Senin, 02 Maret 2009

Dokarim

Pengarang Hikayat Prang Compeuni
by sudirman

Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Dalam sastra Melayu, yang disebut hikayat adalah karya sastra yang berbentuk prosa. Di Aceh, uraian tentang perang sabil disajikan dalam bentuk hikayat. Meskipun demikian, beberapa di antaranya ada yang disajukan dalam bentuk prosa.
Pemakluman perang serta serangan-serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda mengakibatkan Dalam (istana) Aceh jatuh ke pihak Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, setelah pada serangan pertama April 1873 gagal karena dilanda kekalahan. Belanda menyangka bahwa dengan menguasai Dalam dan sebagian daerah Aceh Besar serta dengan secarik kertas proklamasi sudah cukup untuk membuat negeri Aceh yang lebihnya tunduk kepada Belanda. Yang terjadi adalah perlawanan Aceh bertambah meningkat.
Tuanku Hasyim dan para pemimpin sagi di Aceh Besar menjelaskan kepada pemimpin-pemimpin Aceh yang lain. Dalam suratnya yang tertanggal 18 April 1874 kepada Imum Chik Lotan, raja Geudong, Pasai, Aceh Utara, Tuanku Hasyim bersama Sri Muda Perkasa Panglima Polem, Sri Muda Setia dan Sri Setia Ulama, menulis antara lain sebagai berikut : “...Demikianlah halnya, maka negeri yang sudah kebinasaan empat mukim, pertama Lheu dan Masijid Raya, Masijid Lueng Bata dan Gigieng dengan Lhok Gulong dan takluk setengah mukim orang Meuraksa, maka lain daripada itu Insya Allah Taala tiada ubah kepada Allah dan Rasul melainkan melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyirupun melawan juga, demikianlah pakatan orang tiga sagi dan ulama-ulama dan haji-haji dan sekalian muslimin, maka sekarang pun jikalau ada yakin saudara kami akan Allah dan Rasul dan akan agama Islam mendirikan syariat Muhammad dan bersaudara dengan kami semuanya dalam Aceh maka hendaklah saudara kami melawan dengan sekuat-kuat melawan mudah-mudahan terpelihara syariat Muhammad agama Islam dan nama agama bangsa Aceh adanya.”
Surat senada juga ditulis oleh pemimpin lain. Pada bulan Desember 1877, Teungku Muhammad Amin Dayah Cut Tiro menyerukan agar barang siapa yang yakin akan Allah dan Rasul hendaklah berperang sabil ke Aceh Besar. Rakyat dianjurkannya untuk berpuasa tiga hari, membaca Quran dan mengadakan kenduri, memberi sedekah untuk menolak bala serta bertobat jika telah melanggar syariat Islam.
Dari kedua surat itu tampaklah adanya usaha untuk mempersiapkan orang Aceh supaya melakukan aksi kolektif berdasarkan keyakinan agama dan ditopang dengan dasar moral yang tinggi.
Dari kalangan pemimpin agama, terdapat misalnya Teungku Nyak Ahmad dari Gampong Cot Paleue, Pidie, mengubah karya sastra yang digolongkan dalam Hikayat Prang Sabil, yang isinya menyeru kaum muslimin untuk berperang melawan kafir Belanda berdasarkan keyakinan agama Islam. Hal itu seperti dijelaskan oleh Teungku Nyak Ahmad dalam hikayatnya adalah : soe prang kaphe lam prang sabi, niet peutinggi hak agama, kalimah Allah agama Islam, kaphe jahannam asoe nuraka, sabilullah geupeunan prang, Tuhan pulang page syeuruga, ikot suroh sampoe janji, pahala page that sampurna. (Yang memerangi kafir di medan sabil, niat meninggikan hak agama, kalimah Allah agama Islam, kafir jahannam isi neraka, Sabilillah dinamai perang, Tuhan berikan akhirnya surga, mengikuti suruhan sampai ajal, pahala nanti sangat sempurna.
Pada masa perang Belanda Hikayat Prang Sabil dibaca di dayah-dayah, di meunasah-meunasah atau di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi berperang. Di Aceh di daerah yang diduduki Belanda orang membaca hikayat perang secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyebarkan isinya tidak hanya disampaikan dengan membaca, tetapi naskah hikayat itu disalin berkali-kali dan diusahakan tersebar ke pelbagai pelosok tanah Aceh.
Melalui penyebaran ideologi perang sabil, para ulama berusaha menggugah rakyat menjadi lebih dinamis dalam menghadapi musuh. Strategi yang dijalankan adalah menumbuhkan kemauan keras untuk berperang yang berlandaskan agama Islam. Dari itu timbullah keberanian yang memungkinkan orang bersedia menempuh penderitaan guna mempertahankan prinsip-prinsip hidup. Di samping itu timbul pula kebencian yang tiada tara kepada musuh dan kecintaan yang mendalam kepada agama dan bangsa.
Usaha yang sejajar diperankan pula oleh sekelompok cendikiawan yang mahir dalam sastra. Sebagian dari mereka adalah pembawa pantun dan hikayat yang mempunyai fungsi menghibur masyarakat tanpa membaca teks. Salah seorang di antaranya adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Bahan-bahan yang sudah terpatri dalam ingatannya tidak pernah sama benar dengan yang pernah dibawakan sebelumnya. Di sana-sini ada yang dikuranginya, adapula yang ditambahkannya dengan bahan-bahan lain dari waktu ke waktu sesuai dengan bahan yang diperolehnya dari saksi-saksi mata. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.
Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.
Contoh Hikayat Prang Compeni :
Pada masa nyan raja that adee,
Hana seunabee hukoom that seunang
Meuneukat murah reundah bukon lee
Are pih sabee nibak timbangan

Sigeunap uroe kapai jiteuka
Jak maniaga nggroe suloothan
Muwatan peunooh jiwoe ngon jiba
Rakyat that muqa nibak masa nyan

Kapai di bumoe di nanggroe Cina
Geunap uroe na troh kapai dagang
U Banda Aceh jadeh jiteuka
Keudeeh u Daya nanggroe keuluwang

Meusyeuhu meugah ban saboh doonya
Trooh u Ierupa nama meuguncang
Teuma teupikee raja Beulanda
Aceh meurdeehka jikeumeung jak prang

Meunan ka leumah jisah lam dada
Raja Beulanda jieek gurangsang
Jipeuduek rapat pakat panglima
Pulo Sumatra jikeuheundak guncang

Raja Kuneng masa nyan raja
Sangat leupah kha hana soe lawan
Oh saree habeeh bandum meusapat
masa nyan deelat phoon buka kalam

geutanyoe bandum jinoe tabeudoh
Aceh tareuloh nanggroe tajak prang
Gata Rasid’en seureuta Uboh
Tatimang beujroh sabda lon tuwan

U Banda Aceh jadeh tateuka
Rakyat dum taba dengon siresan
Padum nyang rakyat nyang kuasa
Cuba takira wahee kapitan

Teuma jiseuoot jisamboot sabda
Lamong ribee sa sidadu sajan
Teuma oh lheuh nyan laeen takira
Tame lom tantra meribee hujan.

Dokarim
Rujukan :

Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta : Beuna, 1983
Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987
Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis, (terj. Ng. Singarimbun), Jakarta : Yayasan Soko Guru, 1985

Martti Ahtisaari

Tokoh Perdamaian Aceh
By sudirman

Memasuki usia lanjut bukannya memilih untuk istirahat, Martti Ahtisaari justru sering meninggalkan Helsinki, tempatnya bermukim. Mantan Presiden Finlandia itu punya banyak tugas kemanusiaan yang harus diselesaikan. Martti Ahtisaari menjadi penengah dalam perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia melalui organisasi Crisis Management Initiative (CMI). Setelah sukses menjadi penengah antara GAM dengan RI, Oktober 2005 menjadi utusan khusus PBB/United Nation untuk Kosovo.
Mengenai urusan diplomasi, kemampuan Martti Ahtisaari tidak diragukan lagi, ia lahir pada tanggal 23 Juni 1937 di Viipuri, Finlandia dan alumnus Universitas Oulu, Finlandia pada tahun 1959, semenjak usia muda, ia sudah banyak pengalaman ke berbagai negara. Pada tahun 1965, karir politik Martti Ahtisaari mencuat setelah ia bergabung sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri Finlandia. Ia pernah berkiprah di Eastwest Institute dan International Crisis Group. Berbagai tugas berat dapat diselesaikan dengan baik. Ia pernah bertugas di Pakistan dan sejumlah negara di Afrika. Selain tertarik di dunia politik, ia juga aktif dalam organisasi NGO International.
Pada tahun 1978, Martti Ahtisaari dan keluarga pindah ke New York untuk bekerja sebagai tenaga administrasi dan manajemen di PBB, sehingga ia sangat dekat dengan sekjen PBB pada waktu itu, Kurt Waldheim dan Javier Perez de Cuellar. Sebagai utusan PBB, Martti Ahtisaari pernah bertugas menangani konflik di Namibia, membawahi sekitar 8000 pasukan perdamain dunia.
Ketika konflik Bosnia mulai memanas pada tahun 1993, Martti Ahtisaari gencar melakukan kampanye untuk menentang pemerintahan Serbia. Lalu ia kembali ke Finlandia bergabung sebagai pengurus Partai Demokrasi Sosial. Akhirnya Martti Ahtisaari terpilih sebagai presiden Finlandia periode 1994-2000. Selama masa pemerintahannya, Finlandia tampil sebagai negara yang sangat menonjol di Eropa. Selain menjalankan tugas sebagai presiden, ia juga sering tampil memimpin delegasi PBB untuk menangani konflik global. Ketika terjadi invansi Irak ke Kuwait pada tahun 1991, Martti Ahtisaari juga ikut diterjunkan sebagai penengah. Jam terbang yang tinggi dalam menangani ksisis internasional menempatkannya sebagai peraih Franklin D Roosevelt Four Freedom Award pada tahun 2000.
Setelah habis masa jabatannya sebagai presiden Finlandia pada tahun 2000, Martti Ahtisaari memutuskan untuk tidak mau dicalonkan lagi sebagai presiden. Setelah pensiun dari jabatan presiden, Martti Ahtisaari kembali aktif terlibat perdamaian di berbagai konflik di Afrika. Untuk kawasan Asia persoalan Aceh adalah konflik pertama yang ditanganinya. Langkah tersebut berhasil setelah 15 Agustus 2005, pemerintah Indonesia dengan GAM sepakat menandatangani kesepakatan damai.
Penyelesaian konflik Aceh bukan hanya agenda pemerintah Indonesia saja. Di tingkat Internasional, konflik Aceh juga ramai dibicarakan. Hal itu sperti yang dilakukan oleh Martti Ahtisaari, telah melakukan pertemuan dengan sekjen PBB Kofi Annan di New York untuk membahas perdamaian Aceh.
Martti Ahtisaari adalah ketua Dewan Pengurus The Crisis Management Initiative (CMI), fasilitator dialog antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki. Sebelum ke New York, Martti Ahtisaari juga telah melakukan perjalanan ke berbagai negara Eropa untuk mengkampanyekan perdamaian Aceh.
Salah satu yang dijajakinya adalah mengundang pasukan Uni Eropa terlibat dalam proses perdamaian di Aceh. Beberapa media di Eropa menyebutkan, sedikitnya 25 negara yang dilobi Martti Ahtisaari. Aksi Marti Ahtisaari tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia. Indonesia lebih menginginkan agar tim monitoring mengandalkan perwakilan negara ASEAN. Martti Ahtisaari tidak berhenti melakukan lobi. Setelah pertemuan babak keempat akhir Mei 2005, ia melanjutkan perjalanan keliling Eropa dan Amerika.
Berdialog secara estafet selama tujuh bulan bukan pekerjaan yang mudah. Menyelesaikan konfilk yang telah mendarah daging selama 30 tahun, bukanlah masalah mudah. Tetapi Marti Ahtisari dengan kejeliannya mampu melakukan itu. Ia menjadi katalisator untuk melunakkan sikap GAM maupun pemerintah RI.
Karena ketegasannya, tidak jarang kedua kubu merasa disudutkan. Misalnya, ketika delegasi Indonesia memprotes kehadiran Damien Kingsbury sebagai penasihat politik GAM, Martti Ahtisari dengan tegas menolaknya, sebagai penasihat, kehadiran Damien Kingsbury dianggap absah. GAM pun merasakan hal yang sama ketika mereka tertekan sampai akhirnya mencabut tuntutan merdeka. Pernah pula GAM ingin menghadirkan Drh. Irwandi Yusuf, M. Sc., tahanan politik GAM yang melarikan diri dari rutan Banda Aceh ketika bencana tsunami, sebagai peserta dalam perundingan itu, namun diprotes oleh delegasi Indonesia maka Martti Ahtisaari menolak kehadiran Irwandi Yusuf sebagai peserta.
Kucuran keringat Martti Ahtisaari dan staf CMI lainnya telah membuahkan hasil, perdamaian Aceh berhasil ia gagas. Perjanjian damai Aceh adalah hasil karya mutakhir Martti Ahtisaari dan staf CMI lainnya dengan melahirkan UUPA (undang-Undang Pemerintahan Aceh). Ia tidak butuh pamrih apapun dari prestasinya itu. Hanya ada satu pesan, jangan sampai martil yang disimpan Martti keluar dari sarangnya. Biarkan Martil itu tersimpan selamanya. Tertidur lelap dalam keheningan Aceh tanpa nyalak senjata.
Di negerinya, Finlandia, Martti Ahtisaari dianggap sebagai politisai tanpa cacat. Pemerintah yang berkuasa juga sangat mengagumi kepemimpinan Marti Ahtisaari. Setelah berhasil menyelesaikan masalah Aceh, pemerintah Finlandia mencalonkannya sebagai penerima Nobel Perdamaian dan pada tanggal 10 Oktober 2008, Martti Ahtisaari memperoleh hadiah nobel perdamaian.

Rujukan
Majalah Aceh Kita Juni 2005
Majalah Aceh Kita Oktober 2005
Majalah Aceh Kita September 2005