Selasa, 22 Januari 2013

Kopi

Nonton Bola di Warung Kopi: Relasi Sosial Baru Masyarakat Aceh Oleh Sudirman Pendahuluan Sebagian besar orang di dunia mengenal jenis minuman yang bernama kopi. Bedanya, sebagian orang menjadikan kopi sebagai ‘teman’ akrab, sebagian yang lain sebagai ‘teman’ biasa, dan tidak jarang pula yang menjadikan musuh bebuyutan karena dianggap (atau bahkan memang) mendatangkan penyakit baginya. Namun, kopi tetap dikenal oleh banyak orang. Di Indonesia, kopi menjadi minuman favorit banyak suku. Apalagi tanaman kopi dapat hidup di berbagai tempat dengan mudah. Oleh karena itu, sering didengar istilah “petani kopi”, yang menunjukkan sekelompok orang yang bekerja untuk menanam kopi, menjaga, memanen, dan mengolahnya. Kondisi ini pula yang selanjutnya memunculkan personal-personal yang menyukai kopi. Di antara suku bangsa yang sangat menyukai kopi adalah Aceh. Kopi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Di Banda Aceh, misalnya, orang tidak perlu bersusah payah mengaduk kopi di rumah. Berbagai jenis kopi, aroma kopi, ada di warung kopi dengan harga yang terjangkau. Lebih mudah lagi, warung kopi ada di mana-mana sehingga begitu mudah mendapatinya. Ada suatu gejala yang menarik diperhatikan di Aceh, ketika ada pesta bola, baik tingkat nasional maupun internasional, masyarakat Aceh lebih banyak menontonnya sambil ngopi di warung kopi. Pesta sepak bola, secara teknis mungkin tidak terlalu menarik, hanya berkisar seputar strategi, kualitas pemain, kekompakan tim, dan faktor keberuntungan. Namun, secara sosiologis dan gengsi, pertandingan sepak bola apalagi setingkat piala dunia menjadi sesuatu yang berbeda. Dalam konteks Aceh, pesta bola tersebut juga memiliki kebiasaan yang khas dan asyik karena semarak serta hingar bingarnya dihadirkan di warung-warung kopi. Pada hari-hari biasa tanpa pesta bola saja, warung-warung kopi yang kini semakin marak di Aceh sudah penuh orang, apalagi pada saat adanya pertandingan bola kaki. ‘Ngopi bareng sambil nonton bola’ menjadi budaya populer/massa di Aceh, suatu budaya yang bercirikan konsumtif dan santai yang muncul dari realitas sosial untuk khalayak ramai. Apakah hanya karena rata-rata orang Aceh suka ngopi atau lantaran kopi Aceh rasanya nikmat. Ataukah ada sesuatu yang lain di balik itu? Oleh karena itu, fenomena tersebut menarik untuk dijelaskan dalam artikel yang ringkas ini. Selanjutnya, perlu diketahui pula bahwa analisis tentang permasalahan tersebut, sebagian besar sumbernya berdasarkan hasil pengamatan permulaan. Budaya Ngopi Minum kopi atau lebih dikenal dengan ngopi sudah menjadi budaya pada sebagian daerah di Indonesia. Yogja dikenal dengan kopi jos-nya, sedangkan Tulungagung dikenal dengan nyethe-nya. Tidak terkecuali di Aceh, sebagai provinsi penghasil kopi, budaya ngopi masyarakat Aceh begitu menonjol. Kecanduan masyarakat kepada kopi, menjadikan warung kopi sebagai lahan bisnis yang menggiurkan di Aceh. Tidak pelak, kini banyak warung kopi bermunculan di Aceh, kota Serambi Mekah ini semakin terkenal dengan sebutan Kota Sejuta Warung Kopi. Pascatsunami menjadi titik tolak banyaknya jumlah warung-warung kopi di Aceh. Masyarakat Aceh pun semakin keranjingan, dari pagi hingga malam, warung kopi tidak pernah sepi pengunjung. Misalnya, warung kopi Solong yang berlokasi di daerah Ulee Kareng. Warung Kopi Solong tampak sudah menjadi “markas” bagi pecinta kopi yang tidak pernah sepi. Dari hanya sekedar membaca koran, berbincang dengan teman, berbisnis, hingga diskusi politik, apalagi ketika ada pertandingan bola kaki. Tidak hanya berkonsep warung, ngopi di Aceh sudah dikemas lebih ‘wah’ dengan konsep cafe yang dilengkapi fasilitas internet gratis. Kalangan ngopi di cafe tentu berbeda dengan di warung kopi. Anak-anak muda lebih mendominasi ngopi di cafe. Kebanyakan kopi yang disajikan adalah jenis kopi Robusta, meskipun kopi Aceh terkenal dengan kopi Arabika Gayo. Tidak jarang pula kopi sachet juga disajikan. Perbedaan dengan kopi di daerah lain adalah dalam bentuk penyajiannya. Di Aceh, sebelum dimasukkan ke dalam gelas, kopi diseduh dan setelah itu disaring dengan saringan panjang seperti kaos kaki. Selanjutnya, kopi dimasukkan ke dalam gelas yang sudah terisi gula atau susu. Tidak jarang gerakan cepat pembuat kopi membuat decak kagum, karena kopi seduhan yang panas tidak pernah tumpah. Kebanyakan orang Aceh mengkonsumsi kopi dalam gelas ukuran sedang yang diisi dengan kopi encer beserta gulanya. Ada sebagian orang yang suka minum kopi pahit, tetapi bukanlah fenomena umum di kota-kota. Anak muda dan lelaki paruh baya biasanya memesan kopi manis, bahkan sangat manis hingga rasa pahit kopi hilang. Kebiasaan orang Aceh ngopi di warung kopi, disertai suara “gemuruh” seperti di pasar. Semua orang berbicara, tertawa, bercerita, dan berdiskusi dengan suara berteriak dan menjerit. Apabila ingin minum kopi dengan tenang dan senyap memang bukan warung kopi tempatnya, kecuali pada waktu tidak banyak orang atau di warung kopi yang tidak populer. Suara hiruk pikuk dan hingar bingar di warung kopi menjadikan ngopi semakin nikmat dan semarak. Sebagaimana sudah disinggung di atas, di Aceh kopi diolah secara tradisional. Di warung kopi Banda Aceh dan Aceh Besar, sebelum kopi dituangkan ke dalam gelas, kopi disaring dengan saringan khusus sehingga tidak ada serbuk kopi yang masuk ke dalam gelas. Di beberapa kabupaten, kopi dihidangkan bersama bubuk kopi yang masih kasar sehingga setelah selesai diminum, di dalam gelas tertinggal sisa ampasnya. Orang Aceh mengatakan kopi pertama dengan istilah “kupi sareng” dan kopi kedua dengan istilah “kupi tubroek”. Pada umumnya hanya ada kopi hitam sehingga tidak banyak pilihan olahan. Selain kopi hitam, ada pula kopi susu, kopi sanger (kopi+susu+gula), kopi kocok, dan kopi telor. Namun, kopi hitam begitu pupuler, sedangkan yang lainnya hanya insidentil dan disukasi oleh orang-orang tertentu. Kopi pada umumnya ditanam sendiri oleh masyarakat Aceh, kebanyakannya berasal dari Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, tiga kabupaten di dataran tinggi Aceh yang memiliki kebun kopi begitu luas. Ada pula sebagian kecil kopi yang didatangkan dari Sumatera Utara, hasil produksi dari dataran tinggi Berastagi. Namun, banyak juga orang Aceh yang memiliki kebun kopi untuk kebutuhan sendiri, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan. Nonton Bola di Warung Kopi Setiap kebudayaan terus dikembangkan oleh pemilik kebudayaan tersebut. Karena itu, kebudayaan terus mengalami perubahan. Kebudayaan memang bersifat akumulatif sehingga cenderung tumbuh, berkembang, dan bertambah. Pada zaman dahulu, nonton bola di warung kopi dianggap tabu karena identik dengan pemalas dan pengangguran. Namun, sekarang nonton bola di warung kopi menjadi suatu kebanggaan bahkan tidak gaul apabila tidak singgah di warung kopi. Demikian pula dengan main bola yang dipandang agak sinis oleh masyarakat Aceh pada zaman dahulu. Sebagian masyarakat Aceh konon mengidentikkan bola dengan kepala Husein, cucu Nabi Muhammad, yang terbunuh di Padang Karbala yang kepalanya diarak dan ditendang-tendang seperti bola kaki. Oleh karena itu, sebagian masyarakat Aceh tidak begitu senang dengan bola kaki karena mengingatkan peristiwa terbunuhnya Husein tersebut. Namun, sekarang berbeda, nonton bola menjadi sesuatu yang begitu begitu disukai oleh sebagian anggota masyarakat. Main bola memang unik dan unpredictable. Siapa yang dapat menduga hasil ‘menang-kalah’. Siapa yang dapat mengira bahwa tim-tim tangguh dari negara-negara besar dapat dipecundangi oleh tim-tim bola dari negara-negara (relatif) miskin. Setiap tim sepak bola meski begitu baiknya mempersiapkan diri bahkan ditaburi ‘bintang sepak bola’, baik dari negara-negara kelompok kaya, miskin, dan adikuasa, maupun bekas negara jajahan, sedang memasuki semacam ‘ruang kosong’ ketika ikut dalam putaran piala dunia. Latar belakang relasi politik dan pembangunan internasional antarnegara menjadi tidak ada artinya. Masyarakat dunia mungkin belum melupakan, bagaimana ketika tim sepak bola Amerika Serikat pernah bermain dengan tim Iran pada pentas piala dunia. Mereka hanya dapat berhitung, tetapi tidak mampu memastikan; antara ya dan tidak, dapat berjaya tapi juga dapat dipermalukan. Meminjam istilah ahli sosial-antroplogi Victor Turner, mereka ini sedang memasuki ‘ruang liminalitas’, ruang tanpa struktur yang setiap orang (pihak) berkesempatan mencari makna baru kehidupan dan relasi-relasi sosialnya. Sebagai contoh, tim Jerman pernah dikalahkan 0-1 oleh Serbia. Tim Ghana hanya mampu ditundukkan 0-1 oleh Jerman sang negara besar dan makmur. Italia mampu dikalahkan 0-1 oleh negara Slovakia. Tim dari negara adikuasa Amerika ditahan imbang 2-2 oleh Slovenia. Perancis pernah dikalahkan oleh Senegal di pentas piala dunia. Apa yang terjadi di masyarakat Ghana, Serbia, Slovakia, dan Senegal? Tentu tidak hanya bersorak-sorai, tetapi sebuah kebanggaan luar biasa mulai dari rakyat miskin sampai kepala negaranya, bahkan semua etnis dan agama yang ada di negara tersebut. Pesta sepak bola, menjadi semacam ‘ritual’ baru gold and glory. Kemenangan dan kejayaan, hendak dimaknai kembali bahwa setiap pihak (tim-negara) selalu mempunyai kejayaannya masing-masing yang pada gilirannya menumbuhkan ‘energi’ baru bagi bangsanya. Dengan demikian, budaya popular/massa pada dasarnya suatu budaya yang kurang memiliki tantangan dan rangsangan intelektual, tetapi lebih cenderung pada pengembaraan fantasi tanpa beban dan pelarian. Oleh karena itu, sorak-sorai di warung kopi di Aceh ketika sebuah gol tercetak, atau ketika tim favoritnya menang, mungkin saja karena ‘terhipnotis’ oleh hingar-bingarnya pesta bola. Tidak gaul kalau tidak nonton bola, begitulah anggapan sebagian masyarakat Aceh. Bola memang kurang berpengaruh kepada pemaknaan kembali relasi sosial di Aceh. Namun, perlu diingat semaraknya ngopi di warung-warung kopi di Aceh bukan hanya karena ada pesta sepak bola. Adanya pertandingan bola hanya menambah akumulasi hingar-bingar warung kopi. Warung kopi di Aceh juga unik dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konteks sosio-kultural Aceh. Hal yang demikian disebabkan ngopi di warung-warung kopi di Aceh telah menjadi ‘komunitas’ sebagai ruang-ruang liminalitas pula. Kehidupan sehari-hari yang telah menjadi semacam ‘ritual’, biasanya seseorang terbelenggu oleh struktur sosial-kultural, aturan, dan norma, baik dalam konteks hubungan kerja, keagamaan, ekonomi-perdagang, atasan-bawahan, dan lainnya. Di sana kebebasan adalah barang langka, tidak dapat sembarangan berbicara. Semuanya berakumulasi sehingga menimbulkan kejenuhan, keputusasaan, sinisme, tekanan-tekanan psikologis, energi amarah, dan bahkan mungkin konflik invidual. Menghadapi kenyataan demikian, sebagian orang cenderung mengelak dengan cara menenggelamkan diri dalam kenikmatan materi semaksimal mungkin, mengasyikkan diri di permukaan, seperti pentingkan tubuh, penampilan, status, dan sebagainya. Nonton bola di warung kopilah, salah satu tempat ekspresi anti-struktur tersebut dapat dikeluarkan tanpa terlalu direpotkan oleh sekat-sekat dan struktur yang membelenggu. Nonton bola di warung kopi bukanlah wilayah ‘formal’, tetapi ‘informal’ yang batas-batas struktural vertikal-horisontal menjadi ‘abu-abu’, meski masih dalam batas norma dan kesopanan. Namun, justru di dalam ‘dialog’ dan ‘relasi tanpa struktur’ sambil nonton bola di warung-warung kopi itulah pikiran-pikiran baru mengenai berbagai hubungan, kondisi sosial, politik dan tata pemerintahan, adat dan kebudayaan, serta ekonomi-pembangunan, di Aceh mendapatkan pembacaan dan pemaknaan yang kritis. Hal yang demikian disebabkan setiap orang berada dalam posisi relasi-relasi baru yang informal dan karena itu pula berani berbicara apa adanya secara setara. Relasi Sosial di Warung Kopi Sistem budaya memiliki syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksistensinya. Artinya, sistem budaya memiliki kebutuhan sosial atau individual yang semuanya harus dipenuhi agar dapat bertahan hidup. R. Merton memperkenalkan perbedaan antara fungsi manifes dengan fungsi laten (fungsi yang tampak dan fungsi yang terselubung) dalam suatu unsur budaya. Fungsi manifes adalah “konsekuensi objektif yang memberikan sumbangan pada penyesuaian atau adaptasi sistem yang dikehendaki dan disadari oleh partisipan sistem tersebut”. Sebaliknya, fungsi laten adalah konsekuensi objektif dari suatu ikhwal budaya yang “tidak dikehendaki maupun disadari” oleh masyarakatnya. Suatu unsur tertentu bukan hanya memiliki fungsi laten tertentu (konsekuensi yang tidak dikehendaki), melainkan juga bahwa fenomena budaya tetap bertahan karena fungsi laten yang diembannya. Melalui fungsi laten tersebut, dapat pula dijelaskan persistensi suatu pengaturan kultural masyarakat. Oleh karena itu, nonton bola sambil ngopi, dipandang dari segi fungsi manifes, sebagian orang memandangnya sebagai kebiasaan yang kurang bermanfaat, tetapi dari fungsi laten yang dikandungnya, nonton bola sambil ngopi, memiliki manfaat yang tidak tampak, berupa inspirasi, relasi sosial, dan keharmonisan ‘komunitas’. Jelaslah bahwa setiap unsur kebudayaan memiliki manfaat, fungsi, dan arti. Manfaat atau guna suatu unsur kebudayaan yang menghubungkannya dengan tujuan tertentu. Ngopi dan nonton bareng dapat berfungsi sebagai penjaga keharmonisan dan stabilitas masyarakat yang bersangkutan. Sebagai produk suatu kebudayaan, ngopi dan nonton bola memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup masyarakat pendukungnya. Dalam setiap komunitas kebudayaan, menurut Victor Turner, pasti ada sebuah ‘ruang’ sebagai mekanisme untuk melepaskan diri dari ritual kehidupan yang membelenggu. Bentuk dan media situasi anti-struktur tersebut dapat berbeda-beda pada setiap masyarakat sesuai perkembangan waktu. Liminalitas warung kopi di Aceh harus dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu masyarakat Aceh sebagai kesatuan kehidupan sosio-kultural. Ngopi di warung kopi pada masyarakat Aceh menjadi ‘simbol’, kebutuhan, sekaligus juga arena untuk memaknai kembali atau memberikan energi produktif tumbuhnya alternatif-alternatif baru, kreasi positif, bahkan oposisi-kritis terhadap kondisi, aturan, dan tatanan sosial yang ada. Nonton bola sambil ngopi di warung kopi di Aceh merupakan ruang “pembebasan” untuk mencari makna baru. Akan tetapi, sayang, tim nasional Indonesia belum mampu menembus arena pesta bola pada tingkat piala dunia. Andaikan saja Indonesia mampu, dapat dipastikan pesta bola di warung kopi menjadi semakin semarak. Penutup Budaya, di samping produk, iapun merupakan kebutuhan bagi masyarakat supaya kehidupan berjalan harmonis dan stabil. Budaya sering pula dikaitkan dengan martabat. Pemahaman para ilmuwan sosial tentang makna kebudayaan atau budaya tersebut adalah suatu hal yang jelas bahwa budaya tidak lahir atau terjadi dengan sendirinya tanpa sebab yang jelas. Dari pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa budaya dipelajari dari interaksi manusia (sosialisasi) dengan lingkungannya. Budaya tersebut dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk melalui berbagai media yang diketahui atau lewat kegiatan tertentu. Oleh karena itu, perilaku seseorang adalah gambaran dari pengalamannya dalam hal-hal yang dipelajari dari lingkungannya. Perilaku ngopi dan nonton bareng yang ditampilkan oleh orang Aceh adalah bagian dari budayanya. Nonton bola di warung kopi menjadi bagian dari kebudayaan di Aceh. Oleh karena itu, kajian yang berksinambungan dan konstruktif terhadap ide-ide yang berkembang di warung-warung kopi di Aceh, dapat memberikan sumbangan terhadap gagasan pembangunan, sosial, dan kebudayaan di Aceh masa kini dan masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar