Senin, 23 Februari 2009

Jepang 1

BAB I
PENDAHULUAN
By sudirman

A. Latar Belakang
Setiap bangsa di dunia ini mempunyai sejarahnya sindiri-sendiri. Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu tentang perbuatan manusia yang mempunyai makna sosial.1 Pengetahuan itu disusun berdasarkan sumber dari berbagai macam bentuk peninggalan dari berbagai peristiwa.
Pada era informasi global dewasa ini, tuntutan masyarakat dan zaman semakin menghendaki adanya keterbukaan informasi, dalam berbagai aspek kehidupan. Begitu juga sejarah, sebagai salah satu sumber informasi sangat dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakat dalam rangka menemukan dan memupuk jadi diri bangsa, guna merancang dan mempersiapkan kehidupannya di masa yang akan datang.
Untuk itu sangat disadari bahwa pengetahuan sejarah bukan hanya untuk mengulang peristiwa lama, atau mengingat nama-nama dan kejadian tertentu. Justru dapat membuat terlena terhadap perkembangan masa kini maupun kecenderungan masa depan. Sejarah masa lalu harus dapat digunakan untuk menjelaskan keterkaitannya dengan situasi dewasa ini, serta menemukan dan mengenali tantangan masa depan.
Kesadaran akan sejarah merupakan kekuatan yang dapat membuat suatu bangsa tegak berdiri, walau diterpa berbagai macam ujian dan cobaan. Bagi bangsa kita, kesadaran bahwa bangsa ini telah dilahirkan dan dibentuk melalui serangkaian perjuangan, harus menjadikan bangsa kita senantiasa teguh dalam memantapkan dan mengaktualisasikan segala sesuatu yang telah diperjuangkan dengan berbagai macam pengorbanan.
Kearifan sejarah, hendaknya dapat menjadikan bangsa Indonesia mengetahui secara lebih mendalam bahwa persatuan dan kekuatan bangsa merupakan sarana dan wahana utama untuk membangun dan kelangsungan hidup serta membela martabat bangsa. Oleh karena itu, sejarah masa lampau memang tidak hanya untuk disimak dan direnungkan, namun juga harus digali maknanya kemudian kita ambil hikmahnya. Semua itu harus mampu diaplikasikan dan diproyeksikan secara adaptif dan konstektual ke dalam sarana dan kebutuhan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.
Pembinaan identitas bangsa seperti disebutkan di atas tidak mungkin dilepaskan dari kesadaran bangsa itu dari kesejarahan. Oleh karena itu, salah satu cara pembinaan identitas itu diperoleh melalui rekonstruksi masa lalu. Rekonstruksi masa lalu dapat dilakukan melalui berbagai macam peninggalan sejarah, baik dalam bentuk tertulis maupun dalam bentuk sumber lisan dan benda peninggalan.
Dalam penelitian ini inventarisasi sumber sejarah dilakukan dalam bentuk sumber lisan di Kota Banda Aceh dan sumber tertulis secara keseluruhan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dengan tidak bermaksud membangkitkan masa lalu yang berlebihan, sebagaimana sudah diketahui bahwa Banda Aceh (Bandar Aceh) telah berkembang peasat semenjak zaman kerajaan, bahkan sebagai pusat perkembangan politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan agama, bukan saja di Nusantara, juga di Asia Tenggara.2
Bandar Aceh Darussalam sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tentu banyak mengalami dan menyimpan berbagai peristiwa bersejarah. Sebagian peristiwa itu sudah ditulis melalui berbagai macam sumber, namun adakalanya belum banyak ditulis karena belum ada sumber tertulis. Hal itu, terlebih periode-periode kontemporer sangat sedikit tersedianya sumber tertulis seperti pada zaman pendudukan Jepang karena banyak arsip-arsipnya dimusnahkan ketika Jepang meninggalkan Indonesia.
Untuk mengantisipasi keterbatasan data tertulis, sangat tepat untuk dilakukan pengumpulan sumber sejarah melalui inventarisasi sumber lisan. Di samping itu, para pelaku dan saksi sejarah lama kelamaan menjadi habis karena keterbatasan umur dalam hidupnya. Oleh karena itu, suatu kebutuhan segera untuk melakukan inventarisasi sumber sejarah dalam bentuk sumber lisan.
B. Perumusan Masalah
Dalam metodologi sejarah dikenal adanya sumber sejarah yang utama yaitu sumber lisan dan sumber tertulis. Sumber lisan berupa rekaman-rekaman suara dari suatu peristiwa, rekaman suara dari para pelaku atau saksi suatu peristiwa sejarah, pidato-pidato, dan sebagainya. Sedangkan sumber tertulis antara lain berupa arsip, dokumen, catatan harian, buku-buku yang berkaitan dengan suatu peristiwa sejarah, brosur, dan sebagainya.
Pada dasarnya masih banyak aspek peninggalan sejarah dan kebudayaan yang ada di Aceh belum terungkap secara holistik. Dengan demikian, masih dimungkinkan adanya upaya yang terus menerus secara berkesinambungan dan terpadu untuk mengungkap segala aspek kehidupan masyarakat Aceh.
Permasalahan sejarah yang sangat kompleks sehingga banyak yang tidak terekam dalam dokumen-dokumen. Hal itu dikarenakan dokumen hanya menjadi saksi dari kejadian penting menurut pembuat dokumen dan zamannya, tetapi tidak melestarikan kejadian-kejadian individual dan unik yang dialami oleh perseorangan.
Dengan penelitian sumber lisan mampu menjangkau pelaku-pelaku sejarah dengan peranan yang kecil sekalipun. Sampai sekarang sejarah yang kita kenal hanyalah sejarah dari tokoh-tokoh dan kelompok yang karena posisinya dapat terjangkau oleh dokumen resmi. Dengan hanya menyuguhkan sejarah tingkat atas, tidak akan terjelaskan peranan rakyat “kecil” dalam setiap peristiwa sejarah. Oleh karena itu, pengumpulan sumber sejarah dalam bentuk sumber lisan sangat penting. Dalam penelitian ini sekaligus melakukan pengumpulan sumber sejarah dalam bentuk sumber tertulis.
Untuk itu, penelitian ini berusaha menggali berbagai macam peristiwa dan pengalaman masa lampau di Kota Banda Aceh yang berguna bagi penulisan sejarah dan sosialisasi memori kolektif sebagai perekat bangsa.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam rangka menyelamatkan informasi sumber sejarah, baik tertulis maupun dari memori sumber lisan, sangat diperlukan adanya usaha inventarisasi dan mengoleksi informasi sumber sejarah tentang peristiwa sejarah sebanyak-banyaknya atau semaksimal mungkin. Dengan demikian, untuk sumber sejarah, khususnya periode kontemporer akan lebih banyak dan memiliki wawasan perbandingan sumber yang lebih banyak dan akurat.
Inventarisasi sumber sejarah dalam bentuk sumber lisan adalah untuk pengadaan sumber sejarah dan memperkaya penulisan sejarah secara substantif. Selain “memburu” sumber lisan untuk sumber penulisan sejarah, juga sangat diperlukan untuk mensosialisasikan memori kolektif3 kepada masyarakat luas. Melalui memori kolektif diharapkan terbentuk semacam “ikatan” antara berbagai suku dan daerah yang ada di tanah air. Selain itu, dapat menjadi masukan kepada pemerintah, hendak selalu melihat pengalaman masa lampau supaya selalu arif dan bijaksana dalam setiap mengambil keputusan.
D. Ruang Lingkup Penelitian
Setiap penelitian yang berkaitan dengan sejarah harus mencerminkan urutan kejadian sebagai hal yang mengawali dan rangkaian sebab akibat serta tempat peristiwa itu terjadi. Untuk itu, penelitian ini membuat batasan waktu yaitu zaman pendudukan Jepang (1942--1945). Periode ini dipilih karena berdasarkan berbagai peristiwa penting yang menentukan masa depan Aceh selanjutnya. Selain itu, pelaku dan penyaksi sejarah periode ini semakin lama semakin hilang sehingga perlu segera dilakukan penyelamatan sumber sejarah darinya.
Adapun batasan tempat dalam penelitian ini adalah Kota Banda Aceh. Daerah termasuk salah satu daerah yang banyak mengalami dan menyimpan berbagai peristiwa bersejarah yang belum banyak dikaji dan terdokumentasi.
E. Metode Penelitian
Suatu kegiatan ilmiah tidak hanya sekedar mengamati gejala yang menarik perhatian, tetapi juga menganalisis secara objektif, logis dan sistematis sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, peranan metode yang tepat dan sesuai dengan tema yang diteliti perlu diutamakan.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah wawancara terhadap pelaku dan penyaksi sejarah. Wawancara itu dilakukan dalam bentuk percakapan tanya jawab, dengan sebelum sudah dipersiapkan daftar pertanyaan. Wawancara itu direkam dengan alat perekam (tape recorder).
Setelah wawancara memenuhi target yang diharapkan informasi dari nara sumber, langkah selanjutnya adalah mengadakan transkripsi yaitu memindahkan hasil rekaman wawancara dalam bentuk tulisan. Transkripsi itu dengan memindahkan hasil rekaman seperti apa adanya yang termuat dalam rekaman. Hasil wawancara yang sudah diketik itu kemudian dibuat dalam bentuk naskah laporan penelitian. Sedangkan untuk sumber tertulis dilakukan melalui berbagai perpustakaan dan koleksi yang dimiliki oleh orang-orang tertentu.
F. Orientasi Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas, hasil penelitian ini disusun dalam beberapa bagian. Penyusunan ini dilandasi oleh keinginan supaya dapat menyajikan suatu gambaran yang sistematis dan mudah dipahami. Tulisan ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama berupa pendahuluan, yang terdiri atas latar belakang pemikiran, perumusan masalah, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penelitian, metode, serta sistematika penulisan. Bagian kedua adalah inventarisasi sumber sejarah dalam bentuk sumber tertulis. Bagian ketiga adalah inventarisasi sumber sejarah dalam bentuk sumber lisan. Bagian keempat adalah penutup, terdiri atas kesimpulan dan saran.



Bab II
Sumber Tertulis


Sejarah adalah peristiwa masa lampau, sekaligus merupakan kisah yang tertususun berdasarkan peristiwa. Namun disadari sepenuhnya bahwa hasil yang disusun adalah upaya rekonstruksi yang dilakukan oleh penyusun kisah sesuai dengan persepsi, apresiasi dan interpretasi. Ketika hal itulah yang antara lain menyebabkan banyak sajian kisah yang berbeda dari masa lampau dalam kurun waktu yang sama. Peristiwa masa lampau yang masih meninggalkan jejak atau petunjuk dapat dikatakan sangat sedikit dan bukan merupakan suatu kesinambungan yang jelas, tersebar di berbagai tempat dan tidak pernah lengkap.
Sehubungan dengan itu, upaya inventarisasi sumber sejarah tertulis maupun lisan perlu dilakukan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan kajian dari sumber tertulis dan lisan yang meliputi berbagai peristiwa zaman Jepang.

1.Judul : Atjeh en de Oorlog met Japan
Penulis : Dr. A. J. Piekaar
Penerbit : NV. Uitgeverij W. van Hoeve, ‘s-Gravenhage-Bandung, 1949
Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Aceh dan Peperangan dengan Jepang, alihbahasa Aboe Bakar, penerbit Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, cetakan kedua, 1998.
Buku itu terdiri atas 6 bab ; bab pertama, Aceh sebelum peperangan dengan Jepang. Dibagi dalam beberapa pasal, yaitu keadaan politik umum, kebijaksanaan Pemerintah dan masalah-masalah Pemerintahan, Aliran-aliran politik dan keagamaan, keadaan perekonomian, Perkembangan budaya, Peperangan dengan Jerman, ringkasan. Bab kedua Bulan-bulan pertama terjadi peperangan, pertahanan rakyat. Bab ketiga Gerakan permusuhan sebelum pendaratan Jepang. Terdiri atas tiga pasal, yaitu perlawanan di Aceh Besar, tindakan sabotasi di Sigli, perlawanan di Calang. Bab IV Serangan Jepang, Operasi Militer. Bab V Gerakan Perlawanan semasa penyerbuan Jepang. Terdiri atas tiga pasal yaitu, Aceh Besar (Sabang, Kutaraja dan Seulimuem). Aceh Utara (Sigli, Lmmeulo, Meureudu, Bireun, Takengon, Lhokseumawe dan Lhoksukon). Aceh Timur (Idi, Langsa, Teumiang, Gayo Lues dan tanah Alas). Bab VI adalah Tinjauan Sesudahnya. Terakhir adalah Lampiran yang terdiri atas Pengetahuan dan Masyarakat.

Bahan yang diambil : Pada malam tanggal 11/12 Maret 1942 terjadilah serangan Jepang di Sumatera bagian utara yang sudah lama dinanti-nantikan. Selain pendaratan di Sabang, terjadi pula pendaratan-pendaratan pada tiga daerah lain, yaitu di sebelah Timur Laut Kutaraja dekat Ujong Batee, di sebelah utara Langsa dekat Kuala Bugak dan dalam Keresidenan Sumatera Timur di sebelah selatan Medan dekat Tanjung Tiram, (Piekaar, hlm. 201-203)
Semenjak pecah perang dengan Jepang pada tanggal 8 Desember 1941, dislokasi kekuatan pasukan di Aceh mengalami perubahan-perubahan penting. Pasukan-pasukan yang tersedia yang tadinya dikonsentrasikan pada tempat yang dianggap sangat strategis seperti Pulau Weh dan ladang-ladang minyak di Langsa, Temiang dan Sumatera Timur tidak dipertahankan. Berakhirnya pertempuran di Melaka dan di tempat-tempat lain menimbulkan kesadaran, bahwa titik berat pertahanan harus dipindahkan kepada peperangan kecil di pedalaman. Kejatuhan Singapura pada tanggal 15 Februari yang diikuti dengan Palembang pada tanggal 16 Februari 1942 memberi petunjuk, bahwa akan segera terjadi serangan. Dalam waktu itu, Komando teritorial Sumatera Timur telah dipisahkan dari Aceh Kolonel R.T. Overakker yang tidak lama kemudian diangkat menjadi Mayor Jenderal, dipindahkan dari Jawa ke Sumatera dan mulai menjalankan tugasnya pada tanggal 9 Februari selaku Komandan territorial Sumatera Tengah yang baru dibentuk itu. Di samping itu, Jenderal Overakker diserahi tugas pimpinan pertahanan seluruh Sumatera Tengah dan Utara.
Akibatnya, Komando Kolonel Gosenson menjadi terbatas sampai keresidenan Aceh dan daerah takluknya saja, sebuah daerah yang benar-benar dikenalnya. Pertengahan bulan Februari ia menempatkan markas besarnya di wilayah Takengon, Aceh Tengah, tempat ia mempersiapkan perang gerilya di daerah pegunungan Aceh (wilayah Tekengon, Gayo Lues dan Tanah Alas) setelah Jepang menduduki daerah-daerah pantai. Dalam penempatan itu, penempatan pasukan di Sabang semakin berkurang, sementara dengan dirusakkannya ladang-ladang minyak di wilayah-wilayah Langsa dan Temiang telah membebaskan sejumlah besar brigade dari tugas-tugas mereka. Akibatnya telah memungkinkan dilakukannya pengelompokan kembali anggota-anggota pasukan dalam menunaikan tugas-tugas mereka, (hlm. 201-203).

Komentar : Buku yang ditulis oleh A. J. Piekaar ini salah satu buku yang khusus ditulis tentang pendudukan Jepang di Aceh. Namun buku ini lebih banyak menjelaskan gerakan-gerakan sabotase terhadap Belanda dalam rangka memuluskan masuknya Jepang ke Aceh.
(Koleksi Pustaka BKSNT Banda Aceh)

2. Judul : Revolusi di Serambi Mekah : Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949
Penerbit : Universitas Indonesia Press, 1999
Penulis : Nazaruddin Sjamsuddin.
Buku ini terdiri atas 6 bab ; bab pertama adalah pendahuluan. Bab kedua, Menghadapi Kekuatan Kolonial ; terdiri atas Aceh di bawah Belanda dan Masa Pendudukan Jepang. Bab ketiga, Menjawab Panggilan Proklamasi ; Terdiri atas Lahirnya Republik di Aceh, Pemuda Menderapkan Langkah, Angkatan Tua Menentukan. Bab keempat, Memperebutkan Kekuasaan ; terdiri atas Ulama dan Uleebalang Berhadapan, Kaum Radikal Terus Melangkah. Bab kelima, Berjuang Sambil Bertarung ; terdiri atas Rezim PUSA Berkuasa, Kelompok Oposisi Bergerak, Teungku Muhammad Daud Beureu-eh Berjaya. Bab keenam adalah Penutup.

Bahan yang diambil : Rasa dendam rakyat Aceh yang begitu berakar terhadap Belanda telah dinyatakan dan dianjurkan dengan sangat jelas dalam salah satu Hikayat Prang Sabi. Bait yang berbunyi : bek teumakot ngon Beulanda kaphee, musoh sabee meupusaka (jangan bersahabat dengan kafir Belanda, musuh kita turun-temurun). Mendorong rakyat Aceh untuk terus memusuhi kekuasaan Belanda. Rasa dendam itu kemudian disalurkan dalam usaha untuk mendapat bantuan Jepang begitu pasukan Negeri Matahari Terbit itu mendarat di Penang, Semenanjung Melayu, pada pertengahan Desember 1941.
Banyak sekali pihak yang terlibat dalam upaya itu, baik yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Baik pihak uleebalang maupun PUSA sama-sama pernah menghubungi pihak Jepang di Malaya antara bulan-bulan Januari dan Februari 1942. Di antara nama yang disebut-sebut sebagai utusan PUSA adalah Teungku Syekh Abdul Hamid. Dari pihak uleebalang, utusan yang dikirim adalah Teuku Musa dari Lhoksukon dan Teuku Ali Basyah dari Panton Labu. Namun utusan-utusan ini pun berangkat dengan mengatasnamakan PUSA juga, mengingat dewasa itu PUSA memang sangat berpengaruh. Semua pelaku itu menghubungi Jepang dengan cara mereka sendiri, dan selanjutnya membantu mempersiapkan pendarata Tentara ke-25 Jepang di Aceh.
Mengenai kontak dengan Jepang, baik sumber Jepang maupun sumber Aceh lebih banyak mengungkapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Sayid Abubakar, seorang anggota Pemuda PUSA yang melarikan diri dari Kerajaan Belanda dengan menetap si sebuah kampong Aceh di Kedah. Konon Sayid Abubakar membuka hubungan dengan dinas intelijen Jepang, Fujuwara Kikan atau Barisan Fujiwara, yang dipimpin oleh Mayor Iwaichi Fujiwara. Hubungan itu sangat menggembirakan Fujiwara, karena perwira intelijen itu memang sudah diperintahkan oleh Kepala Staf Markas Besar Tentara Kerajaan Jepang, Jenderal Sugiyami, untuk membina hubungan dengan orang-orang Aceh. Fujiwara diinstruksikan untuk mendorong tumbuhnya perasaan anti Belanda dan pro-Jepang di Aceh. Pentingnya hubungan yang dilakukan oleh Sayid Abubakar itu bagi Fujiwara terutama karena ia telah diberi tahu oleh Komando Tentara ke-25 bahwa markas pasukan yang berkedudukan di Singapura itu sama sekali tidak dapat membantunya.
Melalui Mayor Fujiwara, Sayid Abubakar berkenalan dengan agen intel Sahei Masubuchi yang kemudian ikut juga berperan dalam pemerintahan militer Jepang di Aceh. Fujiwara mengangkat Sayid Abubakar sebagai pemimpin kelompok Aceh dalam organisasi kolone kelima, Fujiwara Kikan, dan tunduk kepada Masubuchi. Fujiwara Kikan yang di Sumatera dikenal juga sebagai Barisan F, memang dibentuk untuk memudahkan penyerbuan Jepang ke Asia Tenggara. Sayid Abubakar serta anggota kelompok yang dipimpinnya antara lain ditugaskan oleh Fujiwara untuk membina rakyat Aceh sehingga mau membantu pendaratan Jepang dan menggagalkan usaha Belanda untuk merusak infrastruktur strategis yang ada, (hlm. 41-43)

Komentar : Buku ini ditulis khusus untuk menjelaskan sejarah revolusi kemerdekaan di Aceh, khususnya mengenai pergolakan antara PUSA dan Uleebalang di Aceh. Namun sebagai latar belakang untuk menjelaskan permasalahan itu, diuraikan juga sekilas tentang zaman Pemerintahan Hindia Belanda dan zaman Pendudukan Jepang.
(Koleksi Pustaka Ali Hasjmy)
3. Judul : Perjuangan Rakyat Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra.
Penulis : Anthony Reid
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1987.
Buku ini terjemahan dari buku yang berjudul The Blood of the People : Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra.
Penerbit : Oxford University Press. Penerjemahnya dilakukan oleh Tim Pustaka Sinar Harapan.
Buku ini terdiri atas sembilan (9) bagian. Bagian pertama, Susunan Daulat Kerajaan. Bagian kedua, Aceh di Bawah Kekuasaan Belanda ; bagian ini terdiri atas Perlawanan Bersenjata, Mendukung Uleebalang, Bentuk-bentuk Perlawanan Uleebalang, Pendidikan, Kebangkitan Kembali Agama dan Ulama, PUSA, Uleebalang dalam Sasaran. Bagian ketiga, Jaringan Suku-Suku di Sumatra Timur ; bagian ini terdiri atas Si Kulit Putih, Kuli Kontrak, Kesultanan Kaya : Deli-Langkat-Serdang, Kerajaan Melayu lainnya di Sumatra, Para Sultan dan Belanda pada Tahun 1930-an, Simalungun, Tanah Karo, Budaya Baru Perkotaan, Pergerakan Politik, Persatuan Sumatra Timur, Masalah Tanah, 1938-1941. Bagian keempat, 1942 : Berebut Pengaruh ; bagian ini terdiri atas Menghubungi Jepang, Pemberontakan di Aceh, Di bawah Kontrol Barisan F, Sumatra Timur Terpecah-pecah, Kembalinya Raja-raja, Gerakan Aron. Bagian kelima, Pengalaman Jepang ; bagian ini terdiri atas Perubahan Pemerintah, Peranan Baru Kaum Pergerakan, Politik Islam 1942-1943, Mobilisasi Militer, Giyugun, Berpartisipasi, Tekanan Ekonomi, Gerak Maju PUSA 1943-1944, Talapeta, Mempersiapkan Kemerdekaan Rezim Jepang dalam Krisis, Tokoh-Tokoh pemimpin Sumatra. Bagian keenam, Pelopor-Pelopor Revolusi di Sumatra Timur ; bagian ini terdiri atas Sebuah Kota tanpa Pimpinan, Pemuda Bergerak, Proklamasi Republik di Sumatra, Pendaratan Sekutu dan Tindakan Kekerasan, Pemuda Siap Berperang, Konfrontasi dengan Inggris dan Jepang, Republik dan Kerajaan, Pembentukan Partai-partai Politik. Bagian ketujuh, Pudarnya Pamor Uleebalang ; bagian ini terdiri atas Yang tumbuh dan yang runtuh, Tegaknya Pemerintahan Republik Aceh, Perjuangan Mendapatkan Senjata, Polarisasi di Pidie, Perang Cumbok, Hancurnya Kekuasaan Uleebalang. Bagian kedelapan, Revolusi Sosial ; bagian ini terdiri atas Pemerintahan Raja-raja Ambruk, Persatuan Perjuangan dan Polarisasi, Malam Berdarah, Revolusi atau Perebutan Kekuasaan, Reaksi. Bagian kesembilan, Pergerakan, Politikus, dan Petani.

Bahan yang diambil : Tidak sabar menunggu lebih lama untuk menunaikan missinya, Said Abubakar berangkat dua kemudian dari Kuala Selangor. Perahu bermotor kecil yang membawa dia dan kira-kira enam orang lagi mendarat beberapa hari kemudian di Tanjung Balai, Asahan. Perahu bermotor lainnya yang membawa sejumlah anggota penyusup F-Kikan yang sama banyaknya dengan yang pertama, mendarat dekat Bagan Siapi-api. Rombongan ini terutama terdiri atas orang-orang Aceh, beberapa orang Batak, Minang dan lain-lain. Ternyata kedua rombongan itu sempat membuang senjata-senjatanya, menyerah kepada petugas-petuga Belanda dan ditahan di Medan. Rombongan ketiga yang dikirim Masabuchi dari Penang pada tangga 13 Februari juga tertangkap dan ditahan di Idi. Dengan cara yang sangat meyakinkan mereka mengaku pengungsi dari daerah pertempuran di Malaya sehingga sebagian besar mereka dibolehkan kembali ke kampong halamannya dalam bulan Februari. Tokoh penting Said Abubakar, telah dibebaskan di Aceh pada tanggal 13 Februari. Selama dalam tahanan dia sempat mengadakan kontak dengan kawan-kawannya di PUSA. Dia pun berhasil mendapatkan jaminan berupa surat tanda “orang baik” dari tokoh-tokoh pejabat Aceh yang terkemuka seperti T. M. Hasan dan Tuanku Mahmud, (hlm. 150-151)
Pemberontakan besar yang menyeluruh berlangsung hanya empat hari di Aceh Besar pada bulan April dan kurang dari itu pada sebagian besar daerah lain di Aceh. Tentara Jepang mendarat pada tangga 12 Maret dekat Kutaraja dan Peureulak (Aceh Timur). Mereka menguasai kota-kota penting di Aceh dalam satu hari yang sama dengan runtuhnya regim Belanda, dan di sambut meriah oleh penduduk. Meskipun begitu, pergolakan di Aceh telah menghadapkan Jepang dengan berbagai masalah yang berat, (hlm. 154).
Prioritas utama dari Balatentara Jepang di kawasan Selatan pada awal tahun 1943 adalah mempertahankan setiap wilayah dari kemungkinan serangan balasan Sekutu. Berbagai kebijakan semakin ditundukkan untuk mencapai tujuan ini. Pemindahan Markas Besar Tentara Ke-25 Jepang ke Bukit Tinggi pada tangga 1 Mei 1943 adalah petunjuk dari peranan penting yang akan dimainkan Sumatra dalam menghadapi setiap serangan Sekutu dan pentingnya setiap wilayah mencukupi kebutuhan militernya sendiri. Dalam pertahanan pulau Sumatra, kedudukan daerah Aceh menrupakan titik genting sebagai kemungkinan sasaran utama angkatan perang Sekutu di India/Srilangka yang berada di bawah komando Mountbatten, dan yang akan membuka jalan ke instalasi-instalasi minyak di Pangkalan Brandan dan selanjutnya maju memperebutkan Malaya dan Singapura. Perhitungan-perhitungan Jepang itu telah diperkuat dengan semakin meningkatnya pemboman Sekutu atas pelabuhan-pelabuhan di Aceh dari udara dan laut yang dimulai dengan serangan terhadap Kutaraja dan Aceh Barat pada bulan Desember 1942. Kekuatan inti Tentara ke-25 Divisi Kanoe Daini, telah ditugaskan di sepanjang pantai utara Sumatra, antara Kutaraja dan Medan, (hlm. 191.)
Aceh menjadi provinsi di Sumatra yang paling dibebankan untuk membangun instalasi-instalasi pertahanan, lapangan terbang, dan paling membutuhkan dukungan tentara pendudukan yang besar. Di samping itu, pemberotakan Bayu telah memperkuat kesan pada bulan Maret 1942, bahwa orang Aceh adalah yang paling kuat rasa bagga dirinya dan yang paling tidak mempunyai rasa gentar di antara penduduk Sumatra. Tetapi, seperti orang Batak Karo di Sumatra Timur, semangat agresifnya dapat dimanfaatkan Jepang “jika kita dapat memimpin mereka kea rah yang benar dengan jalan propaganda yang tepat.” Oleh karena itu, selama masa pendudukan, Aceh dianggap Jepang sebagai daerah utama merekrut tenaga baru untuk dijadikan seorang militer atau semi militer.
Usul pertama pada bulan November 1942 mengenai hal ini ditujukan untuk merekrut pemuda-pemuda Aceh yang paling giat dalam politik untuk dijadikan pasukan khusus yang akan dihadapkan untuk melayani gerakan gerlya Cina di Malaya, Tetapi, tugas-tugas dari kekuatan ini segera diubah untuk keperluan di Aceh sendiri. Pada bulan Februari 1943 dimulai latihan Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Khusus. Ini adalah pasukan mobil dalam formasi militer. Serdadu-serdadu Indonesia bekas KNIL Belanda menjadi inti yang kecil jumlahnya dalam pasukan ini, tetapi sebagian besar terdiri atas pemuda-pemuda Aceh didikan Jepang. Sebagai kesempatan pertama bagi orang-orang Aceh mendapatkan latihan militer yang modern, Tokubetsu Kaisatsukai telah menarik banyak anak muda. Pada menjelang menyerahnya Jepang mereka terdiri atas 750 orang yang tersebar di sepanjang panta-pantai Aceh menjalankan tugas pertahanan dan kontraspionase. Beberapa orang Indonesia menduduki jabatan perwira rendahan, tetapi komandan keseluruhannya adalah seorang sipil Jepang, Kuroiwa, yang sifatnya keras.
Pada bulan Mei 1943 dimulai merekrut pemuda-pemuda untuk dijadikan Heiho (serdadu pembantu) di seluruh Sumatra. Mereka juga akan diberikan latihan militer, tetapi kemudian hanya diperbantukan pada satuan-satuan militer Jepang untuk kerja kasar, tugas jaga, dan lain-lain tugas pembantu. Tidak ada syarat pendidikan dalam penerimaan mereka. Gaji dimulai dengan hanya Rp 6/bulan (Rp 35 yang tinggal bersama keluarganya di luar asrama). Penerimaan angkatan pertama ternyata tidak membawa kesulitan, dengan penerimaan sejumlah 169 orang dari Asahan, dan 320 dari daerah Simalungun dan Tebing Tinggi. Tetapi pada penerimaan angkatan kedua pada bulan November dan penerimaan selanjutnya Heiho telah dicerca sebagai bentuk kerja paksa, terutama di Aceh, (hlm. 193.)
Bergesernya posisi Jepang menjadi depensive selama tahun 1943, segera membawa konsesi-konsesi yang lebih besar bagi perjuangan nasional Indonesia, baik di bidang militer maupun di bidang pemerintahan. Pada bulan Juni, Jepang sudah mempersiapkan suatu strategi pertahanan baru bagi pulau-pulau Indonesia yang akan memungkinkan tentara Jepang memusatkan pikiran dan tenaganya kepada front-front pertempuran besar dan peranan strateginya sebagai inti pertahanan setiap pulau. Tugas peranan territorial di sepanjang seluruh pantai kepulauan itu akan dibebankan kepada pasukan-pasukan Indonesia yang telah ditempa dalam semangat nasional. Untuk ini diperlukan suatu pasukan bersenjata yang mempunyai kepercayaan diri sendiri dengan korps perwiranya sendiri. Supaya bias menang dalam peperangan ini, Jepang sekarang bersedia memberikan alat ampuh kepada Indonesia, yang tidak pernah dulunya terpikirkan Belanda.
Langkah pertama untuk merekrut perwira-perwira Indonesia telah ditetapkan oleh Gunseibu Sumatra di Bukittinggi pada akhir September, tidak lama sesudah pembukaan yang dramatis Giyugun-nya Jawa, yang kemudian dikenal dengan nama Peta. Pelaksanaan rencana ini tidak sama di Sumatra. Sumatra Barat mulai pendaftaran rekrutnya secara luas selama bulan Oktober. Aceh tidak lama kemudian pada bulan November, dan provinsi-provinsi lainnya, termasuk Sumatra Timur, akhirnya menyusul dalam skala yang lebih sederhana. Pasukan baru ini di Sumatra dikenal dengan nama Jepangnya Giyugun (barisan sukarela). Mengenai gaji, syarat-syarat kerja, dan peraturan-peraturan ditetapkan sama dengan tentara Jepang, dengan kemungkinan dapat mencapai pangkat kapten dengan gaji Rp 150/bulan, (hlm. 194-195.)

Komentar : Buku ini terjemahan dari bahasa Inggris, termasuk salah satu buku yang banyak menjelaskan tentang pendudukan Jepang, baik di Aceh maupun di Sumatera Utara.
(Koleksi Pustaka Ali Hasjmy)

4.Judul : Sejarah Aceh : Sebuah Gugatan terhadap Tradisi
Penulis : M. Isa Sulaiman
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, 1997
Buku ini terdiri atas tujuh bab. Bab pertama, Tradisi dan Transportasi dalam Masyarakat Aceh Menjelang Perang Asia Timur Raya ; terdiri atas pusat-pusat pertumbuhan, Hulubalang dalam struktur Pemerintah Kolonial, Dayah dan Elit Ulama Tradisional, Madrasah dan Pembentukan Ulama Pembaharu, Pola Hubungan Antarkelompok. Bab kedua, Politik Keseimbangan dan Peningkatan Intensitas Konflik ; terdiri atas Mengadakan Hubungan dengan Jepang dan Pembentukan F Kikan, Hulubalang dalam Struktur Pemerintah Baru, Konsesi-konsesi yang dinikmati oleh Elit Agama, Eskalasi Konflik. Bab ketiga, Pengambilalihan Kekuasaan dari Tangan Hulubalang ; terdiri atas Kapitulasi Jepang dan Pembentukan Negara Republik, Pertempuran Memperebut Senjata di Sigli dan Perang Cumbok, Ekspedisi Tentara Perjuangan Rakyat. Bab keempat, Berjuang dan Memerintah ; terdiri atas Memikul Beban Perjuangan, Memoles Wajah Aceh Lebih Islami, Persoalan Tawanan dan Harta Hulubalang, Gerakan-gerakan Pembangkangan ; Gerakan Sayid Ali Asagaf dan Langsa Affair. Bab kelima, Penghapusan Otonomi dan Permasalahan yang Menyertainya ; terdiri atas Provinsi yang menjadi Objek Perdebatan, Penghapusan Otonomi dan Masalah Birokrasi, Penghapusan Otonomi dan Masalah Ekonomi, Penghapusan Otonomi dan Masalah Penerapan Hukum Agama, Majelis Penimbang dan Masalah Harta Hulubalang, Persiapan Menuju Pemberontakan. Bab keenam, Bertempur Sambil Mencari Penyelesaian Politik 1953-1956 ; terdiri atas Meletusnya pemberontakan dan Operasi Pemulihan, Militaire Bijstand dan Konsolidasi Kekuatan Gerombolan, Tanggapan dari rekan Politik atau Seperjuangan, Terombang-ambing antara Operasi Militer dengan Penyelesaian Politis, Tanggapan dari Saingan Politik Gerombolan. Bab ketujuh, Otonomi dan Pemulihan Keamanan ; terdiri atas Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana serta Tercapainya Genjatan Senjata, Pembangunan, rahabilitasi dan perundingan, Tanggapan dari Saingan Politik Gerombolan, Operasi Militer, pembangunan dan Berunding dengan Kelompok Garis Keras.

Bahan yang diambil : Tugas guntyo sungguh berat terutama mengenai pengerahan tenaga gotong royong, pengambilan pemuda-pemudanya menjadi Heiho, Gyugun, Tokubetsu mengumpul pemuda menurut jatah yang ditentukan. Mereka berdiri di atas dua api, saying rakyat kena gasak dari Jepang, melaksanakan perintah Jepang rakyat teraniaya. Kenangan mantan guntyo Seulimuem 1942-1943, T. M. Ali Panglima Polem, itu kiranya dapat memberikan gambaran betapa posisi hulubalang dalam jabatan barunya sebagai perangkat militer. Sebulan setelah invansi, daerah Aceh bersama sembilan keresidenan lainnya di Sumatera dimasukkan ke dalam komandemen militer ke-25 yang bermarkas di Singapura (kemudian dipindahkan ke Bukittinggi). Sebagai unit daerah militer, keresidenan Aceh diperintah oleh S. Iino dengan sebutan syu tyo kan.
Dalam penyelenggaraan pemerintah, Pemerintah Militer seperti pendahulunya memberlakukan kebijaksanaan pemerintah tidak langsung dengan mempergunakan elit local. Pilihan pertama yang mereka angkat tentulah jatuh kepada kaum bangsawan yang telah bersimpati kepada F Kikan. Figur-figur seperti Teuku Nyak Arif, T. M. Ali Panglima Polem, Teuku Cut Hasan (1900-146) dan Teuku Ahmad Jeunieb dipercayakan pada jabatan gunco (kepala wilayah) sebuah jabatan promosi, karena sebelumnya jabatan kepala wilayah (controleur) dipegang oleh Belanda. Mengingat jabatan guntyo mencapai 21 buah, maka hulubalang-hulubalang berpengaruh seperti T. M. Hasan Glumpang Payong, T. M. Daud Cumbok, T. Chik Mahmud Meureudu dan Teuku Chik M. Daud Cumbok, Teuku Chik Mahmud Meureudu dan Teuku Chik M. Daudsyah dipromosikan juga pada jabatan guntyo di daerahnya, walaupun mereka bukan pendukung F Kikan, sedangkan hulubalang yang tidak memperoleh promosi direstorasi kembali pada kedudukan semula dalam sebuah sontyo, (hlm. 87-88.)
Penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945 baru diketahui secara resmi oleh rakyat Aceh pada tanggal 25 Agustus 1945 ketika edisi terakhir surat kabar Aceh Sinbun pada headlinenya memuat pengumuman dari Syu Tyokan S. Iino tentang berakhirnya perang dan himbauan kepada rakyat agar tetap tertib. Kontingen militer Aceh yaitu gyugun, Hikojo Kinmutai dan Tokobetsu Keisatsutai yang sebelumnya tinggal di barak-barak dibubarkan dan bergabung kembali dengan rakyat. Di lain pihak Sekutu pada tanggal 29 Agustus 1945 mulai mendaratkan pasukannya di Sabang, sementara pesawat-pesawat mereka semenjak saat itu berkali-kali melintasi Kutaraja dan beberapa kota lainnya dengan maksud menjatuhkan selebaran yang berisikan pernyataan berakhirnya perang dan sekaligus rencana mereka untuk melucuti Jepang.
Peristiwa yang drastis itu sangat mengejutkan para pemimpin Aceh terutama mereka yang telah terlalu jauh bekerjasama dengan Jepang semenjak masa pendaratan hingga pendudukan sebagaimana diakui sendiri oleh T. M. A. Panglima Polem, Sayid Ali Alaydrus, Ali Hasjmy dan Mr. S. M. Amin.
Kegusaran tersebut semakin bertambah dengan kedatangan Mayor Knottenbelt di Kutaraja pada Oktober 1945, sehingga mendorong sejumlah mantan Kolone Kelima F Kikan berusaha melarikan diri ke Semenanjung Malaya melalui Medan, (hlm. 114-115.)

Komentar : Buku ini ditulis untuk menjelaskan sejarah kontemporer tentang Aceh semenjak tahun 1942 hingga 1951, tetapi periode Jepang sudah banyak yang menjelaskan maka buku tersebut lebih ditekankan pembahasannya pada periode setelah Jepang. Pembahasan tentang Jepang dijelaskan secara sekilas pada bab dua dan tiga.
(Koleksi Pustaka Ali Hasjmy)


5.Judul : Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Aceh.
Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional (Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional 1982/1983
Penulis : Zakaria Ahmad, dkk.
Buku ini terdiri atas tiga bab. Bab pertama berisikan Perlawanan Terhadap Portugis : terdiri atas Kontak dan Konflik Aceh-Portugis dan Akhir dari Konflik. Bab II Perlawanan Terhadap Belanda ; terdiri atas Perlawanan Terhadap Belanda ; terdiri atas Latar Belakang Hubungan Aceh Belanda, Konflik Sebelum Perang Aceh Belanda, Masa Perang 1873-1912, Beberapa Kasus Perlawanan Hingga Jepang Masuk. Bab III Perlawanan Terhadap Jepang ; terdiri atas Selayang Pandang Latar Belakang Situasi Aceh Menjelang Kehadiran Jepang, Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Jepang.

Bahan yang diambil : kebencian yang mendalam terhadap Jepang semakin mengendap. Endapan kebencian lambat laun menimbulkan luapan perasaan yang tidak dapat dikendalikan lagi yang akhirnya tercetus dalam bentuk perlawanan fisik berupa konflik terbuka. Perlawanan berupa insiden kecil yang dilakukan rakyat maupun gyugun yang telah mereka latih terjadi pada tahun 1943 di daerah Blang Ara. Perlawanan gyugun yang lain pecah di daerah Meureudu yang dipelopori oleh oleh T. Abdul Hamid salah seorang perwira gyugun. Ia kemudian melarikan dua pleton gyugun ke gunung, tetapi kemudian terpaksa menyerah setelah Jepang menawan semua keluarga sebagai sandera, (hlm. 103.)

Perang Bayu
Sekitar tujuh bulan sesudah masuknya Jepang ke Aceh, terjadilah insiden pertama sebagai perlawanan rakyat Aceh di bawah pimpinan Teungku Abdul Jalil. Pada suatu malam dalam pada bulan Juli 1942, Teungku Abdul Jalil diundang untuk memberikan dakwah di Kampung Krueng Lingka Kecamatan Baktya Aceh Utara. Dalam dakwahnya dia mengecam Jepang dan membentangkan hal-hal yang membahayakan agama dan keadaan rakyat yang makin lama makin buruk ekonominya dan hak-hak kemanusiaan yang tidak diperdulikan. Oleh karena itu, ia menganjurkan untuk berjihad fisabilillah dami untuk membela agama dan rakyat dengan melawan Jepang, (hlm. 104-105)
Perang Pandrah
Perang Pandrah berlangsung ketika beberapa bulan lagi Jepang meninggalkan bumi Aceh. Faktor motivasi terjadi perang, selain sebab perjuangan yang bersifat membela agama, juga faktor ekonomi yang mempertahankan hak milik dari perampasan yang terus menerus dilakukan oleh rezim Pendudukan Jepang. Sebelum melakukan penyerangan ke tangsi militer di Lheue Simpang, terlebih dahulu mereka menyiapkan persiapan dan perbekalan guna menghadapi serangan Jepang. Pada 24 April 1945, Keucik Lheue yang bernama Usman telah mengadakan rapat guna mengadakan perlawanan terhadap Jepang, (hlm. 106-107.)

Komentar : Buku ini ditulis khusus untuk menjelaskan tentang sejarah Perlawanan Rakyat Aceh terhadap penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang. Namun penjelasannya belum begitu lengkap ; hanya menjelaskan peristiwa yang menonjol dan belum menjelaskan secara rinci. (Koleksi Rusdi Sufi)
6. Judul : Jihad Akhbar di Medan Area
Penulis : Amran Zamzami
Penerbit : Bulan Bintang, Jakarta, 1990.
Buku ini terdiri atas sepuluh bagian. Bagian yang ada kaitannya dengan Pendudukan Jepang adalah pada bagia kedua, yaitu Lahirnya Kekuatan Bersenjata di Aceh ; terdiri atas Angkatan Bersenjata di Aceh, Lasykar Rakyat, Merebut Senjata Jepang : Perebutan Senjata Jepang di Krueng Panjo, Perebutan Senjata Jepang di Seulimuem, Penyerahan senjata Jepang di Sigli, Juli, Gelanggang Labu, Perebutan Senjata Jepang di Langsa dan Bakongan, Perebutan Senjata Jepang di Lhoknga, Perebutan senjata Jepang di Meulaboh. Insiden Langsa-Kuala Simpang, Pelajar Pejuang, Pembentukan TNI di Aceh, Bengkel Senjata Artileri, Bireun Markas Komando.

Bahan yang diambil : Senjata memegang perana penting untuk menunjang kekuatan militer. Apa artinya suatu kesatuan tentara tanpa persenjataan. Hal itu tidak ubahnya bagai burung tanpa sayap, demikian juga bagi angkatan pertahanan di Aceh. Setelah kekuatan-kekuatan bersenjata baik yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia maupun yang terhimpun dalam barisan lasykar-lasykar rakyat terbentuk dan berhasil melengkapi susunan organisasinya maka keperluan yang mendesak adalah mengupayakan perlengkapan utama bagi suatu kesatuan militer, yaitu persenjataan. Kesadaran mengenai arti pentingnya persenjataan telah timbul semenjak awal.
Untuk memenuhi keperluan tersebut, satu-satunya cara yang paling cepat dan efektif adalah merebut senjata dari tentara Jepang yang masih ada di Aceh. Mereka belum angkat kaki. Mereka masih berkeliaran, bahkan mereka masih menerima tugas dari bekas musuhnya untuk menjaga ketertiban di Aceh dan Sumatera Utara. Mereka masih menimbun senjata di gudang-gudang penyimpan baik yang mereka rahasiakan maupun yang telah diketahui oleh pejuang-pejuang Aceh.
Beberapa senjata yang tadinya berada di tangan putra-putra Aceh yang mengikuti kemiliteran Jepang seperti kaigun, gyugun, tokubetsu kaisatsutai, diminta kembali oleh Jepang dan mereka simpan. Seolah-olah mereka takut kalau putra-putra Aceh dengan senjata di tangan akan menghukum kebengisan Jepang ketka masih berkuasa. Atau, terkandung niat untuk menggunakan senjata-senjata itu dalam perang gerilya melawan Sekutu, NICA dan Belanda apabila terjadi perubahan situasi.
Melihat gelagat yang demikian itu, para pemuda yang tergabung dalam kesatuan-kesatuan militer maupun kelasykaran bertekad untuk melakukan perlucutan terhadap Jepang. Jika mereka masih bertahan, terpaksa dilakukan kekerasan. Bukankah saatnya sudah tiba dan iklimpun sudah berganti musim.
Rencana demi rencana dilakukan oleh beberapa kelompok pejuang Aceh untuk menyerbu gudang-gudang persenjataan Jepang di beberapa tempat. Maka terjadilah peristiwa-peristiwa heroik yang tidak lepas dari jatuhnya korban jiwa dalam menghadapi Jepang. Beberapa peristiwa perebutan senjata itu antara lain, seperti yang sudah disebutkan di atas, (hlm. 58-59.)
Komentar : Buku ini ditulis sebagai pengalamannya sebagai salah seorang pelaku sejarah, baik masa pendudukan Jepang mapun setelahnya. Isi buku itu pada umumnya penjelasan tentang peran masyarakat Aceh pada pertempuran Medan Area, ketika terjadi Agresi Belanda pertama dan kedua.
(Koleksi BKSNT Banda Aceh)
7.Judul : Mr. Teuku Moehammad Hasan Dari ke Pemersatu Bangsa
Editor : Teuku Mohammad Isa
Penerbit : Papas Sinar Sinanti, Jakarta, 1999.
Buku ini terdiri atas 29 bagian. Bagian yang berkaitan dengan pendudukan Jepang adalah pada bagian 8 dan 9. Pada bagian 8 (Jepang Mendarat di Sumatera) penjelasannya terdiri atas Rakyat menyambut gembira Tentara Jepang, Dipanggil Jenderal Tentara Jepang, Memimpin Koperasi Pegawai Negeri, Memimpin Kantor Tinzukyoku, Calon utusan Sumatera ke Tokyo, Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bagian 9 (Pentadbiran Tantara Jepang di Sumatera), penjelasannya terdiri atas Jepang Mereyu Rakyat Indonesia, Pemerintahan Militer Jepang di Sumatera, Kantor Gunseibu di Medan, Dinas Penerangan, M. Syafei Memimpin Tyo Sangi In (Dewan Panasihat Sumatera), Tentara Jepang mengerahkan rakyat membantu pertahanan Jepang, Jepang mencetak uang baru, Monopoli Jepang menggantikan Belanda, Polisi Militer (kempetai) Jepang yang kejam, Penderitaan, Pemberontakan rakyat Sumatera terhadap Jepang, Gerakan Anti Jepang, Janji kemerdekaan oleh Perdana Mentri Jepang, Koiso, Badan Kebaktian Rakyat, Usaha Jepang yang terakhir, Sikap tentara Jepang di Sumatera, Bung Karno ditolak Berkunjung ke Sumatera.
Bahan yang diambil : Terutama pada akhir pemerintahan Jepang, rakyat di Sumatera banyak yang menderita, berhubung dengan inflasi, kekurangan makanan, pemotongan pohon-pohon kelapa, pengambilan padi rakyat, kekurangan kain untuk pakaian, dan lainnya. Akibat kekurangan kain, untuk keluar rumah orang-orang terpaksa memakai goni, orang yang mati dikebumikan dengan tikar sebagai kafan.
Romusha semakin banyak dikerahkan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pertahanan seperti memasang kawat berduri, menggali parit-parit, mendirikan kubu-kubu, dan lainnya. Jumlah kaum romusha yang menemui ajalnya karena keletihan, penyakit, kurang makan, dan sebagainya tidak terhitung banyaknya, (hlm. 200-201.)
Komentar : Buku ini ditulis sebagai biografi Mr. Teuku Muhammad Hasan, sehingga isi buku ini banyak menjelaskan tentang peranan Teuku Mohammad Hasan. Penjelasan tentang zaman pendudukan Jepang dalam buku itu masih bersifat umum terutama di Medan dan Aceh.
Komentar : Buku ini ditulis untuk menjelaskan peran Mr. Teuku Moehammad Hasan di pentas sejarah Indonesia. Dengan demikian, isi buku lebih bersifat biografi tokoh sejarah. Termasuk pengalamannya pada masa pendudukan Jepang.
(Koleksi BKSNT Banda Aceh)

8. Judul : 50 Tahun Aceh Membangun
Penulis : Ali Hasjmy, dkk.
Penerbit : MUI Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995
Buku ini terdiri dari tiga bagian. Tulisan yang berkaitan dengan pendudukan Jepang terdapat pada bagian pertama (Masa Sebelum Kemerdekaan), yaitu pada subagian Bergerilya di Kaki Bukit Barisan ; Sikap PUSA menghadapi Jepang, Lahirnya gerakan fajar, surat dari Said Abubakar, Kolone kelima Fujiwara Kikan, Perlawanan mulai di Seulimeum, berlakunya pemerintahan militer. Subagian Jepang Mendarat di Aceh ; Rakyat Masuk Kota, Peranan Kasysyaful Islam. Subagian Berperang Melawan Jepang ; politik dua muka, kaki tangan Sekutu, Perang Bayu, Perang Pandrah.
Bahan yang diambil : Pada tahun pertama Jepang menduduki Aceh, politik dua muka yang dijalankan memang berhasil. Dengan muka yang satu Jepang memandang para ulama dengan senyum manis dan seakan-akan itu saja mukanya. Sebaliknya, muka yang lain Jepang menyapa hulubalang dengan senyum simpul, seakan-akan itu sajalah mukanya. Pada mulanya, baik hulubalang maupun ulama tidak mengetahui bahwa sikap Jepang yang berhadapan dengan mereka itu adalah penipuan, sedangkan sikap yang sebenarnya berlindung pada sikap palsu itu.
Dengan politik dua muka itu Jepang mempergunakan hulubalang untuk memaksa rakyat agar menyerahkan padinya kepada BDK (Badan Kumpul dan Bagi) yang telah dibentuk Jepang, agar mau bekerja keras untuk memperbaiki jalan, lapangan terbang, benteng-benteng pertahanan dan sebagainya.
Dengan politik dua muka itu pula Jepang dapat mempergunakan lidah ulama agar mendakwahkan rakyat bahwa penyerahan padi, pembuatan lapangan terbang, jalan-jalan, benteng-benteng pertahanan dan sebagainya adalah untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya, yang nantinya akan menjadikan Asia makmur, rakyat Asia merdeka dan senang.
Dengan cara yang tidak disadari dan halus, seaktu-waktu Jepang membiarkan hulubalang menangkap rakyat. Di pihak lain, dengan halus dan tidak terasa Jepang memberi sugesti kepada badan-badan pengadilan yang pada umumnya dipegang para ulama, agar melaksanakan pengadilan terhadap rakyat tertindas dan teraniaya, sehingga dengan demikian rakyat yang ditangkap hulubalang dibebaskan ulama lewat pengadilan.
Politik dua muka Jepang cepat disadari para ulama, sehingga pada awal sejarah pendudukan Jepang di Indonesia, para ulama telah melakukan semacam pemberotakan politik terhadap Jepang, yang menyebabkan sejumlah pemimpin PUSA ditangkap dan ditahan dalam tahanan kempetai beberapa waktu.
Mengapa para ulama yang cepat menyadari akan bahaya dan jahatnya politik dua muka Jepang ? Mungkin karena para pemimpin PUSA dalam menetapkan kebijakan kerjasama dengan Jepang dahulunya, juga telah digariskan batas-batas yang tidak boleh dilewatinya dalam pelaksanaan kerjasama.
Sekalipun pemberontakan PUSA terhadap Jepang sifatnya hanya politik, namun dampaknya sangat jauh dan mendalam. Dengan pemberontakan politik itu, para pemimpin PUSA seakan-akan mengatakan kepada rakyat bahwa kerjasama dengan Jepang hanya sampai di sini dan kepada para ulama di luar PUSA seperti mengisyaratkan bahwa Jepang bukanlah teman orang Aceh.
Pemberotakan politik yang dilakukan PUSA terhadap Jepang, telah memberanikan sebagian rakyat untuk menolak penyerahan padi, membangkang terhadap perintah kerja paksa yang disuruh Jepang lewat ulebalang. Hal ini pada waktunya membangkitkan kemarahan sebagian hulubalang, sehingga mereka pun mencari jalan sendiri untuk melawan Jepang.
Para ulama di luar PUSA yang semenjak semula menolak kerjasama dengan Jepang dan memandang Jepang kalau tidak lebih jahat sama dengan Belanda, melihat pemberontakan fisik seperti yang telah dilakukan terhadap Belanda. Hal ini mungkin telah mendorong mereka untuk mendahului PUSA dalam hal memerangi Jepang dengan senjata, (hlm.93-94.)
Komentar : Isi buku ini lebih bersifat sejarah politik dan sumber-sumber yang digunakan masih perlu dikaji ulang karena banyak menggunakan sumber naskah.
(Koleksi BKSNT Banda Aceh)

9. Judul : Perkembangan Pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Penulis : Safwan Idris, dkk
Penerbit : Majlis Pendidikan Daerah, 2002
Buku ini ditulis untuk menjelaskan sejarah pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, baik pendidikan dayah, maupun pendidikan umum. Periode waktu yang dijelaskan meliputi sebelum zaman penjajahan Belanda, zaman Belanda, zaman Jepang dan setelah kemerdekaan Indonesia.
Bahan yang diambil : Pada masa pendudukan Jepang, pendidikan dasar disebut sekolah Negara (kokumin gakko). Nama itu diperuntukkan untuk volkschool dan vervolgschool pada zama Belanda. Di atas sekolah itu adalah sekolah menengah yang dibagi atas dua kelompok, yaitu tyu gakko (sekolah lanjutan lima tahun) dan sihan gakko (sekolah guru).
Pemerintah pendudukan Jepang sangat menyadari pendidikan merupakan salah satu alat bagi proses sosialisasi dan media penyebaran indoktrinasi para penguasa pendudukan Jepang. Oleh karena itu, pemerintah pendudukan Jepang sangat memperhatikan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah.
Sesuai dengan kepentingan mereka yang selalu dipropagandakan bahwa bangsa Jepang adalah pemimpin Asia Timur Raya, maka materi pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah pun disesuaikan dengan ideolagi tersebut. Sekolah-sekolah yang pada masa sebelumnya mempergunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dihapuskan dan digantikan dengan bahasa Melayu dan bahasa Jepang. Pendidikan Jasmani menjadi salah satu mata pelajaran yang dipentingkan dalam sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah pendudukan Jepang. Hal itu berkaitan dengan keadaan mereka pada waktu itu yang sedang terlibat perang. Nilai disiplin juga menjadi sangat dipentingkan, termasuk ketaatan dan kepatuhan kepada Kaisar Jepang. Perhatian mereka juga diberikan terhadap lembaga pendidikan dayah dengan mengangkat Teungku Ismail Yakub sebagai pengawas dan Pembina lembaga-lembaga pendidikan tersebut, (hlm. 244.)
Komentar : Buku ini ditulis untuk menjelaskan sejarah pendidikan di Aceh. Salah satu bagian isinya menjelaskan sejarah pendidikan zaman Jepang di Aceh.
(Koleksi Pustaka Ali Hasjmy)

10. Judul : Sejarah Perjuangan Rakyat Aceh Dalam Perang Kemerdekaan 1945-1949
Penulis : Abdullah Ali, dkk
Penerbit : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1984.
Isi buku : Walaupun isi buku ini menjelaskan tentang revolusi kemerdekaan namun terdapat satu bab yang menjelaskan tentang pendudukan Jepang di Aceh, yaitu pada bab kelima, keenam dan ketujuh. Isi bab V tersebut adalah : pengaruh propaganda Jepang di Aceh, pendaratan Jepang ke Aceh dan daerah Aceh selama penjajahan Jepang. Bab kelima : kekalahan Jepang, berita dan reaksi tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kedatangan wakil sekutu. Bab ketujuh : Penyusunan pemerintahan, pembentukan barisan perjuangan, dan perebutan senjata Jepang.
Komentar : Buku ini ditulis untuk menjelaskan sejarah perjuangan rakyat Aceh pada masa revolusi kemerdekaan. Salah satu kelebihan buku ini banyak menggunakan sumber wawancara terhadap pelaku, menyaksikan dan mengalami peristiwa pada waktu itu.
(Koleksi Rusdi Sufi)

11. Judul : Atjeh Sinbun, Senin 20 Zyunigatu 2603
Penerbit : Atjeh-Syu Seityo Sendenka
Atjeh sinbun tersebut adalah judul surat kabar yang terbit di Kutaraja (kini Banda Aceh) pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Pendudukan itu dimulai pada bulan Maret 1942 hingga 1945. Atjeh Sinbun terbit setiap hari, kecuali hari Ahad dengan harga sebulan f. 0.50 atau selembar f.0.05, dalam bahasa Indonesia dan ditambah pula kolom pelajaran bahasa Nippon. Atjeh Sinbun yang menjadi ulasan kali ini tidak lengkap lagi atau telah robek-robek. Namun masih beruntung sebuah foto sebagai saksi sejarah dapat kita nikmati. Foto tersebut memperlihatkan “orang-orang yang telah berjasa” (menurut pandangan pemerintah Jepang saat itu) diberi anugerah berupa surat pujian dan hadiah.
Bahan yang diambil : Ketika Perang Pasifik mulai pecah pada bulan Desember 1941 di antara anggota masyarakat Aceh yang berada di daerah Aceh mulai bergerak melawan penjajahan Belanda yang telah berlangsung di daerah Aceh (akhir 1873-1942). Perlawanan terhadap Belanda itu dalam rangka mengharapkan bantuan Jepang sebagai salah satu tokoh pencetus Perang Dunia II yang telah menduduki Malaya (kini Malaysia) pada akhir tahun 1941. Perlawanan itu dengan perhitungan bahwa pihak Belanda akan kalah menghadapi serangan tentara Jepang yang akan menguasai Hindia Belanda (Indonesia). Atjeh salah satu daerah dalam wilayah Hindia belanda saat itu.
Di Aceh dibentuk barisan Fujiwara (Fujiwara Kikan). Fujiwara adalah nama tokoh militer Jepang di Malaya saat itu yang telah dihubungi pihak Aceh dalam rangka memperoleh bantuan pihak Jepang, untuk melawan Belanda.
Pada halaman 1 surat kabar Atjeh Sinbun tersebut kita dapat melihat foto tiga orang sebagai wakil dari orang yang telah berjasa (menurut pandangan Jepang), yaitu :
1. Berahim, wakil dari 3 orang yang syahid dalam mempertahankan jembatan Keumire (kini masuk Aceh Besar).
2. T. Sabi, wakil dari 155 orang yang menjadi korban dan luka-luka di Tjalang Gun (kini Aceh Jaya).
3. Tjek Ahmad, wakil dari ratusan anak yatim yang telah kehilangan ayah dalam perlawanan menentang Belanda.
Selain foto sebagai saksi kegiatan perlawanan orang-orang Aceh terhadap Belanda menjelang pendaratan tentara Jepang di daerah Aceh, pada halama 1 itu (walaupun sudah robek-robek) kita masih dapat menemui nama-nama anggota Fujiwara Kikan yang menerima surat pujian pada tanggal 8 Desember 2603 (8 Desember 1943 peringatan ulang tahun kedua peperangan Dai Toa).
Nama-nama anggota “F” tersebut antara lain :
1. T. Raden, Oemoer 47 tahun, Montasi
2. T. Djohan, Oemoer, 47, Montasi
3. T. Ibrahim. Oemoer, 30 Tahun, Lamsunot
4. T. Ali, Oemoer, 32 tahun, Lamlagang.
5. T. Oemar 50 tahun, Koeloe
6. T. Radja Oesin, Oemoer 35 tahun, Lam Oekeun
7. T. Doelah, Oemoer 30 tahun, Tanoh Abee
8. Twk. Tahir, Oemoer 24 tahun, Lam Sie
9. T. H. Oebit, Oemoer 36 tahun, Santyo Beurabo
10. T.N. Asjik, Oemoer 38 tahun, Glee Jeung
11. Tg. H. Abas, Oemoer 55 tahun, Kadhi Peudaja
12. Tg. M. Hoesin Langkat, Oemoer 30 tahun, Goeroe Agama, Montasi
13. Tg. Lambhue, Oemoer 35 tahun, Goeroe Agama, Sibree.

Komentar : Walaupun telah robek-robek, surat kabar tersebut sangat berguna karena berisi foto sebagai saksi sejarah pada masa pendudukan Jepang di Aceh.
(Koleksi Ridwan Azwad)

12.Judul : Gerak Kebangkitan Aceh
Editor : H. Anas M. Yunus
Pembantu editor : 1. Irwan Yunus, 2. M. Fauzil Rahman, 3. M. Fauzil Rahim
Dicetak oleh : C.V. Jaya Mukti, Jalan Pungkur 124, Bandung
Edisi Khusus, Oktober 2005
Buku tersebut merupakan “Kumpulan Karya Sejarah Muhammad Junus Djamil”, diterbitkan dengan maksud untuk mengenang dan menghormati beliau yang profilnya sebagai penulis sejarah Aceh, ulama, dan berjuang serta sebagai orang tua yang telah meninggal dunia tahun 1978, demikian antara pengantar editor (hlm. ii). Terdiri atas IX bab dan lampiran-lampiran. Bab I berjudul Perkembangan Agama Islam secara singkat yang lahir di Makkah sampai permulaan masuk di Aceh (Serambi Makkah). Bab II Silsilah Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh. Bab III Sultan Iskandar Muda sebagai negarawan dan diplomat ulung. Bab IV Hubungan kerajaan Aceh dengan Kerajaan Melayu. Bab V Perjuangan Syeh Abdur Rauf Syiah Kuala. Bab VI Masa satu negeri dua raja (Gandra Watra) di Aceh. Bab VII Riwayat barisan Fujiwara Kikan di Aceh. Bab VIII Aceh masa Kolonial dan Kemerdekaan. Bab IX Prasaran Muhammad Junus Djamil sebagai pembanding dalam Pekan Kebudayaan Aceh II Tahun 1972 di Banda Aceh. Lampiran-Lampiran : I Profil Muhammad Junus Djamil sebagai ulama dan penulis sejarah Aceh. II Nama-nama pejabat sipil dan militer di daerah Aceh serta nama-nama putra-putri Aceh yang mendapat penghargaan dari pemerintah. III Biodata editor.
Bahan yang diambil : Bab VII yang berjudul “Riwayat Barisan Fujiwara Kikan di Aceh” (hlm. 169-208, ditulis pada tahun 1944). Dalam buku itu sangat menarik untuk dibaca karena menambah pengetahuan kita tentang suasana di daerah Aceh menjelang masuk tentara Jepang ke daerah Aceh dan awal kedatangan mereka. Bab ini berkaitan dengan berita dan foto dalam rangka peringatan ulang tahun kedua peperangan Dai Toa dalam surat kabar Atjeh Sinbun, Senin 20 Zyunigatu 2603.
Suasana menjelang masuk tentara Jepang yang disebutkan tadi antara lain tokoh-tokoh dari pihak ulama dan uleebalang dalam masyarakat Aceh pada bulan Desember 1941, bermusyawarah, mengambil ketetapan, meneguh janji, dan bersumpah setia kepada agama Islam, kepada bangsa dan tanah air, mereka akan bersetia dengan kerajaan Jepang, dan bekerjasama melawan pemerintah Belanda menyusun pemberontakan atas nama PUSA, (hlm. 169).
Tindak lanjut musyawarah itu pada tanggal 7 Januari 1942 Teungku Amir Husein Al-Mujahid sebagai Pengurus Besar Pemuda PUSA (=Persatuan Ulama Seluruh Aceh) mengunjungi jurusan Aceh Barat. Kunjungan itu untuk meluaskan propaganda bersetia kepada Jepang dan membenci pemerintah Belanda. Selain itu anjuran agar bersedia untuk berontak melawan Belanda bila sampai saatnya nanti, (hlm. 169).
Pada tanggal 13 Februari 1942, 7 orang Aceh di Blang Geulumpang (Panton Labu, kini Kabupaten Aceh Utara) dikepalai oleh Teuku Alibasyah berangkat ke pulau Penang yang telah diduki Jepang. Kunjungan itu atas nama PUSA untuk menjumpai tentara Jepang di sana dalam rangka meminta bantuan bagi Aceh, karena rakyat Aceh sudah mulai berontak terhadap tentara Belanda, (hlm. 170).
Pada tanggal 20 Februari 1942, Teungku Muhammad Daud Beureu-eh selaku ketua Pengurus Besar PUSA mengutus lagi Teungku Abdul Hamid salah seorang Pengurus Besar PUSA, guru agama di Jeunib (kini Kabupaten Bireun) dengan 3 orang kawannya yaitu H. Ahmad Batee, Teungku Abdul Samad di Seunebok Ramong-Payong (Idie), dan Petua Husein (kesemuanya anggota PUSA), berangkat ke Pulau Penang untuk menerangkan keadaan Aceh dan meminta bantuan untuk Aceh dari pihak Jepang.
Pada bulan Februari 1942 rombongan utusan Fujiwara Kikan dari Malaya dengan menyamar sebagai pelarian mendarat di Bagan Siapi-Api dan sungai Sembilan (Asahan). Di antara rombongan itu terdapat putra-putra Aceh yang selama ini berada di Malaya. Mereka adalah Sayid Abubakar, Hasbi, Asyik, M. Saleh, Hasan, Usman, dan Abdul Muthalib yang telah dibina oleh Mayor Fujiwara.
Mereka berangkat dari Malaya (Kuala Selangor) pada tanggal 16 Januari 1942 ke pulau Sumatera menggunakan sebuah motor boat dan sebuah tongkang. Rombongan yang menggunakan motor boat mendarat di sungai sembilan dipimpin oleh Hasbi dan yang menggunakan tongkang mendarat di Bagan Siapi-api dipimpin Sayid Abu Bakar. Setelah mendarat mereka dibawa petugas untuk menghadap sultan Asahan, kemudian diperiksa barang-barang bawaan masing-masing. Selanjutnya diserahkan kepada polisi di Medan. Di Medan, mereka lebih 10 hari dalam tahanan polisi untuk menjalani pemeriksaan. Setelah memperoleh keterangan dan jaminan dari kampung, mereka diantar polisi dengan tujuan untuk pemeriksaan kembali di kampung mereka.
Sayid Abu Bakar setelah bebas dari tahanan polisi di Kutaraja (Banda Aceh) pada tanggal 13 Februari 1942 mulai melakukan kegiatannya sebagai anggota Fujiwara. Ia mulai menghubungi rekan-rekannya, ia mengutus Teungku M. Sufi (putra Teungku Empetrieng) berangkat ke Tapaktuan untuk menyampaikan arahan Mayor Fujiwara kepada kawan-kawan yang setia di sana.
Sepuluh hari setelah kedatangan Sayid Abu Bakar di Kutaraja, propaganda anti Belanda dan bersetia kepada Jepang dengan cara yang sangat licin mulai berkobar ke seluruh Aceh. Propaganda itu mulai mempengaruhi anggota masyarakat untu berontak melawan pemerintah Belanda.
Akhirnya propaganda itu berwujud dalam bentuk pemberontakan antara lain :
1. Di Seulimuem pada tanggal 23/24 Februari 1942
2. Pagi hari Selasa 24 Februari 1942 terjadi pertempuran di Jembatan Keumireu (Aceh Besar) yang menimbulkan korban di pihak orang Aceh dan Belanda.
3. Pada malam Selasa 24 Februari 1942 di Lhok Nga (Aceh Besar) terjadi pemberontakan untuk merampas senjata pihak Belanda, (hlm. 170-182).
4. Pada tanggal 7 Maret 1942 di Padang Tiji dan Gelumpang Menyeuk (Pidie) terjadi peristiwa pembongkaran rel kereta api dan penumbangan batang kayu ke atas jalan raya untuk menghambat perjalanan tentara Belanda, (hlm. 195).
Suasana awal kedatangan tentara Jepang ; yaitu pada tanggal 12 Maret 1942 terjadi pendaratan mereka di Sabang, Perlak, Durung Krung Raya, (hlm. 198). Mengenai pendaratan itu, terdapat sumber yang menyebutkan pada malam tanggal 11/12 Maret 1942 terjadi di Sabang, sebelah timur laut Kutaraja dekat Ujong Bate, sebelah utara Langsa dekat Kuala Bugak (A. J. Piekaar, Aceh dan Peperangan dengan Jepang, PDIA, Cet. II, 1998, hlm. 201-203).
Pendaratan tentara Jepang tersebut tidak mengalami perlawanan dari pihak Belanda karena pertahanan militer Belanda sudah lebih dahulu digoyah oleh pemberontakan anggota masyarakat yang disponsori pihak Fujiwara Kikan terutama Sayid Abu Bakar dan rekan-rekannya yang umumnya dari orang-orang PUSA dan Pemuda PUSA, guru-guru agama, perkumpulan agama dan sebagian kecil dari uleebalang yang bekerjasama dalam barisan itu, (hlm. 198).
Setelah pendaratan tentara Jepang dan masuk ke kota-kota, terjadi pula perampokan terhadap rumah-rumah orang Belanda, Cina, dan orang Ambon yang dilakukan orang-orang kampung yang tidak berkaitan dengan gerakan Fujiwara.
Kekerasan terhadap orang-orang Cina dan Ambon karena pada umumnya orang Aceh mengetahui bahwa orang Cina anti kepada orang Jepang. Sikap orang Aceh kepada orang Ambon karena permusuhan yang sudah lama terjadi antara mereka disebabkan orang Ambon menjadi kaki tangan Belanda yang digunakan Belanda untuk memerangi orang Aceh, (hlm. 198).
Setelah tiga hari pendaratan tentara Jepang, segala huru-hara telah dapat diatasi anggota Fujiwara Kikan dengan tuntunan pembesar-pembesar tentara Jepang. Pada tanggal 16 Maret 1942 pembesar tentara Jepang bersama tokoh PUSA membuat kantor Komite F dan menyusun pengurus di Kutaraja. Tidak berapa lama Komite F berdiri, terbentuk pula pemerintahan Gunseibu daerah Aceh dan mengeluarkan pengumuman tentang orang-orang yang dahulu bekerja pada pemerintah Belanda kembali bekerja sesuai dengan perangkatnya, (hlm. 199-201).
Riwayat Fujiwars Kikan di Aceh ini juga berisi :
1.Daftar kepala-kepala pemberontakan Aceh melawan Belanda yang terdiri atas uleebalang, ulama/imeum, rakyat biasa sebagai anggota Fujiwara Kikan.
2.Daftar orang-orang yang ditangkap Belanda yang dianggap sebagai anggota Fujiwara Kikan.
3.Daftar orang-orang Aceh anggota Fujiwara Kikan yang pulang dari Malaya
4.Daftar orang-orang sebagai Ketua Barisan Fujiwara Kikan seluruh Aceh.
Komentar : Tulisan Muhammad Junus Djamil berjudul Riwayat Barisan Fujiwara Kikan di Aceh bersumber dari laporan-laporan kepala-kepala Fujiwara Kikan dan pengalaman penulis sendiri yang mengungkapkan perana ulama, uleebalang, dan rakyat biasa pada masa menjelang dan awal kedatangan tentara Jepang ke daerah Aceh sehingga memberi gambaran bagi pembaca bagaimana suasana pada saat itu.
(Koleksi Ridwan Azwad)

14. Judul : Belanda Gagal Rebut P. Berandan
Penulis : Muhammad TWH
Penerbit : Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan RI di Medan, 1997
Isi buku terdiri atas lima bab : Bab pertama Jepang duduki Sumatera dan Cobaan yang dihadapinya ; pembahasannya adalah Jepang mendarat di Tanjung Tiram, Belanda coba bertahan di Gunung Setan (Tanah Alas). Utusan Sumatera kunjungi Jepang ketika perang dunia sedang berkecamuk. Melawan Jepang dengan senjata tradisionil. Merebut senjata Jepang untuk mempertahankan kemerdekaan ; Harapan Fusayama dan Mr. Teuku Hasan kepada Sekutu tidak tekabul. Sekutu kerahkan 2 Batalyon tentara Jepang untuk masuk ke Aceh. Bab dua, Binjai Basis Perjuangan Front Barat Medan Area ; pembahasannya adalah Peristiwa heroik Jalan Bali Medan, starting point perang kemerdekaan di Sumatera Utara, Pembelotan 12 Tentara Inggeris di Medan melalui Rumah Makan Fajar Asia, Kereta Api yang angkut pasukan ke Binjai kelabui Sekutu di Stasion Besar Medan, Ulama Sumatera Timur meminta bantuan senjata berat dari Aceh, Senjata berat diangkut dengan kereta api, Jembatan Sunggal saksi sejarah yang bicara tanpa kata, Posisi meriam Republik, dentuman pertama dan duel artileri, Rachmansyah Rais gugur ketika hendak menguasai tank Belanda, Ranjau dipasang di Jalan Kereta Api menuju Binjai, Yang terkepung harus dibantu, Belanda dihajar di kota Bangun (Labuhan Deli). Bab ketiga, Perjuangan Kemerdekaan dalam Puisi ; pembahasannya adalah Pertaroengan Hidoep (1947) Ghaza Hasan (menyambut terbitnya harian 6 Desember 1947 di wilayah kekuasaan Belanda, Maraklah Semangat (1946) Talsya, Kampung Lala-L. K. Ara, 18 Januari 1947 Suatu Pagi-L. K. Ara, Pesan-L. K. Ara. Bab keempat, Serangan Udara Paling Berdarah ; pembahasannya adalah Tiga pesawat B-25 Belanda hujani Binjai dengan bom, Bom jatuh dalam lubang perlindungan, Mayat bergelimpangan potongan tubuh berserakan, Belanda rebut Binjai setelah memukul Batalyon III Rima, Tahan Belanda sampai staf RIMA keluar dari Binjai, Stelling terakhir pasukan meriam dan meriam yang jatuh ke tangan Belanda, Dengan susah payah Belanda rebut Binjai, 45 Orang gugur di Bekiung ketika hendak rebut kembali Binjai, Kapten Abdul Hamid Nasution gugur pelurunya habis bergumul dengan Belanda dan kepalanya ditembak. Bab kelima, Usaha merebut kembali Stabat dan mempertahankan Pangkalan Berandan ; pembahasannya adalah Lettu Lidansyam gugur di ujung jembatan Stabat, Gubernur Militer lolos dari sergapan Belanda di Tanjung Pura, mata-mata Belanda wanita cantik, pertempuran di Puluh Manis-Gebang menurut laporan resmi Belanda, Tentara Pelajar dan Koresponden Perang di Front Langkat, Letnan Daud Gade meledakkan jembatan Babalan, Letkol M. Nazir hukum mati anak buahnya sendiri, KSBO untuk menahan gerak maju Belanda, Rencana Belanda rebut Pangkalan Berandan 13 Agustus 1947 jam 03.00, Pangkalan Berandan dibumihanguskan menurut laporan Penerangan Tentara Divisi X, Dan Gagallah Belanda rebut Tambang Minyak Pangkalan Berandan.
Komentar : Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis dan juga seorang yang mengalami peristiwa sejarah tersebut. Isi buku memang banyak membahas tentang Agresi Belanda di Sumatera Utara tetapi juga membahas beberapa bagian berkaitan dengan Jepang di Aceh, seperti sudah dijelaskan di atas sehingga sangat bermanfaat bagi penambahan khazanah sumber sejarah Jepang di Aceh.
(Koleksi BKSNT Banda Aceh)

15.Judul : Batukarang di Tengah Lautan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh 1945-1946) Buku I
Penulis : T. A. Talsya
Penerbit : Lembaga Sejarah Aceh, 1990
Bahan yang diambil : Pemuda Indonesia dari kesatuan anggkatan bersenjata Jepang seperti gyugun, heiho, tokubetsu dan sebagainya semenjak 16 Agustus ramai hilir mudik di pasar dan jalan-jalan raya, baik di Banda Aceh maupun di tempat lain. Kemaren pagi, bertempat di asrama masing-masing mereka dikumpulkan oleh komandannya, opsir Jepang, memberitahukan bahwa peperangan telah berakhir. Karenanya kesatuan-kesatuan mereka dibubarkan. Mereka diperintahkan berkemas-kemas untuk dikembalikan ke tempat tinggal masing-masing dengan hanya membawa pakaian saja.
Kepada mereka tidak diberitahukan mengenai kekalahan Jepang. Di tengah masyarakat tersebar berita yang tidak diketahui sumbernya mengatakan bahwa tentara Jepang termasuk anggota-anggota gyugun, heiho, tokubetsu dan sebagainya tidak lama lagi akan dilucuti oleh tentara Australia atau tentara Cina yang akan dating ke Aceh mewakili Sekutu, (hlm. 4.)
Komentar : Buku ini berisi peristiwa sejarah di Aceh mulai bulan Agustus 1945 hingga Desember 1946. Penulisnya seorang wartawan dan mengalami peritiwa pada waktu itu, sebagai wartawan sehingga buku tersebut banyak bersumber dari hasil liputannya dan majalah yang ada pada waktu itu. Peristiwa sejarah tersebut dijelaskan secara rinci setiap hari dan juga disertai dengan gambar.
(Koleksi Badan Perpustakaan Wilayah NAD)

16.Judul : Bunga Rampai tentang Aceh
Penulis : Ismail Suny (ed)
Penerbit : Bharata Karya Aksara-Jakarta, 1980
Isi Buku :
1. Tentang Nama Aceh, oleh Aboebakar Aceh
2. Aceh, Sejarah dan Kebudayaan, oleh Osman Raliby
3. Sejenak meninjau Aceh Serambi Mekkah, oleh S. M. Amin
4. Pengaruh Islam terhadap Kebudayaan Aceh dalam perang sabil, oleh H. M. Zainudin
5. Pasang surut kebudayaan Aceh
6. Perkembangan swapraja di Aceh sampai Perang Dunia II, Mr. T. Muhammad Hasan
7. Banda Aceh Darussalam pusat kegiatan Islam dan kebudayaan, A. Hasjmy
8. Pengadilan agama/mahkamah syar’iyah di Aceh dulu, sekarang dan nanti, Ismuha
9. Pergerakan wanita di Aceh masa lampau sampai kini, Ainal Mardiah Ali
10. Gambaran pendidikan di Aceh sesudah perang Aceh-Belanda sampai sekarang, Ismail Yakup
11. Keadaan kesehatan rakyat di Aceh, zaman Hindia Belanda, zaman pendudukan Jepang dan zama revolusi melawan Belanda, M. Majoedin
12. Dua masyarakat keagamaan dihubungkan dengan keluarga Gayo di kampung bebesan (Aceh Tengah)
13. Hasil Survey tentang kedudukan wanita dan keluarga berencana di Aceh, Yunus Amir Hamzah
14. Strategi pembangunan Daerah Aceh, A. Madjid Ibrahim
Bahan yang diambil : Sesuai dengan kepentingan peperangan Jepang, Indonesia dibagi menjadi 3 daerah besar : Jawa dan Madura, Sumatera, Pulau-pulau Bagian Timur. Masing-masing daerah besar itu dipimpin oleh seorang Gunseikan bidang sipil dan oleh seorang gunseikan bidang militer yang semuanya tunduk kepada panglima besar Jepang untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Saigon yang pada waktu itu dipegang oleh Jenderal Tera Uchi.
Selain pembagian daerah itu, berdasarkan peraturan peralihan yang dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah militer Jepang untuk daerah yang bersangkutan, semua peraturan perundang-undangan yang baru. Sesuai dengan suasana perang pada waktu itu, masing-masing daerah besar dan masing-masing syu dalam daerah besar itu mempunyai otonomi yang luas sekali dalam bidang sipil. Berdasarkan itu, gunseikan Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi telah mengeluarkan undang-undang tentang aturan hakim dan mahkamah, (hlm. 234)
Komentar : Buku ini kumpulan tulisan tentang Aceh, yang kemudian diterbitkan dalam rangka memperingati seratus tahun Perang Aceh. Memuat beberapa bagian sejarah Aceh, perjuangan rakyat Aceh penjajahan maupun kegiatan-kegiatan dalam pembangunan. Ada informasi baru dalam buku ini yaitu tentang kesehatan, baik sebelum maupun sesudah pendudukan Jepang di Aceh.
(Koleksi Badan Perpustakaan Wilayah NAD)

17.Judul : Kenang-kenangan dari Masa Lalu
Penulis : Mr. S. M. Amin
Penerbit : Pradnya Paramita, Jakarta, 1978
Isi buku : Bagian Pertama, Masa Tentara Jepang Menguasai Aceh ; bab I saat-saat menjelang pendaratan, bab II Pendaratan Tentara Jepang, Bab III pemerintah, Bab IV Peradilan, Bab V Perwakilan rakyat, Bab VI politik Jepang. Bagian Kedua, Masa Perjuangan Kemerdekaan di Aceh ; Bab I Pemerintahan, Bab II Ketentuan dan Kelasykaran, Bab III Perbelanjaan, Bab IV Peranan Organisasi-organisasi rakyat. Bab V Agresi Belanda pertama, bab VI Tinjauan ringkas, Bab VII Letusan-letusan rasa tidak puas.
Bahan yang diambil : Sistem pemerintahan zaman Jepang tidak mengalami perubahan yang prinsipil, sebagai perubahan dapat disebut peniadaan perbedaan di antara zelfbestuurd gebied dengan rechstreeks bestuurd gebied. Semua daerah-daerah, afdeling, onderafdeling dan daerah uleebalang, baik yang terletak dalam rechtstreeks bestuurd gebied ataupun zelbestuurd gebied, memperoleh status yang sama.
Perubahan lain adalah mengenai jabatan uleebalang. Jabatan uleebalang yang menurut tradisi yang dipegang teguh oleh Belanda adalah jabatan yang diperoleh turun-temurun dari golongan bangsawan tidak diharuskan lagi berada di tangan bangsawan dan turun-temurun. Sebutan uleebalang diganti dengan soncho dan sejumlah uleebalang turunan bangsawan yang telah tewas dalam peristiwa cumbok atau dianggap oleh Jepang tidak memenuhi syarat-syarat yang dikehendaknya, diganti dengan yang lain tidak hanya berasal dari keluarga uleebalang akan tetapi juga berasal dari golongan ulama dan rakyat umum.
Jabatan controleur diganti dengan sebutan gunco dan diisi oleh orang daerah sendiri. Dapat disebut penetapan Teuku Nya’ Banta, di zaman Belanda memegang jabatan mantra polisi, sebagai gunco Sinabang dan Teuku Muhammad Yakub di zaman Belanda Komis kantor Assisten residen Langsa sebagai gunco Bireun. Ini berarti tradisi turun-temurun ditiadakan, jabatan uleebalang tidak lagi sebagai sediakala jabatan yang khusus diperuntukkan bagi gelombang tertentu pembagian daerah dalam kesatuan-kesatuan pemerintahan tidak dirubah oleh Jepang. Hanya nama sebutan masing-masing jabatan dirubah. Sebutan uleebalang menjadi sonco, controleur menjadi gunco, assisten residen menjadi bunsyu syo dan residen menjadi shu cokan, (hlm. 18)
Komentar : Buku ini ditulis oleh orang yang mengalami masa pendudukan Jepang di Aceh dan ditulis khusus tentang sejarah Aceh kontemporer.
(Koleksi Museum Aceh)
18.Judul : Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh
Penulis : Muhammad Ibrahim, dkk
Penerbit: Depdikbud, 1991
Isi buku : Bab I Pendahuluan, Bab II Zaman Prasejarah, terdiri atas Asal-usul penghuni yang pertama, manusia di Indonesia, Teknologi, organisasi masyarakat, kepercayaan, social budaya. Bab III Zaman Kuna (abad 1-1500 M), terdiri atas Kehidupan pemerintahan dan kenegaraan (politik), Penyelenggaraan Hidup dalam Masyarakat (social ekonomi), Kepercayaan dan kehidupan Seni Budaya, Hubungan dengan Negeri-negeri Asing. Bab IV Zaman Baru (1500-1800 M), terdiri atas Kehidupan pemerintahan dan kenegaraan, Penyelenggaraan Hidup dalam masyarakat, Kepercayaan dan kehidupan Seni Budaya, Hubungan ke luar. Bab V Abad ke-19 (1800-1900), terdiri atas Kehidupan pemerintahan dan kenegaraan, penyelenggaraan hidup dalam masyarakat, kehidupan Seni Budaya, Alam pikiran dan kepercayaan, hubungan dengan luar. Bab VI Zaman Kebangkitan Nasional, terdiri atas Perang melawan Belanda dan keadaan pemerintahan, Kehidupan Seni Budaya, Kaum pergerakan di daerah, penyelenggaraan hidup dalam masyarakat. Bab VII Zaman Pendudukan Jepang (1942-1945), terdiri atas Keadaan pemerintahan, Penyelenggaan hidup dalam masyarakat, Kehidupan Seni Budaya, Alam pikiran dan Kepercayaan. Bab VIII Zaman Kemerdekaan (1945-1977), terdiri atas Keadaan pemerintahan dan kenegaraan, Kehidupan social ekonomi masyarakat, Kehidupan pendidikan dan seni budaya, Alam pikiran dan kepercayaan masyarakat. Daftar Pustaka dan Lampiran.
Bahan yang diambil : Setelah Jepang berkuasa di Aceh, untuk memperkokoh kedudukannya, mereka mengatur siasat pemerintahan. Dalam penyusunan system pemerintahan di Aceh, Jepang tidak banyak mengadakan perubahan terhadap system ; pemerintah yang telah diciptakan oleh pemerintah Belanda. Struktur pemerintah Belanda diteruskan, hanya saja sebutan nama-nama diganti dengan nama Jepang, demikian pula penguasa-penguasa atau pejabat-pejabat pemerintahan dipegang langsung oleh pembesar-pembesar militer Jepang. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia terdapat tiga pemerintahan militer pendudukan, yakni : pertama, Tentara Keenambelas di Pulau Jawa dan Madura dengan pusatnya di Batavia. Kedua, Tentara Keduapuluh Lima di pulau Sumatera dengan pusatnya di Bukittinggi. Ketiga, Armada Selatan Kedua di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Barat dengan pusatnya di Makassar.
Struktur pemerintah Belanda diteruskan. Di Sumatera pemerintahan militer Jepang membentuk 10 keresidenan (syu), yang terdiri atas bunsyu (sub keresidenan) gun dan son. Kesepuluh syu yang dibentuk itu adalah Aceh, Sumatera Timur, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Lampung, dan Bangka-Beliton. Susunan pemerintahan di Aceh seperti yang telah diatur pada waktu pemerintahan Belanda merupakan sebuah keresidenan, yang diperintah oleh seorang residen.
Keresidenan Aceh dibagi atas empat afdeling yang dikepalai oleh seorang asisten residen, yaitu Afdeling Groot Atjeh dengan ibukota Kutaraja, Afdeling weskust van Atjeh dengan ibukota Meulaboh, Afdeling Noordkust van Atjeh dengan ibukota Sigli, Afdeling Ooskust van Atjeh dengan ibukota Langsa. Afdeling-afdeling itu dibagi lagi atas beberapa onderafdeling dikepalai oleh seorang controleur, yang jumlah seluruhnya 22 onderadeling. Dari tingkat residen hingga controleur dijabat oleh orang Belanda. Selanjutnya onderafdeling dibagi lagi atas distrik-distrik yang dikenal dengan uleebalangschap. Distrik itu dibagi atas mukim-mukim dan selanjutnya dibagi atas gampong, sistem inilah yang diteruskan oleh Jepang dengan mengubah namanya saja.
Keresidenan diganti dengan nama syu dan kepalanya disebut syu cokan afdeling menjadi bunsyu yang dipimpin oleh bunsyuco, onderafdeling menjadi gun yang dipimpin oleh gunco. Distrik atau uleebalangschap dinamakan dengan son yang dikepalai oleh sonco, dan gampong dinamakan dengan kumi yang dikepalai oleh kumico. Syu cokan dan bunsyuco langsung dijabat oleh pembesar-pembesar Jepang, gunco dijabat oleh orang-orang Aceh. Di beberapa tempat yaitu di Sabang, Sinabang, Singkil, dan Kutacane karena daerah-daerah ini dianggap daerah terpencil, diperintah langsung oleh Jepang dengan menempatkan seorang cuzaikan.
Aceh syu cokan S. Iino merupakan penguasa tunggal di daerah Aceh dalam menjalankan pemerintahan dibantu oleh badan-badan lain yang langsung di bawah Aceh Syu Cokan.
Badan-badan itu antara lain :
Aceh Syu Seico Somubuco (Kepala Urusan Pemerintahan Umum), M. Yamamato.
Aceh Syu Seico Sangyu Kotabuco (Kepala Urusan Ekonomi dan Lalulintas), S. Masubuti.
Aceh Seico Zaimubuco (Kepala Urusan Keuangan), S. Yamaguti.
Aceh Seico Sendemaco (Kepala Urusan Sarana), S. Sagawa.
Aceh Syu Seico Sondanka Sinbunhanco (Kepala Urusan Penerangan), T. Kodera.
Aceh Syu Seico Keimuboco (Kepala Kepolisian), B. Ueki.
Aceh Syu Seico Sihobuco (Kepala Kehakiman), Aoki, (hlm. 177-179).
(Koleksi Rusdi Sufi)
19. Judul : Perjuangan untuk Daerah : Otonomi Azazi Insani
Penulis : Said Abubakar
Penerbit : Yayasan Naga Sakti Banda Aceh, 1995
Buku ini terdiri atas 12 bab. Bab I Desaku, Bab II Mendayung di Samudera Raya : Pemerintahan zelfbestuurders, Landschap Manggeng, Landschap Meukek, Landschap Blang Pidie dan Susoh. Bab III Fujiwara Kikan dan Pendudukan Jepang : Pendudukan Jepang, Samadua son. Bab IV Proklamasi Kemerdekaan. Bab V Kabupaten Perjuangan : Komisi Nasional Daerah, Pemilihan Bupati, Kilas Balik Sejarah. Bab VI Di Teluk Nan Permai : Sidang DPR Sumatera Utara, Memori Perjalanan, Membantu Gerilya, Enri/Erri. Bab VII Trik-trik Mencapai Propinsi : Provinsi Aceh, Peristiwa Aceh, Daerah Istimewa Aceh. Bab VIII Berorganisasi Politik : Sastrawan dan Wartawan, Seminar dan Kongres. Bab IX Di Kutaraja (di Lembah Seulawah). Bab X Aceh Menghukum PKI ; G 30-S/PKI.
Bab XI Membangun di Perantauan. Bab XII Capita Selecta : Kaum Mudan dan Kaum Tua, Teungku Muda Wali dan Teungku Sufi, Teungku Muda Wali dan NBA/NII, Revolusi Sosial, Perkenalan dengan Nyak Adam Kamil, Ancaman ditembak dan Masuk Penjaran, Di Stasiun akhir Pengabdian. Sanjak Kenangan dan Lampiran. (Koleksi Pustaka Ali Hasjmy).

20. Judul : Heroiknya Syuhada Aceh
Penulis : Muhammad TWH
Penerbit : Yayasan Fakta Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia, Sumut, 2002.
Isi buku terdiri atas 3 bab. Bab I berisi Api Islam Menjiwai Syuhada Aceh, Quanun Al Asyi dan Heroiknya Syuhada Aceh, Bergerilya jalur politik dan surat kabar, Semangat jihad syuhada Aceh bergelora kembali. Bab II berisi Dengan lembing dan kelewang melawan Jepang di Bayu, Para mujahid serbu tangsi Jepang di Pandrah, Pertempuran di Krung Panjo merebut senjata Jepang, 75 % senjata Jepang jatuh ke tangan republic, sekutu bermaksud menduduki Aceh dengan dalih melucuti senjata Jepang, 503 syuhada Aceh pantas digelar pahlawan. Bab III berisi Lahirnya daerah Istimewa Aceh, UU NAD pancara dari Quanun Al Asyi, Pedoman Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat. (Koleksi Perpustakaan Ali Hasjmy)

21. Judul : Aksi-Aksi Gerakan Rakyat, 1995
Penulis : T. Alibasyah Talsya dan T. Syamsuddin.
Laporan ini berisi laporan akhir pendudukan Jepang di Aceh, terutama sekitar pelucutan senjata Jepang dan awal kemerdekaan RI di Aceh dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Aceh. (Koleksi Perpustakaan Ali Hasjmy).

22. Judul : Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh 1945-1949
Penulis : T. Ibrahim Alfian, dkk.
Penerbit : Museum Aceh, 1982.
Buku ini terdiri atas 5 bab. Bab I Pendahuluan. Bab II Masa Pendudukan Jepang : Pendaratan dan Penaklukan Belanda oleh Jepang di Aceh, Pembentukan Lembaga-lembaga pemerintah, Kehidupan social ekonomi, kehidupan social budaya, Impak Pemerintah Pendudukan Jepang terhadap Rakyat Aceh. Bab III Proklamasi Kemerdekaan di Aceh : Sambutan Masyarakat Aceh, Pembentukan pemerintahan Republik Indonesia di daerah Aceh, Pembentukan organisasi kemiliteran dan kelasykaran rakyat, kedatangan tentara sekutu. Bab IV Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Aceh : Peristiwa Cumbok dan Aksi TPR, Masa Agresi dan Pergantian-pergantian bentuk pemerintahan di Aceh, Peristiwa-peristiwa di daerah dalam kaitan dengan kejadian bersejarah tingkat nasional, Usaha masyarakat Aceh dalam beberapa bidang kegiatan. Bab V Situasi daerah Aceh pada Akhir Revolusi Kemerdekaan : Menjelang persetujuan KMB, Pembentukan Negara kesatuan RI dan sikap Masyarakat Aceh, Kegiatan Masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Lampiran : Susunan pengurus KNI Aceh, Pembagian wilayah administrasi keresidenan Aceh, Susunan pengurus API di Aceh, Susunan pengurus kelasykaran di Aceh, Maklumat ulama seluruh Aceh. (Koleksi Perpustakaan Ali Hasjmy)

23. Judul : Syamaun Gaharu : Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal Sebuah Autobiografi
Penulis : Ramadhan K.H Mamid Jabbar
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, 1998.


· Zaman Pendudukan Jepang
Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kesibukan perpindahan pasukan Belanda ke tengah rimba Aceh, beberapa pemuda Aceh mengunjungi Malaya (Malaysia sekarang). Mereka dipimpin oleh Said Abu Bakar. Pada awalnya Said Abu Bakar datang ke Malaya untuk menjadi guru di Yan. Yan adalah suatu perkampungan perantau Aceh di tanah semenanjung Malaya. Di sana bahasa dan adat istiadatnya sama dengan yang berlaku di Aceh.
Jepang mendarat di Malaya tanggal 11 Januari 1942. Dua had setelah itu, Himpunan Anak Sumatera berdiri di Kuala Lumpur. Salah seorang anggota Himpunan Anak Sumatera itu adalah Said Abu Bakar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau adalah ketua himpunan ini. Said Abu Bakar menamakan dirinya utusan atau delegasi dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). mi dikuatkan oleh keterangan dalam buku Memoir yang disusun oleh Teuku Muhammad Ali Panglima Polim. Beliau menuliskan bahwa para pejuang Aceh sudah mengetahui bahwa PUSA telah mengirimkan utusan ke Malaya untuk menemui pembesar Jepang. Pengiriman utusan bisa menimbulkan kesan bahwa seolah-olah mereka menjemput Jepang ke Malaya. Kita bisa menyimak buku Fujiwara Kikam, Operasi Intelijen Tentara Jepang di Asia Tenggara selama Perang Dunia II oleh Letnan Jenderal Fujiwara Iwaichi (mantan Komandan Barisan F), yang diterbitkan pustaka Sinar Harapan, Jakarta 1988.
Dalam buku itu, Fujiwara Iwaichi (ketika Jepang mendarat di Malaya, Fujiwara berpangkat Mayor) menulis:
“...Dengan didudukinya bagian pusat Malaya, sebagian dan Selat Malaka berada di bawah pengawasan Jepang. Latihan para pemuda Sumatera di bawah pimpinan Said Abu Bakar telah rampung dan semangat mereka meninggi. Anak muda itu semua berusia antara 20 sampai 27 tahun, kecuali Musa yang telah berusia 40 tahun, dan Usman Basyah 18 tahun. Mereka memandang Masubuchi dan Letnan Makayima dengan rasa kagum dan hormat terhadap kebaikan dan ketulusan keduanya seolah-olah kedua orang itu ayah dan abang mereka.
Fujiwara kemudian mendiskusikan masa depan kegiatan mereka dengan Said Abu Bakar dan M. Hasbi. Waktu ditanyai tentang situasi di Aceh, Said Abu Bakar menjelaskan sebagai berikut:
“Rakyat Aceh membenci Belanda dan Uleebalang yang memihak pada Belanda dan menindas rakyat. Sebagian besar rakyat tidak mempercayai bahkan membencinya. Rakyat Aceh adalah kaum Muslim yang sangat taat dan siap berkelahi dalam tiap pertempuran dalam agama Islam. Mereka tidak gentar mati demi agama”.
Mendengar keterangan itu, Fujiwara berusaha menjalin suatu kontak dengan para pemimpin PUSA. Said Abu Bakar setuju dan menyanggupi untuk menyelinap masuk ke Sumatera.
Said Abu Bakar- mengatakan: “Dengan senang hati kami akan mengorbankan nyawa kami, kalau itu bisa membawa kebahagiaan bagi rakyat kami dan kehormatan bagi agama kami. Marl kita segera bertugas”.
Ia kembali ke Aceh dan menemui Teungku Daud Beureueh, Rombongan lain berangkat tanggal 25 Januari 1942 dan mendarat di pelabuhan Teluk Nibung. Pimpinan rombongan adalah Nyak Neh.
Sebelum berangkat Nyak Neh berseru penuh semangat: “…..Tenno Heika Banzai….”
Dilihat dad sudut sejarah, Nyak Neh itulah orang Aceh pertama yang mengucapkan “Tenno Heika Banzai”. (Fujiwara: hlm. 173-175)
Kisah barisan F memang panjang. Tanggal 13 Februari 1942 unman PUSA terdiri dan Teuku Muda dan ketiga temannya sampai di Penang. Radio Penang mengumumkan kedatangan mereka. Tanggal 20 Februari 1942 datang lagi sama rombongan yang terdiri dad 4 orang. Rombongan terakhir utusan (termasuk kaum Uleebalang) kembali ke Aceh dengan kapal perang Jepang dan Divisi Pengawal Kekaisaran. Jumlah pasukan Pengawal Kekaisaran mi 20.000 orang di bawah pimpinan Mayor Jenderal Nishimura. Utusan Aceh yang naik kapal perang Jepang pada tanggal 5 Maret 1942 itu berjumlah 20 orang. Salah scoring di antaranya adalah Teuku Ali Basyah Uleebalang Langsa. Mereka mendarat di pantai Aceh tanggal 12 Maret 1942 waktu subuh, dan pada pukul 12.00 siang kantor Komando Pengawal Kekaisaran Jepang telah berdiri di Kutaraja (Banda Aceh sekarang).
Waktu Jepang masuk ke Aceh, orang-orang yang menamakan dirinya barisan F memakai kain putih selebar lima jari di lengan kirinya dan di kain putih itu tertulis leter F. Anggota barisan F tidak saja berasal dan PUSA, tapi hampir dan semua golongan.
Fujiwara Iwaichi, dalam bukunya tersebut di atas, menerangkan bahwa Said Abu Bakar, Teungku Daud Beureueh, Teungku Abdul Wahab Seulimeum (yang terkenal dengan sebutan Teungku Keunalo), Ahmad Abdullah, dan Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda pergi ke Lam Nyong, rumah kediaman Teuku Nyak Arif. Di sini mereka bermusyawarah. Kemudian disepakati untuk membantu gerakan barisan F yang juga mempunyai tujuan utama mengusir Belanda dan Aceh.
Pada halaman 232, Fujiwara menambahkan bahwa setelah permusyawaratan Lam Nyong, Teuku Nyak Arief ditunjuk sebagai Kepala/Penasehat.
Selanjutnya pada halaman 256-257 dipaparkannya pula sebagai berikut: “Sebagai jawaban terhadap peningkatan kekuatan Belanda, para pemimpin Aceh menyelenggarakan rapat tanggal 4 Maret 1942 di Lubok dan memutuskan untuk menyalakan pemberontakan bersama di seluruh Aceh. Mereka bersumpah untuk tetap setia kepada agama Islam, kepada rakyat dan kepada tanah air Saya tidak akan melanggar ketiga sumpah yang saya ucapkan sendiri dan akan tetap bersatu untuk melawan Belanda. Kemudian, mereka membuat resolusi dibawah ini:
1. Pemberontakan bersama dan serempak akan dilancarkan di seluruh Aceh
2. Pemberontakan ini akan dilaksanakan guna melindungi agama, bangsa dan tanah air;
3. Sebuah manifes akan di kirim kepada segenap ketua di distrik di Aceh
4. Sebuah manifes akan di kirimkan kepada pemerintah Belanda;
5. Serangan serempak akan dilakukan terhadap barak militer Belanda sepanjang malam.
Tanggal 6 Maret, mereka mengeluarkan pernyataan ke seluruh Aceh disertai peringatan bahwa siapa saja para pejabat Indonesia yang bekerja bagi pemerintah Belanda akan dianggap sebagai warga negara Belanda kecuali apabila mereka langsung melepaskan jabatannya. Manifes ini malah dikirimkan kepada kan. tor pemerintah dan seksi polisi dan juga ditempatkan di jalan serta ditempatkan di mobil panser Belanda. Juga papa hari yang sama Teuku Nyak Arief memberitahukan Residen Belanda, menuntut “KEMBALIKAN PEMERINTAH KEPADA RAKYAT ACEH. KALAU TIDAK KAMI RAKYAT ACEH AKAN MENGUMUMKAN PERANG TERHADAP BELANDA”. Pada saat yang sama mereka memutuskan kabel telepon di segenap pelosok Aceh dan memblokade jalan dengan pohon yang ditumbangkan. Menghadapi gejolak ini, pasukan Belanda serta para pejabat pemerintahnya berkumpul bersama di barak militer di sekeliling Kutaraja.
Pemberontakan umum di seluruh Aceh direncanakan tanggal 11 Maret malam. Guna mempersiapkan diri terhadap serangan kejutan awal oleh tentara Belanda, rakyat Aceh membentengi desa dan mempersiapkan diri bagi serangan itu. Kurang lebih pukul 23.00 tanggal 11, pertempuran pecah di dekat jembatan Lam Nyong di Kutaraja dan rakyat Aceh memukul mundur pasukan Belanda.
Demikian menurut Fujiwara Iwaichi (Kepala Kolonel ke-5 Jepang), peristiwa pemberontakan rakyat Aceh terhadap Belanda, sebelum balatentara Jepang mendarat di Aceh.
Rakyat Aceh pada mulanya berharap Jepang adalah pembela rakyat Aceh dan pelindung agama Islam. Tapi baru beberapa hari mereka sampai, harapan masyarakat Aceh pun sirna. Serdadu Jepang yang hanya memakai cawat berjalan di mana-mana. Hal ini bertentangan dengan adat Aceh. Orang Jepang yang menganut agama Sinto memakan babi, dan mereka melakukannya di tempat terbuka, seolah-olah dipamerkan. Akibatnya rakyat Aceh benci pada mereka.
Setiap pagi dilaksanakan upacara Seikeire atau menunduk ke arah matahari terbit dengan cara rukuk. Tentu saja cara ini bertentangan dengan ajaran agama Islam. Pada tanggal 10-11 November 1942, terjadilah pemberontakan Rakyat di bawah pimpinan Teungku Abdul Jalil di Bayu, Aceh Utara. Di pihak rakyat jatuh korban lebih dan 100 orang. Waktu itu saya masih mengajar, walaupun dalam keadaan tidak menentu.
Mula-mula Jepang masuk ke Aceh, kita diperbolehkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih. Namun tujuh belas hari kemudian kedua hal itu terlarang. tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya dan tidak boleh menaikkan bendera Merah Putih, Sejak itu kekejaman mereka mulai terlihat.
Pasukan Jepang yang ditugaskan untuk merebut pulau Jawa dipimpin oleh Letnan Jenderal Imamura dengan tentara ke-16-nya.
Sedangkan untuk Sumatera bagian utara dipimpin oleh Letnan Jenderal Tomoyoki Yamashita - yang terkenal dengan julukan Harimau Singapura itu - tentara ke-25 dengan armada tugasnya di bawah pimpinan Laksamana Muda Ozawa.
Pasukan yang dimarakan ke Aceh dan Sumatera utara, termasuk Sumatera Barat, adalah tentara ke-25, Divisi Garcia ke-2 ditambah dengan I Brigade yang berasal dan Divisi ke-18 Kekuatan pasukan mi berjumlah 20.000 orang di bawah Pimpinan Mayor Jenderal Nishimura.
Tempat pendaratan pasukan Jepang itu adalah (1) Sabang; (2) Ujung Batee, Aceh Besar; (3) Kuala Bugak, Peureulak, Aceh Timur; dan (4) Tanjung Tiram, Sumatera Timur.
Tanggal pendaratannya 12 Maret 1942 waktu Subuh. Pukul 12.00 siang Mayor Jenderal Nishimura telah dapat mendirikan markas komandonya di Kutaraja.
Pada pendaratan itulah Masubuchi, agen rahasia Jepang untuk wilayah Sumatera, ikut serta.
Masubuchi adalah bekas pengurus kebun di Sumatra Timur. Tenth saja ia tahu banyak tentang Sumatera Utara dan Aceh. Dia sangat fasih berbahasa Indonesia, dan telah bekerja untuk kepentingan Jepang jauh sebelum terjadinya Perang Dunia II.
Dua hari setelah pendaratan, Masubuchi pergi ke Sigh untuk menemui Said Abu Bakar. Mereka berdua kemudian menemui Teungku Daud Beureueh. Hari itu juga ketiga orang itu pergi ke Kutaraja. Mereka menjemput Teuku Panglima Polim Muhammad Ali ke Seulimeum. Di Kutaraja kelompok ini bertambah dengan Hamzah Yunus. Kemudian mereka semua berangkat ke rumah Teuku Nyak Arif di Lam Nyong. Di sana diadakan pertemuan-pertemuan dan direncanakan pembentukan pemerintah militer Jepang di Aceh.
Mayor Jenderal Shazaburo Jino diangkat menjadi Aceh ShuChokan (Kepala Pemerintahan Militer/Resimen Aceh), Teuku Nyak Arif diangkat menjadi Guncho atau Wedana untuk Kutaraja, sedangkan Teuku Muhammad Ali Panglima Polim diangkat menjadi Guncho untuk Seulimeum.
Teuku Nyak Arif kemudian diangkat menjadi penasehat shu-Chokan, lalu menjadi Ketua Aceh Shu Sangi Kal (Ketua DPRD) dan selanjutnya diangkat menjadi Wakil Ketua Sumatera Chuo Sangi In (DPR untuk Sumatera) yang berkedudukan di l3ukitLinggi. Teuku Muhammad Au Panglima Polim diangkat pula menjadi Kosai Kyokutjo (Kepala Kantor Urusan Kebahagiaan Umum). Sebagai ganti Guncho di Kutaraja, diangkatlah Teuku I la.’,ah Dik, pengganti Teuku Nyak Arief. Teuku Tjut Hasan diangkat menjadi Guncho di Sigh dipindahkan dan Bireuen, Teuku Ahmad Jeunieb menjadi Guncho di Meulaboh.
Setelah Jepang mendarat, Taman Siswa ditutup. Normal Islam di Bireuen mengalami nasib yang sama. Demikian pula sekolah tempat saya mengajar. Saya menganggur alias tidak ada kerja. Karena itu saya pulang ke Teupin Raya. Murid-murid saya hibur panjang. Mereka semua sudah berkumpul dengan orang tuanya. Sejenak saya termenung. Apa yang akan saya kerjakan pada zaman sulit seperti ini?
Posisi Jepang dalam peperangan berubah dad ofensif menjadi defensif mulai tahun 1943. Juni memberikan pengaruh besar bagi perjuangan bangsa Indonesia, baik di bidang militer maupun di bidang pemerintahan.
Juni 1943 Jepang mempersiapkan suatu strategi pertahanan barn di kepulauan Indonesia. Strategi ini membebankan pertahanan territorial pada pasukan Indonesia yang telah dilatih dan dibina dengan semangat tentara Jepang (Nippon Seisin). Pasukan Jepang sendiri memusatkan kegiatan pada front-front pertempuran besar dengan peranan strategis sebagai inti pertahanan pulau. Karena itu diperlukan pasukan bersenjata lain, dengan jati diri dan korps perwira tersendiri pula.
Demi cita-cita memenangkan peperangan Asia Timur Raya, Jepang melepaskan konsesi dan memberikan alat ampuh ini kepada bangsa Indonesia dalam bentuk suatu korps kesatuan tentara sebagai pembela tanah air yaitu Giyugun. Dan Teuku Susan Dik, saya mendengar bahwa Jepang akan membuka latihan untuk tentara khusus pemuda Indonesia. Beliau juga menganjurkan agar saya mengikutinya. Dengan latihan itu, saya akan dapat bekal ilmu di bidang militer. Beliau juga mengisyaratkan bahwa ilmu itu akan berguna bagi kita untuk melawan Jepang nantinya.
Akhirnya saya memutuskan untuk ikut latihan Giyugun di Kutaraja. Bulan November 1943, pasukan tempat saya bergabung, yang barn saja dilatih selama sebulan, diuji langsung oleh Mayor Jenderal Hoyo. Dalam ujian ini saya mendapat nilai terbaik di antara peserta.
Pemuda-pemuda yang mengikuti latihan Giyugun umumnya berasal dad kalangan Uleebalang, anak bekas para kolonel ke-V atau barisan Fujiwara Kikan (barisan F) dan anak tokoh
Masyarakat (Ulama) Secara khusus dicari pemuda yang cakap, kecuali mereka yang mendapat prioritas karena pertimbangan politis bekas anggota barisan F yang telah berjasa sewaktu Jepang Seusai latihan di Kutaraja, saya dipindahkan ke Lhokseumawe, sebentar di Idi dan yang paling lama di Meureudu, Aceh Pidie. Untuk seluruh daerah Aceh, Giyugun dikomandani oleh Omura Syosa (Mayor Omura).
Setelah menjalani latihan-latihan berat dan mempelajari pengetahuan militer lainnya selama setahun, maka untuk pertama kalinya di seluruh Sumatera dilantiklah sebanyak 18 orang perwira Giyu-gun di Medan dengan diberi pangkat Syol (Letnan II), yaitu I ( perwira dan Aceh dan 2 orang dan Sumatera Timur. Ke 16 perwira dan Aceh adalah (1) Nyak Neh Rika; (2) Said Usman. Sarong; (4) T. Abdul Rahman Keumangan; (5) Sjamaun Gaharu; (6) T. A. Hamid Azwar; (7) T. M. Daud Samalanga; (8) T. Muhammad Syah; (9) Bahtiar Dahlan; (10) T. Ismail Yakub; (11) T. Tjut Rahman; (12) Wahab Makmur; (13) M. Nasir; (14) Hasan Ahmad Meulaboh; (15) Razali; dan (16) Nyak Hukum
Yang dua orang dan Sumatera Timur (Medan) adalah: Ahmad Tahir, dan Hopman Sitompul.
Selain dan ke 18 perwira tersebut, kemudian menyusul lagi beberapa orang perwira yaitu Husin Yusuf, Hasballah Haji, T. Hamzah, Said Au, Ismail Mangki, Hasbi Wahidy, Nurdin Sufi, Nyak Adam Kamil, T. A. Hamdani dan lain-lain. Perwira Giyugun angkatan pertama kemudian mendapat kenaikan pangkat satu tingkat menjadi Chui (Letnan I).
Daerah Aceh dibagi menjadi 13 wilayah. Masing-masing wilayah ditempatkan kompi Giyugun (Giyugun chutai) dengan susunan dan dislokasi sebagai berikut:
Markas Dai-tai Honbu berkedudukan di Idi dengan Otnura Syosa sebagai taicho. Ta dibantu beberapa perwira Giyugun, seperti Gyusyoi Isjrin Nurdin, Gyu-jun-i Sugio Selam.
Dai-ehi Chutai/Maeda Tai berkedudukan di Idi dengan perwira Giyugunnya: Gyu-chui Bahtiar, Gyusyoi Adjat Musi.
Dai-ni Chutai/Kaze-tai berkedudukan di Samalanga. Perwira-per. wira Giyugunnya: Gyu-Chui T. Hamid Azwar, Gyu-chui T. M. Daud Samalanga.
Dai-san Chutai/Nemoto-tai berkedudukan di Meureudu/Jangkabuya dengan para perwira Giyugunnya: Cyuchu i Sjamaun Gaharu, Gyusyoi Hasballah Haji. Pada kompi ini pernah terjadi pemberontakan 2 pleton Giyugun dipimpin Gyusocho T. Hamid Meureudu, akibat perlakuan sadis dari Nemoto Chui. Akhirnya Nemoto-chui digantikan dengan Matsusirna chul.
Dai-ton ChutailKhawaji-tai dengan perwira-perwira Giyugun-nya: Gyu-chui T. A. Rahman Keumangan dan Gyushoi T. Abdullah Titeue bermarkas di Padang Tiji.
Dai-Jo ChutaiiOgino-tai di Kutaraja/Leupueng dengan Gyu-chui Nyak Neh Rika, Gyu’syoi Said Mi, dan Usman Nyak Gade.
Dai-roku Chutailllayasyi-tai berkedudukan di Lamno. Perwiraperwira Giyugunnya adalah, Gyuchui Said Usman dan Gyuchui T. Muhammad Syah.
Dai-sichi Chutai/Miyakawatai berkedudukan di Calang dengan perwira-perwira Giyugunnya: Gyuchui A. Wahab Makmur, Gyujun-i A. Kadir Jaelani.
Dai-hachi ChutailTakagi-tai berkedudukan di Meulaboh/Senagan dengan perwira-perwira Giyugunnya: Gyuchui T. Cut Rahrnafl, Gyuchui Hasan Ahmad.
Kompi ke IX berkedudukan di Blang Pidie dengan Gyuchui T. Usman Yakob, Gyusyoi Habib Muhammad Syarif.
Kompi ke X berkedudukan di Tapak Tuan dengan Gyuchui M. Natsir dan Gyuchui Razali.
Kompi ke XI berkedudukan di Bakongan dengan Gyuchui Nyak Hukum dan Gyusyoi Iskandar
Kompi ke XII berkedudukan di Trumon dengan Gyusyoi Nyak Adam Kamil dan beberapa perwira Giyugun Iainnya.
Kompi ke XIII berkedudukan di Singkel dengan Gyushoi B. B. Jalal sebagai perwira Giyugunnya.
Setelah proklamasi, para perwira tersebut tercatat berperan besar dalam perjuangan mempertahankan Republik. Mereka bukan saja banyak menentukan dan memegang peranan penting dalam pembentukan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Aceh, haik sejak mulai dan API, BKR, TKR, TRI dan TNT, tetapi juga turut aktif dalam menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan di dalam mau pun di Juan daerah Aceh.
Bulan Maret 1943 bisa dikatakan sebagai puncak ekspansi tentara Jepang yang memperoleh sukses besar Dua bulan sesudahnya, kekuatan Amerika Serikat di Lautan Pasifik bangkit dan mulai menghancurkan armada-armada Jepang. Kedudukan Jepang mulai terdesak. Markas tentara Jepang ke XXV dipindahkan dan Singapura ke Bukit tinggi.
Perpindahan mi memberi petunjuk bahwa Sumatera berperan renting dalam menghadapi serangan pihak Sekutu, terutama yang datang dan arah India, Srilangka dan lain-lain. Dengan demikian posisi Aceh yang berada di bagian paling utara dan barat Pulau Sumatera menjadi sangat strategis bagi pertahanan Jepang. Karenanya di daerah dibangun instalasi-instalasi pertahanan, seperti lapangan-lapangan terbang, lobang-lobang perlindungan, per.. tahanan pantai, rintangan-rintangan yang memperlambat gerak musuh, ranjau-ranjau untuk menghalangi penerjunan tentara payung dan lain-lain.
Pembangunan mi semua dilaksanakan secara tradisional dengan mengerahkan tenaga rakyat dan mempergunakan bahan-bahan yang tersedia di tempat. mi merupakan beban berat bagi rakyat Aceh yang mesti dibayar, tidak hanya dengan tenaga dan harta, tetapi juga nyawa!
Perkembangan yang terjadi selama pemerintahan Jepang itu tentu saya ikuti terus. Kemelaratan rakyat sangat menyedihkan, ditambah kerja paksa dalam keadaan kurang makan. Jepang membuka jalan raya baru sepanjang lebih kurang 150 kilometer di ten- gab rimba Gayo, antara Rikib Ghaib dan Ise-Ise. Pengerjaan jalan yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 1944 dan selesai bulan Juni 1944 itu banyak memakan korban. Ribuan romusha dan bukan romusha berguguran. Juga proyek raksasa Basis di Gunung Setan, antara Kutacane dengan Blang kejren sejauh lebih dan 70 kilometer. Pekerjanya tidak hanya berasal dan Aceh dan Sumatera Utara, malah didatangkan dan pulau Jawa. Di sini korban yang jatuh lebih banyak lagi. Puluhan ribu orang meninggal, karena busung lapar dan diserang nyamuk malaria.
Lapangan terbang yang dibangun di beberapa tempat seperti Tambo di Aceh Utara, Trumon di Aceh Selatan, Blang Peutek di Pidie din Sungai Iyu di Aceh Timur, jelaslah menambah beban penderitaan rakyat. Korban berjatuhan tenis menerus dan paksa tetap berlangsung tanpa ampun. Yang bertugas mengerahkan dan mengatur orang untuk dikerjapaksakan adalah para Su (Camat)
Pemerintah pendudukan Jepang di Aceh membentuk lei a yang dinamakan Syu Min Koa Hookokai (Badan Kebaktian Penduduk untuk Membina Asia) dan Perlindungan Tanah Air. Badan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Ulama dan Uleebalang yang langsung dibina oleh Shu Cokan. Jepang sangat membutuhkan bantuan rakyat Aceh, mereka memerlukan dana yang besar dan tenaga yang banyak untuk mewujudkan Pertahanan Semesta.
Dari pengetahuan Jepang tentang sifat-sifat dan ciri-ciri orang Aceh yang sangat ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda seperti fanatisme, dendam, emosional, berani dan setia oleh Jepang dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Jepang mempergunakan Aceh sebagai daerah utama untuk mere pemuda-pemudanya menjadi militer atau semi militer. Februari 1943 Jepang mulai merekrut para pemuda untuk dijadikan Tokubetsu Keisatsu-tai, semacam Polisi Brigade Mobil sekarang.
Menjelang Jepang menyerah, pasukan mi beranggota k kurang 700 orang dengan persenjataan lengkap, tersebar di sepanjang pantai Aceh. Di antara mereka ada yang menjadi perwira komandan keseluruhan adalah seorang petualang Jepang yang bernama Korewa.
Kemudian pihak Jepang membentuk dua badan yang mengurus pengerahan tenaga fisik. Badan yang pertama dinamakan Anggota Heiho diperbantukan pada tentara serta bisa di bawah ke mana saja untuk kepentingan militer Jepang. Mereka diberikan latihan-latihan militer tertentu, tapi sebenarnya mereka digunakan untuk melayani pekerjaan kasar untuk mendukung gerakan militer.
Badan kedua adalah romusha. Romusha adalah badan untuk mengumpulkan dan mengerahkan tenaga kerja manusia secara paksa. Setiap warga Aceh diwajibkan bekerja untuk kepentingan Jepang selama tujuh hari atau lebih dalam sebulan. Mereka dipekerjakan dalam kondisi yang amat menyedihkan. (Halaman 26 – 40)



24. Judul : Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arief
Penulis : Mardanas Safwan
Penerbit : Jakarta: Balai Pusat , 1992.

· ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Sesudah berkuasa di Indonesia, Jepang berusaha mengambil had rakyat Indonesia, dengan mengatakan bahwa kedatangan mereka ke Indonesia adalah untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penindasan bangsa kulit putih. Jepang akan membentuk daerah kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Solidaritas Asia menentang Barat di bawah hegemoni Jepang merupakan suatu ide yang bagaimanapun akan memancing sambutan lunak dan orang Indonesia. Pemimpin Indonesia yang diasingkan &eh pemerintah Hindia Belanda seperti Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dibebaskan kembali oleh Jepang. Buat sementara Jepang membentuk pemerintahan militer, yang membagi Indonesia menjadi 3 daerah kekuasaan pemerintahan militer.
- Sumatera dikuasai oleh tentara ke-25, dengan Bukittinggi sebagai pusat.
- Jawa dikuasai oleh tentara ke-16 dengan Jakarta sebagai pusat.
- Indonesia Timur dan Kalimantan menjadi daerah kekuasaan Angkatan Laut Jepang dengan Makassar (Ujung Pandang) sebagai pusat.[1]
Sistem pemerintahan Hindia Belanda terus dilanjutkan. Pulau Sumatera dibagi menjadi 9 keresidenan. Tiap-tiap daerah keresidenan diberi pemerintahan sendiri-sendiri yang diperintah oleh seorang Residen (Shu Cokang). Aceh dijadikan saw karesidenan yang diperintah seorang Residen.
Teuku Nyak Aril diangkat 0kb pemerintah militer Jepang sebagai penasehat pemerintah militer daerah Aceh. Bahkan pada zaman permulaan pendudukan Jepang, Teuku Nyak Aril diangkat sebagai penasehat terkemuka, karena pemerintah Jepang sudah mengetahui bahwa ia adalah pemimpin terkemuka di Aceh.[2]
Sebenarnya Teuku Nyak Arif telah 1dilahat bahaya yang akan timbul akibat penjajahan Jepang ini. Tetapi walaupun begitu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan rakyat adalah menerima kerja sama dengan Jepang. Ia tidak pernah bekerja sungguh-sungguh dengan Jepang, sebaiknya pemerintah Jepang betul-betul mengharapkan bantuan dari Teuku Nyak Arif. Sebagai pemimpin terkemuka di Aceh, beliau diangkat sebagai Gunco di Kutaraja, Teuku Panglima Polim sebagai Gunco di Seulimeum dan Teuku Hasan Dik menjadi Gunco di Sigh.
Sebagai manifestasi dad ketidaksenangan Teuku Nyak Arif terhadap Jepang ialah ucapannya sebagai berikut: Kita usir anjing, datang babi. Babi lebih jahat dan anjing, penjajahan Jepang lebih jahat dari penjajahan Belanda. Analisa Teuku Nyak Arief ini ternyata benar. Jepang yang pada mulanya datang sebagai sahabat, kemudian mengambil tempat Belanda yang lama sebagai penjajah. Akibat kekejaman tindakan Jepang, maka di Aceh pada tahun 1942 itu juga, belum lama sesudah Jepang datang timbullah pemberontakan yang dipimpin oleh Kiyai Muda yang bernama Tengku Abdul Jail!, seorang gut-u mengaji di Cot Piling. Pada waktu itu kebanyakan Kiyai masih berpropaganda untuk Jepang. Pada tanggal 10 November 1942 tentara Jepang menyerang pertahanan di Cot Piling, di mana rakyat sedang bersembahyang subuh. Senjata mereka adalah kelewang beserta senapan mesin rampasan dari Belanda. Serangan Jepang yang pertama terpukul mundur, sehingga mereka kembali ke Lhokseumawe.
Dalam serangan yang kedua pertempuran berkobar lagi, dan barn pada serangan ketiga masjid dibakar oleh Jepang. Tengku Jalil dapat meloloskan din, tetapi akhirnya tertembak juga waktu sedang bersembahyang. Korban di pihak Jepang 90 orang dan di pihak Aceh lebih kurang 300 orang.
Dengan adanya pen awan an rakyat Aceh, maka pemerintah Jepang lebih berhati-hati lagi dalam menjalankan pemerintahan di Aceh. Sebagian tuntutan rakyat Aceh dikabulkan oleh Pemerintah Jepang dengan mendapat keistimewaan dad daerah lain di Indonesia. Kepada Aceh diberikan tata hukum dan urusan agama tersendiri dengan diadakan kehakiman dan mahkamah agama serta Aceh Syurai. Keadaan ini sebenarnya belum dapat memuaskan rakyat Aceh, tetapi dibandingkan dengan di masa penjajahan Belanda, rakyat Aceh telah memperoleh kemajuan dalam perjuangannya. Kemajuan yang diperoleh mi adalah berkat jasa seorang pembesar Jepang yang mengerti tentang psikologi rakyat daerah itu dan kepentingan agama. Pembesar Jepang itu bernama E. Oki, pembentuk dan kepala kehakiman daerah Aceh pada waktu itu. Memang banyak jasa E. Oki bagi rakyat Aceh dalam menghadapi masa kepahitan, dan kebaikan pribadinya patut diingat dan dihargai oleh rakyat Aceh.[3]
Setelah terjadi peristiwa ini, maka pemerintah Jepang lebih menyempurnakan aparatnya lagi. Untuk keperluan Ru, maka dibentuk Aceh Syu Sangikal (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh). Yang dipilih mengetuai dewan mi adalah Teuku Nyak Arif. Jabatan ini dipegangnya dad tahun 1943—1945. Pada bulan Juli 1943 Teuku Nyak Areif sebagai ketua Aceh Syu Sangikai diundang oleh Jepang ke Tokyo. Juga ikut diundang Teuku Hasan Dik dan pemimpin-pemimpin ham dan Pulau Sumatera. Jepang sengaja mengundang para pemimpin mi untuk memperlihatkan bagaimana hebatnya Jepang, dan meyakinkan mereka agar betul-betul mereka menyokong peperangan Asia Timur Raya.
Wakil Sumatera yang dikirim ke Jepang itu berjumlah 15 orang yaitu:
Teuku Nyak Arif, (Aceh),
Teuku Hasan Dik (Aceh),
Mr. Mob. Yusuf (Sumatra Timur),
Zainuddin (Sumatera Timur),
Mob. Syafei (Sumatcra Barat),
Dutuk Majo Urang (Sumatra Barat),
Syamsuddin (Riau),
Abdul Manan (Jambi),
Ir. Indra Cahaya (Bengkulu),
Raden Hanan (Palembang),
Abdul Rozak (Palembang),
Mob. Syarif (Bangka),
Seorang tokoh (dari Lampung),
St. Kumala Pontas (Tapanuli),
RPNL Tobing (Tapanuli).


Sebagai pemimpin rombongan ialah seorang Jepang yang bernama Sato dan sebelumnya telah lama tinggal di Kutaraja sebagai wiraswasta. Rombongan kemudian diberangkatkan ke Singapura. Selama 10 hari di Singapura mereka selalu menerima indoktrinasi dalam rangka kemakmuran bersama Asia Timur Raya. Di samping pemimpin rombongan seorang Jepang, juga ditetapkan Teuku Hasan Dik sebagai ketua dan Teuku Nyak Arif sebagai wakil ketua.[4]
Selama rombongan menginap di Singapura, mereka juga mendapat kunjungan dad anak-anak Sumatera yang tinggal di kota itu. Di antara pemuda Ru terdapat seorang pemuda yang bernama M. Rasyid Manggis. Menurut M. Rasyid Manggis Teuku Nyak Arif’ dan Teuku Hasan Dik selalu memencilkan did. Wajah mereka kelihatan muram, seolah-olah ada sesuatu yang berlawanan dengan rasa dan pikiran mereka. Bahkan Teuku Nyak Arif pernah mengatakan kepada M. Rasyid Manggis, bahwa tidak ada yang akan dijemput dad Jepang, Kebudayaan kita cukup tinggi dan budi bahasa kita cukup halus. Dan perkataan Teuku Nyak Arief yang tegas dan sinar matanya yang tajam dapat ditangkap bahwa ia lwrang senang kepada Jepang. Ketika dilakukan serah terima rombongan dan tentara yang mengantar dan tentara yang akan membawa rombongan ke Jepang, Teuku Nyak Ant dan Teuku Hasan Dik belum datang juga, sedangkan anggota rombongan yang lain telah lengkap hadir. Setelah dijemput barulah tokoh itu turun ke loby hotel untuk mendapatkan pesan terakhir sebelum melanjutkan perjalanannya ke Tokyo.[5]
Perjalanan dad Singapura ke Jepang berlangsung selama 12 had. Sesampai di Tokyo rombongan langsung disambut oleh petugas-petugas kemiliteran. Rombongan kemudian dibawa ke Istana Kaisar Tennoheika. Ketika rombongan diperintahkan untuk Saekere (memberi hormat rukuk), Teuku Nyak Arif dan Teuku Hasan Dik menolak. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya bersedia menyembah Tuhan. Akibat sikap Teuku Nyak Arif mi, maka timbullah ketegangan antara rombongan dan pembesar Jepang.
Tetapi Tuan Sato, pemimpin rombongan dan juru bicara yang telah mengerti soal agama di Indonesia, minta kepada rombongan supaya mengangguk saja, dan cara ini disetujui oleh seluruh rombongan. Semenjak itu kepada rombongan tidak pernah lagi diminta melakukan Sackere. Rombongan juga dijamu oleh Perdana Menteri Jepang Tojo Hideki, Di dalam kata sambutannya Tojo Hideki mengatakan tentang Perang Asia Timur Raya Ketua rombongan Teuku Hasan Dik dalam pidato balasannya mengatakan bahwa sesudah perang, Indonesia harus dilepaskan oleh Jepang, clan tentara Jepang yang bertugas di Indonesia hendaknya dipilih mereka yang mempunyai akhlaq yang baik.
Dalam setiap kesempatan berpidato pembesar Jepang selalu berusaha memisahkan Pulau .Jawa dan Sumatera. Tetapi sebaliknya Teuku Nyak Arif dan Teuku Hasan Dik selalu menekankan, bahwa Indonesia bukan Sumatera saja. Sebagai buku bahwa Jepang ingin memisahkan Sumatera dan Jawa ialah rombongan Sumatera dan rombongan Jawa tidak boleh bertemu di Jepang. Rombongan Jawa juga terdiri clan tokoh politik terkemuka seperti Parada Harahap dan Sutarjo.
Di setiap kunjungan resmi Teuku Hasan Dik sering digantikan oleh Teuku Nyak Arif, karena rematiknya sering kambuh. Dalam setiap pidato Teuku Nyak Arif semua orang Jepang yang hadir selalu merah mukanya, sebab dad gerakan dan cara ucapan Teuku Nyak Arif dapat ditangkap bahwa ia bend kepada Jepang. Selama di Tokyo Teuku Nyak Arif juga dijamu oleh kenalannya orang Jepang untuk makan di rumahnya. Menjelang meninggalkan Tokyo, rombongan dijamu oleh Walikota Tokyo. Karena berasnya bagus maka Teuku Nyak Arif secara berkelakar mengatakan bahwa beras ini berasal dan Aceh.
Keadaan di Tokyo pada waktu flu sering tidak aman, karena kota Ito sering diserang oleh pesawat terbang Amerika. Pada waktu itu telah tersiar berita bahwa Italia telah menyerah kepada Sekutu.
Kapal-kapal besar ialah dipergunakan Jepang untuk berperang. anggota rombongan banyak dibawa dengan kapal kecil. Ternyata kapal kecil lam membawa rombongan dengan selamat sampai ke Indonesia, karena kapal besar selalu diserang oleh Sekutu. Perjalanan dari Jepang sampai di Singapura memakan waktu 42 hari. Setelah berada satu minggu di Singapura rombongan pulang ke daerah masing-masing dengan pesan agar menceritakan yang baik-baik saja tentang Jepang yang mereka lihat. Teuku Nyak Arif pulang melalui Pekan Baru, Bukittinggi, Tapanuli, Sumatera Timur clan terus ke Aceh bersama Teuku Hasan Dik.
Sekembali dari Tokyo Teuku Nyak Arif dan Teuku disuruh Jepang berpidato di depan masjid raya Kutaraja. Mereka diperintahkan mengemukakan san-kesannya selama di Tokyo. Kedua pemimpin itu terpaksa mengemukakan kepada rakyat bahwa Jepang itu hebat, berkuasa dan kuat, tetapi walaupun begitu dari yang tersirat dan pidato itu dapat diangkat, bahwa kedua pemimpin itu mengejek Jepang. Bahkan Teuku Hasan Dik pernah mengatakan bahwa Jepang yang di negerinya adalah orang baik-baik, sedangkan orang Jepang yang di Indonesia adalah orang Jepang yang jahat dan jelek. Akibat ucapannya itu maka Teuku Hasan Dik kemudian ditangkap dan di bunuh oleh Jepang.
Sesudah kawan seperjuangannya dibunuh Jepang maka Teuku Nyak Arif semakin tidak senang kepada Jepang. Pada suatu saat yang tepat Jepang harus dilawan dan dihancurkan. Sebagai pejabat Pemerintah Jepang, Teuku Nyak Arif juga sering erke1iIing daerah Aceh, seperti ke Aceh Barat dan Aceh Selatan. Dalam salah saw togas di Aceh Barat bersama-sama dengan Tengku Ismail Jacob, Teuku Nyak Arif pernah mengatakan kepada Tengku Ismail Jacob sebagai berikut:
Kita harus mempergunakan apa saja dari Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Kita haru menganjurkan kepada rakyat untuk belajar berperang dan menanamkan semangat anti penjajahan. Jepang pasti akan kalah dalam perang Pasific ini, dan Belanda pasti akan kembali ke Indonesia. Pada waktu itulah kita pakai ilmu yang telah kita pelajari mengenai berperang dan lain-lain. Sekarang inilah kesempatan yang paling bait dan kesempatan lain sudah tidak ada lagi. Pakailah ilmu yang sudah kilts pelajari untuk melawan Belanda yang in gin kembali. Persatuan Indonesia harus diperkokoh, Jawa tidak dapat berjuang sendiri, demikian pula pulau-pulau lain di Indonesia.”[6]
Teuku Nyak Arif selalu memperhatikan kepentingan rakyat, walaupun dilahirkan sebagai keturunan bangsawan. Ia tidak pernah bersifat sebagai seorang feodal. Teuku Nyak Arif hidup di tengah-tengah rakyat dan bergaul dengan mereka.
Dalam zaman pendudukan Jepang kehidupan rakyat sangat parah, Rakyat dipaksa bergotong-royong, tetapi basil mereka diambil secara paksa oleh Jepang. Melihat keadaan ini Teuku Nyak Arif selalu tampil ke depan membela kepentingan rakyat. Dalam kebanyakan pidatonya Ia selalu mengecam polisi militer Jepang, begitu juga Residen dan pegawai sipil Jepang lainnya. Ia selalu marah-marah karena Jepang membayar harga padi rakyat terlalu murah, Kalau ada kesulitan, rakyat selalu dalang kepada Teuku Nyak Arif untuk mengadu.[7])
Organisasi Muhammadiyah yang dibantunya semenjak zaman Hindia Belanda, tetap dibantunya dengan sekuat tenaga. Pada waktu itu rumah anak yatim Muhammadiyah akan dipakai oleh Jepang sebagai asrama. Pemimpin Muhammadiyah telah berusaha menghubungi pembesar Jepang agar maksud Ru jangan diteruskan, akan tetapi permintaan itu tidak digubris oleh Jepang. Setelah menemui kesulitan, maka pemimpin Muhammadiyah datang menemui Teuku Nyak Arif minta haluan untuk menyelesaikannya. Teuku Nyak Arif langsung menemui pembesar Jepang dan memaksa Jepang membatalkan rencananya flu. Kalau Pemerintah Jepang meneruskan juga maksudnya, keselamatannya tidak akan terjamin. Karena ancaman Teuku Nyak Arif maka pemerintah Jepang tidak jadi meneruskan maksudnya. Selamatlah asrama anak yatim Muhammadiyah dari nafsu serakah Jepang itu.[8])
Dalam pada Ru kehidupan rakyat makin sengsara, bertindak semakin kejam. Harapan untuk menang dalam Perang Pasific semakin tipis. Rakyat harus dikerahkan untuk ikut mempertahankan kehidupan Jepang di Indonesia. Karena tidak tahan melihat penderitaan rakyat, maka pada bulan November 1944 meledak pemberontakan Gyugun yang dipimpin oleh seorang perwira yang bernama Teuku Hamid. Ia baru berumur 20 tahun dan berasal dan Meureudu. Teuku Hamid melahirkan 2 peleton Gyugun ke gunung. Ia kemudian terpaksa menyerah karena keluarganya diancam akan dibunuh jika Ia tidak kembali. Tidak lama kemudian menyusul pemberontakan Pandrah di kabupaten Bireuen yang dipimpin oleh seorang kepala kampung yang dibantu oleh satu regu Gyngun. Korban rakyat sangat besar dalam pemberontakan mi. Dan yang tertawan, 75% dibunuh oleh Jepang.
Di daerah Aceh, kekuatan Jepang makin besar, karena Aceh merupakan basis pertahankan terhadap. Singapura dan Malaya, Nikobar, Andaman serta daratan India dan Birma. Jadi bagaimanapun besarnya pemberontakan waktu itu, pasti dapat ditindas oleh Jepang. Tetapi walaupun bagaimana pemberontakan itu telah menggambar kan semangat patriotik rakyat Aceh melawan Jepang.
Pada tahun 1944 situasi perang Pasific semakin tidak Jepang. Hampir di semua medan pertempuran Jepang mengalami kekalahan. Harapan untuk menang dalam Perang Pasific sudah tidak ada sama sekali. Bagi Jepang yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana penyelamatan kepulauan Jepang ash dan pemboman Sekutu, dan penyerahan kepada Sekutu dengan cara yang tidak begitu memalukan bagi pemerintah Jepang. Rakyat di daerah jajahan seperti Indonesia hams diikutsertakan dalam lapangan politik dan militer. Dalam lapangan militer telah dibentuk Pasukan. Pembela Tanah Air (PETA), Gyugun dan Heiho. Dalam lapangan politik di Jawa telah dibentuk Jawa Hokokai (Kebaktian Rakyat) Jawa, yang anggota-anggotanya terdiri dad tokoh politik terkemuka. Di Sumatera juga dibentuk Sumatra Cuo Sangi In yang berpusat di Bukittinggi.
Untuk jelasnya baiklah dikutip pidato lengkap Teuku Nyak Arif dalam sidang Sumatera Cuo Sangi In pada bulan Maret 1945, dan catatan yang dibuat oleh Teuku Nyak Arif pada masa pendudukan Jepang. Salman pidato itu direkam ke piringan hitam oleh studio Radio Bukittinggi.
Para Pendengar yang mulai!
Sumatra Cuo Sangi In sudah dua hari berturut-turut membicarakan soal-soal yang mengenai kepentingan rakyat Indonesia di seluruh Kepulauan Sumatera ini. Langkah pertama yaitu mempersatukan daerah-daerah serta penduduknya telah tercapai. Dengan segala kegembiraan kita dengar suara-suara yang membawa pikiran kita kembali ke zaman lampau, ke zaman waktu tanah air kita masih mempunyai kedaulatan sendiri. Sumatera Cuo Sangi In akan membawa kita bersama secepat mungkin ke arah yang kita ingini, dengan penghargaan dan bekerja sama seluruh penduduk Pulau Sumatera ini. Persatuan lahir batin yang kokoh dengan mempunyai tujuan yang kita bersama. Kemerdekaan akan mencapai dengan berbagai-bagai pengorbanan, pengorbanan dan pertahanan yang sempurna hanya dapat dilaksanakan oleh rakyat yang segar dan sehat.
Oleh sebab itu terdengarlah do/am gedung Sumatera Cuo Sangi In suara-suara yang meminta supaya makanan, kesehatan dan kepentingan rakyat yang lain-lain supaya diperhatikan. Dalam pejuang kita untuk meninggikan derajat bangsa. hendaklah sifat-sifat lama yaitu menjilat don ,menjatuhkan kawan seperjuangan dibuang kedalam Lautan Hindia. Untuk membatasi segala akibat peperangan, yaitu kesusahan hidup sehari-hari, marilah kita bersama-sama melakukan dengan war dan setia tuntutan agama. ingatlah selalu akan ayat Al-Qur’an, Allahumma Syahirin, Allah mengasihi hamba -Nya yang sabar. Assalamu’alaikum Warahmatullahi!
Pada setiap pidato di depan massa rakyat, Teuku Nyak Arif selalu dan terus-menerus menggembleng semangat rakyat untuk berjuang lebih hebat guna mencapai kemerdekaan seluruh bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia hams direbut dengan tekad yang bulat dan persatuan yang kokoh. Dalam setiap pidatonya Teuku Nyak Arif tidak pernah menyinggung sedikit pun tenang pemerintahan Dai Nippon yang jaya akan menghadiahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Sebaliknya Ia mengajak seluruh rakyat menggalang persatuan yang kuat, bahu-membahu memperjuangkan sendiri kemerdekaan Indonesia.

Catatan: Dan Aim. TEUKU NYAK ARW yang disalin menurut aslinya, dalam masa Jepang.
1. Pemuda dan pemudi Indonesia hendaklah dengan sungguh-sunggah mempertinggi derajat tanah-airnya INDONESIA dengan jalan memelihara dan mempertinggi peradaban, bahasa dan kebudayaan sendiri. Hendaklah dengan keimanan yang teguh bertaqwa kepada Khalikul Alam yaitu Tuhan yang Satu. Dengan keyakinan yang tidak bergoncang, berbakti dan mencintai Negara dan Bangsamu INDONESIA yang akan MERDEKA.
2. a. Sebagai langkah pertama untuk persiapan Indonesia Merdeka hendaklah bangsa Indonesia diangkat: dalam segala jabatan pemerintah.
b. Dalam masa peperangan mi hendaklah rakyat selamanya sang gap dan setia membantu pekerjaan pertahanan negeri. Untuk 1w kesehatannya tetap terpelihara. Salah saw syarat untuk menjaga kesehatan ialah makanan jangan kurang. Cara mengumpul padi dan mengatur makanan rakyat hendaklah dijalankan dengan sempurna berdasarkan ilmu kesehatan.
c. Supaya hash barang bertambah janganlah- rakyat yang sedang mengerjakan sawahnya disuruh pula pergi ke luar tempat tinggalnya melakukan kewajiban lain- lain.
d. Untuk mencegah naiknya harga barang dalam satu Syu tidak perlu diadakan larangan membawa atau memasukkan barang-barang dan satu Gun ke Gun lain.
e. Usul-usul San gikai yang telah disahkan oleh Cokang Kakka hendaklah dijalankan sebagai aturan pemerintah.
f. Dalam Aceh Syu semua rakyat ash beragama Islam. Oleh sebab flu dalam tiap-tiap tindakan seperti membeli, meminjam dan mengambil harta-harta bumi putra lain-lain hendaklah berlaku secara hukum Islam.

3. Aturan agama (slam dalam masyarakat hendaklah dihormati.
4. a. Sebagai langkah pertama untuk persiapan Indonesia Merdeka hendaklah bangsa Indonesia diangkat dalam segala jabatan pemerintah.
b. Pertukaran penyelidik antara Jawa dan Sumatera untuk persatuan Indonesia.
5. Rusia Kontra Amerika-Inggris harapan Asia bersatu Indonesia Merdeka lebih besar.

Catatan Teuku Nyak Arif pada zaman pendudukan Jepang, terutama dalam analisa, didasarkan kepada politik berdasarkan pengalaman selama zaman Hindia Belanda dan masa pendudukan Jepang. Penga1amaniya ml makin diperkaya lagi dengan hasil peninjauannya ke Jepang bersama-sama dengan rombongan dad Sumatera. Lebih-lebih pula pada masa itu telah tersiar kabar bahwa Italia telah menyerah kepada Sekutu. Dengan demikian Inggris tentu akan membagi armadanya sehingga front Asia akan diperkuat. Kekalahan Jepang dalam perang Pasific hanya menunggu waktu saja.
Sebagai wakil Cokang Kakka, Teuku Nyak Arif dalam itu persidangan selalu berdebat dengan orang-orang Jepang. Datarn salah satu pertemuan Teuku Nyak Arif pernah menunjuk-nunjuk kepada orang Jepang yang menjadi Bushu-cho di Kutaraja yang duduk berhadapan dengan beliau. Teuku Nyak Arif mengatakan: Inilah Jepang pengkhianat yang membusukkan nama Jepang yang lain. Orang Jepang itu terus melompat dan menyentak pedangnya keluar untuk memancung Teuku Nyak Arif. Ia tidak gentar menghadapi ancaman itu, malahan menentang dengan kata-kata sebagai berikut: Ini pancung leherku kata Teuku Nyak Arif sambil membuka dadanya. Zaman Hindian Belanda tidak mati dengan pelor, dan zaman Jepang tidak akan mati dengan pedang. Tetapi orang Jepang yang mengancam itu terpaksa duduk kembali karena diperintahkan oleh Cokang Kakka yang memimpin persidangan itu.[9]
Dalam zaman pendudukan Jepang Teuku Nyak Arif pernah di tahan oleh Kempetai, tetapi segera dengan campur tangan Cokang dilepaskan. Faktor pengaruh Teuku Nyak Arif yang besar pada rakyat sangat dikhawatirkan oleh Cokang, akan dapat timbul hal-hal yang tidak diingikan karena penangkapan tersebut.
Kemudian setelah diketahui bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, para pemimpin di Aceh sebagian besar belum berani bertindak terhadap Jepang, karena persenjataan Jepang masih lengkap kekuatan militernya masih utuh. Tetapi Teuku Nyak Arif adalah seorang pemimpin yang berani menghadapi Jepang. Ketika terjadi pertemuan di istana Cokang (sekarang rumah dinas Gubernur Aceh) telah terjadi perdebatan antara Cokang dengan Teuku Nyak Arif lengan nada suara keras dan tajam. Ada pun pembicaraan itu sebagai berikut:
Cokang : Kami pembesar Nippon di Aceh melihat tanda-randa kurang baik dari orang-orang Indonesia. Mereka sudah berani tidak patuh dan tic/ak hormat lagi kepada Nippon. Kelakuan itu tic/ak baik, sebab Nippon tetap berkuasa di sini walaupun sudah ada perjanjian perdamaian dengan Sekutu.
T.N. Arif : Orang-orang Indonesia selalu menghormati orang-orang Nippon, tetapi sebaliknya orang-orang Nippon selalu menyakiti hail orang-orang Indonesia. Dengan adanya situasi sekarang mestinya orang-orang Jepang harus mengubah sikapnya dan jangan sewenang-wenang saja.
Cokang : Kami mendapat tugas dan sekutu untuk menjaga keamanan di sini.
TN. Arif : Menjaga keamanan itu baik. Tetapi mengganggu Keamanan dengan sikap orang Jepang di sini tidak baik.
Cokang : Apa maksud Taun
TN. Arif : Orang-orang Jepang masih suka berkeliaran tanpa menghargai orang-orang Indonesia.
Cokang : Orang-orang Indonesia sudah berani membawa pisau dan senjata. Kami sebagai polisi Sekutu tidak senang akan hal itu. Mereka di mana-mana Juga memakai tanda merah putih.
T.N. Arif : Sebagai sama-sama orang Asia mestinya Tuan-tuan menghargai perjuangan kami.
Cokang : Apa orngg-orang di sini akan berontak pada orang lain orang Jepang?
T.N. Arif : Tidak. Mereka tidak akan berontak kepada Nippon. Mereka hanya menghendaki kemerdekaan. Maka jangan diganggu.
Cokang : Tuan sudah banyak bicara sekarang.
T.N. Arif : Dulu saya juga banyak bicara.
Cokang : Tetapi sekarang Tuan bicara keras.
TN. Arif : Saya tidak bicara keras. Tetapi kalau Tuan mau bicara keras silakan, yang penting jangan sakiti hati rakyat Aceh. Sebab rakyat Aceh dapat berontak kapan saja

Pertemuan tersebut berlangsung dalam keadaan tegang, sebab kalangan Gunseikanbu tidak menduga akan keluar ucapan yang keras dari Teuku Nyak Arif. (Halaman 103 – 117)


25. Judul : Tentara Pelajar: Resimen II Aceh Divisi Sumatra 1945 – 1950
Penulis : M.Djaman Zamzami, (at.al),
Penerbit : Pengurus Persatuan ex Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatra, 1985.
v Pelajar di Daerah Aceh di Zaman pendudukan Nippon.

Fakta sejarah turut mencatat bahwa dalam aneka peristiwa ditanah air pada masa pendudukan balatentara Dai Nippon tadi, ikut pula terpadu kegiatan para pemuda pelajarnya. Misalnya kegiatan-kegiatan yang berbentuk latihan kemiliteran, kinrohoshil, bergabung didalam Gyugun, Heiho, Kaigun, Tokubetsu Keisatsutai dan sebagainya.
Demikian pula didalam kegelisahan serta suasana tegang yang meliputi kehidupan masyarakat dan rakyat sebagai akibat tindak tanduk pemerintah dan balatentara Nippon melaksanakan “mission sacre” saudara tua demi “Asia untuk bangsa Asia”.
Rasa kegelisahan yang turut berpengaruh kepada pemuda pelajar didaerah Aceh tersebut akhirnya dalam bentuk dan cara yang tersendiri ikut memberi warna terhadap pergolakan baru didaerah Aceh.
Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan apa yang sexing terjadi di ibukota daerah Aceh, yaitu Kutaraja (sekarang bernama Banda Aceh), gangguan-gangguan terhadap tentara Jepang yang bermarkas di Jalan Pantai Perak yang memanjang dipinggir Krueng Aceh (Sungai Aceh) yang membelah kota Kutaraja. Gangguan tersebut umumnya dilancarkan pada dini hari terutama dimaksudkan sebagai psywar (perang urat syaraf).
Aksi dinihari digerakkan oleh sekelompok pemuda pelajar yang terdiri antara lain Jahja Zamzami, Zulkifli All, Yunan Yuti, Amir Hamzah Ali, Zulkarnain Ali, Sjaiful Idris, Mochtar Harahap, Muhammad Nuh, Sjafaruddin (Syapang), Djanan Zamzami dan lain-lain.
Disuatu kota kecil Susoh (Aceh Selatan), seorang pemuda pelajar Amran Zamzami membuat gara-gara dengan Kaigun (Angkatan Laut Nippon) sehingga ia ditembak dengan senjata pistol dan peluru bersarang didalam perutnya. Lama hams terbaring dirumah sakit untuk mengeluarkan peluru tersebut dad dalam perutnya. Sebabnya ialah karena Ia dipaksa memasuki dinas Angkatan Laut Jepang. Tetapi setelah ia sembuh kembali dan keluar dari rumah sakit, seorang perwira Gyugun yaitu Tsunoda Chu—i (Letnan Satu Tsunoda) menunjuk Amran Zamzami sebagai Komandan Regu calon perwira sukarelawan Pembela Tanah Air yang beranggotakan dua belas orang pelajar.
Pada awal tahun 1943 di Kutaraja dibuka sebuah sekolah tingkatan menengah dengan nama Koa Kunren Tyuto Gakko (Tyu Gakko) dan tidak lama kemudian berdiri pula sekolah pendidikan guru tingkat menengah yang bernama Sihan Gakko. Keduanya merupakan lembaga pendidikan formal yang tertinggi pada masa tersebut didaerah Aceh. Keduanya terletak dikota Kutaraja.
Dan kedua sekolah inilah kemudian timbul kepermukaan pelopor-pelopor muda dan kekuatan inti perjuangan pemuda pelajar angkatan proklamasi didaerah Aceh didalam membela panji-panji kemerdekaan bangsa Indonesia.
Pada waktu sekolah ini mulai berdirinya, Koa Kunren Tyuto Gakko dipimpin oleh Mr. Sutan Muhammad Amin, yang pada waktu Belanda masih berkuasa didaerah .Aceh beliau terkenal sebagai seorang advokat yang sangat disegani oleh pemerintah kolonial tersebut. Orangnya berwibawa dan disegani.
Karena mendapat tugas lain dalam pemerintahan, kedudukan Mr. S.M. Amin sebagai Direktur Koa Kunren Tyuto Gakko digantikan oleh All Murtolo.
Setelah All Murtolo mendapat tugas barn di Bukit tinggi (Sumatera Tengah) kedudukan beliau sebagai Direktur Koa Kunren Tyuto Gaicko tersebut digantikan oleh Ngabei Soeratno.
Diantara para pengajar pada waktu itu antara lain adalah Yustin Siregar, Muchinan, Mohammad Djamil, Teungku Djakfar Walad, Kamaruddin Nasution, Raja Gukguk, M. Hasjim, Oesman Effendie, Zainal Baharuddin, Ibrahim, Teungku Ismail Yakub, Aziz Ibrahim, Soetikno Padmosoemarto, E. Siagian dan M. Moerdani.
Sihan Gakko pada waktu didirikan dipimpin oleh bekas School Opziener (penilik sekolah) dizaman pemerintah Belanda yaitu Ibrahim. Kedudukan beliau kemudian digantikan oleh Djaman Hasibuan. Diantara staf pengajarnya adalah Baharuddin Harahap, Aiwi Umri, Mochtar dan Son Mohammad Siregar.
Pimpinan-pimpinan dan gum-guru (staf pengajar) Koa Kren Tyuto Gakko dan Sihan Gakko telah memberikan pembinaan yang baik sekali dengan antara lain membimbing, mengarahkan dan mengisi jiwa dan mental para pelajar dan kedua sekolah tersebut dengan rasa cinta bangsa dan cinta tanah air serta mental perjuangan. Keadaan ini tidaklah mengherankan, karena mereka (para guru-guru tersebut) dan juga berasal dan lembaga-lembaga pendidikan nasional seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan sebagainya.
Suatu contoh betapa guru-guru tersebut menanamkan semangat mengabdi dan semangat perjuangan dapat kita lihat dan sebuah lagu yang sengaja diciptakan oleh mereka (dalam hal ini lagu oleh E. Siagian dan kata-kata oleh Mohammad Djamil) sebagai dibawab ini:
Genderang perang berbunyi
Memanggil semua
Pemuda dan pemudi
Harapan bangsa
Klux mesti berjuang
Klux mesti menang
Jikalau engkau mati
Arwahmu akan sakit
Berjuang dan berbaktilah
Untuk Indonesia
Seperti golongan pemuda lainnya. para pelajar Koa Kunren Tyuto Gakko dan Sihan Galdco inipun terlibat didalam berbagai kegiatan misalnya kinrohoshuj dan latihan kemiliteran. Pelajar-pelajar Sihan Gakko dikonsentrasikan dalam sebuah asrama (putera dan puteri) yang khusus. Mereka diperlengkapi dengan pakaian seragam seperti tentara Jepang (Gyugun) dengan topi memakai bintang segi lima. Sedang pelajar-pelajar Koa Kunren Tyuto Gakko bertempat tinggal dirumah kediaman orang tua masing-masing. Pakaian latihannya terserah pada usahanya sendiri-sendiri.
Pengawasan ataupun pengendalian oleh pemerintah dan tentara pendudukan Jepang path waktu itu sangatlah ketat.
Namun, dengan secara diam-diam ataupun sembunyi-sembunyi serta kegiatan terselubung, berbagai kegiatan pelajar dapat juga dilaksanakan berulangkali, misalnya pertemuan-pertemuan yang bersifat intrasekolah dimana para pelajar dan guru-guru berbicara ingin berapi-api.
Suatu acara terselubung yang sering sekali diadakan oleh para ajar Koa Kunren Tyuto Gakko dan Silian Gakko adalah main anca Ragam”. Didalam acara “Panca Ragam” tersebut dipertukan berbagai atraksi, mulai dan nyanyian, tani-tarian hingga cerita-cerita kepahlawanan yang selalu mendapat perhatian dan kunjungan penuh sesak.
Untuk berlatih ketrampilan berorganisasi dan penyaluran ha- dan profesi, sebahagian pelajar memasuki Perkumpulan Pencinta Melati (PPM). Melalui organisasi ini para pelajar penyelenggaraan berbagai kegiatan.
Pada waktu itu di Medan terbit sebuah swat kabar harian yang nama Sumatra Shinbun dengan lampiran khusus rubrik remaja khusus singkatan dari Dunia Kanak-kanak Sumatra Shinbun, yang diasuh oleh seorang ahli pendidikan Munar S. Hamijoyo (pernah menjadi Bupati di Langsa) dengan nama samaran Ojisama yang mempunyai artis paman.
Melalui majalah diatas para remaja di Sumatra dapat menyalurkan kreativitasnya dalam karang-mengarang. Dan daerah Aceh bermunculan beberapa orang nama penulis muda (pelajar) seperti MUHAMA (Teuku Muhammad Hanafiah Mahmud), Abdul Majid Ibrahim . Ida Irawaty, Anwar Mahmud, Ridwan Salmy, A. T. Efendie dan Ishak dengan nama samaran Yase Rizal.
Peranan media massa didalam menyampaikan informasi, membentukan opini dan mengobarkan semangat perjuangan ada generasi muda didaerah Aceh pada waktu itu besar sekali. ia masa pendudukan bala tentara Jepang didaerah Aceh, di Kutaraja (ibukota Atjeh Tyu) terbit sebuah surat kabar harian yang nama Atjeh Shinbun yang diasuh oleh Teungku Ismail Yakub, Hasymi, Amelz, A. G. Mutiara, T.A. Talsya, Ibnu Rasyid dan Iwan. Salah seorang pelajar Koa Kunren Tyuto Gakko yang seg mengisi halaman surat kabar tersebut dengan berita-berita mengenai kegiatan pelajar didaerah Aceh adalah M. Djaman Zamzami. (Halaman 7 – 10)


26. Judul : Sejarah Kota Madya Banda Aceh
Penulis : Rusdi Sufi (at. al)
Penerbit : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 1997

A. Masa Pendudukan Jepang
Dalam masa pendudukan Jepang, Banda Aceh dijadikan sebagai kota Garnizun. Sebelum berakhirnya pendudukan Belanda di Aceh dan menjelang datangnya bala tentara Jepang, pada bulan Desember 1941 di Kutaradja telah berlangsung suatu musyawarah kecil, tetapi telah menghasilkan suatu keputusan penting. Musyawarah itu antara lain dihadiri oleh Teuku Nyak Arif, Teuku Panglima Polem Muhammad Au, Teuku Ahmad (Uleebalang Jeunieb), Tengku Daud Beureueh, dan Abdul Wahab Seulimeum. Dan musyawarah ini tercetus suatu pernyataan sumpah setia mereka terhadap agama Islam, bangsa dan tanah air serta menyusun pemberontakan bersama melawan penjajahan Belanda dan bekerja sama dengan pemerintahan Jepang.
Keputusan ini diambil karena kemarahan rakyat terhadap Belanda dan permintaan Teuku Nyak Arief pada Residen Pauw untuk menyerahkan pemerintahan kepadanya dengan menjamin keselamatan orang-orang Belanda pun ditolak oleh Residen Pauw. Selain itu propa­ganda yang dilakukan pemerintah Jepang dengan apa yang disebut cita-cita “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” semakin gencar dilakukan. Radio Tokyo selalu menutup siarannya dengan lagu Indonesia Raya.
Sebelum Jepang melakukan pendaratan di Indonesia, dan udara disebarkan bendera Jepang dan Indonesia yaitu Hino Maru dan Merah Putih yang disertai dengan tulisan “satu warna satu bangsa”. Kesemuanya ini dilakukan untuk mengambil simpati rakyat Indonesia.
Propaganda Jepang tersebut memang menarik sebagian para pemimpin rakyat Aceh terutama dan kalangan ulama PUSA, sehingga sebelum Jepang menaklukan Belanda pada tanggal 8 Maret: 1942, dengan tanpa syarat, mereka secara rahasia tanpa diketahui oleh pemerintah Hindia Belanda telah menjalin hubungan dengan Jepang yang berada di Malaysia. Keadaan ini sebenarnya menimbulkan kontroversial di dalam pemerintahan, mengingat ada sebahagian masyarakat yang masih menginginkan pemerintahan tetap dipegang oleh Belanda yaitu kaum feodal. Sebagian lagi para pemimpin rakyat Aceh yang melakukan kerja sama dengan Jepang sebagai siasat untuk mengusir pemerintahan Hindia Belanda dad tanah Aceh. Termasuk dalam kelompok ini diantaranya adalah Teuku Nyak Arief.
Tanggal 24 Februari 1942 terjadi pemberontakan pertama terhadap pemerintah Belanda di bawah pimpinan Teuku Muhammad Au Panglima Polem di Seulimeum. Pemberontakan yang menewaskan Controler Tigerman ini merupakan tindak lanjut dan keputusan yang telah mereka putuskan pada bulan Desember 1941 di Banda Aceh. Benita pemberontakan ini tersiar ke seluruh Aceh, maka terjadilah pemberontakan di beberapa tempat yang membuat pemerintah Belanda menjadi panik.
Tanggal 12 Maret 1942 Jepang resmi mendarat di Aceh, yaitu di Krueng Raya Aceh Besar, Sabang dan Peureulak Aceh Timur. Pendaratan Jepang ini berjalan lancar tanpa rintangan baik dan: pemerintah Belanda maupun rakyat Aceh. Sebaliknya kedatangan Jepang ini disambut baik oleh rakyat Aceh. Jepang yang mendarat di Krueng Raya langsung menuju Kutaradja dan bermarkas di. sana. Tindakan yang dilakukan pertama-tama adalah bersama rakyat membentuk barisan Fujiwara. Barisan Fujiwara ini kemudian melakukan penekanan dan penyerangan terhadap Belanda.
Dalam kontak senjata yang dilakukan Belanda mengalami kekalahan dan tan meninggalkan tanah Aceh menuju Pantai Barat melalui Meulaboh. Tapaktuan dan tenis ke Tanah Karo. Ada yang melalui pegunungan Tangse, Geumpang dan terus ke Takengon kemudian juga ke tanah Karo/Blang Keujeren. Akibat dikejar dan terus-menerus mendapat tekanan dari rakyat dan tentara Jepang akhirnya Kolonel Gesenson terpaksa menyerah pada tanggal 28 Maret 1942 di Blang Keujeren, dengan demikian berakhirlah kekuasaan Belanda secara resmi di daerah Aceh.
Tanggal 21 April 1942 Pemerintah Persiapan di Aceh diresmikan dengan pusat pemerintahannya di Kutaraja. Tugas pertama Pemerintah Persiapan pada saat itu hanya terbatas pada beberapa hat saja seperti menjaga keamanan, pengadaan listrik dan air minum serta memfungsikan kembali fasilitas komunikasi.
Untuk mendukung pelaksanaan operasional pemerintahan dengan aparaturnya yang sangat terbatas tentu akan menyulitkan. Oleh karena itu Jepang memerlukan adanya kerja sama dengan para pemimpin rakyat Aceh terutama dengan mereka yang berada di Kutaraja. Kerjasama ini dapat berlangsung karena para pemimpin di Kutaraja pada saat itu percaya akan janji Jepang, bahwa mereka datang ke Indonesia bukan untuk menjajah.
Kepala pemerintahan sipil Syo Tyokang Tuan mo mengangkat Teuku Nyak Arief sebagai Guntjo di Kutaraja dan Teuku Muhammad Ali Panglima Polim sebagai Guntjo di Seulimeum serta seluruh Uleebalang kemudian diangkat menjadi Suntjo.
Di dalam menjalankan pemerintahan, Jepang tidak melakukan perubahan struktur pemerintahan yang bersifat fundamental, karena tetap menggunakan struktur pemerintahan yang telah dijalankan pada masa pendudukan Belanda. Perubahan yang dilakukan adalah seluruh nama dan istilah ditransformasikan ke dalam istilah Jepang seperti; afdeling diganti dalam bahasa Jepang menjadi gun, Son pengganti Ulee Balangsckaaf ku untuk kemukiman, dan kami sebagai pengalih kata Gampoong.
Selama hampir tiga setengah tahun Jepang berkuasa di Aceh khususnya di Kutaraja hampir tidak terjadi perubahan yang menggembirakan, bahkan yang terjadi sebaliknya. Begitu Jepang telah dapat menjalin kerjasama dalam menjalankan pemerintahannya dengan: merekrut semua elite politik ke dalamnya, maka Jepang mulai melakukan manuver-manuver yang hanya membawa keberuntungan bagi kepentingan Jepang belaka dan sangat merugikan rakyat. Di awal pemerintahannya tindakan yang dilakukan Jepang adalah menekan organisasi-organisasi dan partai - partai politik yang ada di Kutaraja yang mulai tampak sedang berkembang. Tindakan ini menurut anggapan mereka untuk menjaga stabilitas sebagai dalih suasana masih dalam keadaan perang. Akibat dari perlakuan tersebut organisasi -organisasi dan partai - partai politik yang sudah ada seperti Taman Siswa, PUSA, Panindra dan Muhammadiyah menjadi lumpuh dan mengalami pasang surut.
Akibatnya jika sebelumnya para elite politik menaruh simpati kepada Jepang kini mulai mengalami erosi yang mengakibatkan hubungan para elite politik dengan pemimpin pemerintahan menjadi dingin dan mengalami kerenggangan. 43) Sebagai perwujudan dari masa tidak senang terhadap Jepang, Teuku Nyak Arief suatu ketika pernah berucap “Kita usir anjing, kita datangkan babi” maksudnya Jepang lebih jahat dad Belanda.
Pada masa pendudukan Jepang rakyat sangat menderita terutama dalam bidang ekonomi, rakyat sangat sulit memperoleh bahan-bahan keperluan sehari-hari seperti kain, minyak tanah dan lain-lain. Bahan-­bahan yang didatangkan oleh Jepang pada masa itu umumnya dipergunakan untuk kebutuhan militer dan bukan untuk kepentingan rakyat banyak.
Tenaga rakyat dikuras untuk kepentingan seperti membangun benteng- benteng pertahanan, pembuatan jalan, jembatan dan proyek­-proyek besar yang memerlukan tenaga romusha secara besan-besaran. Proyek tersebut antara lain pembangunan jalan raya Takengon ­Blangkeujeren dan proyek pertahanan Gunung Setan di tanah Alas. Pengerahan tenaga romusha ini didatangkan dad daerah keresidenan Aceh, Sumatera Timur dan sebagian romusha dan Jawa.
Penderitaan rakyat mulai berubah setelah Jepang mengalami kekalahan dalam perang Pasifik. Jepang mulai melakukan perubahan kebijaksanaan di daerah pendudukan dengan melakukan pendekatan­-pendekatan kembali dengan rakyat. Menjelang jatuhnya beberapa front pertahanan Jepang terhadap Sekutu di Pasifik, Jepang mulai mengambil langkah-langkah pengamanan terutama terhadap rakyat umum. Semua radio yang dimiliki rakyat disita, kantor berita Dumai diawasi dengan ketat, begitu pula dengan surat kabar Aceh Shiinbun. Akan tetapi betapapun ketatnya Jepang menutupi berita kekalahannya, namun berita tersebut dapat juga diterima di Kutaraja.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang telah menyerah kepada sekutu tanpa syarat. Berita kekalahan Jepang ini dapat diketahui di Kutaraja berkat keberanian seorang pemuda yang bernama Abdullah. Ia merupakan orang yang dipercayakan oleh Kepala Kepolisian Jepang di Langsa. Abdullah menyampaikan berita ini di Kutaraja pada Teuku Nyak Arief yang sudah terkenal sejak zaman Hindia Belanda dan zaman Pendudukan Jepang.
Bersamaan dengan kekalahan Jepang tersebut, Soekarno-Hatta telah kembali ke Jakarta sesudah menemui Marsekal Terauci di Sai­gon. Soekano-Hatta sebagai pemimpin Indonesia terkemuka segera mengadakan pertemuan dengan pemimpin lainnya. Sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan dipersiapkan dengan matang, maka pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur no. 56 pukul 10.00 pagi diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia ke seluruh pelosok tanah air dan ke seluruh penjuru dunia.
Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini oleh pihak Jepang berusaha ditutupi, namun dapat juga diterima di Kutaraja pada hari itu juga oleh para pekerja di kantor berita Dumai yang selanjutnya menyampaikan berita tersebut kepada rekan-rekan para pekerja di surat kabar Aceh Shimbun. Kendatipun demikian pada tanggal 18 Agustus 1945 salah seorang direktur pengawas Aceh Shimbun yang’ berkebangsaan Jepang yaitu K. Yamada memberitahukan juga berita Proklamasi tersebut kepada para pemuda yang bekerja di surat kabar Aceh Shimbun itu.
Selanjutnya berita tersebut oleh para pemuda yang bekerja pada kantor berita Dumai di antaranya adalah Armyn, Amiruddin, Ghazali Yunus dan Bustami memberitahukan pada Teuku Nyak Arief pada tanggal 21 Agustus 1945. Salah seorang di antara mereka dengan keberaniannya menempelkan berita tersebut pada dinding bioskop garuda sekarang. Berita dan instruksi selanjutnya diterima melalui radiogram dad Bukit Tinggi yang dikirim oleh Adinegoro.
Setelah berita itu diterima di Aceh, berbagai reaksi dan masyarakat bermunculan di Kutaraja, ada yang bingung, ada yang tidak percaya, ada juga yang langsung menyatakan dukungannya dan secara umum memang mendukungnya.
Kemudian melalui Syamaun Gaham dan Teuku Hamid Azwar, Teuku Nyak Arif menganjurkan agar para pemuda bekas Gyu Gun, Heiho, Hikoyo Tokubetsu, Kinutai tokubetsu Kaisatsutai dan lain-lain termasuk mereka bekas anggota KNIL untuk berkumpul ke dalam suatu wadah organisasi supaya mempertahankan kemerdekaan negara yang telah diproklamasikan. Agar maksud tersebut dapat berjalan, dengan mendapat dukungan semua rakyat, dalam suatu pidatonya di depan Kantor Kas Negara di Kutaraja Teuku Nyak Arif mengatakan “Kalau para pemimpin tidak berani bergerak’ dan bertindak, maka pemuda akan mengambil tindakan lebih dahulu”. Pidatonya memotivasi rakyat untuk berjuang mempertahankan proklamasi kemerdekaan.
Sementara itu situasi di Aceh sudah tidak menentu, karena pihak Jepang disamping tetap berusaha menutup-nutupi berita proklamasi kemerdekaan Indonesia mereka juga masih tetap bekerja dan bertugas seperti biasa. Para pemimpin Aceh antara lain Tengku Daud Beureueh, Tuanku Mahmud, Au Hasjmy, Syamaun Gaharu dan Teuku Nyak Arif datang menemui Tyokang S. Lino beserta para stafnya untuk menuntut agar Jepang menyerah kekuasaan dan senjata kepada orang Indonesia. Permintaan ml jelas ditolak, karena Jepang masih ditugaskan oleh Sekutu untuk menjaga status quo sampai mereka tiba. Akibatnya perebutan senjata Jepang dilakukan secara paksa oleh rakyat.
Kemudian pada malamnya secara nekat tiga orang pegawai pada kantor Kepolisian di Kutaraja mengibarkan bendera merah putih di kantor tersebut, dengan harapan esok harinya dapat dilihat oleh masyarakat sebagai, tanda bahwa Indonesia sudah merdeka. Tindakan ini merupakan penaikkan bendera merah putih pertama kali di Kutaraja yang menimbulkan kehebohan di kantor kepolisian Aceh, dalam hal mi Jepang tidak dapat berbuat apa-apa. Di samping usaha tersebut pada had itu juga tanggal 24 Agustus 1945 Teuku Nyak Arif dengan keberaniannya memasang bendera merah putih dimobilnya dan berkeliling kota juga dengan maksud agar masyarakat tahu bahwa Indonesia sudah merdeka dan rakyat tidak perlu lagi tunduk kepada penjajahan Jepang. Demikian di antara cara-cara para pemimpin kita menyampaikan/memberitahukan bahwa Indonesia sudah merdeka yang dilakukan di Kutaraja.
Selanjutnya setelah usaha memberitahukan berita tersebut dilakukan barulah kemudian mereka mengadakan mufakat melalui berbagai diskusi dan segera menyusun penggalangan kekuatan melalui organisasi yang teratur dan kuat. Untuk itulah maka dibentuklah IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang berkantor di kantor Aceh Shimbun dengan pengurusnya terdiri dari ketua, Ali Hasjmy, sekretaris Teuku Ali Talsya dan dibantu oleh Abdullah Arif, Ghazali Yunus, dan Said Ahmad Dahlan. Di samping membentuk IPI musyawarah inipun bertekad menyebarluaskan berita proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke seluruh pelosok Aceh.
Kemudian dad pada itu, Teuku Nyak Arif, Teuku Muhammad Ali Panglima Polim mengambil inisiatif memanggil para pemimpin dan tokoh-tokoh serta orang-orang yang dirasa penting untuk bersumpah setia kepada negara. Setelah bermufakat dengan rekan-rekan kemudian -Teuku Nyak Arif melakukan penaikkan bendera merah putih di depan kantor urusan Kesejahteraan Rakyat yaitu pada Kantor Departemen agama Kotamadya Banda Aceh sekarang ini. Kemudian di pusat pemerintahan Jepang yaitu pada kantor Tyokan (kantor BAPERIS sekarang). Penaikk~i kedua bendera tersebut pertama tidak mendapat reaksi apa-apa dari Jepang, akan tetapi bendera di depan kantor Tyokan sepulang mereka diturunkan oleh tentara Jepang. Tidak lama kemudian Teuku Nyak Arif kembali lagi dan menyuruh menaikkan kembali bendera tersebut dengan cara memanjat tiang lalu kemudian memerintahkan polisi istimewa yang telah terlebih dahulu dibentuknya untuk mengawal dan menembak mati bagi siapa yang berani, menurunkannya, maka berkibarlah sang merah putih dari siang hingga malam.
Untuk lebih meratakan pengibaran bendera merah putih sampai ke pelosok desa dan sejalan pula dengan memperingati, dua bulan proklamasi kemerdekaan, tanggal 13 Oktober 1945 Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Aceh melalui maklumat nomor 2 secara resmi memerintahkan pengibaran bendera sampai tanggal 17 Oktober 1945: pada tiap-tiap rumah di seluruh daerah Aceh.
Bersamaan dengan usaha penyempurnaan aparatur negara dan keluarnya surat keputusan pengangkatan Teuku Nyak Arif sebagai Residen Aceh, maka dibentuklah berbagai organisasi kepemudaan untuk menjaga agar perjuangan mempertahankan kemerdekaan dapat terus berjalan dan api revolusi tetap menyala di Kutaraja. Adapun organisasi yang dibentuk itu antara lain : API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dibentuk di awal kemerdekaan dan bekas anggota Gyu-gun, Heiho, Hikoyo tokubetsu, Kinutai tokubetsu, Kaisatutai dan lain-lain termasuk juga bekas anggota KNIL disahkan di Kutaraja secara resmi sebagai alat negara oleh Residen Aceh pada tanggal 12 Oktober 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat), BRI (Barisan Republik Indonesia), BPRI (Barisan Pemuda Republik Indonesia) dan pemuda PUSA. Kesemua organisasi pemuda ini kemudian dileburkan ke dalam suatu wadah yaitu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan terakhir. menjadi TM (Tentara Nasional Indonesia).
Keberadaan organisasi kepemudaan ini memang sangat dibutuhkan dan sangat penting untuk merebut berbagai perlengkapan bagi kepentingan perjuangan seperti senjata, sarana komunikasi, sarana angkutan kereta api, percetakan, kantor pos dan lain-lain. Kesemuanya ini bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta menjaga keamanan dan ketentraman umum, (hal 58-66)

1 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Yayasan Bentang, 1995), hlm. 17.
2 Kota Banda Aceh Hampir 1000 tahun, (Banda Aceh : Pemda Kota Banda Aceh, 1988), hlm. 16.
3 Memori kolektih adalah suatu ingatan yang dihayati dan dimiliki bersama oleh suatu kelompok pelaku sejarah. Kelompok pelaku sejarah itu dapat saja terdiri atas suatu kelompok orang di suatu wilayah budaya atau sosial tertentu, suatu suku bangsa, suatu bangsa atau bahkan suatu kelompok etnis/budaya di berbagai wilayah, tetapi dalam suatu ingatan pengalaman sejarah yang dihayati bersama.
[1] Sejarah Nasional Indonesia VI.
[2] A.J. Piekaar, Atjeh en de Oorlog Met Japan, s’Gravenhage-Bandung, NV. Uitgeverij W. van Hoeve, 1949, hal. 125
[3] M. Junus Jamil, Gajah Putih, Lembaga Kebudayaan Aceh, Kutaraja 1959, hal. 125.
[4] RPNL Tobing, Kenang-kenangan dari Perjalanan Utusan Sumatra ke Jepang, Medan 1972. hal. 1.
[5] M. Rasyid Manggis, Almarhum Teuku Nyak Arif Seperti yang saya kenal, Bukittinggi 1975, hal .2
[6] Wawancara dengan Ismail Jacob, Semarang, 8 Maret 1972.
[7] HM. Zainuddin, Srikandi Aceh, Pustaka Iskandar Muda, Medan 1966, hal. 3.
[8] Wawancara dengan Idham, Jakarta, 31 Juli 1974.
[9] Abdullah Hussain, Terjebak, Pustaka Antara Kuala Lumpur 1965, hal. 375

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar