Minggu, 15 Februari 2009

PERKEBUNAN DAN PERDAGANGAN:


Oleh Sudirman


Pendahuluan
Pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 Labuhan Deli dan Belawan menjadi bandar dagang dan pintu gerbang Sumatera Timur. Bandar itu mengalami perkembangan yang lebih pesat jika dibandingkan dengan bandar yang ada di pesisir barat Pulau Sumatera.
Dengan adanya bandar-bandar dagang tersebut, terjadinya interaksi antara pedagang-pedagang dari berbagai daerah, baik dari Nusantara maupun dari luar Nusantara. Untuk memperkokoh jaringan perdagangan pribumi dari dominasi para pedagang asing, para pedagang pribumi menggalang kerjasama perdagangan untuk “membendung” para pedagang asing yang lebih besar modalnya dan lebih moderen perlengkapannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu akibat dari perkembangan bandar-bandar dagang itu dapat mempererat hubungan persaudaraan antara sesama pedagang pribumi untuk melawan perlakuan yang tidak baik dari pedagang-pedagang asing. Dari sisi lain, terjadinya saling tukar pengalaman dan budaya antara pendatang dengan penduduk setempat, yang tentunya sangat besar manfaat bagi keduanya.
Selain sebagai proses integrasi dengan dibuka bandar dagang dan lahan perkebunan di beberapa daerah di Sumatera Timur, berpengaruh pula terhadap pertumbuhan dan komposisi penduduk. Dalam waktu yang relatif singkat jumlah penduduk pribumi hampir dilampaui oleh jumlah buruh asing yang sengaja didatangkan oleh Belanda.1
Perdagangan dan Perkebunan
Pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 Labuhan Deli menjadi bandar dagang dan pintu gerbang Sumatera Timur. Perkembangan yang lebih cepat, terutama memasuki tahun 1870 dengan dizinkan oleh Belanda perusahaan swasta asing untuk membuka perkebunan di Sumatera Timur. Labuhan Deli yang terletak di pantai timur dan berhubungan langsung dengan Selat Malaka sehingga berkembang menjadi pelabuhan terbuka bagi para pedagang dari berbagai daerah. Berbagai jenis hasil perkebunan dikeluarkan melalui Labuhan Deli, kapal asing dan pribumi mengunjungi bandar itu untuk memperjualbelikan tembakau, karet, serat, teh, kelapa, lada hitam, pala, buah pinang, dan sebagainya.2 Berbagai jenis sarana angkutan laut yang datang dan berangkat, seperti perahu dagang yang masih sederhana hingga perahu kapal yang moderen, kapal api, kapal motor, kapal layar serta kapal pemerintah Hindia Belanda.3
Pada waktu itu, pelabuhan berfungsi sebagai tempat keluar masuk barang dagangan untuk perkembangan perniagaan, sosial, dan politik. Labuhan Deli dapat dikatakan sebagai kota bandar tempat perdagangan hasil perkebunan di pedalaman Deli sehingga menjadi posisi yang sangat penting di kawasan Sumatera Timur pada akhir abad ke-19. Fungsi dan peranan bandar itu melebihi bagian kota lain dan terbuka bagi perdagangan dunia. Posisi itu sama dengan bandar-bandar pantai lain di Asia umumnya yang berperan terhadap daerah pedalaman.4
Labuhan Deli merupakan jembatan penghubung antara daratan perkebunan Deli dan Selat Malaka. Secara geografis dan perdagangan luar negeri, Labuhan Deli dapat digolongkan sebagai bandar, yakni bandar yang dapat disinggahi kapal-kapal yang berbendera asing maupun berbendera laut nusantara, bebas tanpa sesuatu izin untuk memasukinya.5 Ditinjau dari sudut perdagangan, Labuhan Deli pada mulanya termasuk tipe Feeder Point, yakni bandar yang letaknya strategis di rute jaringan perdagangan dan berhubungan langsung dengan daerah penghasil barang komoditi. Bandar itu merupakan tempat pengumpulan barang komoditi utama yang berasal dari daerah pedalaman Sumatera Timur. Barang hasil perkebunan diangkut ke kawasan pantai timur Sumatera, dan Labuhan Deli menjadi pusatnya.
Pada dasarnya pantai timur Sumatera telah menjadi jalur pelayaran semenjak lama sebelum perkembangan Labuhan Deli dan Belawan. Perairan Selat Malaka yang sangat strategis dilalui oleh kapal yang berlayar dari Timur ke Barat dan sebaliknya. Kapal-kapal Tiongkok yang melakukan pelayaran ke Asia Barat, Afrika, dan Eropa akan melewati Selat Malaka. Oleh karena itu, menurut Kenneth R. Hall, Selat Malaka salah satu jaringan perdagangan di Asia Tenggara.6
Selama abad ke-18 wilayah Sumatera Timur belum dimasuki oleh pengusaha asing, kecuali hanya dalam bentuk perjanjian politik pada abad ke-19. Baru setelah itu para pengusaha asing masuk ke pulau Sumatera sebagai alternatif mengembangkan perkebunan. Kesempatan itu semakin terbuka karena dapat bekerjasama dengan para penguasa setempat yang memberikan konsesi tanah seluas-luasnya. Untuk itu, pada tahun 1863 pemerintah Hindia Belanda telah memberikan kesempatan kepada para pemilik modal, baik yang berasal dari pengusaha Belanda maupun pengusaha bangsa asing lainnya untuk menanam modalnya di Sumatera Timur. Pada waktu itu, pemerintah Belanda memberi kesempatan kepada Jacobus Nienhuys, seorang pemilik modal asal Belanda untuk menanamkan modalnya di Sumatera Timur, kemudian dikuti oleh pengusaha lainnya untuk mendirikan perkebunan besar dengan menanam jenis tumbuhan yang bernilai ekonomis, seperti tembakau, kopi, kelapa sawit, karet, teh serta lainnya. Pada tahun 1869 Jacobus Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij yang mengelola sekitar 23 perkebunan, seperti tembakau, kelapa sawit, coklat, kina, kopi, kapas, dan karet. Pada tahun selanjutnya, 1879, J.T. Cremer mendirikan Deli Planter Vereniging dengan tujuan mengurus kepentingan bersama pekebun dan tuan kebun Belanda, seperti bidang administrasi, perburuhan, keamanan, dan masalah hak atas tanah.7
Salah satu daerah pemasaran hasil perkebunan itu adalah Singapura. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Labuhan Deli dengan Singapura berkembang pesat.
Unsur ekonomi salah satu pendorong pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan ekspansi ke luar pulau Jawa. Faktor lain tidak dapat dipisahkan dari kegiatan Inggris dalam bidang perdagangan di Selat Malaka. Semenjak awal abad ke-19 perdagangan Inggris di Selat Malaka mengalami kemajuan yang pesat. Oleh karena itu, para pedagang dari Sumatera Timur dan sekitarnya, seperti Deli, Serdang, Langkat, Minangkabau serta Siak secara diam-diam melakukan hubungan perdagangan dengan orang Inggris di Penang.8
Kemajuan yang terjadi di Labuhan Deli sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi pantai barat Sumatera Timur yang berpusat di Sibolga. Kegiatan ekonomi dan perdagangan yang dahulu berpusat di bandar Sibolga menjadi terpencar. Hal itu disebabkan banyak pedagang dan petani penghasil barang komoditi berdagang langsung ke pantai timur atau menjadi tenaga kerja perkebunan. Para pedagang asing yang biasanya berlayar ke Sibolga beralih ke pantai timur. Namun pada tahun 1890 Sultan Deli memindahkan pusat pemerintahan ke Medan,9 sehingga pusat perdagangan dan pelayaran pun pindah ke Belawan. Belawan kemudian semakin berkembang pesat, apalagi setelah pemerintah membuka secara resmi pada tahun 1922.
Pertumbuhan bandar Belawan pada mulanya tidak terlepas dari terbentuknya kota Medan, namun sebaliknya perkembangan kota itu sangat dipengaruhi oleh bandar Belawan sebagai pintu gerbang Nusantara di bagian utara pulau Sumatera. Orang-orang Cina diberi kesempatan oleh pihak perkebunan untuk menjadi buruh dan leveransir perkebunan, seprti sayuran, daging babi, barang kebutuhan harian, dan sebagainya. Pada tahun 1879, berpindah pula asisten residen Deli dan para pamongpraja Belanda dari Labuhan Batu ke Medan. Selain itu, kedatangan para kuli dan penduduk daerah lain ke Sumatera Timur, sehingga Medan menjadi ramai, seperti Kesawan, tanah lapang esplanade, Binuang, Tebingtinggi, dan lain-lain.10
Pada tahun 1922, dengan diresmikan bandar Belawan oleh pemerintah, sehingga menjadi bandar yang ramai dan semakin berfungsi untuk mengekspor barang komoditi perkebunan Deli dan sekitarnya. Pada dasarnya bandar Belawan ini dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda untuk gerbang ekspor komoditi pantai timur, dan berperan sebagai pelabuhan Samudera untuk Sumatera bagian utara. Untuk mendorong alih kapal melalui pelabuhan ini, maskapai pelayaran Hindia Belanda memberlakukan tarif terusan serendah mungkin sebagaimana yang berlaku di Singapura.
Bandar Belawan semakin banyak dikunjungi oleh kapal dagang asing, seperti Belanda, Inggris, Cina, Pulau Penang, Singapura, Thailand, Jerman, Jepang, dan lain-lain. Sedangkan kapal pribumi berasal dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Aceh, pulau Jawa, dan sebaginya. Bagi penduduk pribumi, jaringan perdagangan dan pelayaran itu merupakan salah satu faktor munculnya perbedaan kepentingan antara pribumi dengan pedagang asing.11 Oleh karena itu, hubungan antara sesama pedagang dan pelayar pribumi menciptakan suatu kekuatan untuk dapat bersaing dengan pedagang asing.
Perkembangan kota Medan dan bandar Belawan yang begitu cepat menarik para pedagang dari seluruh jalur pelayaran. Para pelayar dari kawasan pantai barat Sumatera juga beralih ke bandar Belawan, seperti Padang dan Sibolga karena sebelum itu, barang komoditi Sumatera Timur dikapalkan melalui Sibolga atau Barus. Namun perkembangan ekonomi yang sangat cepat di pantai timur serta semakin lengkapnya fasilitas bandar Belawan adalah salah satu faktor yang membuat kapal-kapal di bandar Sibolga beralih ke Belawan.12 Inggris ternyata berhasil mengembangkan Singapura dan penang sebagai pelabuhan entrepot. Perkembangan Singapura dan Penang di bawah Inggris merupakan salah satu faktor bagi Belanda untuk membuka jaringan pelayaran KPM dan sekaligus membuka Sumatera Timur untuk daerah perkebunan.
Pada tahun 1942 pelayaran swasta antarpulau Nusantara semakin berkurang. Kapal KPM yang berlayar di Nusantara banyak yang ditenggelamkan oleh Jepang. Sebagian dari kapal Belanda itu melarikan diri ke India dan Australia.
Proses Integrasi
Dalam sejarah sebuah negara bahari, bandar pelabuhan memainkan peranan penting bukan hanya ditinjau dari segi ekonomi dan politik, tetapi juga dari segi kebudayaan dan proses integrasi.
John Anderson, sekretaris Gubernur Inggris di Penang, mengadakan peninjauan ke daerah Deli pada tahun 1822, menyebutkan bahwa tembakau merupakan hasil tanaman yang diekspor ke penang. Terdapat juga tanaman-tanaman jenis lain, seperti tebu, padi, jagung, kapas, nira dan pisang yang merupakan tanaman rakyat.
Penduduk asli pada waktu itu, yaitu suku Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo serta Mandailing. Ketika perkebunan Belanda mulai dibuka, masyarakat di daerah itu masih menganut sistem ekonomi pedesaan. Setelah dibuka perkebunan secara besar-besaran menyebabkan penduduk yang tinggal di daerah itu dipindahkan tanpa mendapat ganti rugi tanah yang memadai.
Penyerobotan tanah penduduk untuk kepentingan perkebunan itu telah mengakibatkan antara lain, terjadi hubungan yang tidak harmonis antara pengusaha Belanda dengan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, ketika pihak perkebunan Belanda membutuhkan tenaga kerja untuk diperkerjakan di perkebunan, penduduk setempat tidak mau bekerja sebagai buruh perkebunan.13
Semenjak Niehuys membuka usaha perkebunan, tenaga kerja dari luar pun telah dimulai, yakni orang-orang Cina yang didatangkan dari Penang, Malaysia. Namun setelah ada protes dari pengusaha pertambangan Malaysia dan pemerintah kolonial Inggris, Belanda kemudian mendatangkan tenaga-tenaga kerja baru dari pulau Jawa untuk diperkerjakan di perkebunan. Jumlah Tenaga kerja tersebut hampir setiap tahun meningkat.
Gelombang tenaga kerja yang masuk ke perkebunan-perkebunan yang berasal dari luar daerah itu, dapat dipahami bahwa dalam waktu yang relatif singkat Sumatera Timur telah menjadi tempat perantauan yang sangat padat. Daerah ini menjadi tempat bertemunya berbagai suku dari dalam negeri dan orang-orang asing dari Asia dan Eropa. Orang dari Nusantara, misalnya Batak, Melayu, Bugis, Jawa, Banjar, dan lain-lain. Demikian juga orang Asia yang datang maupun sengaja didatangkan, seperti orang-orang Cina, India, Jepang , Siam, dan sebagainya.
Perkembangan perkebunan besar di daerah sekitar Medan telah berubah dari tempat yang sepi dan jarang penduduk menjadi tempat yang ramai. Pertumbuhan usaha Belanda di bidang tembakau berkembang dengan pesat. Usaha Belanda tidak hanya di bidang tanaman tembakau saja, tetapi juga di bidang lain , seperti perkapalan, perdagangan, industri, bangunan serta perbankan.
Perusahaan-perusahaan segera bermunculan, antara lain perkeretaapian, bangunan (jalan-jalan, jembatan, dan gedung-gedung). Perluasan urusan perkapalan sehingga pelabuhan-pelabuhan yang ada seperti Belawan menjadi bertambah ramai dengan datangnya berbagai suku atau etnis dari berbagai daerah.
Kehadiran tenaga kerja ke Sumatera Timur seperti orang Jawa, mendirikan kampung-kampung sekitar perkebunan ternyata sangat disenangi oleh orang-orang Melayu sebagai pemilik tanah. Sebab pada dasarnya tanah tersebut milik penduduk asli dan apabila telah diokupasi akan menambah penghasilan orang-orang Melayu melalui bagi hasil dari pengusahaan tanah tersebut. Hal ini, merupakan salah satu sebab “berterimanya” kehadiran orang Jawa di sekitar mereka. Di samping orang Melayu sendiri tidak senang menjadi “kuli kontrak” di perkebunan Belanda.14
Kehadiran orang Jawa tersebut tidak saja menguntungkan orang Melayu, tetapi juga bagi etnis lain, seperti orang Batak Mandailing dan Batak Toba. Masuknya orang Batak Mandailing dan Batak Toba ke perkebunan yang pada dasarnya tidak disukai oleh pengusaha Belanda, melalui perembesan yang dilakukan melalui jalan melingkar, yaitu melalui “kampung Jawa”. Setelah mereka “menjawakan” diri baru masuk ke perkebunan.15
Dapat dipahami bahwa dengan berkembang perkebunan dan bandar dagang dapat menjadi salah satu faktor terjadinya interaksi antara berbagai suku atau etnis dari Nusantara di Sumatera Timur. Kegiatan di pelabuhan, adanya pedagang beserta barang dagangannya yang keluar masuk pelabuhan, adanya pembeli dan penjual serta buruh pelabuhan. Sudah tentu di antara mereka itu kadangkala tidak hanya sekedar berdagang, tetapi dapat saja terjadi dalam hubungan yang lebih jauh, seperti hubungan perkawinan dan penyabaran agama.
Demikian juga halnya dengan perkebunan, para pekerja yang datang dari berbagai daerah yang kemudian bertemu di suatu tempat (perkebunan), tentu sangat mungkin mereka saling bergaul dan berkomunikasi. Selain itu, adanya orang-orang yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari untuk orang yang ada di sekitar perkebunan sehingga lebih dimungkinkan lagi terjadinya interaksi di antara mereka.
Penutup
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perkembangan bandar Belawan yang sangat cepat. Perdagangan dan pelayaran salah satu faktor tersebut. Semenjak dibukanya Terusan Suez yang menghubungkan laut Merah dengan laut Tengah, dengan demikian rute pelayaran antara Nusantara dan Eropa semakin dekat. Banyak kapal Eropa yang berlabuh di Singapuran dan Penang melanjutkan pelayarannya ke Belawan.
Akibat dari berkembangnya bandar Belawan dan dibukanya lahan perkebunan di beberapa daerah di Sumatera Timur, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan penyebaran komposisi penduduk serta proses integrasi. Satu hal yang perlu dicermati bahwa sangat sedikit penduduk lokal yang mau menjadi buruh di perkebunan. Oleh karena itu, tenaga kerja di perkebunan kebanyakan berasal dari luar daerah Sumatera Timur, seperti Cina, Jawa, Keling, dan Siam.
Penolakan penduduk setempat untuk menjadi tenaga kerja perkebunan bukan karena malas, tetapi suatu bentuk protes terhadap kepentingan orang asing di daerah Sumatera Timur. Orang Melayu Sumatera Timur, Melayu Pesisir Barat, dan Minangkabau adalah salah satu bentuk integrasi antaretnis Nusantara dalam memprotes kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Pada umumnya penduduk setempat memilih untuk melakukan perdagangan, nelayan, pialang. Bagi penduduk yang memilih pekerjaan melaut, mereka berinteraksi dengan pedagang Nusantara lainnya, seperti Semenanjung Melaka, Banten, Bugis, Makassar, Maluku, dan sebagainya. Namun harus diakui bahwa perkembangan bandar pelabuhan yang begitu pesat sebagai salah satu akibat dari peninggkatan produksi perkebunan. Barang-barang komoditi perkebunan itu dikelola oleh perusahaan-perusahaan perkebunan setelah ditingkalkan oleh kolonial Belanda.
Pembauran suku-suku bangsa di daerah perkebunan dan pelabuhan mengakibatkan dibutuhkannya sarana komunikasi. Bahasa Melayu ternyata dapat diterima sebagai jalan “kompromi” dalam komunikasi antaretnis yang ada di Sumatera Timur pada waktu itu.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa perkebunan dan perdagangan di Sumatera Timur pada waktu itu dapat menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya proses integrasi antara sesama penduduk pribumi dengan pendatang lain dari Nusantara.
1C. Lekkerkerker, Land en Volk van Sumatra, (Leiden : Voorheen E.J. Brill, 1916), hlm.14.
2J.A.M. van Cats Baron de Raet, “Vergelijking van den Vroegeren toestand van Deli, Serdang, en Langkat met de Tegenwordingen”, Tijdschrift voor Indische Taal, Land, en Volkenkunde, 23, 1876, hlm. 34.
3Scheepvaartbeweging Over 1907 Voor Zooveel de Jaarlijksche Algemeene Handelsstatistiek van Nederlandsch-Indie die doet Kennen”, Koloniaal Verslag van 1908, hlm. 32.
4 Peter Reeves, Frank Broeze, dan Mc. Person, “Studying the Asian Port City”, dalam Frank Broeze (ed), Brides of the Sea: Port Citeis of Asia from the 16—20 Centuries, (Kensington: New South Wales University Press, 1989, hlm. 34.
5Herman A. Carel Lawalata, Pelabuhan dan Niaga Pelayaran (port operation), (Jakarta: Aksara Baru, 1981), hlm. 45.
6Kenneth R. Hall, Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, (Honolulu: University of Hawai, 1985) hlm. 224.
7Karl J. Pelzer, Planter and Peasants: Colonial Policy and the Agrarian Struggle in East Sumatra 1863--1947, (The Hague: Martinus Nijhoff, 1982), hlm. 31.
8 Muhammad Nur, “Bandar Sibolga di Pantai Barat Sumatera pada Abad ke –19 hingga Pertengahan Abad ke-20, Disertasi, Program Pascasarjanan Fasa UI, 19 Agustus 2000, hlm. 311.
9 Usman Pelly, dkk., Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Katamadya Medan, (Jakarta: Depdikbud, 1984), hlm. 8.
10 Gids voor de Oostkust van Sumatra (Deli), 1940, hlm. 28.
11 Muhammad Nur, op. cit, hlm. 342.
12 Thee Kian Wie, Plantation Agriculture and Export Growth an Economic History of East Sumatra 1863-1942, (Jakarta: Leknas LIPI, 1977), hlm. 41.

13 Usman Pelly, dkk., Interaksi Antarsuku Bangsa dalam Masyarakat Majemuk, (Jakarta: Depdikbud, 1989), hlm. 191-192.

14 Ibid
15 Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar