rumah. Ragam hias itu berfungsi sebagai ventilasi pada bagian dalam.
Ragam hias itu diartikan dengan maksud tertentu, misalnya, ragam hias bunga matahari bermakna ketentraman dan kerukunan, berkat dan rasa nyaman bagi penghuni rumah. Ragam hias roda bunga sebagai keindahan dan menandakan ketentraman penghuni rumah. Ragam hias lilit kangkung melambangkan semangat yang tidak kunjung padam.
Ragam hias alam. Ragam hias alam berupa ragam hias ombak-ombak. Ragam ini berbentuk setengah lingkaran yang digandakan. Ragam hias ini biasanya ditempatkan pada tutup angin atau ikat pinggang. Sering juga ragam hias ini ditempatkan pada lesplang atau penutup ujung-ujung tiang.[10]
Penutup
Proses pembangunan rumah pada masyarakat Melayu di Sumatera Utara tidak terlepas dari adat resam, lingkungan, dan syariat Islam. Adat resam Melayu merupakan penghayatan hidup yang teratur dan tersusun, memberi ketenangan dan kebahagiaan, baik perorangan, keluarga maupun masyarakat pada umumnya. Adat resam itu serasi, selaras dan seimbang terhadap kepentingan pribadi, keluarga maupun masyarakat, sehingga kepentingan pribadi yang esensial tidak tertindas oleh kepentingan pihak-pihak lain.
Lingkungan turut menentukan bentuk rumah orang Melayu. Hal itu terlihat pada kampung Melayu yang bersifat memanjang berbanjar mengikuti jalur sungai atau jalur jalan. Setiap rumah memiliki pekarangan yang luas dan ditumbuhi oleh pohon buah-buahan. Udara dan cahaya harus cukup memasuki ruangan rumah, sehingga terasa segar dan nyaman bagi penghuninya. Berdasarkan pengaruh lingkungan maka bentuk rumah Melayu pada dasarnya berkalong atau berpanggung dan bertiang tinggi. Hal itu berguna untuk penyelamatan dari bahaya banjir dan ancaman binatang buas serta menghindari dari kelembaban dan merupakan tempat kerja darurat dan menyimpan perkakas kerja.
Dalam membangun rumah orang Melayu sangat memperhatikan nilai syariat Islam. Letak ruang laki-laki berbeda dengan ruang perempuan. Hiasan pada lobang angin dan dinding tidak ada atau jarang yang bermotifkan hewan dan manusia. Namun dengan masuknya pengaruh budaya luar maka timbullah ukiran-ukiran bermotifkan margasatwa dan gambar-gambar makhluk hidup. Motif-motif itu kemudian disesuaikan dengan nilai agama Islam.


[1]S.P. Napitupulu, dkk., Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara, Jakarta : Depdikbud, 1997, hlm. 119-130.
[2]Ibid., hlm. 132-133.
[3]Sidi Gazalba, Pengantar Kebudayaan sebagai Ilmu, Jakarta : Pustaka antara, 1967.
[4]Selat Norazit, Konsep Asas Antropologi, Kuala Lumpur : Dewan Pustaka dan Bahasa.
[5]Tengku Husny, Lintasan Sejarah Peradaban dan Budaya Melayu Pesisir Deli Sumatera Utara 1612-1950. Medan : B.P. Husny.
[6]L. Scheiner, Telah ku dengar dari Ayahku : Pertemuan adat dengan iman Kristiani, Jakarta : BPK Gunung Mulia.
[7]B. Malinowski, Magic, science and religion. New Jersey : Doubleday anchor Books.
[8]Syah Abdullah, Hukum Islam dan Kaitannya dengan Adat pada Suku Melayu di Pesisir Sumatera, Syarahan Perdana IAIN Medan.
[9]C. Geertz, “Ritual and Sosial Change : a Javanese example”, American Anthropologist (61) : 991-1012.
[10]S.P. Napitupulu., op.cit.,hlm. 143-152.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar