<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370</id><updated>2012-01-26T19:41:50.468-08:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Agama'/><category term='Budaya'/><title type='text'>Dirman Manggeng</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-6503927794391430167</id><published>2011-06-16T02:29:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T02:33:17.791-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>tenun</title><content type='html'>PELESTARIAN PUSAKA &lt;br /&gt;UNTUK MENDUKUNG PARIWISATA: &lt;br /&gt;Kain Tenun sebagai Objek Daya Tarik Wisata di Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendahuluan &lt;br /&gt;Pelestarian pusaka (warisan budaya), baik alam maupun budaya hingga saat ini belum dianggap sebagai hal yang penting. Hal itu disebabkan berbagai alasan, mulai dari anggapan bahwa pelestarian adalah anti kemajuan atau perkembangan hingga pada anggapan bahwa pelestarian tidak menguntungkan secara ekonomis. Dengan demikian, dianggap kecil kontribusinya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan kualitas lingkungan hidup. Akan tetapi, di beberapa negara maju, pelestarian pusaka alam dan budaya, baik yang tangible (bendawi) maupun intangible (non-bendawi) dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakatnya serta menjamin keberlanjutan pembangunan. &lt;br /&gt;Berdasarkan pemahaman di atas, warisan budaya Aceh memiliki potensi daya tarik wisata. Warisan budaya mampu menarik pengunjung, baik wisatawan lokal, Nusantara, maupun mancanegara, sehingga warisan budaya dapat menjadi objek dan atraksi wisata utama, bahkan andalan atau icon di Aceh. Negara-negara maju di dunia, seperti Prancis mampu menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar berkat kekayaan dan keanekaragaman produk warisan budayanya.    &lt;br /&gt;Pengembangan warisan budaya sangat erat kaitannya dengan pelestarian kebudayaan. Upaya-upaya pelestarian kebudayaan, meliputi: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Pemanfaatan, meliputi upaya-upaya untuk menggunakan hasil-hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, muatan industri budaya, dan daya tarik wisata.  &lt;br /&gt;Satu di antara warisan budaya masyarakat Aceh yang bernilai tinggi adalah tenun dan sulaman Aceh. Kain tenun dan sulaman seharusnya dapat menjadi daya tarik  dan memberikan informasi yang lebih banyak bagi wisatawan, baik mengenai pengetahuan tentang kain tenun dan sulaman maupun peristiwa yang berhubungan dengannya. Dengan demikian, kain tenun dan sulaman seharusnya diinformasikan kepada masyarakat Aceh khususnya supaya mereka mengetahui terhadap budayanya dan kepada wisatawan pada umumnya. Untuk itu, pada kesempatan ini dijelaskan secara singkat tentang sejarah tenun Aceh, disain, fungsi, dan manfaatnya bagi pengembangan pariwisata budaya di Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Tenun di Aceh&lt;br /&gt;Kebudayaan menenun diperkirakan telah ada sejak tahun 5000 sebelum Masehi di negara Mesopotamia dan Mesir. Kebudayaan ini kemudian berkembang dan menyebar ke Eropa dan Asia sehingga akhirnya sampai ke Indonesia setelah melalui India, China, dan Asia Tenggara. Kapan masuknya kebudayaan menenun ini ke Indonesia belum dapat diketahui secara pasti. Ada dugaan yang menyatakan bahwa kebudayaan menenun mulai berkembang di Indonesia sejak zaman Neolithikum, karena terbukti dengan kayanya tenunan-tenunan Indonesia dengan disain ornamental yang berasal dari stail monumental zaman Neolithikum. Akan tetapi, pendapat lain mengatakan bahwa pada zaman Neolithikum tersebut masyarakat Nusantara masih menggunakan bahan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan kulit binatang, sebagaimana halnya suku bangsa lain yang masih dapat dijumpai hingga sekarang. &lt;br /&gt;Robert Heine Gildern, mempunyai dugaan bahwa kebudayaan menenun dikenal di Indonesia adalah bersamaan dengan menyebarnya kebudayaan Dong-son. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya kesamaan motif pilin (spiral) atau pilin berganda pada motif tenunan Nusantara dengan motif yang terdapat di Dong-son. Hal ini membuktikan tentang adanya pengaruh kebudayaan Dong-son. Pemilik kebudayaan Dong-son sendiri mempraktekkan kepandaian menenun tersebut dengan melihat sisa-sisa pakaian dari zaman perunggu yang berhasil digali di Dong-son.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kain tenun Aceh&lt;br /&gt;   Koleksi Museum Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penemuan tentang aneka ragam alat-alat tenun yang pernah (dan masih) dipergunakan oleh berbagai suku di Indonesia, dapat diketahui bahwa kebudayaan menenun timbul bersamaan dengan peradaban manusia. Kulit kayu dan kulit binatang yang semula dipergunakan sebagai pakaian (penutup badan), sesuai dengan kemajuan peradaban kemudian diganti dengan pakaian yang diperoleh dengan kepandaian bertenun.&lt;br /&gt;Secara sederhana dapat diterangkan bahwa sebuah kain tenun, dihasilkan oleh perjalinan benang lungsin (benang yang menunggu) dengan benang pakan (benang yang datang). Proses yang  sederhana inilah yang kemudian berkembang dengan berbagai teknik yang sesuai dengan kreatifitas manusia, sehingga menghasilkan ciptaan-ciptaan yang indah dan menarik.&lt;br /&gt;Beberapa kelompok masyarakat di Nusantara, menenun merupakan suatu rangkaian upacara tersendiri, yang ditentukan oleh tahapan kerja, dengan tata tertib yang kemudian menjelma menjadi suatu nafas seni budaya. Pada zaman dahulu untuk menenun kain dari jenis-jenis tertentu tidak boleh dilakukan di sebarang waktu. Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum kegiatan menenun dimulai. Hal ini tidaklah mengherankan bila mengingat bahwa beberapa jenis kain di berbagai suku ternyata mempunyai fungsi-fungsi yang khusus.&lt;br /&gt;Khususnya di Aceh, sutera yang ditenun sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Ulat sutera banyak dibudidayakan di wilayah Aceh. Catatan paling tua tentang tenunan sutera di Aceh terdapat dalam sebuah kitab Sung (abad ke-10 dan ke-11), yang menyebutkan tentang produksi sutera di Pidie.  Pidie merupakan daerah penghasil sutera pada permulaan abad ke-16. Sebagian besar sutera dari Pidie pada waktu itu dikirim ke berbagai wilayah di India.  Demikian juga dengan orang-orang Belanda dan Prancis yang berkunjung ke Aceh menyebutkan tentang kain sutera dari Pidie yang sangat berharga dibandingkan dengan kain tenun yang ada di seluruh Sumatera pada waktu itu.  John Davis juga menyebutkan tentang banyaknya sutera yang diproduksi di pusat kesultanan Aceh pada abad ke-17.  &lt;br /&gt;Sutera Aceh bermutu tinggi sehingga harganya lebih mahal daripada sutera serupa yang diimpor dari India. Menjelang abad ke-19, produksi sutera telah menyebar sampai ke pesisir barat Aceh,  meskipun pusatnya tetap berada di Pidie dan Aceh Besar.&lt;br /&gt;Selama abad ke-16 dan ke-17, bahan kain (sutera) merupakan barang dagangan utama dari Aceh yang dikirim ke luar melalui laut. Menurut seorang pengembara bangsa Portugis, Giovanni da Empoli, raja Pasai menjanjikan kepada bangsa Portugis seluruh ekspor sutera negerinya. Hal itu disebabkan bahwa satu di antara hasil produksi penduduk Pasai pada waktu itu adalah sutera, yang berpenduduknya berjumlah 20.000 orang.  Selain itu, sutera Aceh juga dijual kepada orang Gujarat sebagai bahan penukar untuk kain dari  Cambay serta barang dagangan lainnya hingga seharga 100.000 dukat.  &lt;br /&gt;Aceh bukan hanya pengekspor komoditas dagangan ke berbagai daerah, sebagai imbalan untuk berbagai jenis rempah-rempah berharga, tetapi juga mengimpor sejumlah banyak jenis kain dari anak benua India.  Kain India merupakan barang dagangan yang sangat umum dan banyak digunakan pada abad ke-15 dan ke-16, sedangkan Aceh merupakan pasar utama bagi kain dari Gujarat.  Hingga awal abad ke-19, kain merupakan bahan impor Aceh yang paling berharga. Dalam muatan sebuah junk Cina yang berlayar dari Penang ke Aceh, dari barang senilai 7.600 dolar Spanyol, senilai 2.000 dolarnya terdiri atas kain.  Aceh banyak menghasilkan sendiri bahan sutera dan katun, tetapi untuk kain yang digunakan sehari-hari oleh penduduknya berasal dari kain impor.&lt;br /&gt;Satu di antara jenis kain asal India yang beredar di Aceh adalah calico. Pada tahun 1680, VOC (perusahaan dagang Belanda) membuat catatan tentang keuntungan, baik yang diperoleh dengan berdagang chindos maupun patolen, satu di antara jenisnya khusus dibuat untuk orang Aceh.  Kain patola dibuat dari benang sutera yang dicelup dan diperdagangkan di seluruh Nusantara pada waktu itu. Khususnya di Aceh, kain patola sangat disukai untuk selendang yang dipakai oleh orang-orang terkemuka di masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alas tempat duduk pengantin yang disulam dengan benang emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disain dan Fungsi Tenun Aceh&lt;br /&gt;Di Aceh, selain kerajinan kain tenun juga terkenal dengan kegiatan sulamannya yang menggunakan teknik aplikasi. Warna-warna dan disain banyak dipengaruhi oleh motif-motif yang dibawa oleh para pedagang Arab yang berdatangan pada waktu agama Islam mulai menyebar di daerah Aceh. &lt;br /&gt;Disain yang dipergunakan para penenun di Aceh mencakup serangkaian bentuk garis dan petak dengan pola geometris. Penggunaan benang lungsin dan benang pakan yang berlainan warna akan menghasilkan suatu pengaruh yang menarik pada kain tersebut. Pada waktu itu, teknik yang digunakan adalah teknik ikat, yaitu dibuat sejumlah ikatan kencang pada seberkas benang dengan mengikuti suatu pola hingga pada bagian benang yang tertutup ikatannya tidak terkena warna pada saat dicelupkan. Dengan demikian, Aceh satu-satunya daerah di Nusantara yang benang lungsinnya dibuat secara ikatan.  Disain ikat tersebut membentuk mata panah halus yang bersarang dalam lajur berwarna,  serupa dengan disain yang terdapat pada disain Batak. Ada kemungkinan orang Batak mengikuti pola disain tenun Aceh.&lt;br /&gt;Disain tekstil yang rumit dan pelik tersebut dikerjakan oleh orang Aceh dengan benang pakan emas dalam tatanan geometris dan bentuk bunga yang menghiasi kain. Disain motif yang paling disukai adalah ular naga yang ditampilkan dalam berbagai ragam. Dalam disain tersebut dimungkinkan terdapat pengaruh Hindu.  Akan tetapi, menurut Mens Fier Smedling, sutera Aceh bermotif benang emas merupakan pengaruh dari Persia.  &lt;br /&gt;Koleksi disain songket Aceh banyak dihimpun oleh ahli etnologi Belanda, J. Kreemer, pada awal abad ke-20. Selain itu, tekstil sutera Aceh juga tersimpan di Museum Leiden dengan berbagai motif, sebagai berikut: di bagian tengah terdapat pola yang terbentuk dari sejumlah bunga mawar kecil, sedangkan di tepinya berhias motif tumpal dan bunga. Ada juga di antara motif tersebut, yaitu di tengahnya seperti kembang manggis berbentuk bintang, di tepinya bermotif bunga dan tumpal.  &lt;br /&gt;Kehebatan tenun Aceh tidak hanya karena rumit dan kepelikannya, tetapi juga pilihan warna yang digunakan begitu kaya dan mencakup berbagai nuansa. Di antara warna yang digunakan adalah hitam, merah, kuning, hijau, biru, dan ungu, merupakan warna yang paling umum digunakan, yang dibuat dari bahan nabati.&lt;br /&gt;Pekerjaan mencelup kain pada abad ke-18 dilukiskan dalam hikayat Pocut Muhammad, sebagai berikut: “lagi dua puluh helai kain telah dipotong, semuanya bahan halus bertepian kuat. Bahan sorban semuanya dicelup berwarna ungu, separuhnya dipotong dan dicelup beraneka warna untuk orang Jawa. Separuhnya lagi untuk bahan bagi tuanku, yang dicelup berwarna merah, merahnya bungong raja (hibiskus). Keusumba (safran) dilindi di sungai dalam jumlah besar sehingga sungai menjadi merah sampai ke muaranya. Air sungai itu tercemar akibat mencelup kain, tuanku.”  &lt;br /&gt;Mencelup kain merupakan bagian yang sangat penting dari industri menenun sutera, seperti yang terungkap dalam sebuah daftar panjang bahan celup Aceh yang disusun pada akhir abad ke-19. Di antara bahan celup tersebut adalah Bangko: rebusan kulit pohon ini mengandung bahan pewarna kecoklat-coklatan yang digunakan untuk mencelup kain. Gaca: pacar, tanaman belukar yang daunnya dilumat untuk memerahi (menginai) kuku jari tangan dan kaki.  Gaci: kulit pohonnya dilumat dan kemudian direndam dan diperas. Cairannya digunakan untuk mencelup jala ikan. Keusumba: safran, rebusan bunga ini digunakan untuk mencelup sutera, katun, dan benang sehingga menjadi merah tua. Bunga ini banyak dibudidayakan di daerah pedesaan pada waktu itu. Kudrang: rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup sutera dan katun agar berwarna kuning. Keumudee: mengkudu, rebusan akar pohon ini digunakan untuk mencelup katun menjadi berwarna merah. Mireh: rebusan kulit pohon ini menghasilkan warna merah untuk bahan celupan kain. Ubar: rebusan kulit pohon ini menghasilkan bahan celupan berwarna merah dan hanya digunakan untuk mencelup jala para nelayan. Ulem: rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup sutera dan katun agar berwarna merah. Pohon ini banyak dibudidayakan di desa-desa di Aceh pada zaman dahulu. Reugon: rebusan kulit pohon ini digunakan untuk mencelup kain menjadi berwarna hitam. Seunam: nila atau indigo, bahan pewarna dari daun tanaman belukar yang digunakan untuk mencelup katun menjadi berwarna biru. Seupeueng: sepang atau secang, rebusan kulit pohon ini digunakan sebagai pencelup bahan dari sutera, katun, dan benang agar berwarna merah. Agar tidak memudar, bahan ini dicampurkan dengan gandarukam. Teungge: rebusan kulit pohon ini menghasilkan bahan celupan gelap yang digunakan untuk mencelup kain agar berwarna hitam. Cibree: rebusan kulit pohon ini berguna untuk membangun warna gelap pada kain katun. &lt;br /&gt;Mencelup bahan tenun merupakan pekerjaan yang demikian menentukan dalam proses menenun sehingga orang Aceh beranggapan: “baik sekali jika menginang sirih pada waktu merebus malo, karena merahnya sirih berpengaruh baik atas merahnya bahan celupan. Apabila sempat terjadi bahwa bahan indigo yang disiapkan seorang perempuan tidak menghasilkan warna yang bagus pada bahan sutera, artinya salah seorang kerabatnya akan mendapat musibah kelak”.  &lt;br /&gt;Kepandaian menenun tidak saja dipergunakan untuk sekedar menghasilkan hanya kain sebagai penutup tubuh, tapi lebih dari itu kain tersebut dapat merupakan sebuah karya seni yang muncul sesuai dengan alur kehidupan masyarakat. Sehelai kain tenun yang indah, tidak saja berfungsi sebagai busana penutup tubuh, tetapi juga dapat menunjukkan derajat dan martabat si pemakainya. &lt;br /&gt;Sebagaimana halnya sulaman benang emas, sutera digunakan untuk tujuan peragaan dan kemulyaan. Baik laki-laki maupun perempuan mengenakan sehelai sarung sutera di atas celana hitam khas Aceh. Untuk perempuan biasanya mengenakan selendang sutera berukuran panjang dan lebar yang diletakkan di bahu atau sebagai penutup kepala. Para lelaki biasanya  menghias topi kebesaran mereka dengan sehelai kain sutera bersegi, hal itu untuk menambah pamor dan wibawanya. Kain tersebut dilipat dalam bentuk sudut bertemu sudut, kemudian dililitkan di sekeliling topi Aceh hingga membentuk kopiah meukeutop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kain tenun Aceh&lt;br /&gt;Koleksi Museum Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan celana untuk perempuan juga dibuat dari sutera. Bahan itu dipotong menurut pola yang sempit pada mata kaki dan lebar pada pinggangnya. Celana tersebut diikat dengan pending perak atau emas, kemudian dirancang hingga dapat dipakai untuk semua ukuran.&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu di Aceh, sutera juga dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan sirih, yaitu bungkoih ranup. Bungkoih ranub itu digantungkan di atas bahu kiri dan diimbangi oleh sekumpulan anak kunci. Hiasan lain seperti kancing cincin dan tempat tembakau terbuat dari emas, suasa (campuran emas dengan tembaga), dan perak, yang semuanya bergantungan di bagian depan. Perlengkapan tersebut pada umumnya dipakai oleh laki-laki yang sudah berkeluarga. Para pedagang dan saudagar selalu membawa perlengkapan penting itu agar selalu lancar dalam melakukan transaksi bisnis. Apabila seorang laki-laki menjamu, ia menyilakan tamunya mengambil yang ia sukai. Sebaliknya, tamunya akan membalas menawarkan isi setangan sutera sendiri kepada penjamunya. &lt;br /&gt;Memproduksi sutera merupakan suatu proses padat karya dan pada umunya dikerjakan oleh perempuan. Pembudidayaan ulat sutera, mengumpulkan dan memintal suteranya, menghimpun bahan-bahan untuk keperluan mencelup, dan kemudian mencelup benangnya, pada umumnya dikerjakan oleh perempuan. Menyusul kemudian menenun benang sutera, suatu tugas yang membutuhkan ketelitian, mencakup mempersiapkan alat tenun dan mengatur benang lungsin sutera yang halus, menggulung benang pakan pada gelondong, kemudian menenun dan menghitung setiap lembar benang hingga disainya terwujud. Secara umum alat tenun tradisional yang ditemukan di seluruh Asia Tenggara bentuknya hampir sama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kain Tenun sebagai Daya Tarik Wisata&lt;br /&gt;Berdasar pada penjelasan di atas dapat dipahami, tenun Aceh menempati kedudukan dan arti penting dalam sejarah dan budaya masyarakat Aceh dan merupakan satu di antara identitas keacehan. Kurangnya informasi tentang kain tenun Aceh dapat menyebabkan wisatawan tidak mengerti dan memahami informasi tentang warisan budaya Aceh tersebut.  Ditambah lagi di Aceh saat ini produksi kain tenun dan sulaman sudah sangat langka sehingga keberadaannya semakin tidak dikenal lagi.&lt;br /&gt;Kain tenun dan sulaman seharusnya dapat memberikan informasi yang lebih banyak bagi wisatawan, baik mengenai pengetahuan tentang bendanya maupun peristiwa yang berhubungan dengannya. Dengan demikian, kain tenun dan sulaman yang merupakan satu di antara identitas keacehan menjadi berharga sehingga perlu dipelihara, dirawat, dan diinformasikan kepada masyarakat Aceh khususnya supaya mereka mengetahui terhadap identitasnya dan kepada wisatawan pada umumnya. Untuk itu, kain tenun dan sulaman perlu diinformasikan kepada wisatawan sehingga kain tenun dan sulaman dapat menjadi satu di antara daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Aceh.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, pariwisata sudah menuju menjadi kegiatan industri besar. Dibandingkan dengan sektor-sektor ekonomi yang lain, periwisata memperlihatkan perkembangan yang relatif stabil daripada yang dialami oleh sektor industri lain.&lt;br /&gt;Fenomena itu menyebabkan banyak negara, wilayah, masyarakat, maupun investor mulai beralih dan melibatkan diri dalam dunia kepariwisataan. Di Indonesia juga sangat menyadari kekuatan sektor tersebut dan terus mengembangkan industri pariwisata di tanah air. Pemerintah daerah mulai menyadari pentingnya pengembangkan sektor pariwisata di daerahnya. Kebijakan-kebijakan di bidang pariwisata yang dibuat dalam rangka mendorong segala potensi daerahnya untuk mengembangkan atraksi, produk, dan destinasi wisata.&lt;br /&gt;Namun demikian, sering terjadi, kegiatan pariwisata membawa dampak negatif, baik pada lingkungan alam maupun sosial budaya dan peninggalan budaya. Akan tetapi, apabila dalam kegiatan pariwisata yang terkonsep dengan baik dan tertata rapi, dampak dari kegiatan pariwisata dapat diminimalisasi. Hal itu disebabkan, pariwisata tidak menjual peninggalan budaya melainkan keindahan, nilai, dan maknanya. &lt;br /&gt;Apabila pariwisata tidak dikelola dengan benar, warisan budaya yang dieksploitasi oleh para operator wisata demi keuntungannya dapat merusak pariwisata itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa pariwisata itu sendiri dapat membantu upaya pelestarian pusaka budaya. &lt;br /&gt;Selama ini apa yang sering dipikirkan orang adalah bagaimana “menjual” aset budaya untuk pariwisata. Demi hal tersebut, misalnya, banyak kesenian yang terpaksa disederhanakan dan dikemas sesuai dengan selera dunia wisata, dan ini banyak dikeluhkan oleh para seniman “asli” karena kesenian tersebut menjadi sekedar komoditas dan tidak lagi memiliki makna. Di beberapa tempat wisata, atraksi diselenggarakan secara asal-asalan, atau banyak promosi yang disebarluaskan namun sebenarnya belum ada kesiapan dari apa yang dipromosikan. Sebagai penjual biasanya ia selalu ingin agar dagangannya laku sebanyak-banyaknya dan mendapat untung sebesar-besarnya, tapi sering lupa menjaga kualitas barang dagangannya agar memuaskan pembeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kipas yang disulam dengan benang emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Selama ini, orang selalu mengaitkan pariwisata dengan pembangunan ekonomi. Pariwisata dianggap sebagai sarana untuk menjaring keuntungan materi. Namun demikian, tidak banyak yang mengaitkan kegiatan pariwisata dengan usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan. Kesan seperti itu tidak salah, karena memang kegiatan pariwisata meyebabkan berkembangnya industri pariwisata yang membuka peluang usaha serta lapangan kerja.&lt;br /&gt;Di samping kelebihan dan nilai ekonomis yang menjanjikan dari pengembangan pariwisata, industri pariwisata juga memberikan dampak negatif bagi kelangsungan tinggalan budaya. Pertumbuhan pariwisata yang tinggi menimbulkan distorsi, kerusakan, dan pencemaran terhadap tinggalan budaya. Mungkin itulah yang disebut banyak kalangan sebagai pengaruh pariwisata terhadap lingkungan sosial-budaya, yang terkadang dijadikan sebagai alasan untuk mengontrol pengembangan pariwisata.&lt;br /&gt;Demikianlah halnya dengan kain tenun (sutera) dan sulaman di Aceh telah kehilangan kedudukannya yang pernah menonjol pada zaman dahulu. Hanya sebagian kecil orang Aceh yang masih melestarikan kerajinan kuno tersebut. Betapapun dengan kehadiran benang emas dan sutera impor, sebagian kecil masyarakat tetap melanjutkan memakai alat tenun tradisional dan menghasilkan disain tradisional demi mengenang kejayaan yang pernah diraih oleh nenek moyangnya pada zaman dahulu. Mereka menghasilkan berbagai jenis kain dengan beraneka ragam motif yang sesuai dengan daerahnya. Jenis kain yang dihasilkan, antara lain jenis-jenis kain sarung, kain songket, kain selendang, kain tangkulok, dan jenis kain panjang. Sebagian dari warisan budaya tersebut dapat disaksikan di museum Aceh dan koleksi Harun Keuchik Leumik di Banda Aceh.&lt;br /&gt;Mengantisipasi pudarnya warisan budaya Aceh tersebut, perlu dilakukan pelestarian. Secara umum pengertian pelestarian adalah upaya mempertahankan keadaan asli warisan budaya, dengan tidak mengubah dan tetap mempertahankan kelangsungannya dengan kondisinya yang sekarang (exitingcondition). Pelestarian juga mempunyai pengertian perlindungan dan pemeliharaan dari kemusnahan atau kerusakan. Pelestarian tersebut dapat dicapai melalui berbagai upaya seperti pengumpulan, pendataan, konservasi, preparasi, rekonstruksi, serta rehabilitasi. Dengan demikian, pelestarian warisan budaya meliputi pelestarian terhadap nilai dan fisiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-6503927794391430167?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/6503927794391430167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/06/tenun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/6503927794391430167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/6503927794391430167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/06/tenun.html' title='tenun'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-3779954064015695407</id><published>2011-02-23T02:32:00.000-08:00</published><updated>2011-02-23T02:34:46.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Jema Opat</title><content type='html'>JEMA OPAT: &lt;br /&gt;Pengawal Keharmonisan Hidup dalam Masyarakat Gayo Lues&lt;br /&gt;Sudirman BPSNT Banda Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Masyarkat di Gayo Lues mempersepsikan dirinya sebagai orang Islam, sehingga kehidupan dan budayanya seolah-olah telah menyatu dengan ajaran Islam. Paling tidak diupayakan agar tidak menyalahi atau bertentangan dengannya. Dengan demikian, dalam tingkah laku dan budayanya, mereka mengenal empat macam hubungan yang selalu mereka pelihara, yaitu hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesamanya, hubungan dengan alam sekitarnya, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, tatanan kehidupan mereka sangat mengutamakan kerukunan, ketentraman, keamanan, dan kedamaian, sehingga selalu mereka pelihara dengan berbagai upaya. Nilai utamanya adalah gagasan bahwa dengan hidup rukun, tentram, seimbang, aman, dan damai akan sampai pada satu kehidupan yang dicita-citakan, yaitu kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt; Untuk memelihara dan mempertahankan gagasan hidup yang demikian itu, diciptakanlah norma-norma sosial yang mendukungnya. Satu di antaranya yang sangat penting adalah norma adat dan adat istiadat. Budaya warisan leluhur mereka telah mengajarkan prinsip-prinsip hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Pada masyarakat Gayo Lues, lingkungan adat terkecil disebut sarak (kampung). Suatu sarak biasanya terdiri atas empat batasan, yang disebut dengan dewal, yaitu utara, timur, selatan, dan barat. Untuk menjaga kelangsungan adat, keempat dewal itu dikawal oleh lembaga adat yang disebut dengan jema opat. Jema opat  terdiri atas empat golongan, pertama, saudere, yaitu rakyat banyak, sebagai genap mupakat atau semacam badan pekerja. Kedua, urang tue, anggotanya diambil dari orang-orang tua yang berpengalaman tentang seluk beluk kehidupan dalam bermasyarakat. Fungsinya sebagai musidik sasat, yaitu meneliti segala pekerjaan yang bertujuan untuk kesejahteraan bersama dan sebagai penasehat adat. Ketiga, pegawe, yaitu golongan masyarakat yang anggotanya diambil dari para ahli dalam pertukangan dan pengetahuan lainnya. Fungsinya sebagai muperlu sunet, yaitu mereka yang mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk kesejahteraan bersama. Keempat, penghulu, pemimpin suatu sarak yang dipilih secara langsung, yang berfungsi sebagai musuket sifet, yaitu memimpin masyarakat secara adil.&lt;br /&gt; Jema opat dalam menjalankan fungsinya di masyarakat harus berpedoman pada empat ketentuan, pertama, inget, yaitu sebelum melakukan sesuatu harus diingat atau dipikirkan apakah tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan adat atau tidak. Kedua, atur, yaitu sesuatu yang diputuskan harus disesuaikan dengan kesepakatan masyarakat setempat. Ketiga, resam, sesuatu yang diputuskan harus sesuai dengan kebiasaan di masyarakat. Keempat, peraturen, yaitu sesuatu yang diputuskan tidak bertentangan dengan pandangan masyarakat atau dapat diterima menurut akal sehat.&lt;br /&gt;Jema opat  dalam melaksanakan tugasnya harus berlandaskan pemikiran-pemikiran ke arah tercapainya kedamaian dan ketentraman bersama anggota masyarakat, yang disebut dengan sara kekemelan. Sara kekemelan dapat tercapai apabila masyarakat berpandangan bahwa mereka adalah sederajat. Pembagian golongan dalam masyarakat bukan atas dasar tinggi-rendah, tetapi hanya karena fungsinya saja.&lt;br /&gt;  Jema opat, berdasarkan sara kekemelan di atas, membuat suatu batasan-batasan  antara yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat. Demikian juga dengan kebiasaan yang dapat menyebabkan pertentangan dan perselisihan dalam masyarakat, dibuat suatu larangan untuk tidak dikerjakan. Peraturan itu dibuat bersifat mengikat, pelanggaran atas peraturan itu akan mendapatkan sanksi. Perbuatan-perbuatan yang banyak mengakibatkan terjerumusnya ke dalam pelanggaran, sedapat mungkin harus dijauhi.&lt;br /&gt; Sanksi hukum atas setiap pelanggaran tersebut dibagi ke dalam empat kelompok. Pertama, diet, yaitu pelanggaran yang mengakibatkan kerugian besar bagi orang lain. Orang yang melanggar harus bertanggung jawab dan besarnya ganti rugi minimal harus sama dengan kerugian yang ditimbulkan terhadap orang lain, hal ini biasanya dalam masalah harta. Kedua, Bela, yaitu pelanggaran yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain dan sanksinya harus setimpal dengan kerugian yang ditimbulkan terhadap orang lain. Hal itu diistilahkan dengan nyawa beluh nyawa gantie, rayoh beluh rayoh gantie (=nyawa diganti nyawa, darah diganti darah). Ketiga, rujuk, yaitu suatu pelanggaran yang masih dapat diluruskan. Keempat, maap, yaitu pelanggaran yang patut dimaafkan setelah ditinjau dari berbagai sisi.&lt;br /&gt; Sanksi hukum tersebut dapat dihilangkan apabila si korban memaafkan si pelaku. Akan tetapi, jika si korban tidak mau memaafkan, jema opat melakukan penyelidikan berdasarkan adat yang dipedomani bersama oleh masyarakat. Adat tersebut, yaitu: koro beruwer ume berpeger, malu beruang mas berpure (kerbau berkandang, sawah berpagar, wanita berkamar).&lt;br /&gt; Koro beruwer, ume berpeger (=kerbau di kandang, sawah dipagari). Apabila terjadi juga pelanggaran oleh kerbau, seperti masuk dan merusak tanaman di sawah, yang demikian itu tidak disengaja sehingga kerugian dibagi dua. Koro beruwer, ume gere berpeger (=kerbau sudah dikandangkan dengan baik, tetapi sawah tidak dipagarkan). Apabila terjadi pelanggaran, seperti kerbau merusak tanaman di sawah, kerugian tidak diganti karena kesalahan terjadi di pihak pesawah. Koro gere beruwer, ume berpeger (=kerbau tidak dikandangkan tetapi sawah dipagar). Apabila terjadi pelanggaran, kesalahan harus ditanggung oleh yang punya kerbau. Koro gere beruwer, ume gere berpeger (=kerbau tidak dikandangkan dan sawah tidak dipagar). Apabila terjadi pelanggaran, tidak ada tuntutannya.&lt;br /&gt; Atas dasar hukum adat itulah sesuatu perbuatan yang berakibat pelanggaran hukum untuk dipedomani, demikian juga terhadap sanksinya. Sanksi dijatuhkan setelah penyelidikan untuk pembuktian yang dilakukan secara seksama. Hal itu, diistilahkan dengan ike i belang penyemuren jemur mayak, ike i belang kolak baju murebek, ike i aih aunen labu mupecah (pembuktian harus nyata bukan direkayasa). Setelah pelanggaran terbukti dilakukan secara berencana, hukuman dijatuhkan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Dalam rangka membenahi dan menjaga kondisi daerah Aceh menjadi daerah yang rukun, seimbang, aman, dan damai, serta sejahtera, satu di antara pilarnya adalah membangun kembali tatanan dan pranata budaya masyarakat yang berakar pada adat dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan agama Islam. Adat dan adat istiadat merupakan elemen dan aspiratif dasar bagi pembangunan budaya daerah. Hal itu disebabkan bahwa dalam setiap sisi kehidupan masyarakat, harus dilandaskan pada kesadaran berbudaya. Untuk itu, kesadaran berbudaya harus ditumbuhkan, digali, dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Sumber&lt;br /&gt;Coubat, A.Sy. 1984. Adat Perkawinan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;Gayo, M.H.. 1983. Perang Gayo Alas Melawan Kolonialis Belanda. Jakarta: PN Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Hakim, A.R. 1986. Bunga Rampai Cerita Rakyat Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;Hurgronje, C. Snouck. 1903. Het Gajoland en zijne bewoners. Batavia: Pemerintah Hindia Belanda Batavia.&lt;br /&gt;Said, Muhammad. 1961. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada Medan.&lt;br /&gt;Syamsuddin, T. 1978/1979. Adat Istiadat Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.&lt;br /&gt;Wahab, M. Salim. 1982. Tinjauan Selintas Adat Istiadat Gayo Luas. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-3779954064015695407?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/3779954064015695407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/02/jema-opat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3779954064015695407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3779954064015695407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/02/jema-opat.html' title='Jema Opat'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-7642598201031258573</id><published>2011-02-22T05:58:00.000-08:00</published><updated>2011-02-22T06:00:48.079-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sakit dan Sehat</title><content type='html'>Sehat dan Sakit dalam Dimensi Sosial-Budaya MasyarakatAceh&lt;br /&gt;Oleh Sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Pemahaman masyarakat terhadap kesehatan, setidaknya terkait dengan dua pola pemahaman masyarakat yang kurang berdaya secara ekonomi. Pertama, lapisan masyarakat miskin cenderung memahami bahwa antara sehat dan sakit merupakan fenomena yang diskrit. &lt;br /&gt;Kemajuan dan temuan-temuan baru di bidang kedokteran selama tahun-tahun pertama abad ke-19 hingga sekarang pernah menumbuhkan harapan secara meluas terhadap terwujudnya “dunia tanpa penyakit”.  Namun demikian, dalam kenyataanya jarang terjadi bahwa setelah suatu penyakit berhasil dibasmi, muncul pula penyakit baru. Penyakit lama yang sudah dianggap hilang, muncul kembali setelah beberapa waktu berlalu.  Penyakit framboesia, beri-beri, busung lapar, cacar, dan penyakit kulit lainnya yang sudah pernah hilang sejak tahun 60-an, dalam tahun-tahun terakhir ini muncul kembali.  &lt;br /&gt;Kedua, masyarakat di pedesaan juga memahami bahwa penyakit merupakan gejala abnormal yang jarang terjadi. Apabila tidak mengunjungi tempat-tempat penyembuhan, berarti mereka sehat. Hingga tahun 1800 M, di kalangan masyarakat berkembang anggapan bahwa kesehatan adalah kondisi yang berbeda dengan sakit. Akan tetapi, sejak permulaan tahun 1900 M, peneliti menemukan kasus-kasus bahwa para korban efidemi tidak hanya orang-orang yang tidak sehat. Kebanyakan para korban microorganisme terjadi melalui air, udara, atau tinja orang-orang yang terkontaminasi. Sejak saat itu, muncul kesadaran bahwa masalah penyakit berkolerasi dengan kondisi sanitasi lingkungan.  &lt;br /&gt;Pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat tersebut merupakan pengetahuan kognitif yang terpendam dalam kesadaran keberagamannya.  Sikapnya terhadap kesehatan merupakan alternatif pilihan yang berpedomankan pada pengetahuan kognitif yang tersimpan dalam kesadarannya. Perilaku masyarakat terhadap kesehatan merupakan wujud konkrit dari pilihan alternatif tindakan yang dipandang relatif tepat, yaitu yang didasarkan pada pengalaman pribadi atau orang lain di sekitarnya.&lt;br /&gt;Kesadaran keberagaman memetakan pengetahuan kognitif pada masyarakat Aceh, bahwa penyakit itu merupakan kehendak Allah, sebagai kausa prima, apa pun jenis penyakit dan bagaimana pun tingkat kesakitannya. Kesadaran itu kemudian dihubungkan dengan konsep tentang asal-usul manusia, yaitu gabungan unsur-unsur air, tanah, api, dan angin, yang dilengkapi dengan roh. Setiap unsur pembentuk manusia itu memiliki tabiat yang berbeda-beda, sehingga sulit untuk diintegrasikan. &lt;br /&gt;Kesehatan manusia sangat tergantung pada keseimbangan pengaruh di antara keempat unsur itu dalam tubuh manusia. Apabila keseimbangan itu terganggu, penyakit akan timbul dan mempengaruhi jiwa manusia. Pada dasarnya sakit merupakan fenomena mental, karena antara jiwa dan tubuh terdapat hubungan saling ketergantungan. Semboyan-semboyan lama antara lain mengungkapkan bahwa “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Hal sebaliknya juga dapat berlaku, bahwa jiwa yang sakit mengakibatkan tubuh pun sakit. Keluhan terhadap suatu penyakit timbul karena jiwa tidak berdaya meresponnya, masyarakat Aceh menyebutnya dengan leumoh bulee (=lemah bulu, daya tahan tubuhnya lemah), terutama dimaksudkan untuk penyakit yang timbul karena pengaruh makhluk halus.&lt;br /&gt;Integrasi di antara keempat unsur pembentuk manusia yang dikemukankan di atas dapat terwujud dalam setiap unsur dan saling toleran yang berada dalam keseimbangan dinamis sesuai dengan tempo-tempat manusia berada. Tingkat kerentanan manusia terhadap penyakit bervariasi sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhannya, begitu pula dengan tempat. Kondisi kesehatan paling prima terdapat pada usia baru lahir hingga umur enam bulan serta awal masa remaja, kecuali kalau terdapat penyebab-penyebab lain yang mempengaruhinya, yaitu tempat yang meliputi lingkungan alamiah, lingkungan buatan, dan tingkat pencemaran lingkungan. Rendahnya kualitas lingkungan dapat mempengaruhi tingkat toleransi di antara atau keempat unsur dasar tersebut. Gangguan lingkungan, berpengaruh pada gizi, kesehatan, perkembangan ragawi, dan mental. Hal itu berarti bahwa hidup yang sehat berkolerasi dengan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Faktor lingkungan mencakup kualitas udara, air, makanan, tofografi tanah, serta kebiasaan hidup.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur lingkungan yang dikemukakan di atas, berpengaruh terhadap penyakit dan penyembuhannya. Orang-orang tua dalam msyarakat, terutama perempuan, memiliki pengetahuan “medis” tentang penyebab penyakit serta penyembuhannya, antara lain dengan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitarnya. Selain itu, lingkungan budaya juga bersangkut paut dengan pengalaman sakit dan sehat, terutama mengenai cara masyarakat mengemukakan persoalan kesehatan, cara  menampilkan gejala sakit, serta kapan dan kepada siapa ia meminta perawatan. Dalam hal ini, penyembuhan penyakit tidak terbatas hanya pada membuat pasien menjadi sehat, tetapi juga terbinanya kembali manusia yang mampu beriteraksi dengan lingkungan hidup sebagaimana wajarnya. Khusus untuk lingkungan hidup sosial budaya, jangkauannya meliputi hubungan-hubungan antara sesama manusia dalam lingkungan di masyarakat maupun keluarga. Oleh karena itu, perlu diketahui bagaimana pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat Aceh terhadap sehat dan sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Sakit &lt;br /&gt;Ditinjau dari segi budaya, penyakit tidak semata-mata difahami sebagai fenomena biologis. Persoalan kesehatan juga berkaitan dengan peran-peran sosial tertentu yang mendatangkan hak dan kewajiban. Penyakit saling berkaitan dengan karakteristik sosial, seperti asal-usul etnik, kelas sosial, ras, status pekerjaan, pola perilaku, lingkungan geografi, dan pandangan tentang makna sehat dan sakit.  Para peneliti yang mengkaji keterkaitan antara kebudayaan dan morbiditas, menemukan dua kecenderungan tentang adanya penyakit dalam suatu masyarakat. Pertama, dikaitkan dengan actual prevalence. Apabila suatu gejala penyakit telah menyebar luas, penyakit tersebut tidak lagi dianggap sebagai simptomatik. Kedua, dihubungkan dengan orientasi nilai dominan masyarakat. Pada masyarakat tertentu, keluhan-keluhan fisik yang lazim disebut morning sickness,  tidak ditemukan pada perempuan, bahkan diterima dengan senang hati.  &lt;br /&gt;Pemahaman seperti dikemukakan di atas, juga merupakan gejala umum yang dijumpai pada masyarakat Aceh. Kadarsyah telah menginventarisaikan berbagai jenis penyakit yang dikenal di masyarakat Aceh Besar, yaitu meliputi 113 jenis penyakit. Jenis penyakit tersebut dikelompokkan ke dalam sembilan kategori. Kategori itu meliputi kelompok penyakit yang berhubungan dengan kelainan pada kulit, kelainan saluran pernafasan, penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih dan kelamin, serta penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan. Kategori yang lain meliputi kelompok penyakit yang berhubungan dengan jantung, peredaran darah, otot, persarafan, kepala, tulang, pengaruh makhluk halus, dan jenis-jenis penyakit yang lain.  &lt;br /&gt;Darmuni Daud menyebutkan beberapa jenis penyakit yang dipercayai oleh sebagian masyarakat Aceh, hanya dapat disembuhkan melalui praktik meurajah (bacaan mantra). Kelompok penyakit ini termasuk meurampot (kemasukan hantu), teukeunong (terkena serangan setan melalui sihir), seureubok (terkena serbuk berbisa), dan teumeugu (gangguan dari roh orang yang mati berdarah). Keempat jenis penyakit itu dipercayai bersumber dari pengaruh makhluk halus, yang dimanfaatkan oleh dukun untuk melampiaskan dendamnya atau permintaan pihak lain terhadap seseorang. Oleh karena itu, untuk mengobatinya diperlukan pula bantuan dari dukun lain. Darmuni Daud  menyebutkan, ada tiga kelompok dukun, yaitu pawang (dukun dengan membacakan mantra-mantra), teungku meurajah (dengan membacakan ayat-ayat Alquran), dan tabib, yaitu tergantung pada cara pengobatan yang digunakan, seperti dengan meminta bantuan makhluk halus, atau membaca ayat-ayat tertentu yang terdapat dalam Alquran, atau dengan menggunakan ramuan obat tradisional. Dalam mengobati pasien, pawang biasanya menggunakan benda-benda tertentu, seperti jeruk purut, kunyit, sirih, pinang, dan kemenyan.  &lt;br /&gt;Ketika menderita suatu penyakit, sebelum suatu tindakan dilakukan, yang bersangkutan memperkirakan terlebih dahulu tingkat kesakitan yang dideritanya. Masyarakat Aceh, biasanya membedakan tingkat kesakitan ke dalam empat kategori, yaitu seu-i, saket, nadak, dan nadeu’a. Pada tahap seu-i, si sakit biasanya kurang bersemangat dalam bekerja dan kadang-kadang juga diikuti dengan menurunnya selera makan. Pada tahap ini yang bersangkutan biasanya tidak melakukan tindakan apapun dan cenderung membiarkan selama beberapa hari. Upaya yang dilakukan hanya sebatas menggunakan obat gosok, pijat, mandi air hangat, atau tidak mandi selama beberapa hari. Apabila kondisi semakin memburuk, mulai dirasakan gangguan pada anggota badan tertentu seperti leumoh (lemas), hana mangat babah (tidak selera makan), hana mangat asoe (tidak enak badan atau meriang), hana ditem teungeut (tidak bisa tidur), mumang (pusing), saket ulee (sakit kepala), kuweut lam teu-ot (lutut pegal), diputa pruet (perut melilit), seusak nafah (sesak nafas), saket ulee hate (sakit hulu hati), meudhuep-dhuep hate (degupan jantung), pingsang, su-um paneuh (badan panas dan mengigil), dan meu u’u’ geulinyueng (telinga berdesing). Dengan banyak bergerak, orang berharap bahwa penyakit akan berkurang. Oleh karena itu, walaupun dalam kondisi yang kurang bersemangat, orang tetap menyibukkan diri dengan kegiatan rutinitasnya.&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang semakin memburuk dan tidak mampu melakukan aktivitas yang berarti, orang sakit lebih memilih untuk tetap berada dan berbaring di tempat tidur. Pada tahap ini, orang sakit merasakan selera makannya hilang sama sekali, sulit tidur, dan seluruh tubuh terasa sakit. Para tetangga dan kerabat datang menjenguknya dan mengemukakan pengalaman dirinya atau pengalaman orang lain yang pernah didengarnya. Di antara mereka ada yang menyarankan ramuan atau obat-obat tertentu dan menunjukkan dukun tertentu. Berobat dengan menginap di rumah sakit belum merupakan alternatif pilihan yang dipandang perlu oleh masyarakat di desa. Kerabat dekat yang berada di tempat lain, terutama anaknya, dipandang belum perlu diberitahukan. Orang yang berada di sekitarnya juga belum tergerak untuk menawarkan makanan atau minuman yang disukainya. Pada umumnya orang yang berada di sekitar orang yang sakit hanya menunggu dan berupaya apa-apa yang dimintanya.&lt;br /&gt;Tahap ketiga adalah nadak (sakit parah), yaitu saat kondisi penyakit semakin parah. Pada tahap ini, orang sakit dalam keadaan sangat gelisah dan tidurnya tidak lagi tenang. Suasana demikian, umumnya dinyatakan si sakit sudah balek-bateueng. Dari mulutnya hanya terdengar ucapan kata Allah berulang kali, karena tidak tertahan lagi rasa sakitnya. Si sakit dengan kondisi yang demikian dikatakan dalam keadaan aloh Allah-apoh apah. Walaupun kesadarannya masih terkontrol, namun permintaannya sering kali tidak rasional. Apabila sedang dirawat di rumah sakit, ia minta dipindahkan ke rumah sendiri, atau kalau sedang dirawat di rumah, ia minta dipindahkan ke rumah salah seorang anaknya. Permintaan demikian dimaksudkan untuk berganti suasana, masyarakat Aceh menyebutnya dengan istilah balek aleue (bertukar lantai).&lt;br /&gt;Orang-orang yang berada di sekelilingnya saling bersikap merasakan apa yang dirasakan oleh si sakit. Sementara itu, setiap pengunjung yang baru datang mendekatinya seraya mengusapkan dahinya sambil membisikkan di telinganya untuk permintaan maaf atas berbagai kesalahan yang pernah dilakukan. Sebaliknya, sambil berlinang air mata, si sakit pun menjawab dengan permintaan yang serupa. Apabila kondisi si sakit sangat gelisah, yang datang menjenguknya mengumamkan doa seraya meletakkan telapak tangan di dahinya: ya Tuhan, meunyoe kabeh raseuki gob nyan, bumangat neucok bek le saket. Meunyoe na mantong raseuki gob nyan, neubri beu ek geuibadat bak set (ya Allah, apabila umurnya memang hanya sampai di sini, ambillah dia dengan cara yang baik. Apabila masih dipanjangkan umurnya, berilah kemudahan baginya untuk dapat beribadah kembali. &lt;br /&gt;Dalam keadaan sakit tidak tertahankan, biasanya si sakit teringat berbagai hal, terutama kematian, persiapan diri yang belum memadai untuk menghadapi hari kebangkitan, dan anak-anaknya yang belum mampu mengurus diri sendiri. Oleh karena itu, sambil menahan rasa sakit, ia berdoa agar sehat kembali untuk mampu beribadah. Apabila ada anaknya yang masih di bawah umur, meminta kepada isteri atau suami supaya merawat dan membesarkannya, serta memesankan kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk melihat-lihatnya. Permintaan demikian, langsung dijawab dengan isak tangis, agar si sakit tidak perlu merisaukan diri, karena mereka semua akan melindunginya.&lt;br /&gt;Tahap keempat dikatakan bahwa si sakit berada dalam keadaan dadeu’a (kritis atau sakarat). Dalam kondisi kritis ini, si sakit tidak lagi mengeluh dan juga tidak bergerak. Tanda bahwa ia masih hidup hanya terlihat pada gerakan dada yang naik-turun. Orang-orang di sekitarnya berdiam diri dengan mata yang bengkak. Di antara mereka ada yang membaca Surat Yasin dalam Alquran, apabila sudah terlihat tanda-tanda ajalnya sudah dekat. Membaca doa peuintat (doa pengantar) bagi orang yang sedang sakarat, yang secara harfiah berarti mengantarkan ke alam baka. Orang yang berada di dekatnya mengusapkan tangan pada pelupuk matanya agar tertutup kembali seraya melipatkan kedua tangannya ke atas dada. Dalam situasi demikian, orang-orang di sekitarnya harus menahan kesedihan, karena dipercayai bahwa tangisan keluarga dekat dapat menghambat keluarnya roh dari tubuh dan hal itu sangat menyakitkan bagi si mayat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Penyakit&lt;br /&gt;Masyarakat Aceh berkeyakinan bahwa penyakit itu datang dari Allah. Oleh karena itu, sembuh dari penyakit juga kehendak dari Allah. Apabila Tuhan tidak menghendaki, penyakit tidak timbul pada seseorang, dan orang yang terkena penyakit pun tidak akan sembuh. Kemampuan manusia seperti pawang hanya sebatas berusaha menyembuhkannya. &lt;br /&gt;Sebagian orang, sakit merupakan jalan pintas untuk melarikan diri dari realitas hidup yang dihadapinya. Kenyataan hidup yang dimaksud dapat berupa kegagalan dalam mewujudkan keinginan, ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban, tersisih dari lingkungan pergaulan, ataupun terlibat dengan tuduhan-tuduhan tertentu. Naluri kemanusian memberikan pertimbangan yang berbeda dalam berhadapan dengan orang yang sakit dibandingkan dengan pertimbangan yang diberikan untuk kasus yang sama terhadap orang yang sehat. Dalam kondisi sakit, untuk beberapa waktu lamanya, orang terbebaskan dari kewajiban atau tuntutan tertentu yang enggan atau tidak berdaya untuk dipenuhi, sehingga dapat mengurangi tekanan mental.  &lt;br /&gt;Dalam konsepsi keacehan, penyakit dihubungkan dengan terjadinya gangguan pada kondisi keseimbangan di antara unsur-unsur pembentuk tubuh manusia. Tubuh manusia terbentuk atas unsur-unsur air, tanah, api, dan angin, serta dilengkapi dengan roh.  Setiap unsur itu memiliki  tabiat yang berbeda, sehingga sulit merukunkannya. Oleh karena itu, bentuk, watak, dan kondisi setiap orang berbeda antara satu dengan yang lain. Kesehatan manusia sangat tergantung pada keseimbangan pengaruh di antara keempat unsur itu. Penyakit timbul pada seseorang karena keseimbangan pengaruh itu terganggu. Untuk mengembalikannya kepada keadaan keseimbangan semula, diperlukan bantuan tabib, yaitu dengan memberikan obat yang tepat.&lt;br /&gt;Ilmu ketabiban terbentuk sebagai hasil kombinasi di antara ilmu kimia, fisika, dan biologi, serta dihubungkan dengan komponen bentuk badan manusia.  Dalam perjalanan waktu, pemahaman manusia tentang penyakit juga mengalami perkembangan yang semakin lama semakin menjurus kepada penyembuhan penyakit. Ilmu ketabiban juga semakin mengkhususkan diri pada penyakit tertentu atau organ tubuh tertentu. Dengan proses perkembangan demikian, sering dilupakan bahwa manusia itu berada dalam satu lingkungan masyarakat yang lengkap dengan sarana-prasarana strukturalnya.&lt;br /&gt;Menurut Loedin, pemahaman tentang penyakit berkembang melalui beberapa fase. Fase pertama, penyakit yang diderita seseorang dihubungkan dengan kepercayaan tertentu tentang penyebabnya, yang berada di luar diri manusia. Pada fase ini berkembang pemahaman bahwa penyakit merupakan pertanda dari gangguan syaitan, kutukan Tuhan, atau dosa yang tidak terampunkan. Pendekatan penyembuhan yang ditawarkan adalah upaya berdamai dengan sumber penyebab, baik dengan memberikan sesajen, mempersembahkan korban, bertaubat dari dosa, bernazar, membacakan mantera atau doa, maupun dengan meninggalkan pantangan-pantangan tertentu. Tokoh yang dipandang sangat berbakat dalam penyembuhan penyakit pada fase ini di kalangan masyarakat Aceh adalah pawang atau teungku meurajah.&lt;br /&gt;Kedua, fase klinik. Pada fase ini berkembang temuan-temuan tentang penyebab penyakit tertentu. Kegiatan penelitiannya berkembang di laboratorium dan memungkinkan manusia melihat secara nyata penyebab penyakit. Sejak itu, lahirlah bakteriologi dan sekaligus pula ilmu kedokteran modern. Ketiga, fase orientasi pada penderita penyakit dan penyembuhannya. Pada fase ini berkembang kesadaran bahwa yang dihadapi para ilmuan kesehatan adalah manusia-manusia yang terganggu kesehatannya. Ilmu kedokteran klinik dengan berbagai ragam spesialisasi pengobatan tumbuh dengan pesat. Kempat, fase community oriented medicine. Pada fase ini, para ilmuan kesehatan menyadari bahwa pasien mendapat penyakit di dalam masyarakat, yaitu lingkungan tempat ia hidup, dan setelah sembuh kelak ia akan kembali ke dalam masyarakat yang sama. Realitas ini terutama sangat penting bagi pasien penderita traumatis. Pada pihak lain,  mereka menyadari tentang kecenderungan perkembangan bidang kedokteran yang semakin menjurus ke arah fragmentasi dan isolasi di antara super spesialis yang semakin ketat dan orientasinya tetap pada penyakit. Sadar dengan dua kondisi demikian, pada fase ini para ilmuwan kesehatan tergerak untuk memperdalam pemahaman mereka tentang manusia dan masyarakat.&lt;br /&gt;Kelima, fase pendekatan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya. Memasuki fase ini, orientasi para ilmuwan bergeser dari orang sakit kepada manusia dan lingkungan hidupnya. Ini berarti bahwa penyembuhan penyakit adalah terbinanya kembali manusia yang mampu berinteraksi sebagaimana wajarnya dengan lingkungan hidupnya. Ini berarti pula bahwa pembangunan kesehatan membutuhkan pendekatan ekologi, karena menyangkut manusia yang senantiasa berinteraksi dengan lingkungan hidupnya, yang meliputi lingkungan hidup fisik, lingkungan hidup biologi, dan lingkungan hidup sosial budaya. Untuk lingkungan hidup sosial budaya, cakupannya menjangkau hubungan-hubungan antara sesama manusia, dalam lingkungan yang luas di masyarakat maupun secara terbatas di lingkungan keluarga. Dalam lingkungan masyarakat maupun keluarga, melalui akal, pendidikan, dan pengalaman, manusia menata hidupnya mengikuti sesuatu sistem nilai budaya, adat istiadat, agama, kepercayaan, sikap, dan falsafah hidup tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Penyembuhan&lt;br /&gt;Hidup dalam keadaan sehat merupakan dambaan setiap orang, bagi mereka, sehat identik dengan bahagia. Oleh karena itu, setiap kondisi yang mengganggu kebahagiaan disamakan dengan penyakit. Hal itu, dinyatakan dengan sebutan peunyaket (penyakit) untuk setiap kelangkaan atau kesulitan yang dihadapi seperti meusaket that buet, musaket that wate, meusaket that barang, meusaket that raseuki. Sebutan- sebutan itu mengacu kepada kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, waktu luang, barang, dan pendapatan. Perkataan saket (sakit) juga digunakan dalam konteks emosi seperti saket that hate (sakit hati), untuk menyatakan perasaan tersinggung. Sebaliknya, beberapa gejala penyakit tidak dinyatakan dengan saket, tetapi dengan hana mangat (tidak enak). Dalam hal ini termasuk hana mangat asoe/badan (tidak enak badan), hana mangat babah (tidak enak mulut), hana mangat pruet (tidak enak perut), serta perasaan gelisah yang dinyatakan dengan hana mangat hate (tidak enak hati). Kesemuanya itu dimaksudkan untuk menyatakan adanya gangguan pada sekujur badan, selera makan, percernaan, serta perasaan gelisah.  &lt;br /&gt;Penyakit dianggap sebagai gangguan terhadap kondisi hidup yang sehat. Hal itu, disadari secara merata di kalangan masyarakat Aceh. Karena sakit diyakini berasal dari Tuhan, orang berusaha untuk sembuh dengan berobat dan berdoa. &lt;br /&gt;Harapan yang terbayangkan ketika sakit parah adalah untuk dapat sehat kembali. Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkan harapan itu, karena masyarakat Aceh berkeyakinan, setiap penyakit ada obatnya, kecuali mati. Dari sini mulai berawal masalah penyembuhan. Orang yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu bagi orang tertentu, belum mujarab untuk penyakit yang sama pada orang lain dan tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan hanya satu cara tertentu. Oleh karena itu,  berkembang beberapa cara penyembuhan, antara lain meracik sendiri ramuan obat, meminta pertolongan pawang atau bernazar.&lt;br /&gt;Teknik pengobatan yang dilakukan oleh pawang berwujud meurajah dan apabila diperlukan juga menggunakan sandrong. Sandron adalah seorang perempuan yang berfungsi untuk media pemindahan makhluk halus dari tubuh si sakit. Melalui sandrong inilah kemudian ditanyakan penyebab penyakit, dan alasan makhluk halus itu mengganggu si sakit, serta apa yang diinginkannya. Praktik penyembuhan yang lain adalah berbentuk upacara peulheueh alen. Upacara ini merupakan proses lanjutan dari cara sebelumnya, yaitu meurajah. Penyelenggaraannya lebih dimaksudkan untuk mengembalikan makhluk halus yang berada dalam tubuh si sakit ke tempatnya semula. Makna harfiah dari upacara ini adalah melepaskan suatu rakit kecil yang terbuat dari upih pinang yang berisikan sesajen ke laut. Sesajen yang dihanyutkan ke laut itu terdiri atas nasi ketan dan ayam putih, yang dikerjakan sendiri oleh pawang. Sebelum alen beserta isinya dilakukan peusa-dua pada tubuh si sakit, yaitu dengan cara mengayun-ayunkan sebanyak tujuh kali, sambil menghitungnya dengan suara pelan. Makna perdukunan yang lebih khas dari upacara tersebut adalah agar makhluk halus yang terdapat dalam tubuh si sakit kembali ke tempat asalnya dengan menggunakan alen sebagai transfortasi dan sesajen di dalamnya untuk makanan selama dalam perjalanan.  Terlepas dari pembicaraan benar atau tidak, hal seperti itu, pernah dipraktikkan oleh masyarakat Aceh.&lt;br /&gt;Upaya penyembuhan lainnya adalah nazar, yang diikrarkan si sakit sendiri, kerabat atau orang lain. Bentuk nazar seperti dengan menggantikan nama setelah sembuh dari penyakit, membaca Alquran di beberapa mesjid, menjalankan puasa sunnah, dan bersedekah.&lt;br /&gt;Selain upaya seperti di atas, masyarakat Aceh juga mengenal ramuan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan. Pengetahuan tentang jenis obat ramuan itu banyak dijumpai dalam naskah-naskah kuno di masyarakat Aceh seperti Naskah Mujarabat.  Obat ramuan itu, adakalanya melalui diminum atau melalui olesan, sangat tergantung pada jenis penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dalam dimensi sosial budaya, determinan kondisi sakit dapat bersifat kebudayaan, psikologi, sosial atau ekologi. Komponen kebudayaan dapat berwujud adat istiadat, keyakinan, kepecayaan tentang tingkah laku hidup sehat, serta pola makan dan minum. Komponen psikologi mencakup unsur-unsur persepsi tentang sakit, atau sikap terhadap sakit. Komponen sosial antara lain termasuk tingkat pendidikan, profesi, penghasilan, dan status ekonomi. Komponen ekologi terdiri atas unsur-unsur keadaan lingkungan alam, kebersihan lingkungan fisik, rumah tempat tinggal, dan lingkungan sekitar. Keempat komponen sosial budaya yang dikemukakan itu dipandang langsung maupun tidak langsung, dapat mempengaruhi tingkah laku si sakit, cara-cara hidup sehat, tingkah laku saat beralih dari keadaan sehat kepada keadaan sakit atau sebaliknya.&lt;br /&gt; Pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap sehat dan sakit, terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Sehat dan sakit erat hubungannya dengan lingkungan alam dan budaya seseorang. Untuk mewujudkan hidup sehat, masyarakat harus diberikan pengetahuan  tentang pola hidup sehat melalui pemahaman tentang medis, lingkungan alam, dan budayanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-7642598201031258573?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/7642598201031258573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/02/sakit-dan-sehat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/7642598201031258573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/7642598201031258573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2011/02/sakit-dan-sehat.html' title='Sakit dan Sehat'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-8076835519050333417</id><published>2010-02-28T02:31:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T02:39:10.741-08:00</updated><title type='text'>Potensi Museum Aceh</title><content type='html'>Museum Aceh: Satu Potensi Daya Tarik Wisata Budaya &lt;br /&gt;Oleh Sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Aceh adalah nama sebuah daerah di Indonesia, yang sekarang disebut Pemerintah Aceh. Pada masa kesultanan Aceh, yang dimaksud dengan Aceh adalah wilayah yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, sedangkan daerah di luar itu disebut daerah taklukan.  Selain sebagai nama daerah, Aceh juga nama satu di antara etnis di Pemerintah Aceh. Di Pemerintahan Aceh terdapat beberapa etnis, yaitu Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Singkil, Simeulue, dan Kluet.&lt;br /&gt;Aceh terletak di ujung sebelah utara pulau Sumatera, merupakan bagian yang paling utara  dan paling barat kepulauan Hindia Timur, kini disebut Kepulauan Indonesia. Di sebelah tenggara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara, sedangkan di sebelah baratnya terbentang Lautan Hindia (kini Samudera Indonesia) dan di sebelah utara dan timur terletak Selat Malaka.  &lt;br /&gt;Menurut R.A. Hoesein Djajadiningrat, pendiri Kesultanan Aceh Darussalam ialah Sultan Ali Mughayat Syah pada sekitar tahun 1514M.  Dengan dikuasainya Malaka oleh Portugis 1511M, menyebabkan saudagar Muslim datang ke Aceh, maka kerajaan Aceh mulai berkembang menjadi tempat perdagangan yang besar. Saudagar-saudagar Muslim, baik dari Barat maupun dari Timur, Aceh digunakan sebagai pengganti Malaka untuk tempat berdagang dan tempat untuk secara intensif menyebarkan agama Islam. Keadaan seperti itu tidak disia-siakan oleh sultan Aceh, memanfaatkan kesempatan itu guna membina kesultanan agar benar-benar kuat, sehingga dapat menjadi pusat perdagangan antarbangsa sebagai pengganti Malaka yang telah dikuasai oleh Portugis.&lt;br /&gt;Aceh sebagai daerah yang memegang peranan penting dalam sejarah di Nusantara, memiliki banyak aspek peninggalan sejarah dan kebudayaan, baik sebelum, selama maupun  sesudah kesultanan Aceh, belum terungkap secara menyeluruh. Dengan demikian, masih dimungkinkan adanya upaya yang berkesinambungan dan terpadu untuk mengungkapkan segala aspek kehidupan masyarakat Aceh untuk didokumentasikan dan disimpan di museum dan dapat digunakan sebagai objek daya tarik wisata.&lt;br /&gt;Visi dan misi untuk menyelamatkan aset budaya bangsa tersebut merupakan satu di antara latar belakang pembentukan Museum Aceh. Oleh karena itu, menjadi tugas lembaga itu untuk terus berkarya demi kemajuan bangsa dalam bidang kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Aceh&lt;br /&gt;Museum Aceh terletak di jalan S.A. Mahmudsyah 12 Desa Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Didirikan pada tanggal 31 Juli 1915, dengan nama Atjeh Museum yang dipimpin oleh F.W. Stammeshaus. Pada awal berdirinya, bangunan museum tersebut hanya berupa Rumoh Aceh, yaitu suatu modifikasi bangunan rumah tradisional Aceh yang berasal dari Paviliun Aceh pada Pameran Kolonial (De Koloniale Testooteling) di Semarang pada 13 Agustus hingga November 1914. Selain memamerkan bermacam koleksi pribadi F.W. Stammeshaus, Paviliun Aceh juga memamerkan aneka ragam benda pusaka pembesar Aceh, sehingga paviliun tersebut tampil sebagai paviliun yang paling lengkap koleksinya. Pada pameran tersebut, Paviliun Aceh memperoleh empat medali emas, sebelas perak, tiga perunggu, dan piagam penghargaan sebagai paviliun terbaik. Atas keberhasilan tersebut, F.W. Stammeshaus mengusulkan kepada Gubernur Sipil dan Militer Aceh, H.N.A. Swart, agar paviliun itu dibawa kembali ke Aceh untuk dijadikan Atjeh Museum, kemudian diresmikan 31 Juli 1915 di Kutaradja (kini Banda Aceh).  &lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka, operasionalisasi Museum Aceh secara bergantian diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tk. II Banda Aceh hingga tahun 1969M, Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda hingga tahun 1979M, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga tahun 2002M. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonomi, operasionalisasi Museum Aceh menjadi kewenangan pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.  Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 10 Tahun 2002 tanggal 2 Februari 2002, status Museum Aceh menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (kini Pemerintah Aceh) di lingkungan Dinas Kebudayaan (kini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata).&lt;br /&gt;Museum Aceh dibangun atas tanah seluas 9.400 m² dengan luas bangunan 2.132 m².  Bangunan-bangunan museum itu terdiri atas: Lonceng cakra donya, gedung pameran khusus, perpustakaan, ruang kepala, dan tata usaha, rumah Aceh, auditorium dan kantin, makam-makam sultan Aceh, gedung pameran tetap, laboratorium, ruang studi koleksi, preparasi, storage, dan rumah kepala museum, dan sekarang sudah ditambah dengan bangunan galeri.&lt;br /&gt;Bangunan-bangunan gedung museum itu mengambil motif-motif bangunan Aceh, seperti gedung auditorium yang berbentuk kerucut, bentuknya diambil dari cara orang Aceh membungkus nasi dengan daun pisang yang dinamakan bu kulah. Demikian juga dengan pintu gerbang masuk ke kompleks museum Aceh ada dua buah, yaitu di depan museum bagian barat dan selatan. Pintu gerbang itu dibangun dengan motif bangunan pintu gerbang mempunyai corak arsitektur tradisional yang berbentuk kulah kama (mahkota) sebagai penutup kepala. Pagar pekarangan yang terbuat dari besi di bagian depan kompleks museum mempergunakan motif bungong awang-awang (bunga mega). Motif itu sangat digemari oleh masyarakat Aceh. Hal itu terlihat dengan banyak dipergunakan motif itu untuk ornamen-ornamen pada hiasan-hiasan rumah, seperti pada ukiran tombak layar, daun pintu, teralis, serambi, dan lain-lain. Ruang pamer koleksi terdiri atas empat lantai, ditambah dengan ruang pamer di rumah Aceh. Di antara koleksi andalan museum Aceh adalah Lonceng Cakra Donya dan Rumah Aceh. Lonceng itu merupakan hadiah dari Kerajaan Cina yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414M.  Rumah Aceh dibangun dalam bentuk arsitektur tradisional rumah Aceh, yang merupakan rumah tempat kediaman orang Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lonceng Cakra Donya Rumah Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi Objek Wisata Budaya&lt;br /&gt;Dalam dunia pariwisata istilah objek wisata mempunyai pengertian sebagai sesuatu yang menjadi daya tarik bagi seseorang atau calon wisatawan untuk berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata. Ada beberapa sumber atau jenis objek yang dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi seseorang untuk datang berkunjung ke daerah tujuan wisata, sumber-sumber tersebut antara lain: &lt;br /&gt;1) Sumber-sumber yang bersifat alamiah. Jenis-jenis objek wisata yang bersumber dari keadaan lingkungan alam, misalnya, iklim, pemandangan alam, flora, fauna, kawah, danau, sungai, karang dan ikan di bawah laut, gua, tebing, lembah, danau, dan sebagainya,&lt;br /&gt;2) Sumber-sumber yang bersifat manusiawi. Sumber manusiawi yang melekat pada masyarakat dalam bentuk perilaku aktivitas, misalnya, kesenian, upacara-upacara keagamaan dan adat, dan sebagainya,&lt;br /&gt;3) Sumber-sumber buatan manusia, misalnya, benda-benda peninggalan bersejarah atau sisa-sisa budaya masa lampau. Dalam hal ini museum dapat digolongkan dalam jenis objek tersebut, dan  &lt;br /&gt;4) Selain itu, untuk menjadikan suatu kawasan atau tempat menjadi objek wisata adalah: (1) kelangkaan (scarcity), yakni sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun kelangkaan ciptaan. (2) kealamiahan (naturalism), yakni sifat dari objek/atraksi wisata yang belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Atraksi wisata dapat berwujud suatu warisan budaya dan atraksi alam yang belum mengalami banyak perubahan oleh perilaku manusia. (3) keunikan (uniqueness), yakni sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya.  &lt;br /&gt; Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.  Dapat disimpulkan bahwa daya tarik wisata adalah suatu objek ciptaan Tuhan maupun hasil karya manusia, yang menarik minat orang untuk berkunjung dan menikmati keberadaannya.  Mengikuti  pengertian di atas, atraksi wisata atau objek daya tarik wisata telah menempatkan produk museum menjadi satu di antara atraksi wisata.&lt;br /&gt; Di Indonesia, atraksi wisata yang masih dianggap sebagai andalan, paling tidak oleh pelaku industri pariwisata adalah atraksi yang berkaitan dengan kebudayaan. Wisata budaya diartikan sebagai jenis kegiatan pariwisata yang objeknya adalah kebudayaan.  Museum dalam hal ini dapat digolongkan sebagai objek wisata budaya, walau memiliki dan menampilkan koleksi alam.&lt;br /&gt;Agar suatu kebudayaan dapat lestari, maka upaya-upaya yang perlu dijamin kelangsungannya meliputi: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Pemanfaatan meliputi upaya-upaya untuk menggunakan hasil-hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industri budaya, dan untuk dijadikan daya tarik wisata  &lt;br /&gt;Museum Aceh, hingga tahun 2008 mengelola 5.964 koleksi.  Koleksi tersebut terdiri atas keanekaragaman koleksi benda budaya dari berbagai suku, seperti Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Singkil, Simeulue, Kluet, dan Gayo. Berdasarkan ruang lingkup, museum Aceh termasuk museum regional karena memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya dari satu wilayah propinsi. Adapun menurut jenis koleksinya, museum Aceh termasuk museum umum karena memiliki koleksi dari berbagai cabang ilmu atau mengelola sepuluh jenis koleksi, yaitu Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramologika, Koleksi Seni Rupa, dan Teknologika.&lt;br /&gt; Di antara kolek museum Aceh adalah rumoh Aceh (rumah Aceh). Rumah Aceh dibangun menyerupai rumah tradisional masyarakat Aceh yang berbentuk panggung. Masyarakat Aceh tidak mengenal istilah rumah adat, karena fungsi setiap ruangan rumah ditata agar sedapat mungkin menggambarkan fungsi pokok-pokok ruangan pada rumah tempat tinggal masyarakat Aceh. Sramoe keue (serambi depan) adalah ruangan tamu yang terbentang sepanjang rumah yang dipakai untuk menerima tamu, menjalankan kegiatan agama, dan sebagai tempat musyawarah keluarga.  Di dinding ruangang ini terdapat beberapa potong kayu berukir dengan hiasan tradisional Aceh, lukisan para pahlawan Aceh, dan juga pajangan alat musik, rapa-i, dalam ukuran besar dan kecil.&lt;br /&gt; Bagian kedua rumah adalah ruang tengah (rambat), yaitu ruangan penghubung yang terdapat di antara dua kamar tidur. Ruangan ini khusus digunakan untuk sesama penghuni rumah dan sanak keluarga. Di ruangan ini terdapat lemari-lemari yang berisi peralatan makan dari keramik asing dan tembikar (kendi Gayo), berbagai jenis topi dan senjata, peralatan upacara dari tembaga, panyot gantung (lampu gantung) dan panyot dong (lampu berkaki) yang dibuat dari kuningan, peralatan ibadah, Alquran, dan lukisan-lukisan.&lt;br /&gt; Bagian ketiga rumah adalah sramoe likot (serambi belakang), ruang ini juga sebagai ruang keluarga dan dapur. Dapur selalu ditempatkan di bagian ujung timur ruangan agar tidak mengganggu kegiatan ibadah shalat. Sebagai ruang keluarga, sramoe likot merupakan tempat berkumpul anggota keluarga, mengasuh anak, dan melakukan kegiatan sehari-hari para perempuan, seperti jahit menjahit, menganyam tikar, dan aktivitas lainnya.&lt;br /&gt; Rumoh inong atau kamar tidur utama adalah bagian yang paling penting dan sangat suci dalam rumah tempat tinggal masyarakat Aceh. Ruangan inilah yang sesungguhnya dapat dikatakan kamar yang disebut juree, yaitu bagian yang terletak di sisi barat dan timur rambat. Di ruangan ini pasangan suami-isteri tidur dan di ruang ini pula upacara-upacara adat dilaksanakan, seperti sunat rasul (khitan), perkawinan, dan kematian.&lt;br /&gt; Museum Aceh juga memiliki gedung pameran tetap yang terdiri atas empat lantai. Di lantai pertama terdapat koleksi: maket museum, peta jalan raya, peta adat-istiadat, penghubung kota, dan hasil bumi, alam semesta, batu mineral, fosil, flora dan fauna, miniatur rumah Aceh, meriam, prasasti Neusu Aceh, dan warisan budaya Islam.&lt;br /&gt; Di lantai dua terdapat koleksi: peralatan berburu, alat angkut dan sarana transportasi, pengolahan hasil bumi, peralatan pertanian, dan peralatan penangkap ikan. Di lantai tiga terdapat koleksi seni musik, keramik, senjata, dan ragam hias. Di lantai empat terdapat koleksi peralatan tenun, tenun, peralatan upacara, pelaminan, perhiasan tradisional, dan pakaian pengantin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum dan Pariwisata&lt;br /&gt;Dalam perspektif pariwisata, museum berperan sebagai tujuan penyelenggara rekreasi. Oleh karena itu, museum harus dirancang permanen, dikontrol, dan dikelola demi memenuhi unsur kenikmatan, kesenangan, hiburan, dan pendidikan bagi para pengunjung.  Sebagai produk wisata, museum mampu menarik pengunjung, baik wisatawan lokal, nusantara, maupun mancanegara, sehingga museum dapat menjadi objek dan atraksi wisata utama, bahkan andalan atau icon di daerah bersangkutan. Kota-kota maju di dunia, seperti di Perancis mampu menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar berkat kekayaan dan keanekaragaman produk meseumnya.    &lt;br /&gt;Wisata terdiri atas wisata alam, minat khusus, dan budaya. Museum termasuk satu di antara jenis wisata budaya, karena koleksinya terdiri atas unsur-unsur kebudayaan materi. Untuk itu, koleksi museum dapat dikemas sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi suguhan bagi wisatawan, sekaligus sebagai upaya melestarikan dan pemanfaatan koleksi museum. &lt;br /&gt;Pariwisata merupakan fenomena budaya yang menggambarkan perilaku melakukan perjalanan untuk kesenangan atau hiburan di tempat yang berbeda dari tempat asalnya, baik dalam cakupan antarkota hingga antarnegara. Kurt Morgenroth menyebutkan, pariwisata adalah lalu lintas orang-orang yang meninggalkan tempat kediamannya untuk sementara waktu, untuk berpesiar di tempat lain. Hal itu dimaksudkan semata-mata sebagai konsumen dari buah hasil perekonomian dan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidup dan budayanya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya.  &lt;br /&gt; Sebagai suatu lembaga, museum melalui koleksinya mempunyai kewajiban memberikan gambaran dan pemahaman yang merefleksikan proses sejarah yang dicapai oleh suatu komunitas, sekaligus menjadikan museum sebagai tempat tujuan wisata. Oleh karena itu, sebagai lembaga yang memiliki peran kunci dalam memberikan pemahaman identitas, museum yang dikembangkan harus mencerminkan upaya pelestarian, menjaga, dan menyampaikan memori kolektif antara masa lalu dan masa sekarang untuk kepentingan masa depan kepada komunitas. Dalam hal ini pariwisata dimungkinkan berfungsi sebagai wahana untuk mendukung cita-cita museum melalui pendekatan pariwisata budaya, yaitu suatu konsep pariwisata yang berbasis pada budaya sebagai daya tarik kegiatan wisata yang dilakukan untuk meningkatkan apresiasi dan pengetahuan tentang warisan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataan Koleksi&lt;br /&gt;Penyajian koleksi dalam bentuk penataan  adalah suatu kegiatan mengatur koleksi di dalam ruang pamer dengan sistematika dan teknik pemajangan tertentu, dengan cara pengelompokan/klasifikasi dan penempatan tertentu.  Kegiatan penataan  merupakan faktor terpenting suatu  tata pamer koleksi, saat ini telah berkembang menjadi satu bidang pengetahuan yang semakin memerlukan keahlian khusus.  Faktor koleksi dan penataan termasuk faktor yang dapat menimbulkan daya tarik tata pameran museum.   Prinsip-prinsip penyajian koleksi di ruang pamer, yaitu:&lt;br /&gt;a. Sistematika atau alur cerita pameran. &lt;br /&gt; Sistematika atau alur cerita pameran, dibutuhkan untuk mempermudah komunikasi dan penyampaian informasi kepada publik, mulai dari awal pintu masuk sampai dengan pintu keluar ruang pameran.&lt;br /&gt;b. Koleksi yang mendukung alur cerita.&lt;br /&gt; Koleksi sebagai pendukung alur cerita yang akan disajikan di ruang pameran harus dipersiapkan sebelumnya, agar terlihat hubungan dan keterkaitan yang jelas antara isi materi pameran dengan koleksi yang disajikan.&lt;br /&gt;c. Metode dan teknik penyajian koleksi&lt;br /&gt;Setiap penyajian koleksi di museum seharusnya mempunyai metode dan teknik,  agar koleksi yang disajikan lebih menarik dan aplikatif. &lt;br /&gt;1) Metode&lt;br /&gt;Metode penyajian koleksi di museum terdiri atas:&lt;br /&gt;a) Metode pendekatan intelektual, adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang mengungkapkan informasi tentang guna, arti, dan fungsi koleksi museum.&lt;br /&gt;b) Metode pendekatan romantik (evokatif), adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan.&lt;br /&gt;c) Metode pendekatan estetik, adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum yang mengungkapkan nilai artistik dari benda koleksi yang akan dipamerkan.&lt;br /&gt;d) Metode pendekatan simbolik, adalah cara penyajian benda-benda koleksi museum dengan menggunakan simbol-simbol tertentu sebagai media interpretasi pengunjung.&lt;br /&gt;e) Metode pendekatan kontemplatif, adalah cara penyajian koleksi di museum untuk membangun imajinasi pengunjung terhadap koleksi yang dipamerkan.&lt;br /&gt;f) Metode pendekatan interaktif, adalah cara penyajian koleksi di museum sehingga pengunjung dapat berinteraksi langsung  dengan koleksi yang dipamerkan. Penyajian interaktif dapat dilakukan dengan menggunakan media teknologi.&lt;br /&gt;2) Teknik&lt;br /&gt;Terdapat empat teknik dalam penyajian koleksi museum, yaitu:&lt;br /&gt;a) Teknik konvensional, adalah teknik penyajian koleksi yang dipamerkan apa adanya, dapat dinikmati langsung oleh panca indera.&lt;br /&gt;b) Teknik media cetak, adalah teknik penyajian koleksi dengan direkam dalam media cetak, baik kertas maupun microfilm.&lt;br /&gt;c) Teknik audiovisual, adalah teknik penyajian koleksi museum yang dapat dinikmati melalui pertunjukan hidup di layar yang telah disediakan.&lt;br /&gt;d) Teknik simulasi, adalah teknik penyajian yang menggabungkan kecanggihan teknologi rancang bangun dengan teknologi elektronika, sehingga pengunjung museum dapat terlibat langsung dan menghayati benda-benda yang dipamerkan secara hidup.  &lt;br /&gt;Untuk mendukung teknik penyajian koleksi, terdapat standar tertentu yang dapat digunakan sebagai penunjang adalah:&lt;br /&gt;1) Ukuran vitrin. Ukuran vitrin dan panil tidak boleh terlalu tinggi ataupun terlalu rendah,  disesuaikan dengan ukuran rata-rata manusia Indonesia, misalnya tinggi rata-rata manusia Indonesia 160 cm s/d 170 cm dan kemampuan gerak anatomi leher  manusia, kira-kira sekitar  30°m gerak ke atas ke bawah atau ke samping, maka sebaiknya tinggi vitrin seluruhnya kira-kira 210 cm, dengan alas terendah 65-70 cm dan tebal 50 cm.&lt;br /&gt;2) Tata Cahaya. Pengaturan cahaya sangat diperlukan agar tidak merusak, mengganggu koleksi, dan menyilaukan pengunjung. Cahaya yang menyilaukan akan menyulitkan pengunjung melihat koleksi sehingga diusahakan lampu tersebut terlindung. Setiap koleksi yang dipamerkan, menggunakan cahaya lampu disesuaikan dengan jenis koleksi.&lt;br /&gt;3) Tata Warna. Peranan warna sangat penting dalam penataan koleksi, di samping mempengaruhi perasaan akan situasi ruangan juga memberi  sesuatu yang lain, bersifat kejiwaan, menimbulkan rasa nyaman bagi setiap pengunjung yang melihatnya. Tata warna dapat menunjang benda-benda koleksi yang dipamerkan.&lt;br /&gt;4) Tata Letak. Dalam penataan koleksi, tata letak mempunyai peranan yang sangat penting, koleksi sebaiknya diletakkan dan disusun sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang jelas, artistik, intelektual, dan romantis. Tata warna dan tata cahaya merupakan  penunjang tata letak koleksi di ruang pamer, agar koleksi dapat lebih menarik dan menyenangkan.&lt;br /&gt;5) Tata Pengamanan. Untuk menjaga keamanan koleksi dari gangguan manusia dan menjaga kebersihan koleksi dari debu/kotoran ataupun serangga, peletakan koleksi sebaiknya menggunakan vitrin atau panil. Kaca vitrin untuk koleksi dibuat setebal 5 mm agar tahan terhadap benturan. Pengamanan lainnya berupa pagar pengaman  di depan koleksi yang tidak diletakkan dalam panil atau vitrin, untuk mencegah pengunjung agar tidak menyentuh koleksi. Selain itu, TV monitor, Camera JE 7542, dan lain-lain, dapat membantu pengamanan koleksi.&lt;br /&gt;6) Labeling. Label sebagai sarana komunikasi koleksi ke pengunjung, sebaiknya dibuat  perencanaan baik isi maupun bentuk dan tujuan penggunaannya. Label yang digunakan terdiri dari label judul, label subjudul, label pengantar, label kelompok, dan label individu. &lt;br /&gt;7) Foto-foto Penunjang. Foto-foto penunjang digunakan agar koleksi yang dipamerkan lebih informatif, diletakkan berdekatan dengan koleksi. Ukuran foto jangan terlalu kecil seperti post card, ukuran yang memadai 30 X 45 X 60 dan jangan terlalu menonjol mengalahkan koleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemasaran dan Promosi&lt;br /&gt;Pemasaran merupakan sebuah proses sosial dan manajerial ketika setiap individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mereka butuhkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai di antara kedua belah pihak.  Pemasaran adalah suatu upaya untuk menjembatani kesenjangan antara customer dengan produk yang diinginkan. Terdapat beberapa faktor kesenjangan yang terjadi di masyarakat, antara lain: ruang, waktu, informasi, kepemilikan, dan nilai. &lt;br /&gt;Jerry Mc Carthy memperkenalkan skema pemasaran menjadi empat komponen dalam pembentukan strategi pemasaran, yaitu product, price, promoting, dan price. Setiap strategi pemasaran selalu memiliki empat komponen tersebut, (1) produk, berupa barang atau jasa yang menjadi komoditas; (2) harga, adalah nilai jual suatu produk; (3) promosi, yaitu upaya mengenalkan produk dan produsen dalam pasar; (4) tempat, adalah lokasi atau pusat aktivitas penyampaian produk.  &lt;br /&gt; Komponen pemasaran tersebut dapat diterapkan dalam pemasaran museum dengan melakukan penyesuaian. Keempat komponen, yaitu (1) produk dari museum bukan berupa koleksi yang dimiliki oleh museum, tetapi berupa beragam pengalaman yang dapat memenuhi suatu kebutuhan manusia akan pengetahuan dan rekreasi dalam bentuk fisik berupa program-program museum; (2) harga yang ditawarkan untuk mendapatkan pengalaman tersebut berbentuk harga tiket masuk; (3) promosi, yaitu media apa yang digunakan untuk memperkenalkan museum. Promosi ini dapat dilakukan melalui berbagai media, seperti melalui media cetak,  dan internet; (4) tempat, yakni lokasi keberadaan fisik museum, kesulitan dan kemudahan dalam mencapai lokasi museum.&lt;br /&gt; Philip Kotler menambahkan dua komponen lagi, yaitu power dan public relations. Power dimaksud, misalnya, politisi, kelompok kepentingan, pemerintah, serikat buruh, dan parlemen. Pulic relations dimaksudkan untuk memperoleh simpati atau kerja sama dari pihak-pihak yang terkait agar dapat beroperasi atau masuk ke pasar tertentu.  &lt;br /&gt; Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organitations-WTO), sesuai dengan GATS/WTO-Central Product Classification/MTN.GNS/W/120, ruang lingkup klasifikasi jasa meliputi: jasa bisnis, jasa komunikasi, jasa konstruksi dan jasa teknik, Jasa distribusi, jasa pendidikan, jasa lingkungan hidup, jasa keuangan, Jasa kesehatan dan jasa sosial, jasa kepariwisataan dan jasa perjalanan, jasa rekreasi, budaya, dan olah raga, jasa transportasi, dan jasa lain-lain.  &lt;br /&gt;Berdasarkan pada klasifikasi tersebut, museum dapat dikategorikan ke dalam jasa pariwisata, rekreasi dan budaya. Museum juga merupakan lembaga pelayanan.  Layanan yang dihasilkan museum berupa jasa tentang informasi budaya. Dalam jasa terdapat dua aspek penting, yaitu aspek sosial dan aspek fisik. Keduanya sangat mempengaruhi konsumen.&lt;br /&gt;1) Aspek sosial&lt;br /&gt;Aspek sosial dapat berhubungan dengan rasa menghargai serta hal-hal lain yang menyangkut kegiatan pertukaran ataupun transaksi yang terjadi, konsumen dapat melakukan evaluasi terhadap jasa yang ditawarkan dan termasuk kebutuhan yang akan diterima. Di sini jasa dapat dilihat dari dua jenis, yaitu jasa kontak tinggi dan jasa kontak rendah, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Jasa kontak tinggi adalah jasa yang secara langsung berhubungan dengan konsumen, artinya bahwa konsumen ikut serta dalam proses jasa. Jasa kontak rendah adalah jasa yang secara tidak langsung berhubungan dengan konsumen, namun tidak menutup kemungkinan membuat konsumen ikut serta dalam kegiatannya.&lt;br /&gt;2) Aspek fisik&lt;br /&gt;Aspek fisik turut membuat jasa menjadi menarik konsumen dalam melakukan kegiatan traksaksinya. Aspek-aspek fisik, antara lain penglihatan, pendengaran, penciuman, dan respon. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang penting untuk melancarkan strategi pemasaran yang akan digunakan. Di antara aspek fisik yang dapat dilihat dari jasa yang ditawarkan adalah tempat jasa tersebut ditawarkan atau kondisi fisik tempat jasa dipasarkan, berupa gedung dan lokasi. Apabila lokasi tempat jasa itu berada tidak menarik karena rusak, kotor, dan sebagainya, maka akan mengurangi nilai tambah jasa yang ditawarkan.  &lt;br /&gt;Museum sebagai lembaga pelayanan, juga tercermin pada pengembangan pengertian museum itu sendiri yang mulai bergeser dari sekedar pemeliharaan koleksi dan pusat penelitian ke lembaga pelayanan masyarakat.  Hal-hal seperti keterlibatan pengunjung dalam kegiatan pameran atau dalam program-program publik, peran museum shop dan café hingga dalam rangka pemberian pelayanan. Dengan perubahan orientasi itu, maka program-program pemasaran museum dititikberatkan pada faktor pelayanan pengunjung.&lt;br /&gt; Dalam aktivitas pelayanan, kualitas merupakan dimensi penting yang harus diperhatikan. Dimensi kualitas layanan jasa terdiri atas reliability, tangible, responsiveness, assurance, dan empathy.  Dimensi itu dapat dikembangkan lagi dengan perlengkapan jasa yang dikenal dengan istilah flower of service. Perlengkapan itu, antara lain information, order taking, biling, hospitality, dan care taking.  Pemasaran museum pada dasarnya adalah bentuk komunikasi dengan para stakeholder, seperti pengunjung, lembaga donor, pemerintah lokal, pegawai museum, peneliti, sponsor, dan media. Hal ini membatasi fokus pemasaran di luar pemirsa museum dalam artian sempit. Untuk menjalin agar kerja sama senantiasa berlanjut, maka tugas pemasar juga diarahkan sesuai dengan kebutuhan museum.&lt;br /&gt; Tugas utama pemasar, antara lain: (1) bertanggung jawab untuk mengindentifikasi kebutuhan dan keinginan pelanggan, (2) mengkomunikasikan harapan pelanggan, (3) tetap berhubungan dengan pelanggan, antara lain melalui aktivitas customer relation management, dan (4) mengumpulkan gagasan pelanggan tentang layanan serta menyampaikannya ke departemen lain yang bersangkutan.  Dewasa ini, kebutuhan dan nilai pengunjung telah menjadi pusat perhatian jika museum ingin menarik pengunjung. Dengan memperhatikan customer relation management dan service of excellence, menjadi semakin penting untuk diwujudkan.&lt;br /&gt; Pihak museum dalam memasarkan museum sebagai lembaga yang melayani publik, kualitas jasa layanan museum sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:&lt;br /&gt;1) Tangible, secara fisik museum harus tampil di hdapan pengunjungnya dengan indah, menarik, dan nyaman. Lobi museum, seragam pegawai, brosur yang dipajang, dan taman yang asri. Tangible yang baik akan mempengaruhi persepsi pengunjung.&lt;br /&gt;2) Reliability, seberapa akurat museum menyajikan data yang berkaitan dengan koleksinya. Sebuah museum dikatakan tidak realible, jika petugas pemandunya memberikan informasi yang keliru, ataupun teks koleksi yang salah. Program-program yang dirancang bersama publik seyogyanya harus ditepati, jangan sampai museum melakukan kesalahan atau ingkar janji terhadap publik. Manajemen museum perlu membentuk budaya kerja “error free” atau “no mistake”. Manajemen museum perlu mempersiapkan infrastruktur yang memungkinkan museum memberikan layanan yang no mistake. Caranya, antara lain dengan terus-menerus memberikan pelatihan dan menekankan kerja teamwork. Dengan kerja teamwork  koordinasi antarbagian menjadi lebih baik. Dalam mewujudkan realibility, museum juga perlu melakukan uji coba terlebih dahulu sebelum sesuatu layanan diperkenalkan kepada publik. Misalnya, saat meluncurkan sistem informasi koleksi museum, perlu dilakukan uji coba kehandalan layanan itu.&lt;br /&gt;3) Responsiveness, museum harus cepat dalam menanggapi kepentingan pengunjung, siap memberikan penjelasan, dan tanggap akan kesulitan pengunjung. Pengunjung yang tertarik pada koleksi tertentu dan bermaksud menelusuri referensinya, harus cepat ditanggapi. Keluhan pengunjung sekecil apa pun harus cepat ditanggapi.&lt;br /&gt;4) Assurance, yaitu dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan museum dan front line staf  dalam menanamkan keyakinan kepada para pengunjung. Ada empat aspek dalam dimensi ini, yaitu:&lt;br /&gt;a) keramahan, adalah aspek yang relatif mudah dikomunikasikan pemimpin kepada jajaran front line-nya. Saat pertama kali masuk ke lobi museum, senyum dan keramahan petugas resepsionis akan menjadi moment of truth pertama yang menentukan persepsi pengunjung terhadap kualitas layanan museum. Selanjutnya, senyum dari petugas kebersihan hingga jajaran kepala bagian museum akan mempengaruhi evaluasi pengunjung terhadap kepuasannya. Meski terkesan mudah, tetapi sebetulnya tidak mudah menciptakan budaya senyum bagi pegawai museum terhadap pengunjung.&lt;br /&gt;b) kompetensi, apabila pemandu museum melayani pengunjung dengan ramah, itu adalah kesan pertama yang baik. Setelah itu, apabila pengunjung mengajukan beberapa pertanyaan, namun tidak dapat memberikan penjelasan yang baik, pengunjung mulai kehilangan kepercayaan terhadap kualitas pelayanan.&lt;br /&gt;c) kredibilitas, keyakinan pengunjung terhadap museum dipengaruhi oleh kredibilitas atau reputasi museum tersebut. Harapan pengunjung akan informasi melalui sajian koleksi museum menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.&lt;br /&gt;d) keamanan, pengunjung hendaknya mempunyai rasa aman selama melakukan kunjungan ke museum.&lt;br /&gt;5) Empathy, pengunjung mempunyai harapan agar museum sebagai penyedia jasa informasi budaya mengenal mereka secara pribadi. Sebaiknya museum mempunyai data tentang nama pengunjung, kebutuhan mereka secara spesifik, apa hobinya, dan karakter personal lainnya. Sesuai dengan teori kebutuhan manusia dari Abraham Maslow, “pada tingkat semakin tinggi, kebutuhan manusia tidak lagi dengan hal-hal yang primer semacam fisik, keamanan, dan sosial, tetapi sudah sampai pada kebutuhan ego dan aktualisasi. Pengunjung ingin agar gengsinya dijaga dan statusnya dipertahankan dan apabila perlu ditingkatkan terus-menerus. Pelayanan museum yang empati memang sangat memerlukan sentuhan pribadi, tetapi sentuhan ini menjadi maksimum jika museum mempunyai sistem database yang efektif. Tanpa hal itu, sulit bagi museum untuk menerapkan layanan yang empati.  &lt;br /&gt; Strategi bauran public relation/PR-Mix, juga sudah seharusnya diterapkan dalam pemasaran museum. Push strategy yang dapat diterapkan, misalnya, dalam benerbitan news letter kepada peminat museum tentang koleksi-koleksi baru di museum atau agenda event di museum, mengundang indiviu-individu yang kerap menjadi kelompok acuan, seperti pakar atau tokoh publik, untuk datang pada resepsi-resepsi atau sekedar caffee morning di museum, atau memberikan insentif atau hadiah kepada intermediate customer, seperti biro perjalanan yang merancang tour ke museum, dan sekolah-sekolah yang rutin membuat kunjungan ke museum. Pull strategy, misalnya, membuat pameran, membuat iklan layanan masyarakat untuk mempersepsikan publik berkunjung ke museum, membuat web site museum, menerbitkan jurnal museum, mengundang wartawan seraya melakukan press tour, press luncheon atau press conference secara teratur. Pass strategy yang dapat dilakukan, misalnya, membina relasi dengan aktivis kebudayaan, pemuka masyarakat, program peduli museum atau menggelar event yang menarik dan sponsorship.&lt;br /&gt; Public relation sebagai bagian integral dari konsep marketing dan menjadi andalan untuk mendukung segala program marketing. Museum harus mempertimbangkan prinsip differentiation dalam melakukan pemasaran yang tidak hanya mengandalkan  content, yaitu apa yang anda tawarkan ke pelanggan tetapi juga context, yaitu bagaimana anda menawarkan produk dan layanan anda ke pelanggan. Content umumnya terkait dengan rasional kita, sementara context cenderung terkait dengan emosi.  Dalam hal ini content terkait dengan koleksi museum, sedangkan context adalah cara menawarkan program-program museum yang berkualitas dan menarik. Apabila pendekatan ini diterapkan di museum dalam kaitannya dengan humas dan pemasaran, diharapkan paradigm museum yang people oriented dapat lebih segmented dan targeted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Museum sebagai sarana atau institusi publik yang terkait dengan pelestarian dan pembelajaran tentang fenomena alam, nilai sosial budaya, perjalanan sejarah, dan ekspresi kesenian yang unik dan khas, sudah tergeser oleh popularitas institusi-institusi kontemporer yang ada di Aceh dewasa ini, seperti Taman Sari Banda Aceh dan Suzuya Banda Aceh. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau keberadaan museum kian sepi apresiasi dari pengunjung.&lt;br /&gt;Keadaan yang demikian itu, jika diselidiki tidak seluruhnya disebabkan oleh ketidakpedulian pengunjung. Akan tetapi, masalahnya juga terletak pada pengelolaan museum yang belum optimal. Museum Aceh belum cukup memiliki daya pikat. Koleksi museum kurang dipublikasikan dan upaya promosi belum banyak dilakukan. Informasi tentang koleksi, media, cara penyajian, pencahayaan, baik untuk ruangan maupun koleksi belum dilakukan secara profesional. Selain itu, jarang terdengar adanya program-program publik menarik yang diselenggarakan oleh museum sebagai satu di antara bentuk aktivitas untuk mempromosikan museum kepada publik.&lt;br /&gt;Peningkatan pemanfaatan koleksi museum untuk daya tarik wisata, diperlukan pengelolaan koleksi yang mengarah ke optimalisasi penataan koleksi pada ruang pameran tetap, meliputi story line (alur cerita), tata letak, tata cahaya, tata warna, dan perbaikan sarana dan prasarana dan optimalisasi promosi. Optimalisasi penataan dan pemasaran/promosi, diharapkan akan berdampak pada peningkatan pengunjung ke museum. Upaya ini dilakukan untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap museum Aceh yang selama ini terkesan kurang bermanfaat dan dikucilkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-8076835519050333417?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/8076835519050333417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2010/02/potensi-museum-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8076835519050333417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8076835519050333417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2010/02/potensi-museum-aceh.html' title='Potensi Museum Aceh'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-6002035806025373753</id><published>2009-12-08T20:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T20:33:56.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Pariwisata-Gunongan</title><content type='html'>GUNONGAN: Antara Benda Cagar Budaya &lt;br /&gt;dan Kepentingan Pariwisata&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I Pendahuluan&lt;br /&gt;Sebagaimana digariskan dalam Undang Undang No.5/1992, bahwa perlindungan terhadap benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan Indonesia. Untuk itu, setiap upaya dan inisiatif perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya perlu mendapat dukungan dan penghargaan, mengingat bahwa benda cagar budaya memiliki arti penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. &lt;br /&gt;Untuk mewujudkan hal itu, maka pengaturan yang berkaitan dengan penguasaan, pemilikan, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan maupun pengawasan terhadap benda cagar budaya telah diatur oleh pemerintah dalam Undang Undang. Namun demikian, peran masyarakat sangat berarti untuk ikut aktif dalam pelestarian benda cagar budaya. Oleh karena itu, penanganan pelestarian, merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, sehingga diperlukan kerjasama yang baik di antara setiap aktor (stakeholder) dalam menunjang pelestariian benda cagar budaya. &lt;br /&gt;Namun demikian, penanganan pelestarian dalam kenyataannya merupakan suatu penanganan yang sangat kompleks. Masih banyak hambatan-hambatan serta masalah-masalah yang ditemui di lapangan, baik akibat ketidaktahuan maupun akibat adanya konflik kepentingan antara kebutuhan pembangunan dan pariwisata di satu sisi dengan aktifitas pelestarian di sisi lain, yang seharusnya kedua hal ini disinergikan. Di sisi lain masih banyak ditemui adanya upaya pelestarian yang secara tidak disadari justru telah merusak situs benda cagar budaya itu sendiri. Hal itu, seperti yang menimpa pada tinggalan arkeologi Gunongan, pemanfaatannya untuk kepentingan pariwisata, tetapi  tidak memperhatikan kaidah pelestarian benda cagar budaya. Untuk itu, makalah ini membahas tentang permasalahan tinggalan arkeologi (gunongan) berkaitan dengan kepentingan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II Pelestarian Benda Cagar Budaya&lt;br /&gt;Berdasarkan Vedemekun Benda Cagar Budaya, bahwa yang dimaksud dengan  peninggalan sejarah dan purbakala adalah hasil karya manusia berupa benda atau fitur yang berumur 50 tahun atau mewakili langgam yang berumur lebih dari 50 tahun. Benda tersebut dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, termasuk di dalamnya benda-benda alam yang dianggap memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan. Peninggalan sejarah dan purbakala disebut juga sebagai benda cagar budaya, sedangkan dalam Pasal 1 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992, ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan BCB adalah:&lt;br /&gt;a. Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.&lt;br /&gt;b. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.&lt;br /&gt;Dalam Himpunan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia bab II Undang-Undang no. 5 tahun 1992, tentang Benda Cagar Budaya, pasal 2, dinyatakan bahwa ”perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan untuk melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pernyataan ini menyiratkan bahwa antara pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya merupakan satu kesatuan yang erat, walaupun pada kenyataannya upaya untuk melaksanakan keduanya secara terpadu tidaklah mudah. Hal ini disebabkan berbagai upaya yang menjurus kepada pelestarian yang seringkali menimbulkan perbedaan kepentingan dalam pemanfaatannya.&lt;br /&gt;Penjabaran konsep pelestarian pada dasarnya lebih menekankan pada upaya perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya secara arif dan seimbang, antara pemerintah, masyarakat, dan peneliti. Pihak pemerintah dalam hal ini, berhak membuat ketentuan peraturan perundang-undangan, sedangkan masyarakat (public) sebagai pihak yang memanfaatkan benda cagar budaya, serta peneliti (academic) yang memiliki informasi benda cagar budaya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Secara umum pengertian pelestarian adalah upaya mempertahankan keadaan asli benda cagar budaya, dengan tidak mengubah dan tetap mempertahankan kelangsungannya dengan kondisinya yang sekarang (exitingcondition). Pelestarian juga mempunyai pengertian perlindungan dan pemeliharaan dari kemusnahan atau kerusakan. Pelestarian tersebut dapat tercapai melalui berbagai upaya seperti pengumpulan, pendataan, konservasi dan preparasi, rekonstruksi, rehabilitasi, serta konsolidasi. Pelestarian khusus untuk benda cagar budaya bergerak yang berupa temuan, dilaksanakan dengan cara kepemilikan oleh negara melalui ganti rugi, hadiah, temuan, hibah, dan sitaan. Dengan demikian, pelestarian benda cagar budaya meliputi pelestarian terhadap nilai dan fisik.&lt;br /&gt;Pengertian pemanfaatan BCB yang termuat dalam Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonesia Bab VI pasal 19 dinyatakan bahwa :&lt;br /&gt;”Benda cagar budaya tertentu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III Gunongan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak sumber/karya sejarah yang menceritakan tentang kehebatan dan kejayaan kerajaan Aceh tempo dulu. Orang hingga kini masih percaya tentang cerita kehebatan serta kejayaan kerajaan Aceh ini. Namun, bukan tidak mungkin suatu saat nanti orang tidak mempercayainya lagi. Persoalan sekarang ialah mengapa orang masih percaya dan mungkin nantinya tidak akan percaya lagi tentang kehebatan dan kejayaan Aceh tersebut. Orang percaya tentunya karena ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan  dan orang tidak percaya karena tidak ada bukti. Bukti-bukti itu sama dengan jejak-jejak dari masa lampau tersebut. Karena ada jejak-jejak itulah orang yakin dan percaya. Di antara sekian banyak jejak arkeologi yang masih tersisa yang dapat menunjukkan tentang kehebatan dan kejayaan kerajaan Aceh  tempo dulu hingga kini ialah Gunongan, yaitu suatu bangunan peninggalan masa kesultanan Aceh yang masih dapat disaksikan hingga sekarang ini di pusat kota Banda Aceh. &lt;br /&gt;Sesungguhnya banyak bukti/jejak arkeologi masa lampau yang masih terdapat dalam masyarakat di Aceh. Namun, kadang-kadang bukti-bukti tersebut kurang mendapat perhatian dari kita bersama, termasuk pemerintah. Sebut saja, misalnya, kitab-kitab lama yang populer dengan sebutan Naskah dan juga Bate-Bate Jerat atau makam/nisan  yang masih banyak tersisa dalam masyarakat, begitu juga Peng-Peng (mata uang) Aceh tempo dulu, baik yang disebut  Derham (terbuat dari emas) dan Keuh (terbuat dari timah). Bukan tidak mungkin kalau kita tidak perduli, bukti-bukti atau jejak-jejak arkeologi ini suatu saat akan punah ditelan masa. &lt;br /&gt;Sama seperti punahnya Dalam (istana) Aceh yang hanya tinggal nama saja. Karena yang menjadi fokus dalam tulisan ini tentang Gunongan, maka berikut ini akan dipaparkan sekilas tentang bangunan Taman Sari Gunongan. Seorang sarjana sejarah profresional terkemuka pada awal abad 20, Raden Hoesein Djajadiningrat dalam karyanya De Stichting Van Het ”Gunongan” Geheeten Monument Te Koetaraja. (pembangunan monumen yang dinamakan ”Gunongan” di Kutaraja) dimuat dalam majalah TBG, 57 (1916), menyebutkan bahwa menurut tradisi lisan (cerita secara turun temurun) Gunongan itu keberadaannya adalah demikian: Menurut cerita, bahwa seorang raja di kerajaan Aceh telah memerintahkan kepada bawahannya (Utoih-utoih Aceh / tukang-tukang Aceh) untuk membuat sebuah Gunung Buatan yang dikelilingi sebuah taman untuk menyenangi permaisurinya yang berasal dari sebuah tempat jauh yang selalu merindukan kampung halamannya yang sarat dengan gunung-gunung. Adapun raja yang memerintahkan tersebut menurut tradisi lisan ialah Sultan Iskandar Muda yang memerintah kerajaan Aceh dari tahun 1607 -- 1636 M. Gunongan itu dibangun untuk menyenangi / mengabulkan permintaan permaisurinya yang berasal dari Pahang yang populer dengan sebutan Putroe Phang atau Putri Pahang. &lt;br /&gt;Menurut tradisi lisan pula disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda mempunyai rakyat/penduduk sangat banyak di kerajaannya. Untuk mengecat bangunan Gunongan tersebut setiap penduduk diperintahkan untuk memberi saboh cilet atau satu colek kapur untuk mengecat putih seluruh bangunan itu.&lt;br /&gt;Berdasarkan sumber lain, yaitu Kitab Bustanu’s – Salatin yang dikarang oleh Nuru’d-din ar Raniri  dalam bab XIII buku kedua dari kitab tersebut yang meriwayatkan tentang sejarah kerajaan Aceh, menyebutkan bahwa yang mendirikan Gunongan tersebut adalah Sultan Iskandar Thani yang memerintah kerajaan Aceh tahun 1636—1641M. Di situ diceritakan/diuraikan mengenai pembangunan sebuah taman yang dibangun oleh sultan tersebut, yang dinamakan Taman Gairah beserta dengan sejumlah bangunan di dalamnya, di antaranya yang dinamakan Gunongan untuk jelasnya Bustanu’s – Salatin memaparkan sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata sahibu't-tarikh: Pada zaman baginda-lah berbuat suatu bustan, ia-itu kebun, terlalu indah, kira sa-ribu depa luas-nya. Maka di-tanami-nya pelbagai bunga-bungaan dan neka buah-buahan. Di-gelar baginda bustan itu Taman Ghairah. Ada-lah dewala taman itu daripada batu di-rapati, maka di-turap dengan kapor yang amat perseh saperti perak rupa-nya, dan pintu-nya mengadap ka-istana, dan perbuatan pintu-nya itu berkop, di-atas kop itu batu di-perbuat saperti biram ber-kelopak dan berkemunchakkan daripada sangga pelinggam, terlalu gemerlap sinar-nya berkerlapan rupa-nya, bergelar Pintu Biram Indera Bangsa. Dan ada pada samatengah taman itu su-ngai bernama Darul-'Ishki berturap dengan batu, terlalu jerneh ayer-nya, lagi amat sejok, barang siapa meminum dia sihat-lah tuboh-nya. Dan ada-lah terbit mata ayer itu daripada pehak raaghrib di-bawah Gunong Jabalu'1-A'la, keluar-nya daripada batu hitam/itu.&lt;br /&gt;Shahdan ada-lah pertemuan dewala Taman Ghairah itu, yang pada Sungai Daru'l-'Ishki itu, dua buah jambangan, bergelar Rambut Gemalai. Maka kedua belah tebing Sungai Daru'l-'Ishki itu di-turap-nya dengan batu panchawarna, bergelar Tebing Sangga Saffa. Dan ada-lah kiri kanan te¬bing sungai arah ka-hulu itu dua buah tangga batu hitam di-ikat-nya dengan tembaga semburan saperti emas rupa-nya. Maka ada-lah di-sisi tangga arah ka-kanan itu suatu batu me-ngampar, bergelar Tanjong Indera Bangsa. Di-atas-nya suatu balai dulapan sagi, saperti peterana rupa-nya. Sana-lah hadharat Yang Mahamulia semayam mengail. Dan di-sisi-nya itu sa-pohon buraksa terlalu rampak, rupa-nya saperti payong hijau. Dan ada-lah sama tengah Sungai Daru'l-'Ishki itu sa-buah pulau bergelar Pulau Sangga Marmar. Di-kepala pulau itu sa-buah batu mengampar, perusahan-nya saperti tembus, bergelar Banar Nila Warna. Dan ada-lah keliling pulau itu karang berbagai warna-nya, bergelar Karang Panchalogam. Di-atas Pulau Sangga Marmar itu suatu pasu, ia-itu permandian, bergelar Sangga Sumak. Dan ada-lah isi-nya ayer mawar yazdi yang amat merebak bau-nya, tutup-nya daripada perak, dan kelah-nya daripada perak, dan charak-nya daripada fidhah yang abyadh. Dan ada-lah kersek pulau terlalu elok rupa-nya, puteh saperti kapor barus.&lt;br /&gt;Bermula pantai sungai Daru'l-'Ishki itu di-rapat-nya dengan batu yang mengampar, yang arah ka-kanan itu bergelar Pantai Ratna Chuacha dan arah ka-kiri bergelar Pantai Sumbaga.Dan ada pada pantai itu sa-ekor naga hikmat, dan ada pada mulut naga itu suatu saloran emas bepermata, laku-nya saperti lidah naga, sentiasa ayer mengalir pada saloran itu. Shahdan ada-lah di-hilir pulau itu suatu jeram, bergelar Jeram Tangisan Naga, terlalu amat gemuroh bunyi-nya, barang siapa menengar tf dia terlalu sukachita hati-nya. Dan di-hilir jeram / itu suatu telok, terlalu permai, bergelar Telok Dendang Anak, dan ada sa-buah balai kambang di-telok itu, kedudokan-nya daripada kayu jati, dan pegawai-nya daripada dewadaru, dan hatap-nya daripada timah, rupa-nya saperti sisek naga. Dan ada di-hilir telok itu sua¬tu pantai, bergelar Pantai In(de)ra Paksa, dan di-hilir pantai itu suatu lubok terlalu dalam, bergelar Lubok Taghyir. Ada-lah dalam-nya sarwa jenis ikan. Dan tebing-nya terlalu tinggi. Dan ada di-atas tebing itu sa-pohon kayu, kayu labi-labi, terlalu amat rendang, bergelar Rindu Reka. Dan ada di-sisi-nya suatu kolam terlalu luas, bergelar Chindor Hati. Maka ada-lah dalam kolam itu pelbagai bunga-bungaan, daripada bunga telepok, dan bunga jengkelenir, dan teratai, dan seroja, dan bunga iram2, dan bunga tunjong. Dan ada dalam kolam itu beberapa ikan, warna-nya saperti emas. Dan pada sama tengah kolam itu sa-buah pulau, di-turapi dengan batu puteh, bergelar Pulau Sangga Sembega. Dan di-atas-nya suatu batu mengampar, sa¬perti singgahsana rupa-nya. Sa-bermula di-seberang Sungai Daru'l-'Ishki itu dua buah kolam, suatu Chita Rasa dan suatu kolam bergelar Chita Hati. Ada-lah dalam-nya berbagai jenis ikan dan bunga-bungaan, daripada tunjong puteh dan tunjong merah, tunjong ungu dan tunjong biru, tunjong kuning dan tunjong dadu, dan serba jenis bunga-bungaan ada-lah di-sana. Dan ada di-tebing kolam itu dua buah jambangan, suatu bergelar Kem-bang Cherpu China, suatu bergelar Peterana Sangga. Shahdan dari kanan Sungai Daru'l-'Ishki itu suatu me¬dan terlalu amat luas, kersek-nya daripada batu pelinggam, ber¬gelar Medan Khiirani. Dan pada sama tengah medan itu sa-buah gunong, di-atas-nya menara tempat semayam, bergelar Ge-gunongan Menara Permata, tiang-nya daripada tembaga, dan hatap-nya daripada perak saperti sisek rumbia, dan kemunchak-j nyasuasa. Maka apabila kenamatahari chemerlang-lah chahaya-nya itu. Ada-lah dalam-nya beberapa permata puspa ragam, / dan Sulaimani, dan Yamani. Dan ada pada gegunongan itu suatu guha, pintu-nya bertingkap perak. Dan ada tanam-tanaman atas gunong itu, beberapa bunga-bungaan, daripada chempaka, dan ayer mawar merah dan puteh, dan serigading. Dan ada di-sisi gunong itu kandang baginda, dan dewala kandang itu di-turap dengan batu puteh, di-ukir pelbagai warna, dan nakas dan se-limpat, dan tembus, dan mega arak-arakan. Dan barang siapa masok ka-dalam ka(n)dang itu (a)da-lah ia menguchap selawat akan Nabi s.m. Dan ada-lah dewala yang di-dalam itu beberapa beteterapan batu puteh belazuwardi, perbuatan orang benua Turki. Dan tiang ka(n)dang itu bernama Tamriah, dan Naga Puspa, dan Dewadaru, dan pegawai-nya daripada kayu jentera mula. Dan ada-lah hatap ka(n)dang itu dua lapis, sa-lapis daripada papan di-chat dengan lumerek hitam, gemerlap rupa warna-nya, saperti warna nilam, dan sa-lapis lagi hatap ka(n)-dang itu daripada chat hijau, warna-nya saperti warna zamrud. Kemunchak-nya daripada mulamma' dan sulor bayong-nya dari¬pada perak dan di-bawah sulor bayong-nya itu buah pedendang daripada chermin, kilau-kilauan di-pandang orang. Dan di-hadapan kandang itu sa-buah balai gading, tempat khanduri baginda. Dan di-sisi balai itu beberapa pohon pisang, daripada pisang emas dan pisang suasa. Dan ada di-sisi gunong arah tepi sungai itu suatu peterana batu berukir, bergelar Kembang Lela Mas-hadi, dan arah ka-hulu-nya suatu peterana batu warna nilam, bergelar Kembang Seroja Berkerawang. Dan di-hadapan gunong itu pasir-nya daripada batu nilam dan ada sa-buah balai keemasan perbuatan orang atas angin, dan di-sisi-nya ada sa-buah rumah merpati. Shahdan ada-lah semua merpati itu sakalian-nya tahu menari, bergelar pedikeran leka. Dan ada di-tebing Sungai Daru'l-'Ishki itu suatu balai chermin, bergelar Balai Chermin Perang. Maka segala pohon kayu dan bunga-bungaan yang hampir balai itu sakalian-nya kelihatan dalam-nya/ saperti tulisan. Dan ada dalam taman itu sa-buah masjid terlalu elok perbuatan-nya, bergelar 'Ishki Mushahadah, dan kemunchak-nya daripada mulamma' emas. Dan ada-lah dalam masjid itu suatu mimbar batu berukir lagi berchat sangga rupa dan rung-kau" pancha warna, terlalu indah perbuatan-nya. Dan berke-liling masjid itu beberapa nyior gading, dan nyior karah, dan nyior manis, dan nyior dadeh, dan nyior ratus, dan nyior rambi dan berselang dengan pinang bulan, dan pinang gading, nang bawang, dan pinang kachu. Dan ada sa-pohon nyior gadii bergelar Serbat Januri, di-tambak dengan batu berturap dengii kapor. Ada-lah pohon-nya chenderong saperti orang menyeta kan diri-nya. Nyior itu-lah akan persantapan Duli Shah 'Al terlalu manis ayer-nya. Shahdan   ada-lah   di-seberang   Sungai   Daru'l-'Ishki pada pehak kiri suatu balai perbuatan orang benua China, gelar Balai  Rekaan China.   Sakalian pegawai-nya berukir it dinding-nya berchat berkerawang.   Dan ukiran-nya segala gasatwa, ada gajah berjuang dan singa bertangkap, dan beberapa unggas yang terbang, dan daripada  sa-tengah tiang-nya nag membelit,   dan  pada   sama    tengah-nya  harimau hem menerkam. Dan di-hadapan balai itu jambangan batu berturap! bergelar Kembang Seroja. Dan ada sa-buah lagi balai, s; pegawai-nya berchat ayer emas yang merah, bergelar Balai emasan. Dan halaman balai itu di-tambak-nya dengan pasir chawarna gilang-gemilang, bergelar Kersek Indera Reka. ada-lah antara kiri kanan balai itu dua ekor naga; men, pada mulut naga itu saloran suasa,   maka nentiasa ayer mengi daripada saloran mulut naga itu. Shahdan ada-lah di-darat Balai Keemasan itu sa-bi balai, tiang-nya astakona, dinding-nya berjumbai berck sarwa bagai warna, dan atap-nya daripada papan berchat kuning Ada-lah kemunchak-nya dan sulor bayong-nya berchat merah, berukir awan sa-tangkai, bergelar Balai Kumbang Chaya. Dan adi di-sisi Balai Keemasan hampir Sungai Daru'l-'Ishki itu sa-bua batu berukir kerawang, bergelar Medabar Laksana. Bermula ada hampir Kolam/Jentera Hati itu sa-buali balai gading bersendi dengan kayu arang Timor. Ada pun bumi taman itu di-tambak-nya daripada tanah kawi, dan di-tanami sarwa bagai jenis bunga-bungaan, [daripada bunga-bungaan], daripada bunga ayer mawar merah, dan ayer mawar ungu, dan bunga ayer mawar puteh, dan bunga chempaka, dan bunga ke-nanga, dan bunga melor, dan bunga pekan, dan bunga seberat, dan bunga kembang sa-tahun dan bunga serenggini, dan bimgi delima wanta, dan bunga panchawarna, dan bunga seri gading, dan bunga metia tabor, dan lawa-lawa, dan bunga sembewarna, dan bunga pachar galoh, dan bunga angrek bulan, dan bungij angrek sembewarna, dan bunga tanjong merah, dan bunga tanjong puteh, dan bunga tanjong biru, dan bunga kepadiah, dan bunga jengkelenir, dan bunga asad, dan bunga chempaka, dan bunga China, dan bunga perkula, dan bunga gandasuli, dan bunga seganda, dan bunga kelapa, dan bunga serunai, dan bunga raya merah, dan bunga raya puteh, dan bunga pandan, dan bunga warsiki, dan bunga kemuning, dan bunga sena, dan bunga telang puteh, dan bunga telang biru, dan bunga buloh gading, dan bunga kesumba, dan bunga Maderas pada Jeram Tangisan Naga, dan andang merah, dan andang puteh, pohon mas, dan limau manis, dan limau kasturi, dan limau hentimun, dan limau kedangsa, dan limau Gersik, dan limau Inderagiri, dan jambu berteh, dan bunga keremunting dan bunga serbarasa. Dan tiada-lah hamba panjangkan kata beberapa daripada kekayaan Allah s.w.t. yang gharib. Dan sakalian dalam taman itu daripada sarwa bagai buah-buahan daripada buah serbarasa, dan buah tufah, dan buah anggor, dan buah tin, dan delima, dan buah manggista, dan buah rambutan, dan buah tampoi, dan buah durian, dan buah langsat, dan jambu, dan ranum manis, dan setul kechapi, dan chermai, dan binjai, dan rambai, dan nangka, dan chempedak, dan sukon, dan manchang, dan mempelam, dan pauh, dan tebu, (dan) pisang, dan nyior, (dan) pinang, dan gan-dum, dan kachang, dan kedelai, dan ketela, dan / labu, (dan) timun, (dan) kemendikai, dan buah melaka, dan belimbing sagi, dan belimbing buloh, dan bidara, dan berangan, dan tembikai dan buah jela, dan jintan, (dan) jagong, (dan) jaba, dan sekoi dan enjelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar Taman Sari Gunongan tersebut berdasarkan cerita di atas dapat disimpulkan atas beberapa bangunan, yaitu:  Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.&lt;br /&gt;Peterana Batu berukir, berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah, Kursi batu ini berdiameter 1 m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanus as Salatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun, yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan Gunongan dan berada di sisi sungai.&lt;br /&gt;Kandang Baginda merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636 -- 1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) dan istri Sultanah Tajul Alam (1641 –1670 M). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan. Areal pemakam terletak di tengah lahan yang ditinggikan. Konon, lahan yang ditinggikan pernah dilindungi oleh satu bangunan pelindung. Pagar keliling Kandang mempunyai profil berbentuk tempat sirih dengan tinggi 4m. Pagar ini diperindah dengan beragam ukiran berbentuk nakas, selimpat (segi empat), temboga (seperti hiasan tembaga). Mega arak-arakan (awan mendung), dan dewamala (hiasan serumpun bunga dengan kelopak yang runcing dan bintang yang merupakan hiasan pada kolom tembok keliling berupa arabesque berbentuk pota suluran mengikuti bentuk segi empat. Mega arak-arakan, yaitu hiasan arabesque berupa awan mendung yang dibentuk dari suluran sebagai hiasan sudut pada bingkai dinding. Dewamala merupakan hiasan yang berbentuk menara-menara kecil berjumlah dua belas buah di atas tembok keliling terutama bagian sudut, berbentuk bunga dengan kelopak daunnya yang runcing menguncup. Menurut sumber, bangunan ini dibuat oleh orang Turki atas perintah sultan.&lt;br /&gt;Medan Khairani, merupakan sebuah padang luas di sisi barat Taman Gairah yang pernah dihiasi dengan pasir dan kerikil yang dikenal dengan nama sebutan kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kerkoff, kompleks makam Belanda yang juga disebut Peutjut. Kompleks makam ini digunakan untuk menguburkan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh (1873 –1942 M).&lt;br /&gt;Balai, merupakan bangunan yang banyak dibangun di dalam Taman Gairah. Dalam Bustanus as Salatin diuraikan mengenai lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda. Balai-balai tersebut, antara lain Balai Kambang tempat peristirahatan, Balai Gading tempat kenduri dilaksanakan, Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina, Balai Keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir, dan Balai Kembang Caya. Namun, dari balai-balai yang disebutkan tersebut tidak satu pun yang tersisa.&lt;br /&gt;Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa), secara bebas dapat diartikan sebagai pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja. Di dalam Bustanus as Salatin disebut dengan Dewala. Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Pintu Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustanus as Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan Pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut. Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai, antara lain biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang juga ditemukan pada bangunan Gunongan) dan bagian puncak dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak meruncing). Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 m) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan Dalam (istana) dengan taman, tetapi tembok tersebut sudah tidak ditemukan lagi.&lt;br /&gt; Pada tahun 1976 komplek Gunongan tersebut telah diadakan suatu penggalian kepurbakalaan (eskavasi) yang dilakukan oleh sebuah tim dari Direktorat Purbakala dari Jakarta yang dipimpin oleh Hasan Muarif Ambary. Dari hasil eskavasi tersebut di situ ditemukan banyak kepingan-kepingan emas dan juga ditemukan sebuah keranda yang  dilapisi emas dan diperkirakan keranda tersebut adalah milik Sultan Iskandar Thani menantu Sultan Iskandar Muda. Emas-emas dari yang ditemukan tersebut sebahagian besar telah disimpan di Museum Nasional Jakarta dan sebahagiannya di Museum Negeri Aceh. Demikianlah sekilas informasi yang didasarkan pada sumber-sumber yang sangat terbatas, semoga ada manfaatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV Gunongan VS Kepentingan Pariwisata&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, pariwisata sudah menuju menjadi kegiatan industri besar. Dibandingkan dengan sektor-sektor ekonomi yang lain, periwisata memperlihatkan perkembangan yang relatif stabil daripada yang dialami sektor industri lain.&lt;br /&gt;Fenomena itu menyebabkan banyak negara, wilayah, masyarakat, maupun investor mulai beralih, terjun, dan melibatkan diri dalam dunia kepariwisataan. Di Indonesia juga sangat menyadari kekuatan sektor itu dan terus mengembangkan industri pariwisata di tanah air. Banyak pemerintah daerah yang mulai menyadari pentingnya mengembangkan sektor pariwisata di daerahnya. Kebijakan-kebijakan di bidang pariwisata yang diambil kemudian adalah mendorong segala potensi daerah untuk mengembangkan atraksi, produk, dan destinasi wisata.&lt;br /&gt;Pariwisata hanya dilihat dalam bingkai ekonomi, padahal ia merupakan rangkaian dari kekuatan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya yang bersifat global. Memang pariwisata harus dapat menjual, namun pariwisata harus dapat juga memberikan manfaat dan menyumbang kepada pelestarian budaya, peningkatan kecerdasan masyarakat, terjaganya sumber daya alam dan lingkungan lestari, dan terpeliharanya peninggalan budaya, seperti arkeologi dan sejarah.&lt;br /&gt;Sering terjadi, kegiatan pariwisata membawa dampak negatif pada lingkungan alam maupun sosial budaya dan terhadap peninggalan budaya. Akan tetapi, apabila dalam kegiatan pariwisata yang terkonsep dengan baik dan tertata rapi, maka dampak dari kegiatan pariwisata dapat diminimalisasi. Kongkretnya, pariwisata tidak akan menjual peninggalan budaya melainkan keindahan, nilai dan maknanya. &lt;br /&gt;Demikian halnya yang terjadi pada peninggalan arkeologi, yaitu Gunongan, oleh pemerintah daerah diekploitasi secara besar-besaran untuk kepentingan pariwisata. Hal itu dapat diamati, sejak disain lingkungan di sekitar Gunongan yang sudah menyalahi atauran pemeliharaan terhadap benda cagar budaya. Di areal yang berdekatan dengan tinggalan arkeologi tersebut sudah banyak dibangun bagunan lain. Selain itu, fisik tinggalan arkeologi itu sudah ada yang dirubah dan ditambah dengan bentuk dan bahan yang lain. Hal itu, seperti terlihat pada pintu masuk yang sudah diganti dengan pintu besi. &lt;br /&gt;Agar suatu tinggalan arkeologi dapat lestari, harus ada upaya semua pihak untuk menjamin kelangsungannya, yaitu meliputi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Perlindungan, meliputi upaya-upaya untuk menjaga agar tinggalan budaya tidak hilang dang rusak. Pengembangan, meliputi pengolahan yang menghasilkan peningkatan mutu dan perluasan khasanah. Pemanfaatan, meliputi upaya-upaya untuk menggunakan hasil budaya untuk berbagai keperluan, seperti untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, untuk pendidikan kesadaran budaya, untuk dijadikan muatan industry budaya, dan untuk dijadikan daya tarik pariwisata. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tinggalan budaya merupakan suatu entitas yang otonom dalam kehidupan umat manusia, yang mempunyai system, mekanisme, serta tujuan-tujuan pada dirinya sendiri. Kaitannya dengan pariwisata secara normatif hanyalah sebatas unsur-unsur tertentu di jadikan “objek” daya tarik pariwisata, dan itu memang termasuk bagian dari upaya pemanfaatan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kesimpulan &lt;br /&gt;Selama ini, orang selalu mengaitkan pariwisata dengan pembangunan ekonomi. Pariwisata dianggap sebagai sarana untuk menjaring keuntungan materi. Namun, tidak banyak yang mengaitkan kegiatan pariwisata dengan usaha pembinaan dan pengembangan kebudayaan. Kesan seperti itu tidak salah, karena memang kegiatan pariwisata meyebabkan berkembangnya industri pariwisata yang membuka peluang usaha serta lapangan kerja.&lt;br /&gt; Di samping kelebihan dan nilai ekonomis yang menjanjikan dari pengembangan pariwisata, namun industri pariwisata juga memberikan dampak negatif bagi kelangsungan tinggalan budaya. Pertumbuhan pariwisata yang tinggi menimbulkan distorsi, kerusakan, dan pencemaran terhadap tinggalan budaya. Mungkin itulah yang disebut banyak kalangan sebagai pengaruh pariwisata terhadap lingkungan sosial-budaya, yang terkadang dijadikan sebagai alasan untuk mengontrol pengembangan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Mengantisipasi kerusakan yang berlanjut terhadap tinggalan arkeologi (gunongan),  pemerintah daerah harus meninjau ulang terhadap gunongan sebagai objek daya tarik wisata. Kalaupun tetap dijadikan sebagai objek wisata, maka hak dan kewajiban gunongan sebagai benda cagar budaya harus diperhatikan.&lt;br /&gt;Dalam setiap pengembangan objek wisata yang berkaitan dengan benda cagar budaya, harus melibatkan para ahli arkeologi. BP3 harus lebih proaktif melindungi dan melestarikan benda cagar budaya. Pada sisi lain, pembelajaran publik tentang arti dan pentingnya pelestarian perlu secara terus-menerus ditanamkan, untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pelestarian benda-benda cagar budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR SUMBER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Branddel. T. 1851. “On the History of Acheen”, JIAEA, vol. V. Singapore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djajadiningrat, Hoesein. ”De Stichting Van Het ”Gunongan” Geheeten Monument Te Koetarja”, TBG, 57, 1916. Hal. 561-576.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jacobs, Julius.  1894. Het Familie en Kampongleven op Groot Atjeh. Leiden: E. I. Brill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuru’d-din ar Raniri. Bustanu’s – Salatin, Bab II, Fasal 13, disusun oleh T. Iskandar, Kuala Lumpur Dewan Bahasa dan Pustaka, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Said, Muhammad. 1961. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taylor, Jean Gelman. 2008. “Aceh: Narasi Foto, 1873-1930”, dalam Henk Schulte Nordholt, dkk.,(Ed.), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: YOI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoeti, H. Oka A. (ed.). 2006.  Pariwisata Budaya: Masalah dan Solusinya. Jakarta: PT Pradnya Paramita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainuddin, H.M. 1961. Tarich Atjeh dan Nusantara. Medan: Pustaka Iskandar Muda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-6002035806025373753?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/6002035806025373753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/12/pariwisata-gunongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/6002035806025373753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/6002035806025373753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/12/pariwisata-gunongan.html' title='Pariwisata-Gunongan'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-8804831057704935638</id><published>2009-11-22T17:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T18:06:24.331-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Hikayat Raja Pasai</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai pertama kali diterbitkan oleh seorang Perancis bernama Ed. Dulaurier pada tahun 1849 M dalam Collection Principle Cronique Malayes. Ia menerbitkannya dalam huruf Arab berdasarkan manuskrip yang dibawa oleh Sir Thomas Stanford Raffles ke London yang sampai sekarang masih ada di sana dalam perpustakaan Royal Asiatic Society. Pada tahun 1914 M terbit versi yang dihuruflatinkan oleh J.P. Mead yang juga berasal dari manuskrip London tersebut di atas. Di samping itu, terdapat pula transkripsi Hikayat Raja-Raja Pasai beserta pembicaraannya dalam Journal of the Malayan Branch Royal Asiatic Society, 1960, yang dikerjakan oleh A.H. Hill. Menurt T. Iskandar, Hikayat Raja-Raja Pasai merupakan karya sejarah tertua dari zaman Islam. &lt;br /&gt; Hikayat Raja-Raja Pasai terdapat dua versi. Pertama ialah cerita Pasai yang terdapat dalah naskah Sejarah Melayu, yakni riwayat yang berakhir dengan mangkatnya Sultan Malik al Dzahir dan naiknya tahta kerajaan Sultan Ahmad. Kedua adalah versi Hikayat Raja-Raja Pasai yang diwakili oleh Raffles seperti tersebut di atas. R.O. Winstedt menyatakan bahwa bagian-bagian tertentu Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai mempunyai persamaan-persamaan, baik dalam pokok pembicaraan maupun susunan ayatnya. Ia mengatakan, penyusun Sejarah Melayu telah meniru, memparafrasakan dan menyalin Hikayat Raja-Raja Pasai. Winstedt berkesimpulan bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai ialah teks yang tertua dari kedua karya itu (Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai). Namun, R. Roolvink menyatakan, tidak mudah untuk menentukan antara kedua teks itu dan mungkin sekali penyusun Sejarah Melayu telah menggunakan teks Hikayat Raja-Raja Pasai yang lain, sehingga terjadi perbedaan penting antara kedua teks itu dari segi nama dan detail-detail lainnya. &lt;br /&gt;Menurut A. Teeuw bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai berdasarkan internal evidence tidak mungkin dikarang sebelum Sejarah Melayu, tetapi sebaliknya. Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis berdasarkan suatu versi asal Sejarah Melayu untuk kemegahan kerajaan Pasai dengan berbagai tambahan dan perubahan. Namun, Amin Sweeney menentang pendapat itu dan berdasarkan internal evidence pula menyatakan dengan sangat meyakinkan bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai yang digunakan oleh pengarang bagian pertama Sejarah Melayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar &lt;br /&gt;Isi naskah Hikayat Raja-Raja Pasai menyangkut sejarah negeri Pasai sekitar pertengahan abad ke-13, masa pengislaman Tanah Pasai hingga pertengahan abad ke-14, dan waktu penaklukan Pasai oleh Majapahit. Secara lebih rinci isi Hikayat Raja-Raja Pasai dapat dibagi menjadi enam bagian, meskipun dalam manuskrip tersebut tidak ada pembagian ini. Lima bagian pertama adalah cerita mengenai Samudra Pasai, sedangkan yang keenam sama sekali tidak menyinggunga Pasai, tetapi mengenai penaklukan Nusantara oleh Patih Gajah Mada atas perintah Sang Nata Majapahit. Dalam bagian terakhir itu juga dibicarakan penaklukan sebagian pulau Perca, yakni Minangkabau, yang tidak dilakukan dengan peperangan tetapi dengan adu kerbau. Tentara Jawa kalah dalam penaklukan itu. Naskah Hikayat Raja-Raja Pasai yang mula-mula besar kemungkinannya tidak mengandung bagian yang keenam itu. Apabila itu benar, maka bagian yang keenam itu adalah tambahan yang kemudian, mungkin ditulis oleh pengarang lain dan ditambahkannya kepada naskah Hikayat Raja-Raja Pasai.&lt;br /&gt; Hikayat Raja-Raja Pasai dimulai dengan dua kisah bersaudara Raja Muhammad dan Raja Ahmad yang sedang membangun sebuah negeri di Samalanga. Ketika menebas hutan, Raja Muhammad menemukan seorang anak perempuan muncul dari pokok bambu. Anak itu diberi nama Puteri Betung. Raja Ahmad mendapat seorang anak laki-laki yang dibawa oleh seekor gajah, anak itu diberi nama Meurah Gajah. Setelah dewasa keduanya dinikahkan, dan pasangan ini mempunyai dua orang putra, yaitu Meurah Silu dan Meurah Hasum. Pada suatu hari Meurah Gajah melihat sehelai rambut Putri Beutung berwarna emas. Dia minta agar rambut itu dicabut. Istrinya menolak dan mengingatkan, apabila rambut itu dicabut akan terjadi perceraian di antara mereka. Namun, Meurah Gajah memaksa mencabutnya, sehingga keluar darah putih dari kepala Putri Betung dan matilah ia. Karena peristiwa itu, terjadilah peperangan antara Raja Muhammad dan Raja Ahmad. Banyak prajurit dari kedua belah pihak tewas, dan akhirnya kedua raja itu pun menemukan ajalnya dalam peperangan itu.&lt;br /&gt; Setelah perang selesai, Meurah Silu dan Meurah Hasum sepakat meninggalkan Samalanga untuk membuka negeri lain. Mereka berjalan sampai ke Beurana (Bireuen). Di hulu sungai, Meurah Silu menemukan cacing gelang-gelang yang kemudian berubah menjadi emas dan perak. Dengan emas itu ia mengupah orang menangkap kerbau liar untuk dijinakkan. Pekerjaan itu tidak disukai oleh Meurah Hasum. Diusirlah Meurah Silu. Setelah berjalan jauh, Meurah Silu tiba di Bukit Talang, ibu kota sebuah kerajaan yang diperintah oleh Meugat Iskandar.&lt;br /&gt; Di ibu kota itu Meurah Silu diperkenankan tinggal. Ia memperkenalkan adu ayam jago. Atraksi itu menarik perhatian banyak orang dari negeri lain hingga mereka berdatangan ke Bukit Talang.&lt;br /&gt;Meugat Iskandar sangat menyukai Meurah Silu. Dia bermusyawarah dengan orang-orang besar dan sepakat menobatkan Meurah Silu menjadi raja mereka. Saudara Meugat Iskandar, Malik al Nasr, tidak setuju. Terjadi peperangan di antara keduanya. Malik al Nasr kalah.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, Meurah Silu membuka negeri di atas tanah tinggi, diberi nama Samudra, mengikut nama semut besar yang dijumpainya di situ. Dikisahkan pula bahwa menjelang wafat, Nabi Muhammad mewartakan kepada para sahabatnya bahwa di benua bawah angin kelak akan muncul sebuah negeri bernama Samudra.&lt;br /&gt;Ketika Samudra telah berdiri, segera berita itu terdengar ke Mekah. Syarif Mekah memerintah Syekh Ismail, seorang ulama dan sufi terkemuka, agar berlayar ke Samudra bersama 70 pengikutnya untuk mengislamkan raja Samudra. Dalam pelayaran ke Samudra mereka singgah di Mangiri, yang sultannya keturunan Abubakar Siddiq, sedangkan Abu Bakar telah turun tahta menjadi sufi. Abu Bakar Siddiq lalu ikut berlayar ke Samudra bersama Syekh Ismail.&lt;br /&gt;Sebelum kapal Syehk Ismail berlabuh di Samudra, Meurah Silu bermimpi berjumpa Nabi Muhammad dan mengajarinya mengucapkan syahadat dan tata cara salat. Setelah diislamkan, Meurah Silu diberi  gelar Sultan Malik al Saleh, mirip dengan nama Sultan Saljug yang masyhur merebut Anatolia, Turki, dari kaisar Byzantium pada abad ke-12 M, yaitu Malik Syah. Setelah itu seluruh rakyat Samudra  berbondong-bondong memeluk agama Islam. Setelah itu Malik al Saleh membuka negeri baru, sebuah kota yang strategis, sebagai pelabuhan dagang di Selat Malaka, diberi nama Pasai mengikuti nama anjing kesayangannya yang berhasil menangkap seekor pelanduk ketika negeri baru itu mulai dibuka.&lt;br /&gt;Tidak lama setelah itu, Malik al Saleh mengawini putri sultan Peurlak bernama Putri Ganggang. Dari perkawinan itu lahir seorang laki-laki, Malik al Zahir. Sultan Malik al Saleh wafat pada 1297 M. Pada batu nisan makamnya dipahatkan syair yang indah dalam bahasa Arab karangan Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;Tampuk pemerintahan berpindah ke Malik al Zahir. Pada masa pemerintahan Malik al Zahir inilah Ibn Batutah, musafir Arab dari Tangier dua kali mngunjungi Pasai dalam lawatannya menuju Cina, 1316 M. Selain mencatat raja di kerajaan yang disinggahi itu alim dan bijaksana, ia pun menulis bahwa pendidikan Islam sangat maju dan banyak sekali ulama bermazhab Syafi’i dari negeri Arab serta cendekiawan Persia berdatangan dan tinggal lama untuk mengajar di negeri tersebut.&lt;br /&gt;Malik al Zahir digantikan kedua putranya: Malik al Mahmud  yang memarintah Samudra, dan Malik al Mansur yang memerintah Pasai. Di bawah pemerintahan mereka, Pasai bertambah makmur dan maju. Raja Siam yang mendengar berita itu merasa iri dan marah. Lantas ia membawa tentara lautnya menyerbu Pasai. Karena ketangguhan angkatan laut Pasai, tentara Siam dikalahkan dan dihalau dari perairan Selat Malaka tanpa pernah kembali lagi untuk menyerang Pasai.&lt;br /&gt;Setelah penyerangan Siam itu terjadilah serangkaian peristiwa yang mencoreng nama baik kerajaan tersebut dan menyebabkan kejatuhannya. Hal itu bersumber dari ulah penguasa Samudra Pasai sendiri.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, adik Sultan Malik al Mansur bertamasya dan melalui depan istana abangnya. Ketika itu Sultan Malik al Mahmud sedang berpergian ke pantai. Sebenarnya, mentrinya telah berupaya mencegah Sultan Malik al Mahmud agar tidak ke pantai, karena mentri itu tahu bahwa adik sultan akan melalui depan istana dalam perjalanan tamasyanya. Mentri itu memperoleh firasat akan terjadi peristiwa yang bisa mendatangkan fitnah.&lt;br /&gt;Ketika Sultan Malik al Mansur melewati jalan di depan istana abangnya, seorang perempuan cantik mucul dari istana. Malik al Mansur terpikat pada wanita itu dan sangat birahi. Lantas dengan paksa perempuan itu dibawanya pulang ke istananya. Mendengar berita itu Malik al Mahmud murka dan mencari jalan bagaimana bisa membalas dendam. Suatu hari ia undang sang adik mengahdiri sebuah pesta. Dalam pesta itu Malik al Mansur dibekuk, dan dipenjarakan ke tempat terpencil. Mentri yang mendampingi Malik al Mansur dipenggal kepalanya.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama, sultan Malik al Mahmud pun sadar bahwa perbuatannya keliru. Dia lantas menyuruh Tun Perpatih Tulus Agung menjemput Malik al Mansur pulang. Di tengah perjalanan, setelah berziarah ke makam mentrinya yang dihukum mati oleh kakaknya, Malik al Mansur jatuh sakit dan menghembuskan nafas penghabisan di situ juga.&lt;br /&gt;Setelah Sultan Malik al Mahmud wafat, tahta kerajaan jatuh ke tangan putranya, Sultan Ahmad Permadala Permala. Sultan ini sangat menyukai perempuan dan mengawini wanita kapan saja di mau. Dia dikarunia 30 anak. Lima di antaranya seibu dan sebapa, yaitu Tun Berahim Bapa, Tun Abdul Jalil, Tun Abdul Fadhil, Tun Medan Peria, dan Tun Takiah Dara. Tun Berahim Bapa terkenal karena keperwiraannya dan ketangkasannya di medan perang. Tun Abdul Fadhil sangat alim dan gemar mempelajari ilmu agama. Tun Abdul Jalil seperti ayahnya. Dua adik mereka, Tun Medan Peria dan Tun Takiah Dara, sangat cantik. Sultan Ahmad sangat birahi kepada dua putrinya itu dan memberi tahukan niatnya akan mengawini dua putri kandungnya tersebut.&lt;br /&gt;Tun Berahim Bapa mendengar berita itu. Segera ia bawa lari kedua adiknya ke Tukas. Sultan Ahmad murka. Berbagai cara dilakukan sultan untuk membunuh putra sulungnya itu, namun selalu gagal. Sultan bertambah murka setelah mengetahui bahwa putranya itu berseda gurau dengan seorang dayang cantik bernama Fatimah Lampau. Pada suatu kesempatan Sultan Ahmad mengajak Tun Berahim Bapa bertamasya dan memberi makanan yang beracun. Karena tidak mau durhaka kepada ayahnya, Tun Berahim Bapa memakan juga  makanan itu walaupun tahu dua adik perempuannya yang dia bawa lari mati karena makan racun. Dia pun mati, jenazahnya dimakamkan di Bukit Fadhillah.&lt;br /&gt;Kezaliman Sultan Ahmad tidak berkurang karenanya, dia nekat membunuh Tun Abdul Jalil hanya karena putranya ini dicintai oleh Putri Gemerancang, anak Ratu Majapahit. Ketika Putri Gemerancang tiba di Pasai dan mendengar kematian kekasihnya, dia pun berdoa supaya mati dengan cepat dan kapalnya tenggelam. Terjadilah yang diharapkan itu. Ini menyebabkan raja Majapahit menyerang Pasai.  Karena panglima perangnya yang handal, Tun Berahim Bapa, telah tiada, Pasai pun kalah. Dengan penuh penyesalan Sultan Ahmad melarikan diri ke Menduga.&lt;br /&gt;Setelah itu cerita adu kerbau Jawa dan Minangkabau, dan kerbau raja Majapahit kalah melawan kerbau Patih Ketamanggungan dari Minangkabau, uraian diakhiri dengan daftar negeri-negeri Melayu yang ditaklukan oleh Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan Waktu&lt;br /&gt;Pada umumnya naskah lama tulisan tangan yang sampai kepada kita bukanlah naskah induk, melainkan naskah salinan. Naskah-naskah itu lazim tidak mencantumkan, baik nama pengarang aslinya maupun tahun penyusunannya. Untuk memperkirakan masa penyusunan sebuah naskah, peneliti naskah lama pada umumnya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Cap kertas,&lt;br /&gt;Pada kertas yang digunakan penulis atau penyalin naskah sering terdapat semacam gambaran yang membayang, yang disebut cap kertas. Misalnya, kertas berukuran folio yang capnya menggambarkan seekor singa yang beridiri di atas sebuah kotak yang bertulisan VRYHEID, menurut Churchill bahwa kertas yang seperti itu dibuat pada tahun 1785 M. Perkiraan seperti itu dapat dilakukan terhadap naskah yang menggunakan kertas. Naskah-naskah lontar atau yang menggunakan alas tulis yang lain tidak dapat diperlakukan demikian. Lagi pula, yang dapat diperkirakan hanya batas awal penulisan, bukan titik waktu yang tertentu.&lt;br /&gt;2.  Peristiwa sejarah&lt;br /&gt;Sering terjadi bahwa seorang tokoh sejarah atau sebuah peristiwa sejarah disebut-sebut dalam suatu naskah. Dengan demikian, penyebutan waktu hadirnya tokoh itu atau terjadinya peristiwanya tidak sesuai benar dengan rekaman sejarah yang objektif, tetapi tokoh atau peristiwa itu baru dapat disebut-sebut setelah ada atau terjadi. Itu berarti bahwa naskah tersebut pasti disusun setelah tokoh atau peristiwa itu muncul dalam sejarah, tidak mungkin sebelumnya, sehingga ada batas awal.&lt;br /&gt;3. Ejaan&lt;br /&gt;Ejaan juga dapat digunakan sebagai batasan penentu masa penyusunan atau penyalinan sebuah naskah. Naskah-naskah berbahasa Melayu dengan bertulisan Jawi dari kurun waktu tertentu, misalnya, mencantumkan tasydid di atas huruf yang mengikuti suku kata berbunyi e pepet, misalnya, berrindu. Piniadaan konsonan dasar menghasilkan bentuk-bentuk, seperti menengar, juga merupakan gejala ejaan yang menandai kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;4. Pada bagian naskah salinanan ada penambahan kolofon yang memuat nama penyalin dan tempat serta tanggal penyalinan diselesaikan. Apabila dalam kolofon tanggal itu ditulis secara lengkap sampai dengan angka tahunnya, lazimnya digunakan tarikh Hijriah.&lt;br /&gt;Pada sebagian naskah memang ada dicantumkan tanggal yang lengkap, para pembaca tidak segera terbayang masanya karena dewasa ini orang tidak lagi terbiasa menggunakan tarikh Hijriah dalam perhitungan waktu. Oleh karena itu, angka tahun Hijriah oleh para peneliti naskah lama dikonversikan menjadi angka tahun Masehi. Namun, ada juga yang sekaligus mencantumkan tanggal menurut perhitungan tarikh Hijriah dan Masehi.&lt;br /&gt;Kapan Hiakayat Raja-Raja Pasai itu ditulis ? Hikayat Raja-Raja Pasai menceritakan sejak awalnya kerajaan Samudra Pasai dengan rajanya Malikul Saleh, dan hingga berakhirnya kerajaan Pasai di bawah pemerintahan Raja Ahmad yang porak-poranda diserang oleh laskar Majapahit. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai yang pertama dikarang, sekurang-kurangnya segera setelah Pasai ditaklukan oleh Majapahit, karena hikayat ini tidak lagi menceritakan tentang Raja-Raja Pasai setelah kalah diserang oleh Majapahit. Kapan Majapahit menaklukan Pasai ? Hikayat Raja-Raja Pasai sama sekali tidak menyebutkan angka tahun, kecuali cerita penyerangan Majapahit ke Pasai. Pada akhirnya naskah terdapat kalimat sebagai berikut: bahwa ini negeri yang takluk kepada Ratu Majapahit pada zaman pecahnya negeri Pasai, ratunya bernama Ahmad”.&lt;br /&gt;Dalam kitab Negarakertagama gubahan Prapanca tahun 1365, Samudra termasuk daerah-daerah yang ditaklukan oleh Majapahit. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penaklukan Pasai oleh Majapahit terjadi sebelum tahun 1365. Namun, G.E. Marrison berpendapat bahwa invansi Majapahit ke Pasai terjadi pada tahun 1377, lebih lambat dari waktu ditulisnya kitab Negarakertagama. Seandainya pendapat Marrison benar, tentu nama-nama Samudra tidak terdapat dalam daftar nama-nama negeri yang takluk kepada Majapahit di dalam Negarakertagama tahun 1365. Namun, Sir Richard mengatakan bahwa sangat mungkin Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis pada abad ke-15, antara tahun 1350 dan 1500.&lt;br /&gt;Manuskrip Hikayat Raja-Raja Pasai terdapat di London, satu-satunya manuskrip yang ada,  yaitu berupa salinan dari satu naskah kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, salinan itu selesai dikerjakan pada 21 Muharram 1230 H atau 1825 M. Sir Ricard berpendapat bahwa tahun Hijriah yang tertera di sana adalah tahun 1230 H, sehingga menurutnya salinan itu selesai pada tahun 1814 M. Dr. Roolvink membacanya 1235 H dan kemungkinan ini yang lebih tepat, dan tanggal itu sesuai dengan hari Selasa, 9 November 1819. Timbulnya perbedaan tersebut, karena anggka yang terakhir yang tertulis dengan huruf Arab dalam salinan itu dapat diragukan, mungkin dapat dibaca 0 dan mungkin juga 5, hingga menyebabkan timbulnya bacaan yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepengarangan &lt;br /&gt;Konsep pengarang dalam sastra lama tidak dapat dipersamakan dengan konsep pengarang dalam sastra modern. Pangarang karya sastra modern jelas orangnya: nama tercantum pada halaman kulit, dan dialah yang memegang hak cipta atas karangannya itu. Tanpa pengetahuan dan izinnya karyanya tidak boleh dikutip dan diperbanyak, apalagi diubah-ubah, walaupun itu semua dilakukan orang dengan maksud mempopulerkannya dan menyempurnakannya. Sebaliknya, pengarang karya sastra lama hanya sedikit yang dikenal.&lt;br /&gt;Pengarang karya sastra lama tidak biasa mencantumkan namanya jelas-jelas pada halaman kulit, pada awal atau akhir kisahnya. Karena yang penting karangan itu sendiri, bukan siapa pengarangnya. Lagi pula, karya itu bukan milik individu pengarangnya, melainkan milik bersama. Individualisme kepengarangan baru dikenal setelah kedatangan orang Barat.&lt;br /&gt; Orang yang bertembungan dengan sebuah karya sastra berhak dan cenderung mengubahnya, mengurangi bagian-bagian tertentu atau menambah episode-episode yang dianggapnya akan menambah kesempurnaan karya tersebut, termasuk mengubah gaya bahasa penyajiannya. Oleh karena itu, yang berlaku sebagai pengarang bukan hanya pengarang aslinya, yang sudah jarang diketahui orang, melainkan juga orang yang membawakannya (tukang cerita) dan para penyalinnya. Meskipun tidak sebagai penggubah langsung, dalam hal ini tidak boleh dilupakan peran khalayak pendengar atau pembaca. Pengubahan karangan tidak jarang disesuaikan dengan selera khalayak pendengan atau pembacanya, baik yang mengenai bentuknya maupun tentang isinya. Demikian pula panjang pendeknya karangan serta urutan peristiwa dalamnya sering ditentukan dengan memperhatikan keinginan pendengar atau pembaca.&lt;br /&gt; Pengarang Hikayat Raja-Raja Pasai belum dikenal. Dalam hal ini berkata C. Hooykaas: “Amatlah sayang, bahwa hampir semuanya naskah-naskah Melayu itu dalam masa bertahun-tahun amat banyak berubah, dan bahwa kita sedikit sekali tahu tentang nama, kedudukan dan zaman pengarangnya....” Akan tetapi, meskipun nama pengarangnya tidak diketahui, sekurang-kurangnya dengan meneliti isi naskah-naskah tersebut dapat juga diketahui fungsi,  tugas, dan zaman pengarang yang dipancarkan oleh pola kebudayaan zaman itu. Oleh karena itu, mengapa  Hikayat Raja-Raja Pasai itu dikarang perlu ditinjau latar belakang tempat Hikayat Raja-Raja Pasai ditulis. Apabila diikuti uraian pengarang Hikayat Raja-Raja Pasai dapat disimpulkan bahwa pengarangnya adalah termasuk orang dalam kalangan istana Samudra Pasai yang bertugas menyusun kronika dan daftar silsilah mengenai kerajaan itu. Pada saat itu tujuan pengarang adalah memancarkan cahaya yang diinginkan keluarga raja. Dengan uraian penulis yang memberikan tempat sakral kepada Sultan Malik al Saleh, pendiri Kerajaan Samudra Pasai, tampak ada kultus raja di samping usaha pengarang melukiskan kebesaran negerinya sebagai negeri pilihan Tuhan.&lt;br /&gt; Pengaruh kebudayaan Islam sangat kentara, tidak saja karena naskah itu banyak mengandung kata-kata Arab, tetapi isinya bertujuan menyebarkan dan memperteguh kepercayaan agama Islam dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya,  apabila diperhatikan nasihat yang panjang lebar dari Sultan Malik as Saleh dan Sultan Malik al Mahmud sebelum kedua baginda mangkat, sangat mungkin pengarang Hikayat Raja-Raja Pasai bermaksud hendak memberikan sifat pragmatis dari hikayat itu supaya dapat menjadi tauladan bagi raja-raja yang berikutnya. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa Sultan Malik al Mahmud pada suatu hari sadar bahwa ia telah mengirimkan ke pembuangan saudaranya Sultan Malik al Mansur, ia berkata: &lt;br /&gt;“Wah terlalu ahmak bagiku karena perempuan seorang saudaraku kuturunkan dari atas kerajaannya dan mentrinya pun kubunuh”, maka baginda menyesallah lalu ia menangis maka baginda pun bertitah pada seluruh ulubalangnya: “pergilah kamu segera mengambil saudaranya itu karena aku terlalu sekali rindu dendam akan saudaraku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Sastra dalam Pandangan Ilmu Sejarah&lt;br /&gt;Dalam kesusastraan Indonesia Lama terdapat sejumlah naskah yang oleh Winstedt dikategorikan ke dalam Malay Histories, misalnya, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Silsilah Melayu, dan Bugis. Istilah Malay Histories masih dipermasalahkan, terutama oleh kalangan sejarawan, walaupun karya-karya sastra tersebut menampilkan tokoh-tokoh yang namanya sangat dikenal dalam sejarah. Namun, belum memenuhi persyaratan untuk menjadi karya sejarah, seperti ketepatan waktu,  kronologis, dan kebenaran faktual tidak diperhatikan. Dalam karya sastra tersebut banyak sisipan mitos, dongeng, legenda, menyebabkan sejarawan menghadapi kesulitan untuk menemukan fakta kesejarahannya, sehingga tidak dapat sepenuhnya dijadikan sebagai sumber sejarah.&lt;br /&gt;Karya-karya kesusastraan tersebut memang tidak sepenuhnya dimaksudkan sebagai rekaman sejarah untuk dijadikan acuan penyusunan sejarah yang kritis. Karya-karya tersebut lebih tepat disebut sebagai karya sastra sejarah atau karya sastra yang bertema sejarah. Ada beragam prosa dengan judul yang memuat kata sejarah: Sejarah Melayu, Sejarah Raja-Raja Riau; kata hikayat seperti pada Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Banjar, Hikayat Aceh, dan Hikayat Maulana Hasanuddin; kata silsilah seperti pada Silsilah Melayu dan Bugis. Ada pula yang beragam puisi, yaitu syair, seperti Syair Singapura Dimakan Api dan Syair Himop. Dari judulnya dapat diperkirakan bahwa isinya berkaitan dengan suatu kurun waktu tertentu, peristiwa tertentu, atau tokoh tertentu di dalam sejarah. Adapun tujuan penyusunannya pada umumnya seperti yang konon dititahkan oleh Sultan Abdullah Ma’ayah Syah kepada Bendahara Paduka Raja,&lt;br /&gt;Bahwa beta minta perbuatan hikayat pada Bendahara, peri peristiwa dan peraturan segala raja-raja Melayu dengan istiadatnya sekali, supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, diingatkannya oleh mereka itu, syahdan beroleh faidahlah ia daripadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Historis dalam Hikayat Raja-Raja Pasai&lt;br /&gt;Mengenai pernyataan yang dikemukakan oleh penulis Hikayat Raja-Raja Pasai tentang sejarah Samudra Pasai hingga penyerangan Majapahit, harus dibandingkan dengan beberapa pembuktian lain, yaitu dengan bekas-bekas peninggalan masa tersebut, sehingga dapat dipisahkan mana yang historis dan yang bukan historis. Motif-motif yang legendaris pada mulanya ada juga yang ada faktanya yang kongkrit. Misalnya, mythe asal mulanya Kerajaan Samudra  Pasai dapat menceritakan kepada kita bahwa memang ada fakta-fakta yang kongkrit, mengenai didirikannya Samudra itu. Motif mythis-legendaries itu menjadi dongeng, karena pada waktu peristiwa itu terjadi belum terdapat kodifikasi sehingga semakin jauh dengan peristiwa terjadinya itu semakin timbullah segala macam dongeng yang semakin lama semakin dilebih-lebihkan oleh cerita turun-temurun, terutama untuk mendewa-dewakan raja pendiri kerajaan atau raja yang pertama sekali memeluk agama Islam itu. Keadaan itu, seperti disebutkan pada awal naskah:&lt;br /&gt;Alkisah peri mengatakan cerita raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasai, maka ada diceritakan oleh orang yang punya cerita ini negeri yang di bawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai contoh, dalam Sejarah Melayu sama sekali tidak disebutkan Malikul Mahmud yang oleh Hikayat Raja-Raja Pasai disebutkan sebagai anak Malikul Zahir dan cucu Malikul Saleh. Ayah Sultan Ahmad menurut Hikayat Raja-Raja Pasai adalah Malikul Mahmud, sedangkan menurut Sejarah Melayu adalah Malikul Zahir.&lt;br /&gt; Untuk menilai mana antara kedua sumber itu yang mendekati kebenaran, dapat dipergunakan sumber lain yang dapat dipercaya, yaitu sebuah makam yang terindah dari peninggalan Samudra Pasai. Makam itu terbuat dari batu pualam kepunyaan seorang raja putri, menurut Snouck Hurgronje adalah Bahiyah namanya, namun menurut penelitian lain namanya Nahrasiyah. Nisannya bertulisan Arab dengan bahasa Arab, dalam bahasa Indonesia berbunyi:&lt;br /&gt;Ini makam seorang wanita yang bercahaya dan suci, baginda yang terhormat, yang meninggal, yang diampunkan dosanya, raja di atas segala raja…dan yang menghidmatkan agama Islam ialah Nahrasiyah anak Sultan Al Sahid Zainul Abidin, anak Sultan Ahmad, anak Sultan Muhammad anak baginda Malikul Saleh. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan ampunan Tuhan dosanya, meninggal dengan rahmat Allah pada hari Senin, empat belas bulan Zulhijjah tahun 811 hijriah Nabi saw.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam hal ini geneologi Sejarah Melayu yang lebih dapat diterima. Hal itu, karena ada pembuktian makam yang mendukung geneologi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Hikayat Raja-Raja Pasai tidak disusun dengan tujuan menyajikan rekaman sejarah dalam arti yang modern walaupun tokoh-tokoh yang ditampilkan, peristiwa-peristiwa yang dikisahkan, dan latar tempat yang digunakan pernah ada dan terjadi. Hikayat Raja-Raja Pasai tidak dapat berfungsi sebagai sumber informasi kesejarahan yang akurat, tetapi dapat menjelaskan pandangan orang-orang Pasai dan nilai-nilai yang berlaku pada masa itu.&lt;br /&gt; Pengetahuan tentang situasi kesejarahan pada waktu penyusunan sebuah karya sastra sangat membantu dalam usaha memahami makna karya itu bagi penyusunan dan khalayak pendukungnya. Hikayat Raja-Raja Pasai digubah untuk menegakkan Kerajaan Pasai melalui penggambaran sifat-sifat terpuji Sultan Malik as Saleh. Selain itu, juga menggambarkan sifat-sifat jelek penguasa selanjutnya dan akibat dari perbuatan jeleknya itu. Hal itu, dimaksudkan untuk menjadi pelajaran bahwa setiap kezaliman itu akibatnya tidak baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-8804831057704935638?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/8804831057704935638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/11/hikayat-raja-pasai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8804831057704935638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8804831057704935638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/11/hikayat-raja-pasai.html' title='Hikayat Raja Pasai'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-3463185447915060425</id><published>2009-11-22T17:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T17:57:49.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Bireun</title><content type='html'>BAB IV&lt;br /&gt;KABUPATEN BIREUEN&lt;br /&gt;PADA MASA&lt;br /&gt;REVOLUSI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proklamasi  Kemerdekaan Indonesia&lt;br /&gt;Berita tentang proklamasi Kemerdekaan Indonesia baru diketahui oleh masyarakat Aceh pada tanggal 21 Agustus 1945. Informasi itu diperoleh melalui Ghazali Yunus dan kawan-kawannya yang bekerja di kantor berita Jepang Domei, Kantor Penerangan Jepang (Hodoko), dan kantor Atjeh Sinbun. Mereka mengetahui kejadian itu melalui siaran radio yang ada di kantornya, kemudian secara hati-hati mereka sampaikan berita itu kepada teman-teman mereka.&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 Agustus 1945 Teuku Nyak Arief menerima telegram dari dr. Adnan Kapau Gani (Wakil Residen/Fuku Chokan) dari Palembang yang isinya menyatakan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta telah mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pada 26 Agustus 1945 diperoleh pula berita kemerdekaan Indonesia dari Adinegoro dan Muhammad Syafei  dari Bukit Tinggi.&lt;br /&gt;Berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia disambut gembira oleh masyarakat Aceh. Mereka mengibarkan bendera merah putih, baik di depan kantor-kantor yang masih dikuasai Jepang, di depan toko-toko, maupun di rumah-rumah penduduk. Aksi spontanitas yang dilakukan oleh masyarakat Aceh tersebut mengakibatkan terjadinya beberapa insiden, karena pihak Jepang melarang pengibaran bendera merah putih. Pelarangan itu dilakukan oleh Jepang, karena sesuai dengan ketentuan intenasional, tentara Jepang yang kalah perang harus tunduk pada ketentuan-ketentuan Sekutu. Sekutu menginstruksikan bahwa tentara Jepang harus menjaga dan memelihara status quo. Artinya, Jepang tidak boleh mengadakan perubahan terhadap sistem pemerintahan di Indonesia sejak 15 Agustus 1945. Dengan kata lain, Jepang harus mencegah setiap aksi pihak Indonesia yang berupaya mengambil alih kekuasaan, baik kekuasaan militer maupun sipil dari pembesar-pembesar Jepang. &lt;br /&gt;Sebaliknya, Indonesia mempunyai pandangan yang berbeda dengan pendirian Jepang. Diproklamirkannya Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 mengandung arti bahwa bangsa Indonesia sudah berdaulat di tanah air dan negaranya sendiri, sedangkan Jepang masih tunduk pada perintah Sekutu. Dua pandangan yang berbeda itu menimbulkan berbagai insiden antara rakyat Indonesia termasuk rakyat Aceh dengan tentara Jepang. &lt;br /&gt;Pengibaran bendera merah putih secara resmi di Aceh di lakukan pada 24 Agustus 1945 di halaman kantor Teuku Nyak Arief (sekarang Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh), dan di halaman Kantor Shu-Chokan (Gedung Juang). Kedua peristiwa bersejarah itu dipimpin langsung oleh Teuku Nyak Arief. Pengibaran bendera dilakukan oleh Hasyim Naim (mantan Kepala Polisi Aceh pertama) dan Muhammad Amin Bugeh. Selanjutnya, pada 25 Agustus 1945 bendera merah putih dikibarkan pula oleh Ali Hasjmy beserta rekan-rekannya di depan kantor Atjeh Sinbun. Setelah itu, kegiatan pengibaran bendera merah putih semakin semarak dilakukan di tempat-tempat umum di Kutaraja dan sekitarnya. Selama bulan September sampai awal Oktober 1945, pengibaran bendera merah putih telah berlangsung di kota-kota lain di seluruh Aceh seperti di Sigli, Bireun, Lhok Seumawe, Lhok Sukon, Idi, Langsa, Kuala Simpang, Kutacane, Takengon, Meulaboh, Tapaktuan.&lt;br /&gt;Menurut Husin Yusuf berita proklamasi kemerdekaan pertama kali diketahui di Bireun pada 19 Agustus 1945 melalui siaran radio berbahasa Jepang. Ketika itu Husin Yusuf bekerja pada staf inteligen resmi Fojoka dengan pangkat Letnan Gyugun (Husin Yusuf kemudian terkenal sebagai Panglima TNI Divisi X sekitar tahun 1947-1949 dengan pangkat Kolonel TNI/AD). Berita tersebut kemudian disiarkan secara diam-diam kepada perwira Gyugun lainnya, seperti Agus Husein dan pemuka-pemuka masyarakat di Bireun. Kesulitan alat komunikasi, transportasi, dan militer Jepang masih berkuasa, berita proklamasi terlambat diketahui di tempat lain. &lt;br /&gt;Di daerah Aceh Utara, pengibaran bendera merah putih juga dilakukan, di Lhok Sukon pada 29 Agustus 1945, Letnan Gyugun Hasbi Wahidi menerima berita proklamasi melalui utusan Gubernur Sumatera ke Aceh. Pada siang harinya, para pemimpin, tokoh, dan masyarakat mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Letnan Gyugun Hasbi Wahidi. Pada sore harinya upacara pengibaran bendera merah putih dilaksanakan di lapangan bola kaki Lhok Sukon. Di Lhok Seumawe upacara pengibaran bendera merah putih dilaksanakan pada bulan September 1945 bertempat di lapangan bola kaki Lhok Seumawe. Upara pengibaran bendera itu dipimpin oleh Teuku Ibrahim Panglima Agung Cunda, turut pada acara itu adalah Hasan Sab dan Guncho Lhok Seumawe Teuku Abdul Latif.&lt;br /&gt;Pada tanggal 3 Oktober 1945, residen Aceh menerima instruksi dari gubernur Sumatera tentang pengibaran bendera merah putih, maka mulai pukul 06.00 pagi, bendera merah putih berkibar di rumah-rumah penduduk di seluruh Aceh. Demikian juga di kantor-kantor pemerintah dan sekolah-sekolah mengibarkan bendera kebangsaan itu walaupun  dilarang oleh Jepang. Menindaklanjuti instruksi tersebut, pada 13 Oktober 1945 Ketua Pusat Komite Nasional Daerah Aceh, Tuanku Mahmud mengeluarkan Maklumat No. 2 berisi pengumuman kepada penduduk supaya mengibarkan bendera merah putih di setiap rumah dengan ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.   Dikibarkan mulai tanggal 13 Oktober sampai tanggal 17 Oktober 1945,&lt;br /&gt;b.  Bendera dikibarkan mulai pukul 7 pagi hingga pukul 18.00, dan&lt;br /&gt;c.   Jika hari hujan, bendera tidak usah dikibarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembentukan Pemerintahan Daerah &lt;br /&gt; Sebelum berita proklamasi kemerdekaan sampai ke Aceh, rakyat di daerah ini hanya mengetahui bahwa dari pulau Sumatera terdapat wakil yang ditunjuk untuk mewakili Sumatera sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yaitu Mr. Teuku Muhammad Hasan, Dr. Amir, dan Mr. Abbas. Pada 7 Agustus 1945 mereka berangkat ke Jakarta melalui Singapura untuk menunggu kembalinya Bung Karno dari Saigon. Dari Singapura 14 Agustus 1945 mereka bersama Bung Karno berangkat ke Jakarta.&lt;br /&gt;Mr. Teuku Muhammad  Hasan bersama kedua rekannya kembali ke Sumatera melalui Palembang pada 24 Agustus 1945. Di Palembang, Mr. Muhammad Hasan yang telah diangkat menjadi Wakil Pemimpin Besar untuk Sumatera sejak 22 Agustus 1945 meminta kepada    DR. A. K. Gani untuk membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah Sumatera  Selatan dan menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan ke daerah-daerah. Dari Palembang, ketiga tokoh itu meneruskan perjalanan menuju Medan dan singgah di beberapa tempat, seperti Jambi, Bukittinggi, Tarutung, dan sampai di Medan pada  29 Agustus 1945. Di kota-kota yang disinggahi tersebut, Teuku Muhammad Hasan menganjurkan hal yang sama seperti di Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;Setelah menerima kawat dari dr. Adnan Kapau  Gani dan Muhammad Syafei, Teuku Nyak Arief pada 28 Agustus 1945 mengambil inisiatif membentuk Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Aceh. Ketua lembaga itu ditetapkan Teuku Nyak Arief, yang semula memangku jabatan Ketua Syu Sangi Kai (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh) bentukan Jepang, sedangkan wakil ketua dipilih Tuanku Mahmud.&lt;br /&gt;Pada 6 Oktober 1945, Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh menerima kawat dari Ketua Barisan Pemuda Indonesia Bireun yang menyatakan bahwa telah berdiri dan melakukan rapat umum Barisan Pemuda Indonesia Bireun. Organisasi itu terdiri atas gabungan delapan perkumpulan pemuda di Bireun yang diketuai oleh Agus dan menyatakan siap sedia berkorban dibawah pimpinan Presiden Sukarno.&lt;br /&gt;Selain itu, atas anjuran Komite Nasional di wilayah Aceh Utara, semua saudagar di Lhok Sukon sepakat membentuk sebuah perkumpulan bernama Perserikatan Saudagar Indonesia (Persi) pada 2 Desember 1945. Tujuannya adalah menyokong negara Republik Indonesia serta membina persatuan dan mengukuhkan hubungan silaturrahmi di kalangan mereka. Seluruh anggota Persi juga mengangkat sumpah membela negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Komite Nasional Daerah Aceh pada 20 Desember 1945 mengadakan musyawarah di Banda Aceh. Membubarkan susunan pengurusnya yang lama dan menyerahkan kepada suatu komisi yang bekerja sama dengan residen untuk membentuk pengurus baru. Pada 25 Desember 1945 Komite Nasional Daerah Aceh menyusun kepengurusan baru yang terdiri atas 72 anggota dari seluruh Aceh. Mr. S. M. Amin diangkat menjadi Ketua, Hasyim sebagai Ketua Muda, Muchtar sebagai Setia Usaha I, Kamaroesid sebagai Setia Usaha II, dengan pembantu-pembantunya R. Insoen, Hanafiah, dan H. M. Zainuddin. Selain itu, Komite Nasional Daerah Aceh dalam rapatnya memilih sepuluh orang wakil daerah  yang duduk dalam Komite Nasional Pusat Sumatera. Mereka terdiri atas Sutikno Padmo Sumarto, Amelz, Teungku Ismail Jakub, Teungku Abdul Wahab (wakil Luhak Aceh Besar), Affan Daulay (wakil Luhak Pidie), M.I. Daud (wakil Luhak Aceh Utara), Karim M. Duryat (wakil Luhak Aceh Timur), H. Mustafa Salim (Wakil Luhak Aceh Tengah). A. Mu'thi, dan M. Abduh Syam (wakil Luhak Aceh Barat).&lt;br /&gt;Gubernur Sumatera pada 28 Desember 1945 mengeluarkan maklumat No.70 yang membagi Keresidenan Aceh menjadi tujuh luhak. Dalam maklumat tersebut ditetapkan sebagai berikut;&lt;br /&gt;1.  Luhak Aceh Besar terdiri atas wilayah Banda Aceh, Seulimeum, dan Sabang,&lt;br /&gt;2.  Luhak Pidie terdiri atas wilayah Sigli, Lammeulo, dan Meureudu,&lt;br /&gt;3. Luhak Aceh Utara terdiri ataswilayah Bireuen, Lhok Seumawe, dan  Lhoksukon,    &lt;br /&gt;4.  Luhak Aceh Timur terdiri atas wilayah Idi, Langsa, dan Kuala Simpang,&lt;br /&gt;5. Luhak Aceh Tengah, terdiri atas wilayah Takengon, Blangkejeren, dan Kutacane,&lt;br /&gt;6.   Luhak Aceh Barat terdiri atas wilayah Calang, Meulaboh, dan Simeulue, dan&lt;br /&gt;7.  Luhak Aceh Selatan terdiri atas wilayah Tapak Tuan, Bakongan, dan Singkil.&lt;br /&gt;Pada tanggal yang sama Gubernur Sumatera dengan Surat Ketetapan No. 71 mengangkat kepala-kepala wilayah seluruh Aceh, yaitu T. M. Ali Teunom (kepala wilayah Banda Aceh), T.M. Taib (Seulimeum), Sigli (T. Sabi), T. M. Daud (Lammeulo), T. Mahmud (Meureudu), Raja M. Zainuddin (Takengon), T. Raja Husin (Blangkejeren), Raja Maribun (Kutacane), T. M. Basyah (Lhok Seumawe), T. Idris (Bireuen), T. Cut Raja Pait (Lhok Sukon), T.Ali Basya Langsa (Langsa), T. Ali Basyah Lhok Sukon (Idi), T. Raja Sulung (Kuala Simpang), T. M. Aji (Meulaboh), T. Raja Mahmud (Sinabang), T. Adiyan (Calang), T. M. Taib Wood (Tapak Tuan), T. Johan (Bakongan), dan T. Itam (Singkil). Mereka diberi gaji Rp300 per bulan, kecuali kepala wilayah kelas I Meureudu dan Lhok Seumawe digaji Rp400  per bulan. Pembantu Kepala Wilayah yang diperbantukan pada Kepala Wilayah Meulaboh, T. Hasan Bakongan, diberikan gaji Rp150 rupiah per bulan.&lt;br /&gt;Pada 17 Januari 1946, bertepatan dengan peringatan enam bulan berdiri Negara Republik Indonesia, di Bireun dilakukan rapat umum dan pawai akbar. Rapat umum yang dihadiri puluhan ribu orang itu mengeluarkan mosi sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Berdiri teguh di belakang presiden dan siap mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia,&lt;br /&gt;2. Menolak sesuatu pemerintahan yang berbau dominion status, selfgovernment, dan nama lain yang boleh diterima adalah merdeka 100 %,&lt;br /&gt;3.  Mempercayai    sepenuhnya    Kabinet    Syahrir,    tetapi    tidak   mengizinkan berembuk lebih jauh  dengan pemerintah Belanda sebelum kemerdekaan Indonesia 100 % diakui pemerintahnya dengan tidak ada tawar-menawar,&lt;br /&gt;4. Rakyat wilayah ini yang berjumlah 145.000 jiwa siap sedia dari segala gerakan dan bersatu padu untuk menyokong pemerintah pada tiap kemungkinan dengan jiwa dan raganya,&lt;br /&gt;5. Jangan dibolehkan lagi tentara Inggris maupun Belanda masuk ke Indonesia sebelum diakui kemerdekaan Negara Republik Indonesia,&lt;br /&gt;6. Disanggah sekeras-kerasnya tindakan-tindakan tentara Inggris yang menggencet gerakan rakyat Negara Republik Indonesia, dan&lt;br /&gt;7. Didengung-dengungkan ke luar negeri segala tindakan-tindakan onar yang dilakukan Inggris di Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam rangka melengkapi pelaksana-pelaksana dalam pemerintahan selanjutnya, pada 21 Februari 1946 Pemerintah Keresidenan Aceh mengumumkan pegawai-pegawai tinggi sebagai berikut: &lt;br /&gt;1.  Asisten Residen d/p Residen Aceh T. M. Amin,&lt;br /&gt;2.  Pegawai Tinggi d/p Residen Aceh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh dengan pangkat Asisten Residen,&lt;br /&gt;3.    Pegawai Tinggi d/p Residen Aceh Nya' Mansoer dengan pangkat Konteler,&lt;br /&gt;4.   Pegawai Tinggi d/p Residen Aceh Said Abu Bakar dengan pangkat Konteler, &lt;br /&gt;5.   Aspiran Konteler d/p Kepala Wilayah Lhok Seumawe, T. Ali Basyah,&lt;br /&gt;6.    Aspiran Konteler d/p Kepala Wilayah Bireuen, Marzuki, dan&lt;br /&gt;7. Aspiran Konteler d/p Kepala Wilayah Lhok Sukon, H. Harun.&lt;br /&gt;Dalam rapat pleno KNI yang berlangsung pada 5 Juni 1946 di Banda Aceh, Komite Nasional Daerah Aceh dibubarkan dan selanjutnya dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Rapat yang dipimpin oleh T. Mohd. Daudsyah tersebut juga mendengar uraian dan penjelasan anggota Dewan Perwakilan Sumatera wakil Aceh, yaitu Amelz dan Sutikno Padmosumarto yang baru kembali dari menghadiri Rapat Pleno Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera di Bukittinggi. Dengan uraian tersebut dan petunjuk-petunjuk dari anggota rombongan Pemerintah Pusat yang meninjau Aceh, maka semakin jelas pengertian mengenai kedudukan dan tugas-tugas Komite Nasional atau Dewan Perwakilan Rakyat di daerah. Lembaga baru ini (DPR Aceh) terdiri atas lima belas anggota, yaitu dua puluh orang Ketua Cabang Komite Nasional, tujuh orang Bupati, tujuh belas orang wakil partai/perkumpulan, dan 31 orang terkemuka dan cendikiawan. Anggota-anggota tersebut yang mewakili Aceh Utara di antaranya: Muhammad Saridin (Lhok Seumawe), M. Kasim Arsyad (Lhok Sukon), Tgk. Sulaiman Daud (Bupati Aceh Utara), dan A. Gani (Bireuen).&lt;br /&gt;Untuk kesempurnaan jalannya pemerintahan di keresidenan Aceh, gubernur Sumatera melakukan mutasi besar-besaran di kalangan pamongpraja dan kepala-kepala jawatan dengan Ketetapan No.204 tertanggal 11 Agustus 1946 diberhentikan dari pekerjaannya sehingga yang bersangkutan tidak memangku lagi jabatannya sebanyak 33 orang di seluruh Aceh. Dari Aceh Utara, yaitu T. M. Basyah (kepala Wilayah I Lhok Seumawe), T. Idris (Kepala Wilayah Bireuen), dan H. Harun (Kepala Wilayah Lhok Sukon). Mereka digantikan oleh Teungku Abdul Wahab Beureugang menjadi Wedana Lhok Seumawe, Tgk. M. Nur menjadi Wedana Bireuen, dan Teungku Muhammad Usman Aziz sebagai Wedana Lhok Sukon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Merebut Senjata Tentara Jepang&lt;br /&gt;Jepang masih menguasai semua persenjataan meskipun sudah kalah berperang melawan Sekutu. Hal itu disebabkan tentara pendudukan Jepang mendapatkan tugas dari Sekutu untuk memelihara status quo. Pemerintah Jepang tidak boleh menyerahkan kekuasaannnya dan persenjataan kepada Indonesia. Semua persenjataan itu nantinya harus diserahkan kepada tentara Sekutu. &lt;br /&gt;Di lain pihak, senjata-senjata Jepang itu sangat diperlukan oleh laskar-laskar atau badan-badan perjuangan rakyat Aceh untuk menghadapi tentara NICA yang sudah mulai melakukan aksinya di berbagai daerah di di Indonesia. &lt;br /&gt;Pada mulanya pemimpin lasykar rakyat Aceh ingin menempuh secara damai dengan Jepang agar senjatanya diserahkan kepada pejuang-pejuang Aceh. Upaya itu dilakukan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Janji Jepang untuk menyerahkan persenjataannya kepada pejuang Aceh tidak pernah dipenuhi, maka pemimpina perjuangan rakyat Aceh terpaksa harus menempuh dengan cara kekerasan untuk memperoleh persenjataan dari Jepang. Cara yang demikian menimbulkan bebagai insiden bersenjata yang berakibat jatuhnya korban pada kedua belah pihak, akhirnya Jepang terpaksa menyerahkan senjata-senjatanya kepada pejuang Aceh. &lt;br /&gt;Dengan cara yang demikian Tentara Keamanan Rakyat bersama barisan rakyat berhasil memperoleh senjata dari Jepang. Di Sigli (Pidie) pada akhir November 1945, sebanyak 200 pucuk senjata, di Aceh Utara, yaitu di Bireun dan Lhok Seumawe pada 18 November 1945, masing-masing mendapatkan senjata sebanyak 320 dan 300 pucuk, di Juli pada 20 November 1945 memperoleh enam tank, tiga meriam pantai, tiga senapan mesin, dua truk, 72 karabin, dan tujuh gudang amunisi. Di Gelanggang Labu pada 22 November memperoleh sebanyak 620 pucuk senjata, di Krueng Panjo pada 24 November 1945 terjadi pertempuran sengit selama tiga hari dan berakhir dengan penyerahan 300 pucuk senjata oleh Jepang kepada pejuang Aceh. Di Aceh Timur, terutama di Idi dan Langsa pada 9 dan 13  Desember  1945  memperoleh senjata masing-masing sebanyak   220 dan 300 pucuk. Demikian juga di daerah-daerah lain, seperti Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara.&lt;br /&gt;Resimen tentara Jepang yang bermarkas di Bireun, menempatkan batalyon-batalyonnya di Samalanga, Lhok Seumawe, dan Lhok Sukon. Selain itu, Jepang menempatkan sebuah resimen tentara yang disebut Suzuki Rensei-Tai dan dua detasemen khusus menjaga lapangan terbang militer darurat di Gelanggang Labu, dekat Matang Geulumpang Dua sekitar 12 km dari kota Bireuen. Sejumlah senjata berat dipusatkan di kota Bireuen. Pasukan itu juga bertugas menjaga dan mengamankan gudang-gudang senjata serta logistik di Desa Juli sekitar 5 km dari Kota Bireuen. Di desa itu Jepang menyimpan alat perlengkapan perang dan gudang amunisi bagi satu resimen tentara Jepang. Dari tempat itu disuplai logistik militer ke Krueng Ulim Samalanga hingga Geudong di Lhok Seumawe.&lt;br /&gt;Usaha mendapatkan senjata Jepang di Bireuen dimulai sejak Oktober 1945, namun belum berhasil. Perundingan antara pihak API yang dibantu oleh mantan Guncho (wedana) Bireuen, T. Idris Panteraja dengan Jepang sudah dilakukan beberapa kali. Akan tetapi, selalu gagal karena pihak Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya secara sukarela. Karena tidak menemukan kesepakatan, pemimpin API Bireun meminta T. Hamid Azwar (Kepala Staf API) untuk datang ke Bireun. Wakil Markas Daerah III API (Resimen III) Bireuen adalah T. M. Daud Samalanga dan wakilnya T. Hamzah. Pada pertemuan antara API dengan mantan guncho Bireun diputuskan merubah taktik menghadapi Jepang, yaitu dengan cara intimidasi dan mengerahkan rakyat sebanyak mungkin. WMD III beserta para perwiranya, seperti T. Hamzah, Agus Husin, Nyak Do, Yusuf Ahmad, T. A, Hamdani, Muhammad Amin, Abdul Hamid TOB, A. Rachman Achmady (Bahady), dan para pemuka rakyat, seperti Naam Rasmadin, H. Affan, Marzuki Abu Bakar, Syamsuddin bin Gempa melakukan tekanan terhadap garnisun Jepang di Bireun. &lt;br /&gt;Pada hari pengerahan massa, sejak subuh sudah beribu-ribu rakyat Bireun mengepung tangsi Jepang. Pemimpin WMD III API bersama mantan guncho Bireun akhirnya dapat meyakinkan Jepang bahwa satu-satunya cara terbaik bagi Jepang adalah menyerahkan seluruh senjatanya kepada rakyat Bireuen. Akhirya pada 18 November 1945 Jepang terpaksa menyerahkan seluruh senjata berikut dengan perlengkapannya kepada rakyat Bireun. Penyerahan dilakukan dengan cara serah terima dan penandatanganan naskah oleh masing-masing pihak dan sekaligus dilaksanakan penggantian pengawalan. Penyerahan satu resimen tentara  Jepang Suzuki Rensei-Tai  kepada  Wakil   Markas  Daerah  API/TKR, Mayor Teuku M. Daud Samalanga di Bireuen dilakukan dengan upacara militer. Mayor Teuku Hamid Azwar sebagai Kepala Staf TKR Divisi V Komandemen Sumatera khusus datang dari Kutaraja ke Bireun untuk menyaksikan penyerahan senjata Jepang tersebut.&lt;br /&gt; Penyerahan senjata itu yang mewakili dari pihak Jepang bukan komandannya (Hutaicho) tetapi wakilnya yang berpangkat shosa (mayor), sedangkan yang menerima dari pihak masyarakat Bireun adalah T. M. Daud Samalanga beserta staf WMD III API dan disaksikan juga oleh T. Idris Panteraja (mantan guncho Bireuen) dan Keucik Juli. Penyerahan senjata Jepang kepada API/TKR tanpa terjadi korban pada kedua belah pihak. Pemimpin API (Angkatan Perang Indonesia) wilayah Bireun yang diwakili oleh T. Hamzah menerima 320 pucuk senjata dari Daitaityo Ibi Hara Bireuen dan dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat antara lain H. Affan, H. Abu Bakar, dan Naam Rosmadin.&lt;br /&gt;Pada 20 November 1945 di Juli dan Geulanggang Labu terjadi pertempuran antara penduduk dengan tentara Jepang. Pertempuran berlangsung selama tiga hari dan berhenti setelah dilakukan pendekatan antara kedua pihak.  Juli, pada masa pendudukan Jepang dijadikan basis tempat penyimpanan persenjataan perang untuk pertahanan kawasan sepanjang Krueng Ulim, Samalanga hingga Geudong.  Ketika peristiwa itu terjadi, tentara Jepang yang selama ini sangat bangga dengan kemampuannya berperang, merasa terpukul atas penyerbuan tersebut. Mereka lalu menyerahkan enam kenderaan tank, tiga pucuk meriam pantai, tiga pucuk senapan mesin Juki, dua buah truk, 72 pucuk karaben, dan tujuh gudang amunisi. &lt;br /&gt;Perlucutan senjata Jepang di Desa Juli sempat diwarnai bentrokan senjata. Jepang menolak menyerahkan senjata ke API dalam perundingan antara pemimpin pejuang Aceh dengan Nakakubu, pemimpin tentara Jepang. Pada saat perundingan, rakyat sudah mengepung markas persenjataan Jepang. Gerakan perluculan senjata  Jepang di  Juli dipimpin oleh Keucik Ibrahim dengan Komandan Pasukan Letnan Thaib Bulan dan Jusuf Ahmad, dimulai pada 20 November 1945. Penolakan Jepang untuk menyerahkan senjata membuat rakyat marah. Pasukan API/TKR yang didukung oleh Barisan Rakyat di bawah pemimpin Utoh Husin dan A. R. Mahmudi melakukan penyerbuan ke asrama Angkatan Udara Jepang di Gelanggang Labu sekitar 18 km dari Bireun pada 22 November 1945. Setelah pertempuran berlangsung sekitar tiga jam, Komandan Pangkalan Udara Jepang di Geulanggang Labu mengajak untuk berunding lagi. Hasil perundingan tersebut, Jepang meyerahkan enam puluh pucuk senjata. Penyerahan senjata sebanyak itu belum memuaskan pihak pejuang Aceh sehingga suasana pun belum kondusif. Para pejuang Aceh belum mau meninggalkan pangkalan udara Jepang, sehingga pihak Jepang sangat cemas. Keesokan harinya pasukan angkatan udara Jepang meninggalkan pangkalan dan mengungsi ke Lhok Seumawe.&lt;br /&gt;Perlucutan senjata di Bireuen menyebabkan Garnisun Jepang di Lhok Seumawe segera bereaksi. Pada 24 November 1945 tiga kompi pasukan didatangkan dengan menggunakan 9 dressi dan tiga gerobak kereta api bergerak menuju Bireun dengan maksud menguasai kembali Bireun dan mengambil kembali senjata yang telah diambil oleh API. Dua hari sebelum pengerahan pasukan  sudah terlihat kesibukan Jepang mempersiapkan pasukan sambil meminta disediakan kereta api untuk mengangkut pasukan ke Bireuen. Suasana itu dilaporkan ke Markas Daerah API di Kutaraja. Syamaun Gaharu ditugasi mengkoordinir daerah Aceh Utara. API Bireun dikerahkan untuk menghadang Jepang di tempat yang strategis sambil menunggu bantuan dari Kutaraja dan dari daerah lain. API Bireuen memilih Matang Geulumpang Dua sebagai pos komando dan Krueng Panjo sebagai tempat penghadangan.&lt;br /&gt;Dipilihnya Krueng panjo sebagai tempat menghadang tentara Jepang karena dari segi lokasi sangat menguntungkan untuk mengadakan pengepungan. Daerah Krueng Panjo dilintasi oleh jalur kereta api, diperkirakan tentara Jepang akan mempergunakan transportasi kereta api menuju Bireuen. Krueng Panjo berada di daerah persawahan dan terdapat  semacam tanggul besar yang digunakan untuk areal persawahan.&lt;br /&gt;Tentara Jepang yang bergerak menuju Bireuen terdiri atas Batalyon satu Resimen III Infantri di bawah komando Mayor Suzuki. Batalyon itu sejak awal ditempatkan di Lhok Seumawe, tetapi satu kompi di antaranya dipulangkan ke Medan dan digantikan dengan kompi lain dari Lhok Sukon. Kesatuan kedua adalah batalyon yang dipimpin oleh Mayor Suzuki berasal dari bekas batalyon pengawal lapangan terbang Blang Pulo dengan komandan Mayor Metsugi. Gabungan kedua batalyon itu disebut Suzuki Butai karena dipimpin oleh Mayor Suzuki.  Starategi yang telah disusun oleh Teuku Hamid Azwar dikomunikasikan kepada Komandan Operasi Teuku Hamzah, menginstruksikan agar rel kereta api di Pante Gajah dekat Krueng Panjo yang jaraknya sekitar 3 km sebelum masuk stasiun kereta api Matang Geulumpang Dua, dibongkar agar kereta api tidak dapat lewat. Demikian juga keesokan harinya,  jika kerteta api telah melewati daerah sasaran, pasukan API/TKR harus segera membongkar rel kereta api di bagian belakang sehingga kereta api tidak dapat mundur dan kereta api terkurung di tengah.&lt;br /&gt;Di Bireuen, sebuah Komando Operasi segera dibentuk dengan Komandan Operasi Kapten Teuku Hamzah. Dilengkapi dengan empat kompi pasukan API/TKR; Kompi 1 dipimpin Letnan Agus Husin, Kompi II dipimpin oleh Letnan T. A. Hamdani, Kompi III dipimpin oleh Letnan Nyak Do, dan Kompi IV dipimpin oleh Letnan Yusuf Ahmad. &lt;br /&gt;Pasukan Rakyat yang dipersiapkan di antaranya:&lt;br /&gt;1.  Barisan Rakyat Kampung Juli dipimpin Keucik Ibrahim,&lt;br /&gt;2. Barisan Rakyat Gelanggaag Labu dipimpin oleh Utoh Husin/AR Mahmudi,&lt;br /&gt;3. Barisan Rakyat Samalanga dipimpin oleh Teungku Sjahbuddin,&lt;br /&gt;4.  Barisan Rakyat Jeunib dipimpin oleh M. Ali,&lt;br /&gt;5.  Barisan Rakyat Geurugok dipimpin oleh Teuku Zamzam,&lt;br /&gt;6.  Barisan Rakyat Peusangan dipimpin oleh Saleh Alamsyah,&lt;br /&gt;7.   Barisan Rakyat Krueng Panjo dipimpina oleh Teungku Abdurahman,&lt;br /&gt;8. Barisan Rakyat Bireuen dipimpin oleh Na'am Rasmadin, H. Affan, dan H. Marzuki Abu Bakar,&lt;br /&gt;9.   Barisan Rakyat Lhok Seumawe dipimpin oleh T. A. Bakar, &lt;br /&gt;10. Barisau TPI (Tentara Pelajar Islam) Batalyon III Aceh Utara dipimpin oleh Nur Nekmat, M. Sabi, dan Hasry, dan&lt;br /&gt;11. Barisan Rakyat Takengon dipimpin oleh Teungku Muhammad Saleh Adry dan Letnan Dua Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;Sehari sebelum pertempuran semua pemimpin pasukan API/TKR dan Laskar Pejuang, seperti Divisi Tgk. Chik Di Tiro (Mujahaidin), Divisi Rencong, Divisi Tgk. Chik Paya Bakong, Batalyon  Berani Mati,  Komando Resimen Tentara Pelajar Islam, dan Pasukan Barisan Pemuda Bersenjata dikumpulkan di Wakil Markas Daerah III API/TKR Bireuen dipimpin oleh Kapten Teuku Hamzah. &lt;br /&gt;Diinstruksikan bahwa setiap pasukan besoknya pukul 10.00 pagi sudah berada di pos lengkap dengan senjata. Setiap pasukan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang telah diinstruksikan. Kontak dengan Lhok Seumawe terus dilakukan untuk memantau  apakah kereta api yang membawa pasukan Jepang sudah mulai berangkat. Pukul 12.30 siang,  24 November 1945, kereta api yang membawa satu batalyon tentara Jepang meluncur menuju Bireuen. Masinisnya orang Indonesia segera melompat meninggalkan kereta api setelah melihat kereta api yang ditumpanginya menjadi sasaran tembak pejuang Aceh di Kampung Pante Gajah. Serdadu Jepang segera melepaskan tembakan ke arah masinis yang berusaha kabur itu, tetapi tidak mengenai sasaran karena setiba di tanah, masinis segera berlindung di dalam parit.&lt;br /&gt;Masinis digantikan oleh seorang Jepang yang berusaha menghentikan kereta api tetapi  rel di belakang kereta api itu sudah dibongkar sehingga kereta api tidak dapat maju dan mundur. Sejalan dengan pembongkaran rel di belakang kereta api itu muncul  pula tembakan-tembakan ke arah kereta api dari segala arah. Serdadu Jepang berlarian dan mencari perlindungan di pematang-pematang sawah. Dua kompi API dari Kutaraja yang dipimpin oleh T. Humid Azwar tiba di tempat kejadian dan langsung megambil alih kendali. Sebelumnya penyerangan dipimpin oleh T. Hamzah Samalanga. &lt;br /&gt;Bersamaan dengan kedatangan Kepala Staf API, T. Hamid Azwar, dibawa serta Muramoto dari Sigli, ia diperlukan untuk menjadi juru bahasa merangkap penghubung alias juru damai. Setelah mendapat hubungan dengan komandan Jepang (Ibihara-tai), maka diadakan perundingan untuk membicarakan tuntutan rakyat. Jepang diminta agar menyerahkan senjata, sebagai imbalannya keselamatan mereka dijamin. Ibihara-tai sendiri sebenaraya sudah menyetujui tuntutan tersebut, tetapi beberapa orang komandan bawahannya menentang, sehingga menimbulkan percekcokan di antara mereka. &lt;br /&gt;Keesokan harinya, 26 November 1945, Jepang mengibarkan bendera putih, pertanda menyerah. Pada peristiwa tersebut banyak jatuh korban di kedua belah pihak. Komandan pasukan Jepang melakukan harakiri dengan pedang samurai. Sebanyak 320 pucuk senjata diserahkan kepada API beserta dengan perlengkapan-perlengkapan lain. Pertempuran di Krueng Panjo dinilai sebagai pertempuran bersejarah, karena telah membangkitkan kepercayaan diri yang besar di kalangan pejuang Aceh karena mampu memaksa tentara Jepang mengangkat bendera putih sebagai tanda menyerah. &lt;br /&gt;Tentara Jepang kemudian menyerbu ke wilayah Aceh Timur,  pihak TKR mendatangkan pasukan tambahan dari Kutaraja, Bireuen, Takengon, Lhok Seumawe, dan Lhok Sukon, sedangkan pasukan TKR dan laskar rakyat yang berada di bagian timur, seperti dari Idi dipusatkan di sekitar kota Langsa. Tujuan utama Jepang adalah menguasai kembali Kuala Simpang dan Langsa. Terjadilah pertempuran besar-besaran di sekitar kedua tempat tersebut, seperti Kampung Durian dan Kampung Tupak pada 24 Desember 1945, Kampung Upak dan Bukit Meutuah pada 25 Desember 1945. Setelah pertempuran berlangsung sekitar satu bulan, maka pada 20 Januari 1946, TKR bersama dengan laskar rakyat berhasil mendesak tentara Jepang kembali ke Medan. Dengan demikian, daerah Aceh berhasil dibersihkan dari tentara Jepang dan kekalahannya itu merupakan pukulan berat tidak saja bagi Jepang tetapi juga bagi Sekutu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-3463185447915060425?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/3463185447915060425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/11/bireun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3463185447915060425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3463185447915060425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/11/bireun.html' title='Bireun'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-5058241048725719008</id><published>2009-03-12T01:18:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T01:20:06.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>LDII</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membongkar Kesesatan LDII : Apa itu Manqul (1)Ahad, 24-September-2006, Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc&lt;br /&gt;&lt;a title="printer-friendly page" href="http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=374" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="kirim artikel ini kepada seseorang" href="http://www.darussalaf.or.id/friend_send.php?id=374"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Antara Al Quran, al Hadits dan 'Manqul'Oleh: Qomar ZAJangan khawatir…Jangan takut…Baca dulu…Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.Pengertian Manqul dalam Ajaran LDIIManqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! - pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: 'Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya'- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu" [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama'ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]Keyakinan LDII tentang Manqul1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil merekaKajian atas point pertama:a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar'i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ "Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya" [Al An'am:19]Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: "Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya."Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka'b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : "Berarti bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran." Asy Syinqithi mengatakan: "Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka". [Tafsir Adhwa'ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas - jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية"Sampaikan dariku walaupun satu kalimat" [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya" [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma'rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: "Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat." [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma'ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menerima Islam - mereka yang masuk Islam - karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.Kemudian setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al 'Asy 'ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha' [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343], Mu'awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu'bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu'allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori 'manqul anda' justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti - Insya Allah - komentar para ulama tentang ini.Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada' (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: "Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: "Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma' (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui." [Fathul Mughits:3/5]Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: "Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.' [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : "Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri." [Fathul Bari:1/153]Kalaulah 'manqul kalian' dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab 'himpunan', sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa'i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa'i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa'i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A'lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع"Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya" dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, "Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??"d. Istilah 'manqul' sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama'ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus - apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah 'Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil' [Min atyabil manhi fi 'ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.Sebagaimana akan anda lihat nanti - Insya Allah - dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru'ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu'allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu'allal.Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai'at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sampai saat ini.h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha'if, bahkan maudhu' (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]i. Dari siapa 'manqul' ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah 'metode manqul' itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini 'dimanqul' dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat - Insya Allah - ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada' (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi' [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in. Mu'allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad - pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu'allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: "Ini termasuk munqothi' dan mursal…", ar Rasyid al 'Atthor mengatakan: "Al wijadah masuk dalam bab al maqthu' menurut ulama (ahli) periwayatan".[Fathul Mughits:3/22]Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: "Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab." [al Baitsul Hatsits:125]Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi'i dan para pemuka madzhab Syafi'iyyah.c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi'iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: "Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya." [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]An Nawawi mengatakan: 'Itulah yang benar' [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama' dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:-أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها artinya: "Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?" Mereka mengatakan: "Para malaikat." Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?". Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallampun menjawab: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka". Mereka mengatakan: "Kalau begitu kami?" Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian." Mereka mengatakan : "Maka siapa Wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya." [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu 'Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji': Ad Dho'ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta'liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]- Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة'Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) 'Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…'- Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi'in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: "Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih." [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad 'muttashil musnad manqul' kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana 'manqulmu' dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: "Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:- Dalam hal memahami bai'at dan mengkafirkan yang tidak bai'at.- Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII- Dalam hal manqul itu sendiri- Dalam aturan infaq- Menganggap najis selain mereka dari muslimin- Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka- Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim- Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya- Dan lain-lain[perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma' wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: "'Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/'illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj." Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: 'Gharib' (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa'idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma'ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan MuslimKajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits - pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian - wahai pengikut LDII - mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar'awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya'urrahman al 'Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??(Bersambung ke Membongkar kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)(Dikutip dari tulisan al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Al Qur'an, Al Hadits dan 'Manqul'.)http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=974&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-5058241048725719008?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/5058241048725719008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/ldii_12.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/5058241048725719008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/5058241048725719008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/ldii_12.html' title='LDII'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-64256885447584853</id><published>2009-03-12T01:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T01:18:40.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Uang Keadilan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Uang dan Keadilan&lt;br /&gt;(Konsep Keadilan pada Mata Uang Peninggalan Kesultanan Aceh)&lt;br /&gt;By sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kebudayaan yang dibicarakan seiring dengan agama, bermakna bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang berkaitan dengan manusia sehagai makhiuk, sedangkan agama adalah sesuatu yang diberikan Allah. Perbedaan konseptual yang sebenarnya belum dapat dikompromikan, meskipun dapat saja dikatakan bukankah yang percaya kepada Tuhan itu juga manusia.&lt;br /&gt;Apabila agama dan kebudayaan berada dalam analisis yang berbeda, maka kebudayaan dan masyarakat adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, harus disadari bahwa masyarakat adalah hasil konseptualisasi, bukan realitas sesungguhnya. Secara konseptual masyarakat adanya karena kumpulan individu-individu, masyarakat kemudian menghasilkan simbol-simbol.1&lt;br /&gt;Kebudayaan Islam mempunyai dua aspek. Pertama, simbol-simbol yang dipancar-kan oleh ajaran agama yang abadi dan universal kepada para penganutnya. Agama yang abadi dan universal itu kemudian memberikan jembatan antara ajaran dengan kesadaran dan membebaskan manusia secara spiritual dan intelektual dari keterikatannya pada tempat, waktu, dan struktur objektif yang mengitarinya. Dengan kata lain, kebudayaan agama adalah usaha penterjemah-an agama ke dalam konteks zaman dan lokalitas. Aspek kedua, agama adalah sebagai inspirasi kultural dan estetik. Ajaran agama yang diwahyukan adalah wilayah intelektual dan spiritual yang terbatas. Ada batas yang&lt;br /&gt;1 ITaufik Abdullah, Nasionaiisme dan Sejarah (Bandung: Satya Historika, 2001) him. 150-151.&lt;br /&gt;hanya rahasia Tuhan dan wilayah yang dapat dimasuki oleh manusia. Dari inspirasi kultural dan estetik itu muncul bebagai budaya, baik sekarang maupun berupa peninggalan dan warisan lama kebudayaan Islam yang sampai kini menimbulkan rasa kebanggaan.&lt;br /&gt;Salah satu peninggalan kebudayaan Islam itu terdapat di Kerajaan Islam Samudra Pasai. Berbagai peninggalan, seperti makam, batu nisan, biasan kaligrafi, mata uang dan sebagainya masih dapat disaksikan. Dalam tulisan ini, kajian hanya dititikberatkan pada salah satu peninggalan budaya Kerajaan Islam Samudra Pasai yaitu mata uang. Ada sesuatu yang unik pada mata uang yang dikeluarkan oleh raja-raja yang memerintah di kerajaan itu, yaitu pada salah satu sisi mata uang terdapat tulisan as-sultan al-adil. Kata tersebut ditulis dengan huruf Arab-Melayu, oleh karena itu dapat diperkirakan bahwa di Kerajaan Islam Samudra Pasai ajaran Islam dicerminkan pula dalam sistem pengeluaran mata uang. Kata adil itu dipilih karena memang keadilan itu sesuatu yang sangat didambakan oleh semua orang dan raja pada waktu itu sangat berkeinginan untuk mewujudkan keadilan kepada rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Pada sisi bagian muka mata uang itu umumnya tertera nama sultan dengan memakai gelar lAalik az-Zahir, baik pada deweuham yang dikeluarkan oleh sultan Pasai maupun yang dikeluarkan oleh sultan yang memerintah di kerajaan Aceh. Namun, tidak semua sultan kerajaan Aceh Darussalam membubuhi gelar Malik az-Zahir.&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;Tentang masuknya Islam ke Pasai, Hikayat Raja-Raja Pasai menyebutkan bahwa&lt;br /&gt;"alkisah peri mengatakan cerita yang pertama niasuk agama Islam ini Pasai, inaka ada diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini negeri yang di bawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan Rasul Allah".2&lt;br /&gt;Pada pusat pemerintahan di Pasai, kegiatan keagamaan sangat semarak. Hal ini, seperti diceritakan oleh Ibnu Batutah bahwa pada saat kunjungannya ke Pasai pada tahun 1345, sultan yang memerintah negeri ttu adalah Sultan Malik al-Zahir, seorang raja yang taat beragatna, dan baginda selalu dikelilingi oleh para ahli agama Islam.&lt;br /&gt;Kerajaan Islam Pasai pada waktu itu sangat giat menyebarkan agama Islam ke berbagai wilayah di Nusantara, babkan ke Semenanjung Malaka dan daerah-daerah lain di kawasan Asia Tenggara. Namun, hubungan dengan daerah-daerah itu telah tenalin semenjak adanya hubungan perdagangan melalui jalur perdagangan yang melintasi pesisir Selat Malaka. Agama Islam pun mulai dianut di beberapa tempat di Asia Tenggara, terutama di Semenanjung Malaka dan di Pesisir Utara Pulau Jawa.3&lt;br /&gt;Penyebaran Islam ke berbagai wilayah berlangsung sejalan dengan proses transformasi agama tersebut, baik sebagai doktrin maupun unsur-unsur budaya masyarakat muslim. Proses ini melalui berbagai alur kedatangan, bentang waktu, dan rangkaian proses sosialisasi di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran penyebarannya. Dengan demikian, terjadi variasi waktu berlangsungnya proses sosialisasi Islam di setiap waktu.&lt;br /&gt;Sebagai bekas kerajaan Islam besar, Samudra Pasai meninggalkan berbagai jenis sisa budaya dan tradisi yang sebagian terekam dalam artefak, naskah, dan tutur lisan. Salah satu peninggalan budaya kerajaan Islam Samudra Pasai adalah mata uang. Eksplanasi&lt;br /&gt;2Hikayat Raja-Raja Pasai, A. Revised romanisation and English Translation by C. A. Gibson— Hill. JMBRAS, 33,1960, him. 46.&lt;br /&gt;3 Uka Tjandrasasmita, "Peranan Samudra Pasai dalam Perkembangan Islam di Beberapa Derah Asia Tenggaia", hlm, 70.&lt;br /&gt;mengenai kehadiran Islam di Pasai, khususnya peninggalan-peninggalan budaya berhubungan erat dengan kedatangan, sosialisasi, pertumbuhan serta memuncaknya pranata agama Islam pada berbagai strata kehidupan spiritual dan kultural.&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;Di sebuah lokasi peninggalan sejarah sekitar 2000 tahun yang lalu di Seoul, Korea Selatan terdapat sebuah taman yang diberi nama dengan Olympic Park. Di antara karya pematung terkenal yang terkumpul di taman itu terdapat sebuah patung karya pematung kontemporer Indonesia, Arsono.&lt;br /&gt;Patung yang dipahat pada tahun 1988 dengan warna merah cermin itu diberi judul circle berharga sekitar 70.000 Franc Prancis. Sumber inspirasi sang seniman beserta ciptaannya menggambarkan suatu bias ragam gumpalan awan berarak, yang dalam bahasa Aceh dinamakan Bungong Awang-Awang, atau Flowers of the Univers, berasal dan relief batu peninggalan sejarah di situs Kerajaan Samudera Pasai.4&lt;br /&gt;Apabila dihayati, tidak mungkin Kerajaan Samudera Pasai memiliki karya seni berujud pahatan-pahatan indah di atas batu pualam, seperti yang banyak terdapat di kerajaan itu, jika daerahnya tidak makmur dan ekonominya tidak berkembang maju.&lt;br /&gt;Pada abad ke-13 Bandar Samudra Pasai bersamaan dengan Pidie menjadi pusat perdagangan intemasional dengan lada sebagai salah satu produk eks or utamanya. Pedagang-pedagang India yang terdiri dan orang-orang Gujarat, Benggala, dan Keling, serta pedagang dan Pegu, Siam, Kedah, dan Barus melakukan kegiatan perdagangan di Selat Malaka. Di samping itu, terdapat pula pedagang dan Cina, Arab, Parsi, dan Jawa. Sebagian di antara mereka berdagang di Pasai, Pidie, dan Malaka.3&lt;br /&gt;4 T. Ibrahim Alfian, "Samudera Pasai: Bandar Dagang dan Pusat Budaya". Makalah Seminar Sejarah National V, Semarang, 1990, him. 1—2.&lt;br /&gt;5 Tome Pires, Suma Oriental, 1:144.&lt;br /&gt;Hubungan dagang juga terjalin antara Samudra Pasai dengan Pulau Jawa. Pedagang-pedagang Jawa membawa beras ke Pasai dan dari pelabuhan ini mengangkut lada ke pulau Jawa. Pedagang-pedagang dari Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudra Pasai dengan dibebaskannya mereka dari pembayaran cukai impor dan ekspor.&lt;br /&gt;Samudra Pasai sebagai bandar dagang yang maju, mengeluarkan mata uang sendiri sebagai alat pembayaran dalam kehidupan perekonomiannya. Salah satu di antaranya terbuat dari emas, dinamakan dirham (deureuham). Hubungan dagang antara Pasai dengan daerah lain seperti Malaka terjalin dengan baik. Para pedagang Pasai juga memperkenalkan sistem mata uang emas ke Malaka. Apalagi Parameswara, raja Malaka pertama, mengadakan aliansi dengan Pasai pada tahun 1414, memeluk agama Islam dan mengikat tali perkawinan dengan puteri Pasai.7&lt;br /&gt;Kerajaan Samudra Pasai yang terletak di Kabupaten Aceh Utara sekarang, kecuali berkembang sebagai kota dagang pada abad ke-13 sampai awal abad ke-16 di Selat Malaka, juga menjadi pusat perkembangan agama Islam. Untuk itu, mata uang yang akan dibicarakan dalam tulisan ini adalah mata uang yang dipengaruhi oleh budaya Islam, di antaranya dengan terdapat konsep keadilan pada mata uang tersebut.&lt;br /&gt;6 Ibid., 239,&lt;br /&gt;7 William Shaw and Mohd. Kasim Haji Ali, Malacca Coins, (Kuala Lumpur: Muzium Negara, 1970), hlm. 2.&lt;br /&gt;8 T. Ibrahim Alfian, Mata Uang Emas Kerajaan-Kerajaan diAceh, 1986, hlm. 9.&lt;br /&gt;Mata uang emas atau dirham yang dikeluarkan oleh kerajaan Pasai, garis tengah berukuran +10 mm, kecuali kepunyaan Sultan Zain al-Abidin 1383—1 05 dan Sultan Abdullah ± 1500—1513.s Namun, menurut Kreemer, baik deureuham yang berasai dari kerajaan Pasai maupun dari kerajaan Aceh, bentuknya kecil, tipis dan bulat, bergaris tengah ± 1 cm, berat tidak lebih dari 9 grein (0,583 gram).9 Di bagian muka semua dirham Pasai, kecuali kepunyaan Sultan Salah ad-Din 1405—1412, tertera nama sultan dengan gelar Malik az-Zahir. Setelah kerajaan Aceh menaklukkan Kerajaan Samudra Pasai pada tahun 1524, sultan-sultan Aceh meniru kebiasaan sultan-sultan Samudra Pasai dengan memakai gelar Malik az-Zahir pada mata uang. Hal ini terjadi semenjak pemerintahan Suhan Aceh Salah ad-Din 1530 ± 1539 sampai dengan Sultan Riayat Syah 1571 -1579.10&lt;br /&gt;Ungkapan as-sultan al-adil seperti yang terdapat pada bagian belakang derham Pasai dipakai pula oleh sultan-sultan Kerajan Aceh Dar as- Salam dari mulai Sultan Salah ad-Din 1405—1412 sampai dengan Sultan Riayat Syah 1589—1604. Ungkapan as-sultan-al-adil terdapat juga pada mata uang Semenanjung Tanah Melayu, seperti ungkapan as-sultan-al-adil dapat dibaca pada mata uang Sultan Ahmad yang bertahta di Malaka pada tahun 1510."&lt;br /&gt;Telah disebutkan di muka, bahwa raja-raja Samudra Pasai merasa perlu memahatkan pada sisi belakang mata uang emasnya ungkapan al-sultan al-adil. Demikian perihal adil ini sangat didambakan oleh umat manusia sepanjang masa. Kecuali dari kitab Alquran tidaklah dapat ditelusuri dari kitab mana sultan-sultan kerajaan Samudra Pasai pada abad XIV mengambil ungkapan raja adil untuk dicantumkan pada mata uang" yang mereka keluarkan. Namun, dapat diduga, bahwa raja-raja Pasai mendasa kannya pada Alquran XVI : 90 yang terjemah-nnya sebagai berikut,&lt;br /&gt;9J. Kreemer, Aijeh (Leidea: E. J. Brill, 1923),&lt;br /&gt;10 J. Hulshoff Pol, De Gouden Munten van Noord-Sumatera, Amsterdam: Johannes Mullet, 1929, hlm. 12—14.&lt;br /&gt;"11 William Shaw and Mobd. Kassim Haji Ali, op. at., hlm 3-4.&lt;br /&gt;"sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, bcrbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah bcrbuat keji, kemungkaran, dan kedurhakaan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu mengerti".&lt;br /&gt;Hal itu, seperti yang didasarkan pada bukti kutipan sebagian ayat tersebut di atas yang termaktub dalam kitab Taj-al-Salatin atau Taju-as-Salatin, yaitu Kitab Mahkota Segala Raja, yang berisi pedoman cara mengendalikan pemerintahan berdasarkan ajaran Islam yang tersebar di kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara. Sebagian ayat ini yang dikutib dan fasal ke-6 Taju as-Salatin adalah,&lt;br /&gt;Innallaha yakmurukum bil adli wal ihsan (Scsungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan).u&lt;br /&gt;Selain itu, uang juga sebagai lambang harta kekayaan. Dalam masalah harta, biasanya orang selalu berlomba-lomba. Dalam "perlombaan" tersebut terkadang menempuh dengan cara-cara yang tidak "sehat", bahkan dengan merugikan orang lain demi kepenting-an pribadi atau kelompok. Oleh karena itu, para sultan yang memerintah di Aceh pada masa laiu sangat peka terhadap keadaan seperti itu, jangau sampai dengan masalah harta orang saling membunuh dan meng-abaikan nilai-nilai keadilan. Untuk raengjngat-kan semua orang terhadap hal yang demikian, sultan kemudian memahatkan kata adil pada mata uang yang diterbitkan.&lt;br /&gt;Adil merupakan sikap dan prilaku yang tidak berat sebelah dalam mempertimbangkan keputusan, tidak memihak dan tidak menggunakan standar yang sama bagi semua pihak. Rasa adil merupakan hal yang tidak terpisahkan dari nilai adat, agama, dan budaya. Keadilan merupakan tuntutan setiap orang. Keadilan juga merupakan landasan untuk menjalin hubungan sosial yang harmonis. Oleh karena itu, keadilan menjadi tema sentral setiap perubahan sosial. Dalam pengembangan masyarakat, keadilan memang bukan tujuan akhir, namun keadilan menjamin bahwa tujuan akan lebih mudah dicapai. Tujuan akhir yang hanya dapat dicapai dengan keadilan tersebut&lt;br /&gt;12T. IbraMm Alfiao, "Samudra Pasai...op. cit., him. 14.&lt;br /&gt;adalah kesejahteraan rakyat. Tanpa keadilan, kesejahteraan hanya dinikmau olefa se-kelompok orang. Untuk itulah, raja-raja yang memerintah di Aceh memahatkan kata adil pada mata uang sebagi "pengingat" setiap orang harus selalu berbuat adil terhadap orang lain, apalagi seorang raja terhadap rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;Kehidupan di dunia ini, kadang-kadang nilai keadilan diartikan berbeda-beda, dan dalam menerapkan hukum yang seadil-adilnya tidak terlepas dari toleransi dan sikap atau subjektivitas orang yang akan melaksana-kan keadilan. Namun, apabila prilaku sudah mengarah ke sana atau tidak dipengaruhi subyektivitas kepentingan, dapatlah keadilan itu diwuiudkan. Hal itu, seperti yang dipraktekkan oleh Sultan Iskandar Muda, ia dengan rela menghukum anaknya sendiri karena terbukti berbuat kesalahan.&lt;br /&gt;Menurut ajaran agama, keadilan atau bersikap dan berbuat adil yaitu sejauhmana seseorang mampu menerapkan semua nilai dan norma-norma yang ada dalam ajaran wahyu atau konsistensi seseorang dengan nilai dan wahyu dalam kehidupan sehai-hari. Wahyu merupakan sumber kebenaran yang mutlak, jadi keadilan yang diartikan di dalamnya merupakan keadilan yang sebenar-benarnya. Konsep keadilan yang dijalankan oleh raja-raja tersebut, tidak terlepas dari pengaruh nilai agama yang sangat menganjurkan manusia untuk berbuat adil. Oleh karena itu, muncul unkapan dalam masyarakat Aceh raja aaee, raja diseumah, raja lalem raja disanggah. Maksudnya apabila raja tersebut berlaku adil terhadap rakyat, rakyat akan menghormati dan patuh kepada raja, tetapi sebaliknya apabila raja tersebut zalim dan dan tidak berlaku adil kepada rakyat, rakyat tidak mematuhi dan akan membantahnya.&lt;br /&gt;Namun, apabila keadilan itu berdasarkan pertimbaugan manusia, segala sesuatu yang dianggap baik belum tentu benar, tetapi yang benar sudah tentu baik. Oleh karena itu, kebenaran pada hakikatnya dapat menciptakan suasana aman, tentram, sejahtera serta bahagia. Tidak mudah untuk menyatakan kebenaran, karena sifat manusia yang terkadang tidak mau mengakui kebenaran, apalagi kebenaran orang lain. Di samping itu, karena pengaruh pihak ketiga yang berupaya mengalihkan perhatian terhadap hal-hal yang dinilai sebagai kebenaran semu, akhirnya dapat dipandang dari berbagai sudut, kadang-kadang tergantung kepentingan. Sifat seperti ini, dapat dikaitkan dengan prilaku Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) pada masa sekarang. Orang yang banyak menikmati hasil adalah orang yang "berdekatan" karena hubungan teman dan kekeluargaan atau karena terlalu sayang dan benci sehingga berbuat tidak adil. Perbuatan seperti ini jelas bertentangan dengan sifat keadilan dan penegakan hukum di masyarakat.&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah bahwa konsep keadilan yang dipahatkan pada mata uang yang diterbitkan oleh sultan yang memerintah pada waktu itu, dimaksudkan untuk mengingatkan semua orang tentang pentingnya ailai keadilan dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Hal yang demikian itu, disebabkan manusia terkadang sering lupa atau lalai karena banyaknya masalan yang dihadapi sehingga perlu diingatkan terus-menerus. Salah satu cara untuk itu adalah dengan mencantumkan kata adil pada salah satu sisi mata uang.&lt;br /&gt;Di samping itu, uang yang dapat dilambangkan sebagai harta kekayaan, oleh karena itu dalam rangka mencari harta tersebut jangan sampai dengan mengabaikan nilai-nilai keadilan dan merugikan orang lain.&lt;br /&gt;Sifat atau akap seperti yang telah dilakukan oleh sultan atau penguasa terdahulu dalam rangka menegakkan keadilan di masyarakat. Usaha tersebut bukan satu-satunya cara, tetapi banyak cara lain yang hams dilakukan dalam rangka menegakkan keadilan. Apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita itu, sebenamya sangat bagus untuk diikuti atau paling tidak, punya keinginan untuk melakukan seperti itu.&lt;br /&gt;Gambar dirham di atas berbunyi as-sultan al-adil yang merupakan tulisan bagian belakang dari sebagian besar derharn Kerajaan Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam. Sumber gambar: Teuku Ibrahim Alfian, Mata Uang Etnas Kerajaan-Kerajaan di Aceh, Museuam Aceh, 1986, hlm. 56.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-64256885447584853?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/64256885447584853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/uang-keadilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/64256885447584853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/64256885447584853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/uang-keadilan.html' title='Uang Keadilan'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-1725175329550924780</id><published>2009-03-11T19:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-11T19:21:14.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>Qunut</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hukum Qunut SubuhKamis, 16-November-2006, Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain&lt;br /&gt;&lt;a title="printer-friendly page" href="http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=436" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="kirim artikel ini kepada seseorang" href="http://www.darussalaf.or.id/friend_send.php?id=436"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid'ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?Jawab :Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur'an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid'ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ"Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak". Dan dalam riwayat Muslim : "Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak".Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.Uraian Pendapat Para UlamaAda tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi'iy.Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa'd, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.Dalil Pendapat PertamaDalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا"Terus-menerus Rasulullah shollallahu 'alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia".Dikeluarkan oleh 'Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma'ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba'in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-'Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama' wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.Semuanya dari jalan Abu Ja'far Ar-Rozy dari Ar-Robi' bin Anas dari Anas bin Malik.Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin 'Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : "Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i' bin Anas adalah Abu Ja'far 'Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)". Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : "Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)". Berkata Abu Zur'ah : " Yahimu katsiran (Banyak salahnya)". Berkata Al-Fallas : "Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)". Dan berkata Ibnu Hibban : "Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar"."Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma'ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Rozy, beliau berkata : "Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja'far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya".Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja'far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja'far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : "Shoduqun sayi`ul hifzh khususon 'anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).Maka Abu Ja'far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ"Sesungguhnya Nabi shollallahu 'alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo'a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo'a (kejelekan atas suatu kaum)" . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja'far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ"Sesungguhnya Nabi shollahu 'alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh".Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.emudian sebagian para 'ulama syafi'iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ"Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman, dan saya (rawi) menyangka "dan keempat" sampai saya berpisah denga mereka".Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :Pertama : 'Amru bin 'Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma'ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan 'Amru bin 'Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu'tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).Kedua : Isma'il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma'il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.Catatan :Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja'far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami 'Abdul Warits bin Sa'id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ"Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau".Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja'far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I'tidal 1/418. Karena 'Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari 'Amru bin 'Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu 'Umar Al Haudhy dan Abu Ma'mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari 'Abdul Warits-.Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da'laj dari Qotadah dari Anas bin M alik :صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ"Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang 'umar lalu beliau qunut dan di belakang 'Utsman lalu beliau qunut".Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja'far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : "Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma'in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma' in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya "Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia", itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah "beliau (nabi) 'alaihis Salam qunut", dan ini adalah perkara yang ma'ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)".Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin 'Abdillah dari Anas bin Malik :مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ"Terus-menerus Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal".Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin 'Abdillah, kata Ibnu 'Ady : "Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)". Dan berkata Ibnu Hibba n : "Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya".Kesimpulan pendapat pertama:Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.1) Doa2) Khusyu'3) Ibadah4) Taat5) Menjalankan ketaatan.6) Penetapan ibadah kepada Allah7) Diam8) Shalat9) Berdiri10) Lamanya berdiri11) Terus menerus dalam ketaatanDan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur'an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.Dalil Pendapat KeduaMereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))"Adalah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I'tidal) berkata : "Sami'allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. "Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri'lu, Dzakw an dan 'Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim". (HSR.Bukhary-Muslim)Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : "Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya' dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir".Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .Dalil Pendapat KetigaSatu : Hadits Sa'ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja'iقُلْتُ لأَبِيْ : "يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ" فَقَالَ : "أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ"."Saya bertanya kepada ayahku : "Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan 'Ali radhiyallahu 'anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?". Maka dia menjawab : "Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid'ah)". Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.Dua : Hadits Ibnu 'Umarعَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : "صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ". فَقُلْتُ : "آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ", قَالَ : "مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ"." Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu 'Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku". Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1246, Al-Baihaqy 2213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma' Az-Zawa'id 2137 dan Al-Haitsamy berkata :"rawi-rawinya tsiqoh".Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari'atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa berkata : "dan demikian pula selain Ibnu 'Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid'ah".Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari'atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari'atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do'a qunut "Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do'a kemudian diaminkan oleh para ma'mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma'ad.KesimpulanJelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid'ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a'lam.Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma'any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu' 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi' : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u' Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma'ad 1/271-285.www.an-nashihah.com&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-1725175329550924780?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/1725175329550924780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/qunut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1725175329550924780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1725175329550924780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/qunut.html' title='Qunut'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-1652044457029441073</id><published>2009-03-11T19:19:00.001-07:00</published><updated>2009-03-11T19:19:59.271-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><title type='text'>LDII</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membongkar Kesesatan LDII : Apa itu Manqul (1)Ahad, 24-September-2006, Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc&lt;br /&gt;&lt;a title="printer-friendly page" href="http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=374" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="kirim artikel ini kepada seseorang" href="http://www.darussalaf.or.id/friend_send.php?id=374"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Antara Al Quran, al Hadits dan 'Manqul'Oleh: Qomar ZAJangan khawatir…Jangan takut…Baca dulu…Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk.Pengertian Manqul dalam Ajaran LDIIManqul H Nur Hasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut sanad, dan sanad itu harus mutashil (bersambung) sampai ke Rasulullah sehingga manqul musnad muttashil (disingkat M.M.M.) diartikan belajar atau mengaji Al Quran dan hadits dari Guru dan gurunya bersambung terus sampai ke Rasulullah.Atau mempunyai urutan guru yang sambung bersambung dari awal hingga akhir (demikian menurut kyai haji Kastaman, kiyai LDII dinukil dari bahaya LDII hal.253)Yakni: Waktu belajar harus tahu gerak lisan/badan guru, telinga langsung mendengar, dapat menirukan amalannya dengan tepat, terhalang dinding [Menurut mereka, berkaitan dengan terhalang dinding sekarang sudah terhapus. Demikian dikabarkan kepada kami melalui jalan yang kami percaya. Tapi sungguh aneh, aqidah yang sangat inti bahkan menjadi ciri khas kelompok ini bisa berubah-rubah. Demikiankah aqidah?! - pen] atau lewat buku tidak sah sedang murid tidak dibenarkan mengajarkan apa saja yang tidak manqul sekalipun ia menguasai ilmu tersebut, kecuali murid tersebut telah mendapatkan ijazah (ijin untuk mengajarkan-red) [Ijazah artinya pemberian ijin untuk meriwayatkan hadits misalnya saya katakan: 'Saya perbolehkan kamu untuk meriwayatkan hadits-hadits yang telah saya riwayatkan dari guru saya'- pen] dari guru, maka ia boleh mengajarkan seluruh isi buku yang telah diijazahkan kepadanya itu" [Drs Imron AM, selintas mengenai Islam Jama'ah dan ajarannya, Dwi Dinar, Bangil, 1993 hal. 24 dinukil dari Bahaya LDII hal. 258- pen]Keyakinan LDII tentang Manqul1. Mereka meyakini dalam mempelajari ajaran agama harus manqul musnad dan muttashil, bila tidak maka tidak sah ilmunya, ibadahnya ditolak dan masuk neraka.2. Nur Hasan mengaku bahwa dirinyalah satu-satunya jalur untuk menimba ilmu secara musnad muttashil di Indonesia bahkan di dunia., atas dasar itu ia mengharamkan untuk menimba ilmu dari jalur lain.3. Ia mendasari kayakinannnya itu dengan dalil-dalil, -yang sesungguhnya tidak tepat sebagai dalil-.Kajian atas Keyakinan dan Dalil-Dalil merekaKajian atas point pertama:a. Keyakinannya bahwa ilmu tidak sah kecuali bila diperoleh dengan musnad mutashil dan manqul, adalah keyakinan yang tidak berdasarkan dalil, adapun dalil-dalil yang dia pakai berkisar antara lemah dan tidak tepat sebagai dalil. Seperti yang akan anda lihat nanti Insya Allah.b. Bahwa ini bertentangan dengan dalil-dalil syar'i yang menunjukan bahwa sampainya ilmu tidak mesti dengan manqul, bahkan kapan ilmu itu sampai kepadanya dan ilmu itu benar, maka ilmu itu adalah sah dan harus ia amalkan seperti firman Allah: …وأوحي إلي هذا القرآن لأنذركم به ومن بلغ "Dan diwahyukan kepadaku Al Quran ini untuk aku peringatkan kalian dengannya dan siapa saja yang Al Quran sampai padanya" [Al An'am:19]Mujahid mengatakan: dimanapun Al Quran datang maka ia sebagai penyeru dan pemberi peringatan. Kata (ومن بلغ) Ibnu Abbas menafsirkannya: "Dan siapa saja yang Al Quran sampai kepadanya, maka Al Quran sebagai pemberi peringatan baginya."Demikian pula ditafsirkan oleh Muhammad bin Ka'b, As Suddy [Tafsir at Thabari:5/162-163], Muqatil [Tafsir al Qurthubi:6/399], juga kata Ibnu Katsir [2/130]. Sebagian mengatakan : "Berarti bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai pemberi peringatan bagi orang yang sampai kepadanya Al Quran." Asy Syinqithi mengatakan: "Ayat mulia ini menegaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pemberi peringatan bagi setiap orang yang Al Quran sampai kepadanya, siapapun dia. Dan dipahami dari ayat ini bahwa peringatan ini bersifat umum bagi semua yang sampai kepadanya Al Quran, juga bahwa setiap yang sampai padanya Al Quran dan tidak beriman dengannya maka ia di Neraka". [Tafsir Adhwa'ul Bayan:2/188 lihat pula tafsir-tafsir di atas-pen] Maka dari tafsir-tafsir para ulama di atas - jelas bahwa tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa sampainya ilmu harus dengan musnad muttashil atau bahkan manqul ala LDII.Bahkan siapa saja yang sampai padanya Al Quran dengan riwayat atau tidak, selama itu memang ayat Al Quran, maka ia harus beriman dengannya apabila tidak maka nerakalah tempatnya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:بلغوا عني ولو آية"Sampaikan dariku walaupun satu kalimat" [Shahih, HR Ahmad Bukhari dan Tirmidzi]. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengharuskan cara manqul ala LDII dalam penyampaian ajarannya.c. Keyakinan mereka bertentangan dengan perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau menyampaikan ilmu dengan surat kepada para raja. Seperti yang dikisahkan sahabat Anas bin Malik: عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى كِسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلَى النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلَّى عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat kepada Kisra, Qaishar, Najasyi dan kepada selurus penguasa, mengajak mereka kepada Allah. bukan an Najasyi yang Nabi menshalatinya" [Shahih, HR Muslim, Kitabul Jihad….no:4585 cet Darul Ma'rifah] (Surat Nabi kepada Heraqlius) [Shahih, HR Bukhari no:7 dan Muslim: 4583]. An Nawawi mengatakan ketika mensyarah hadits ini: "Hadits ini (menunjukkan) bolehnya beramal dengan (isi) surat." [Syarh Muslim:12/330] Surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kepada raja Bahrain, lalu kepada Kisra [Shahih, HR al Bukhari, Fathul Bari:1/154]dan banyak lagi surat beliau kepada raja atau tokoh-tokoh masyarakat, bisa anda lihat perinciannya dalam kitab Zadul Ma'ad:1/116120 karya Ibnul Qoyyim [Cet Ar Risalah ke 30 Thn. 1417/1997]Surat-menyurat Nabi ini tentu tidak sah menurut kaidah manqulnya Nur Hasan Ubaidah. Adapun Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menganggap itu sah, sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menerima Islam - mereka yang masuk Islam - karena surat itu tidak menganggap mereka kafir karena tidak manqul. Dan Nabi menganggap surat itu sebagai hujjah atas mereka yang tidak masuk Islam setelah datangnya surat itu, sehingga tiada alasan lagi jika tetap kafir, seandainya sistem surat-menyurat itu tidak sah, mengapa Nabi menganggapnya sebagai hujjah atas mereka??.Kemudian setelah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, cara inipun dipakai oleh para sahabatnya seperti surat Umar kepada Abu Musa al 'Asy 'ari yang terdapat didalamnya hukum-hukum yang berkaitan dengan Qadha' [Riwayat Ibnu Abi Syaibah, ad Daruqhutni al Baihaqi dan lain-lain `dishahihkan oleh al Albani dalam Irwaul Ghalil:8/241, Ahmad Syakir dan lain-lain -pen], lihat perinciannya dalam buku khusus membahas masalah ini berjudul رسالة عمر ابن الخطاب إلى أبي موسى الأشعري في القضاء و آدابه رواية ودراية karya Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul.], Aisyah menulis surat kepada Hisyam bin Urwah berisi tentang shalat [al Kifayah fi 'Ilmirriwayah:343], Mu'awiyahpun menulis kepada al Mughirah bin Syu'bah tentang dzikir setelah shalat [Shahih, HR Bukhari dan Muslim], Utsman bin Affan mengirim mushaf ke pelosok-pelosok [Riwayat al Bukhari secara Mu'allaq:1/153 dan secara Musnad:9/11], belum lagi para ulama setelah mereka. Namun semuanya ini dalam konsep manqulnya Nur Hasan Ubaidah tidak sah, berarti teori 'manqul anda' justru tidak manqul dari mereka, sebab ternyata menurut mereka semua sah. Dan pembaca akan lihat nanti - Insya Allah - komentar para ulama tentang ini.Surat-menyurat ini lalu diistilahkan dengan mukatabah, dan para ulama ahlul hadits menjadikannya sebagai salah satu tata cara tahammul wal ada' (mengambil dan menyampaikan hadits), bahkan mereka menganggap ini adalah cara yang musnad dan muttashil, walaupun tidak diiringi dengan ijazah. Ibnus Sholah mengatakan: "Itulah pendapat yang benar dan masyhur diatara ahlul hadits…dan itu diamalkan oleh mereka serta dianggap sebagai musnad dan maushul (bersambung) [Ulumul Hadits:84] . As Sakhowi juga mengatakan: "Cara itu benar menurut pendapat yang shahih dan masyhur menurut ahlul hadits …. dan mereka berijma' (sepakat) untuk mengamalkan kandungan haditsnya serta mereka menganggapnya musnad tanpa ada khilaf (perselisihan) yang diketahui." [Fathul Mughits:3/5]Al Khatib al Baghdadi menyebutkan: "Dan sungguh surat-surat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi agama yang harus dianut dan mengamalkan isinya wajib bagi umat manusia ini, demikian pula surat-surat Abu Bakar, Umar dan selain keduanya dari para Khulafar ar Rasyidin maka itu harus diamalkan isinya. Juga surat seorang hakim kepada hakim yang lainnya dijadikan sebagai dasar hukum dan diamalkan.' [al Kifayah :345] . Jadi, ini adalah cara yang benar dan harus diamalkan, selama kita tahu kebenaran tulisan tersebut maka sudah cukup. [lihat, al Baitsul hatsits:123 dan Fathul mughits:3/11]Imam al Bukhari pun mensahkan cara ini, dimana beliau membuat sebuah bab dalam kitab Shahihnya berjudul : "Bab (riwayat-riwayat) yang tersebut dalam hal munawalah dan surat/tulisan ulama yang berisi ilmu ke berbagai negeri." [Fathul Bari:1/153]Kalaulah 'manqul kalian' dimanqul dari para ulama penulis Kutubus Sittah, mengapa Imam Bukhari menyelisihi kalian?? Apa kalian cukupkan dengan kitab-kitab 'himpunan', sehingga tidak membaca Shahih Bukhari walaupun ada di bab-bab awal, sehingga hal ini terlewatkan oleh kalian?? Demikian pula Imam Nasa'i menyelisihi kalian, karena beliau ketika meriwayatkan dari gurunya yang bernama Al Harits Ibnu Miskin beliau hanya duduk di balik pintu, karena tidak boleh mengikuti kajian haditsnya Sebabnya, karena waktu itu imam Nasa'i pakai pakaian yang membuat curiga al Harits ibnu Miskin dan ketika itu al Harits takut pada urusan-urusan yang berkaitan dengan penguasa sehingga beliau khawatir imam Nasa'i sebagai mata-mata maka beliau melarangnya [Siyar A'lam an Nubala:14/130], sehingga hanya mendengar di luar majlis. Oleh karenanya ketika beliau meriwayatkan dari guru tersebut beliau katakan: حدثنا الحارث بن مسكين قراءة عليه وأنا أسمع"Al Harits Ibnu Miskin memberitakan kepada kami, dengan cara dibacakan kepada beliau dan saya mendengarnya" dan anehnya riwayat semacam ini ada pada kitab himpunan kalian Kitabush Sholah hal. 4, "Apa kalian tidak menyadari apa maksudnya??"d. Istilah 'manqul' sebagai salah satu bidang ilmu ini adalah istilah yang benarbenar baru dan adanya di Indonesia pada Jama'ah LDII. Ini menunjukan bahwa ini bukan berasal dari para ulama. Adapun manqul sendiri adalah bahasa Arab yang berarti dinukil atau dipindah, dan ini sebagaimana bahasa Arab yang lain dipakai dalam pembicaraan. Namun hal itu hanya sebatas pada ungkapan bahasa -bukan sebagai istilah atau ilmu tersendiri yang memiliki pengertian khusus - apalagi konsekwensi khusus dan amat berbahaya.e. Adapun musnad dan mutashil, memang ada dalam ilmu Musthalah dan masing masing punya definisi tersendiri. Musnad salah satu artinya dalam ilmu mushtolahul hadits adalah 'Setiap hadits yang sampai kepada Nabi dan sanadnya bersambung/mutashil' [Min atyabil manhi fi 'ilmil Musthalah:8]. Akan tetapi perlu diketahui bahwa persyaratan musnad ini adalah persyaratan dalam periwayatan hadits dari Nabi, bukan persyaratan mengamalkan ilmu. Harus dibedakan antara keduanya, tidak bisa disamakan antara riwayat dan pengamalan.Sebagaimana akan anda lihat nanti - Insya Allah - dalam pembahasan al wijadah, bahwa al wijadah itu secara riwayat terputus Namun secara amalan harus diamalkan. Orang yang tidak membedakan antara keduanya dan mewajibkan musnad mutashil dalam mengamalkan ilmu maka telah menyelisihi ulama ahlul hadits.f. Musnad muttashilpun bukan satu-satunya syarat dalam riwayat hadits. Karena hadits yang shahih itu harus terpenuhi padanya 5 syarat yakni pertama, diriwayatkan oleh seorang yang adil [adil dalam pengertian ilmu mushtalah adalah seorang muslim, baligh, berakal selamat dari kefasikan dan hal-hal yang mencacat kehormatannya (muru'ah) [Min Atyabil Manhi fi Ilmil Musthalah:13]-pen, kedua yakni yang sempurna hafalannya atau penjagaannya terhadap haditsnya, ketiga, sanadnya bersambung, keempat, tidak syadz [Syadz artinya, seorang rawi yang bisa diterima menyelisi yang lebih utama dari dirinya [nuzhatun nadzor] yakni dalam meriwayatkan hadits bertentangan dengan rawi yang lebih kuat darinya atau lebih banyak jumlahnya. Sedang mu'allal artinya memiliki cacat atau penyakit yang tersembunyi sehingga tampaknya tidak berpenyakit padahal penyakitnya itu membuat hadits itu lemah. -pen] dan kelima tidak mu'allal.Kalaupun benar –padahal salah- apa yang dikatakan oleh Nurhasan bahwa ilmu harus musnad muttashil, mana syarat-syarat yang lain ? Kenapa hanya satu yang diambil ? Jangan-jangan dia sengaja disembunyikan karena memang tidak terpenuhi padanya !Atau kalau kita berhusnudhon, ya mungkin tidak tahu syarat-syarat itu, atau lupa, apa ada kemungkinan lainnya lagi?? Dan semua kemungkinan itu pahit. Jadi tidak cukup sekedar musnad muttashil bahkan semua syaratnya harus terpenuhi dan tampaknya keempat syarat yang lain memang tidak terpenuhi sama sekali. Hal itu bisa dibuktikan apabila kita melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ajaran LDII, misalnya dalam hal imamah, bai'at, makmum sholat, zakat, dan lain-lain. Ini kalau kita anggap syarat Musnad Muttashil terpenuhi pada mereka, sebenarnya itu juga perlu dikaji.g. Amal LDII dengan prinsip ini menyelisihi amal muslimin sejak Zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sampai saat ini.h. Kenyataannya mereka hanya mementingkan MMM, tidak mementingkan keshahihan hadits, buktinya dalam buku himpunan mereka ada hadits-hadits dha'if, bahkan maudhu' (palsu). Lantas apalah artinya MMM kalau haditsnya tidak shahih karena rawinya tidak tsiqoh misalnya? [Contoh pada pembahasan terakhir -pen]i. Dari siapa 'manqul' ini dimanqul? Kalau memang harus manqul bukankah 'metode manqul' itu juga harus manqul?? Karena ini justru paling inti, Nur Hasan atau para pengikutnya harus mampu membuktikan secara ilmiyah bahwa manqul ini 'dimanqul' dari Nabi, para sahabatnya dan para ulama ahli hadits. Kalau ia tidak bisa membuktikannya, berarti ia sendiri yang pertama kali melanggar kaidah manqulnya. Kalau ia mau buktikan, maka mustahil bisa dibuktikan, karena seperti yang kita lihat dan akan kita lihat - Insya Allah - ternyata manqul ini menyelisihi Nabi, para sahabat, dan ulama ahlul hadits.j. Dalam ilmu Mushtholah al Hadits pada bab tahammul wal ada' (menerima dan menyampaikan hadits) terdapat cara periwayatan yang diistilahkan dengan al Wijadah. Yaitu seseorang mendapatkan sebuah hadits atau kitab dengan tulisan seseorang dengan sanadnya [al Baitsul Hatsits:125]. Dari sisi periwayatan, al wijadah termasuk munqothi' [Munqothi: terputus sanadnya. Mursal: terputus dengan hilangnya rawi setelah tabi'in. Mu'allaq: terputus dengan hilangnya rawi dari bawah sanad - pen], mursal [Ulumul hadits:86, Fathul Mughits:3/22] atau mu'allaq, Ibnu ash Sholah mengatakan: "Ini termasuk munqothi' dan mursal…", ar Rasyid al 'Atthor mengatakan: "Al wijadah masuk dalam bab al maqthu' menurut ulama (ahli) periwayatan".[Fathul Mughits:3/22]Bahkan Ibnu Katsir menganggap ini bukan termasuk periwayatan, katanya: "Al Wijadah bukan termasuk bab periwayatan, itu hanyalah menceritakan apa yang ia dapatkan dalam sebuah kitab." [al Baitsul Hatsits:125]Jadi al wijadah ini kalau menurut kaidah M.M.M-nya Nur Hasan tentu tidak terpenuhi kategorinya, sehingga tentu tidak boleh bahkan haram mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan cara al wijadah. Tetapi maksud saya disini ingin menerangkan pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu yang didapat dengan al wijadah, ternyata disana ada beberapa pendapat:a. Sebagian orang terutama dari kalangan Malikiyah (pengikut madzhab Maliki) melarangnya.b. Boleh mengamalkannya, ini pendapat asy Syafi'i dan para pemuka madzhab Syafi'iyyah.c. Wajib mengamalkannya ketika dapat rasa percaya pada yang ia temukan. Ini pendapat yang dipastikan ahli tahqiq dari madzhab as Syafi'iyyah dalam Ushul Fiqh. [lihat Ulumul Hadits karya Ibnu Sholah:87]Ibnush Sholah mengatakan tentang pendapat yang ketiga ini: "Inilah yang mesti dilakukan di masa-masa akhir ini, karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadits yang dinukil (dari Nabi) karena tidak mungkin terpenuhinya syarat periwayatan padanya." [Ulumul Hadits:87] Yang beliau maksud adalah hanya al wijadah yang ada sekarang. [al Baitsul Hatsits: 126]An Nawawi mengatakan: 'Itulah yang benar' [Tadriburrawi:1/491], demikian pula As Sakhowi juga menguatkan pendapat yang mewajibkan. [Fathul Mughits:3/27]Ahmad Syakir mengatakan: yang benar wajib (mengamalkan yang shahih yang diriyatkan dengan al wijadah). [al Baitsul Hatsits: 126]Tentu setelah itu disyaratkan bahwa penulis kitab yang ditemukan (diwijadahi) adalah orang yang terpercaya dan amanah dan sanad haditsnya shahih sehingga wajib mengamalkannya. [al Baitsul Hatsits:127] Ali Hasan mengatakan: Itulah yang benar dan tidak bisa terelakkan, seandainya tidak demikian maka ilmu akan terhenti dan akan kesulitan mendapatkan kitab, akan tetapi harus ada patokan-patokan ilmiyah yang detail yang diterangkan para ulama' dalam hal itu sehingga urusan tetap teratur pada jalannya [Al Baitsul Hatsits:1/368 dengan tahqiqnya]. Dengan demikian pendapat yang pertama tidak tepat lebih-lebih di masa ini. Diantara yang mendukung kebenaran pendapat yang membolehkan atau mewajibkan adalah berikut ini Nabi bersabda:-أي الخلق أعجب إليكم إيمانا ؟قالوا : الملائكة.قال: وكيف لايؤمنون وهم عند ربهم وذكروا الأنبياء،فقال: وكيف لا يؤمنون والوحي ينزل عليهم ؟!قالوا : ونحن فقال: وكيف لاتؤمنون وأنا بين أظهركم. قالوا فمن يا رسول الله؟ قال قوم يأتون من بعدكم يجدون صحفا يؤمونو بما فيها artinya: "Makhluk mana yang menurut kalian paling ajaib imannya?" Mereka mengatakan: "Para malaikat." Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang mereka di sisi Rabb mereka?". Merekapun (para sahabat) menyebut para Nabi, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallampun menjawab: "Bagaimana mereka tidak beriman sedang wahyu turun kepada mereka". Mereka mengatakan: "Kalau begitu kami?" Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Bagaimana kalian tidak beriman sedang aku ditengah-tengah kalian." Mereka mengatakan : "Maka siapa Wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang-orang yang datang setelah kalian, mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya." [HR Ahmad, Abu Bakar Ibnu Marduyah, ad Darimi, al Hakim dan Ibu 'Arafah, Ali Hasan mengatakan: Cukuplah Hadits itu dalam pandangan saya sebagai Hadits Hasan lighoirihi (bagus dengan jalan-jalan yang lain), semua jalannya lemah namun lemahnya tidak terlalu sehingga dihasankan dengan seluruh jalan-jalannya. Dan al Haitsami dalam al Majma:10/65 serta al Hafidz dalam al Fath:6/7 cenderung kepada hasannya hadits itu. [al Baitsul Hatsits:1/369 dengan tahqiqnya], maraji': Ad Dho'ifah:647-649, syekh al Albani cenderung kepada lemahnya, Fathul Mughits:3/28 ta'liqnya, Al Mustadrak:4/181, musnad Ahmad:4/106, Sunan ad Darimi:2/108, Ithaful Maharoh:14/63. Tafsir Ibnu Katsir:1/44 Al Baqarah:4- pen]- Amalan Ibnu Umar, dimana beliau meriwayatkan dari ayahnya dengan al wijadah, al Khatib al Baghdadi dalam bukunya [al kifayah:354] meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Nafi, dari Ibnu Umar, أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب صحيفة فيها ليس فيما دون خمس من ا لابل صدقة فإذا كانت خمسا ففيها شاة'Bahwa beliau mendapatkan pada gagang pedang umar sebuah lembaran (tertulis) 'Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari lima, kalau jumlahnya 5 maka zakatnya satu kambing jantan…'- Abdul Malik bin Habib atau Abu Imran al Jauni beliau adalah seorang Tabi'in yang Tsiqoh (terpercaya) seperti kata al Hafidz Ibnu Hajar dalam [at Taqrib:621], beliau mengatakan: "Kami dulu mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kamipun silih berganti mendatanginya, bagaikan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih." [Al Kifayah:355 dan Fathul Mughits:3/27]Bila seperti ini keadaannya maka seberapa besar faidah sebuah sanad hadits yang sampai ke para penulis Kutubus Sittah di masa ini, toh tanpa sanad inipun kita bisa langsung mendapatkan buku mereka. Dan kita dapat mengambil langsung hadits-hadits itu darinya, walaupun tanpa melalui sanad 'muttashil musnad manqul' kepada mereka. Dan wajib kita mengamalkannya seperti anda lihat keterangan di atas.Tidak seperti yang dikatakan Nur Hasan bersama LDIInya bahwa tidak boleh mengamalkanya bahkan itu haram!! Subhanallah, pembaca melihat ternyata dalil dan para ulama menyelisihi mereka, jadi dari mana 'manqulmu' dimanqul?? Ahmad Syakir mengatakan: "Dan kitab-kitab pokok kitab-kitab induk dalam sunnah Nabi dan selainnya, telah mutawatir periwayatannya sampai kepada para penulisnya dengan cara al wijadah.Demikian pula berbagai macam buku pokok yang lama yang masih berupa manuskrip yang dapat dipercaya, tidak meragukannya kecuali orang yang lalai dari ketelitian makna pada bidang riwayat dan al wijadah atau orang yang membangkang, yang tidak puas dengan hujjah.[Al Baitsul Hatsits:128].Oleh karenanya para ulama yang memiliki sanad sampai penulis Kutubus Sittah, tidak membanggakan sanad mereka apabila amalannya tidak sesuai dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan mereka tidak pernah pamer, tidak pula mereka memperalatnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok, karena mereka tahu hakekat kedudukan sanad pada masa ini., berbeda dengan yang tidak tahu sehingga memamerkan, memperalat dan…dan…k. Juga, untuk membuktikan benar atau salahnya ajaran manqul. Kita perlu membandingkan ajaran LDII dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Seandainya manqulnya benar maka tentu ajaran LDII akan sama dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya, kalau ternyata tidak sama maka pastikan bahwa manqul dan ajaran LDII itu salah, dan ternyata itulah yang terbukti.Berikut ini pokok-pokok ajaran LDII yang berbeda dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya:- Dalam hal memahami bai'at dan mengkafirkan yang tidak bai'at.- Dalam hal mengkafirkan seorang muslim yang tidak masuk LDII- Dalam hal manqul itu sendiri- Dalam aturan infaq- Menganggap najis selain mereka dari muslimin- Menganggap tidak sah sholat dibelakang selain mereka- Begitu gampang memvonis seseorang di Neraka padahal dia muslim- Menganggap tidak sahnya penguasa muslim jika selain golongannya- Dan lain-lain[perincian masalah-masalah ini sebagiannya telah kami jelaskan dalam makalah yang lain, dan yang belum akan menyusul insyaallah, tunggulah saatnya!! -pen]l. Sanad Nur hasan Ubaidah [Seputar sanad Nur Hasan atau Ijazah haditsnya ini banyak cerita unik di kalangan LDII, konon hadits-haditsnya hilang waktu naik becak, yang disampaikan kepada pengikutnya hanya 6.-pen], dalam kitab himpunan susunan LDII pada Kitabush Sholah hal. 124-125 yang sampai kepada Imam at Tirmidzi pada hadits Asma' wa Shifat Allah, ternyata hadits itu adalah hadits lemah, Ibnu Hajar mengatakan: "'Illah (cacat) hadits itu menurut dua syaikh (al Bukhari dan Muslim). Bukan hanya kesendirian al Walid ibnu Muslim (dalam meriwayatkannya), bahkan juga adanya ikhtilaf (perbedaan periwayatan para rawinya), idlthirab (kegoncangan akibat perbedaan itu), tadlis (sifat tadlis pada al Walid ibnu Muslim yaitu mengkaburkan hadits) dan kemungkinan adanya idraj (dimasukkannya ucapan selain Nabi pada matan hadits itu [Fathul Bari, syarah al Bukhari:11/215].). Jadi cacat/'illah/kelemahan hadits itu ada 5 sekaligus, yaitu tafarrud, ikhtilaf, idlthirab, tadlis dan idraj." Imam At Tirmidzipun merasakan kejanggalan pada hadits ini, dimana beliau setelah menyebutkan hadits ini mengatakan: 'Gharib' (aneh karena adanya tafarrud/kesendirian dalam riwayat) [Sunan at Tirmidzi:5/497, no:3507], demikian pula banyak para ulama menganggap lemah hadits ini seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, al Bushiri, Ibnu Hazm, al Albani dan Ibnu Utsaimin. [lihat al Qowa'idul Mutsla:18 dengan catatan kaki Asyraf Abdul Maqshud]. Hadits yang shahih dalam masalah ini adalah tanpa perincian penyebutan Asma'ul Husna dan itu diriwayatkan al Bukhari dan MuslimKajian keyakinan kedua, bahwa dialah satu-satunya jalan manqul…Apa ini bukan kesombongan, kebodohan serta penipuan terhadap umat?!. Karena sampai saat ini sanad-sanad hadits itu masih tersebar luas di kalangan tuhllabul ilmi, mereka yang belajar hadits di Jazirah Arab, Saudi Arabia dan negara-negara tetangganya, di Pakistan, India atau Afrika, baik yang belajar orang Indonesia atau selain orang Indonesia, mereka banyak mendapatkan Ijazah [Bukan ijazah tamat sekolah, tapi ini istilah khusus dalam ilmu riwayat hadits. Yaitu ijin dari syekh untuk meriwayatkan hadits - pen] riwayat Kutubus Sittah dan yang lain termasuk diantaranya adalah penulis makalah ini. Kalau dia konsekwen dengan ilmu manqulnya, lantas mengapa dia anggap dirinya satu-satunya jalan manqul?? Sehingga kalian - wahai pengikut LDII - mengkafirkan yang tidak menuntut ilmu dari kalian, termasuk mereka yang mengambil ilmu dari negara-negara Arab dari ulama/syaikh-syaikh yang punya sanad, padahal mereka mendapat sanad, ternyata kalian kafirkan juga?!Asy Syaikh al Albani dan murid-muridnya di Yordania, asy Syaikh Abdullah al Qar'awi dan murid-muridnya, asy Syaikh Hammad al Anshari dan murid-muridnya di Saudi Arabia, asy syaikh Muqbil di Yaman, asy Syaikh Muhammad Dhiya'urrahman al 'Adhami dari India dan murid-muridnya, dan masih banyak lagi yang lain tak bisa dihitung. Merekapun punya sanad Kutubus Sittah dan selainnya sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, tapi mereka tidak seperti kalian, wahai Nur Hasan dan pengikutnya. Mereka tahu apa arti sebuah sanad di masa ini, dan perlu diketahui bahwa semua mereka aqidahnya berbeda dengan aqidah kalian, wahai penganut LDII. Mana yang benar, wahai orang yang berakal??(Bersambung ke Membongkar kesesatan LDII : Bantahan Manqul (2)(Dikutip dari tulisan al Ustadz Qomar Zainuddin, Lc, pimpinan Pondok Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung serta Pimred Majalah Asy Syariah. Judul asli Antara Al Qur'an, Al Hadits dan 'Manqul'.)http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=974&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-1652044457029441073?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/1652044457029441073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/ldii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1652044457029441073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1652044457029441073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/ldii.html' title='LDII'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-2895423890009649379</id><published>2009-03-06T01:02:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T01:04:13.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>sejarah aceh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; by sudirman&lt;br /&gt;A. Awal Mula Sejarah&lt;br /&gt;Banda Aceh adalah ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, terletak di ujung pulau Sumatera. Sebagian besar Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dikelilingi  laut, yaitu sebelah utara, barat, barat daya dan timur. Hanya pada bagian tenggara berbatasan dengan daratan, yaitu Provinsi Sumatera Utara. Dilihat dari letak geografis Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sangat strategis, karena ia merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia.&lt;br /&gt;Semenjak zaman neolitikum, selat Malaka merupakan terusan penting dalam gerak migrasi bangsa-bangsa di Asia, dalam gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalan niaga dunia serta jalan penghubung utama dua kebudayaan besar, Cina dan India. Muncul dan berkembangnya negara-negara sekitar selat Malaka tidak dapat dipisahkan dari letak geografis yang sangat strategis itu. Muncul Banda Aceh sebagai pusat politik dan pemerintahan di antaranya karena faktor letak tersebut.&lt;br /&gt;Aceh sudah dikenal semenjak permulaan terbentuknya jaringan-jaringan lalu lintas internasional (+ abad I Masehi).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Berita tertua dari Dinasti Han (abad I-VI Masehi), menyebutkan negeri yang bernama Huang-Tsche. Menurut isi catatn Cina tersebut penduduk negeri itu sama dengan penduduk Hainan, hidup dari berdagang dan perampokan. Kaisar Wang Mang dari Dinasti Han meminta kepada penguasa negeri ini untuk mengirimkan seekor badak. Tempat ini identik dengan Aceh berdasarkan letaknya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang Poli dijumpai dalam catatan Cina. Berita pertama terdapat dalam catatan Dinasti Leang (502-556 M) kemudian dari Dinasti Sui (581-617 M) dan berita terakhir dari catatan Dinasti Tang (618-908 M).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;  Mengenai letak tersebut memang belum ada kata sepakat, De Casparis, mengatakan bahwa Poli tidak kurang pentingnya dan menggemparkan, Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Dalam-Puri yang disebut Lamuri oleh orang-orang Arab dan Lambiri oleh Marco Polo, apabila penetapan ini benar maka kita mempunyai satu pegangan yang penting.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana Poli itu identik dengan Lamuri seperti yang dikemukakan oleh De Casparis, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dalam naskah-naskah Aceh disebutkan bahwa Kerajaan Lamuri  yang dieja dengan l.m.r.i. antara m dan r tidak terdapat tanda vokal, sehingga jika dituruti cara mengeja dalam naskah, maka tidak akan mungkin sama sekali bahwa nama itu akan dibaca Lamuri atau Lamiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Dalam buku Sejarah Melayu disebut dengan Lamiri (L.m.y.r.y).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berita tertua mengenai Lamiri berasal dari Ibnu Khordadhbeh (844-848), Sulaiman (955), Mas’udi (943) dan Buzurg bin Shahriar (955) semuanya penulis Arab. Mereka telah menyebut negeri ini dengan nama Ramni dan Lamuri, sebuah daerah yang menghasilkan kapur barus dan hasil bumi penting lainnya. Mas’udi menyebutkan pula bahwa Ramni takluk di bawah Mahara Sriwijaya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berita Cina yang paling tua berasal dari tahun 960 M, di dalamnya sudah disebutkan dengan nama Lanli, sebuah tempat yang dapat disinggahi oleh utusan-utusan Parsi yang kembali dari Cina sesudah berlayar 40 hari lamanya. Di sana mereka menunggu musim teduh untuk seterusnya berlayar lagi ke negeri asal mereka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seterusnya Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit dalam tahun 1225 M menyebutkan bahwa di antara jajahan-jajahan San-fo-ts’i (Sriwijaya) termasuk juga Lan-wu-li yang kemungkinan besar adalah Lamri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Raja Lan-wu-li disebutkan belum beragama Islam, memeliki dua buah ruang penerimaan tamu di istananya. Apabila bepergian diusung atau mengenderai seekor gajah. Apabila  dari negeri ini seorang bertolak di musim timur laut, maka ia akan tiba di Ceylon di dalam waktu 20 hari. Pada tahun 1286, Lan-wu-li bersama-sama Su-wen-ta-la mengirim utusan ke negeri Cina dan berdiam di sana sambil menunggu kembalinya ekspedisi Kubilai Khan dari Jawa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika Marco Polo pada tahun 1292 M tiba di Jawa Minor (Sumatera) ia mendapatkan delapan buah kerajaan, di antaranya Lamri. Kerajaan ini katanya tunduk kepada Kaisar Cina dan mereka diwajibkan membayar upeti.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Pada tahun 1310 M, seorang penulis Parsi bernama Rashiduddin menyebut untuk pertama kalinya, bahwa tempat-tempat penting “ di pulau Lumari yang besar itu” selain Peureulak dan Jawa  adalah Aru dan Tamiang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah dijelaskan di atas, semenjak tahun 1286 Lamri telah mengirim utusan-utusannya ke Cina. Dalam buku  Dinasti Ming dijelaskan pada tahun 1405 M telah dikirim ke Lam-bu-li sebuah cap dan surat dan pada tahun 1411M negeri ini mengirimkan utusan ke Cina untuk membawa upeti. Perutusan tiba  bersamaan dengan kunjungan perutusan Klantan dan Cail, kemudian kembali bersama-sama ekspedisi Cheng Ho.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Tahun 1412M raja Maha-Ma-Shah (Muhammad Syah) dari Lam-bu-li bersama-sama Samudera mengutus sebuah delegasi ke Cina untuk membawa upeti. Di antara utusan-utusan Lam-bu-li ke Cina yang secara teratur dikirim setiap tahun terdapat nama Sha-che-han putera Mu-ha-ma-sha.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Sewaktu Cheng Ho pada tahun 1430 membawa hadiah-hadiah ke seluruh negeri, Lamri pun memperoleh bahagian pula. Ada kemungkinan bahwa pengiriman hadiah-hadiah bukan untuk pertama kalinya, karena lonceng bernama Cakra Donya yang dahulunya tergantung di istana sultan Aceh dan sekarang disimpan di Museum Aceh dengan tulisan Cina dan Arab padanya dibubuhi angka tahun 1409M.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Namun, menurut perkiraan Tichelman bahwa lonceng Cakra Donya itu dibawa dari Pase ke Aceh sesudah kerajaan itu dapat disatukan oleh Ali Mughayat Syah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan yang tercantum dalam buku Ying-Yai-Sheng-lan oleh Ma-Huan disebutkan bahwa Lamri terletak tiga hari berlayar dari Samudera pada waktu angin baik. Negeri itu bersebelahan  pada sisi timur Litai, bahagian utara dan barat berbatas dengan laut Lamri (laut Hindia) dan ke selatan berbatas dengan pegunungan. Berdasarkan berita Cina itu, Groenevelt mengambil kesimpulan bahwa letak Lamri di Sumatera bahagian utara, tepatnya di Aceh Besar. Berita dari Cina itu juga mengatakan bahwa Lamri terletak di tepi laut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di antara penelitian yang menyebutkan bahwa Lamri sebuah kerajaan yang terletak di Aceh Besar adalah M. J. C. Lucardie dalam karangannya “Mevelies de Lindie”, penerbitan van der Lith 1836M menyebutkan bahwa Lamreh yang terletak dekat Tungkop besar kemungkinan adalah peninggalan dari kerajaan Lamri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt; Tome Pires dalam karangannya mengenai pulau Sumatera menyebutkan bahwa di pantai utara daerah Aceh terdapat 6 reinos dan 2 terras, yaitu reino de Achey e Lambry, terra de Biar, reinos de Pedir, terra de Aeilabu, reino de Lide, reino de Pirada, reino de Pasee.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; Nama-nama tersebut dengan mudah dapat dikenal karena masih dipakai sampai sekarang, yaitu Aceh, Lamri, Biheue, Pidie, Ie Leubeue, Peudada, dan Pasee.&lt;br /&gt;Dalam naskah Hikayat Aceh disebutkan teluk Lamri dan dalam buku Ying-Yai-Sheng-Lan 1416M disebut laut Lamri terletak di tepi pantai atau teluk. T. Iskandar mengatakan bahwa Lamri terletak dekat Krueng Raya sekarang yang teluknya sekarang dinamakan dengan nama yang sama. Desa Lamreh pun terletak tidak begitu jauh dari Krueng Raya. Sekitar 500 meter dari Krueng Raya terdapat sebuah reruntuhan bangunan dan sekitar 6 km dari tempat tersebut terdapat pula bangunan yang sampai sekarang dikenal dengan nama Benteng Indrapatra.&lt;br /&gt;Pada akhir abad XV pusat kerajaan Lamri dipindahkan ke Makota Alam (Kuta Alam) yang terletak pada sisi utara Krueng Aceh di lembah Aceh. Pemindahan itu disebabkan karena adanya serangan dari Pidie dan pedangkalan muara sungai yang mengalir melalui pusat kerajaan Lamri sehingga tidak begitu baik lagi untuk kepentingan pelayaran. Semenjak itu, Lamri lebih dikenal dengan nama kerajaan Makota Alam.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Bustanussalatin yang ditulis oleh Nuruddin Arraniry, dalam urutan Raja-raja Aceh yang tercantum dalam buku tersebut dimulai dari Sultan Ali Mughayat Syah. Oleh karena itu, sebagaian  ahli berpendapat bahwa kerajaan Aceh dimulai semenjak raja tersebut memerintah sekitar pada tahun 1516 M.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Namun banyak juga yang berpendapat bahwa nama Aceh sudah tua sekali, walaupun tidak setua Lamri tetapi setidaknya kerajaan Aceh telah tumbuh dan berkembang bersamaan. Raja-raja yang pertama di Aceh berkedudukan di Kandang Aceh. Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa Sultan Mahmud Syah telah meindahkan istananya ke Daruddunia sesudah memerintah di Kandang Aceh selama 43 tahun. Aceh belum dikenal sebelum tahun 1500M oleh orang-orang asing karena terletak lebih 1 mil ke pedalaman sehingga tidak banyak disinggahi oleh orang-orang asing yang melakukan perjalanan atau pelayaran antara India dan Cina. Hoesein Djajadiningrat mengatakan bahwa Sultan Johan Syah yang memerintah pada tahun 1205 M dan berkedudukan di Kandang Aceh.&lt;br /&gt;Sudah dijelaskan di atas, Lamri sesudah pusat kerajaannya dipindahkan, lebih dikenal dengan nama Makota Alam, sedangkan Aceh sesudah pusat kerajaannya dipindah ke Daruddunia, dipindah lagi ke Darul Kamal. Semenjak itu kerajaan Aceh dikenal dengan  nama kerajaan Darul Kamal atau Aceh Darul Kamal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Dengan demikian, pada penghujung abad XV di lembah Aceh terdapat 2 buah kerajaan yaitu Makota Alam dan Kerajaan Darul Kamal yang daerahnya dipisahkan oleh Krueng Aceh. Kedua belah pihak tidak pernah hidup rukun. Peperangan sering terjadi tetapi tidak satu pun di antaranya mengalahkan lawannya walaupun kerajaan Makota Alam memperkuat persenjataannya dengan mendatangkan meriam dari luar negeri melalui teluk Lamri. Pertentangan kedua kerajaan itu berakhir setelah Makota Alam yang pada waktu itu diperintah oleh Sultan Syamsu Syah putra Munawar Syah melakukan suatu siasat. Dalam Hikayat Aceh diceritakan bahwa Syamsu Syah berpura-pura mengakhiri permusuhan yang berlarut-larut dengan cara menjodohkan puteranya Ali Mughayat Syah dengan puteri kerajaan Darul Kamal. Perminangan itu diterima oleh Sultan Muzaffar Syah putera Inayat Syah yang pada waktu itu memerintah di Darul Kamal. Dalam arakan-arakan mengantarkan mas kawin ke Darul Kamal, dalam arak-arakan itu disembunyikan senjata-senjata, alat perang. Sesampainya di Darul Kamal pasukan Makota Alam mengadakan serangan tiba-tiba terhadap Darul Kamal. Banyak pembesar-pembesar Darul Kamal dan Sultan Muzaffar Syah sendiri terbunuh. Semenjak itu,  Sultan Syamsu Syah dari Makota Alam memerintah kedua kerajaan itu.&lt;br /&gt;Putera Inayat Syah yang bernama Alauddin Riayat Syah pada waktu peristiwa itu berada di daerah Daya, tidak kembali lagi ke Darul Kamal dan mendirikan kerajaan Daya. Pada tahun 1516 M Ali Mughayat Syah dinobatkan menjadi raja, menggantikan ayahnya Sultan Syamsu Syah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; Pusat kerajaan dipindahkan lagi ke Daruddunia (Banda Aceh) dan semenjak itu kedua kerajaan yang sudah dipersatukan itu diberinama Kerajaan Aceh Darussalam dengan pusat kerajaannya disebut juga dengan nama Bandar Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;Perkembangan kerajaan Aceh sesudah Ali Mughayat Syah naik tahta, terutama semenjak tahun 1520 M telah menentukan nasib kerajan-kerajaan kecil lainnya pada waktu itu. Perlak, Samudera Pasai, Pidie dan lain-lain disatukan dalam wilayah kerajaan Aceh Darussalam. Hal itu dilakukan untuk menyatukan kegiatan perdagangan dengan memusatkan di pelabuhan Bandar Aceh karena sebelumnya, kegiatan perdagangan berada di pelabuhan-pelabuhan sekitarnya. Selain itu, untuk menyatukan kekuatan dalam rangka menghadapi ancaman musuh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Perluasan kerajaan Aceh Darussalam adalah sebagai jawaban atas pendudukan Portugis atas Malaka pada tahun 1511 M. Usaha itu mendapat dukungan pedagang-pedagang Islam yang melarikan diri dari Malaka. Hal itu  menyebabkan timbulnya konfrontasi terus-menerus antara kerajaan Aceh dengan Portugis dalam waktu yang lama sekitar 125 tahun. Pertentangan itu pada hakekatnya tentu bersumber pada pertentangan agama dan bermuara dalam persaingan politik dan ekonomi. Kerajaan Aceh Darussalam tersebut berakhir pada tahun 1903, ketika Sultan Muhammad Daud Syah ditangkap oleh Belanda dan diasingkan.&lt;br /&gt;Kerajaan Aceh berusaha menjalin kerjasama dengan kerajaan Islam seperti Turki dan lain-lain. Pinto, seorang Portugis mencatat bahwa Aceh telah mendapat sumbangan dari Turki sebanyak 300 orang ahli dan sejumlah besar alat-alat senjata yang diangkut oleh kapal-kapal Aceh sendiri. Di samping itu, pada sekitar tahun 1538 M seorang Admiral Angkatan Laut Turki yaitu  Laksamana Sidi Ali Celebi berada di India untuk mengawasi operasi dari kesatuan gabungan Angkatan Laut Negara-negara Islam dalam usaha membantu kerajaan Aceh melawan Portugis di Malaka dan di perairan Selat Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjelang berakhirnya abad ke-16, fajar kegemilangan kerajaan Aceh mulai bersinar. Pada tahun 1607 M, Iskandar Muda diangkat menjadi Sultan Aceh. Perhubungan dengan berbagai negara berkembang dengan baik di antaranya termasuk pula dengan negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Perancis dan lain-lain. Dengan Belanda diadakan hubungan yang bersejarah dan berlangsung  selama kedua belah pihak saling menghormati dan saling menguntungkan. Duta besar pertama bangsa asing yang berkunjung ke negeri Belanda adalah duta besar kerajaan Aceh yang bernama Abdul Hamid, Laksamana Sri Muhammad dan seorang bangsawan bernama Mir Hasan. Mereka meninggalkan Aceh pada 29 Juli 1601 dan tiba di negeri Belanda pada 6 Juli 1602. Abdul Hamid yang sudah berusia 70 tahun meninggal dunia di Zeeland dan dimakamkan di sana.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Iskandar Muda berhasil membawa kerajaan Aceh ke zaman keemasan dan kegemilangan. Luas kerajaan Aceh sudah meliputi sebagian besar Sumatera Utara, Tengah dan sebagian Malaysia. Pemerintahan teratur rapi, sistem perdagangan dan perhubungan luar negeri cukup teratur. Demokrasi dalam pemerintahan dan pembagian kekuasaan antara berbagai lembaga pemerintahan yang disesuaikan dengan kekuatan sosial dalam masyarakat menyebabkan Iskandar Muda dapat memerintah dengan aman. Keadaan ini berlainan dengan sultan-sultan Aceh sebelumnya. Iskandar Muda adalah contoh seorang raja yang taat kepada hukum yang berlaku dalam negerinya. Hal itu dibuktikan dengan peristiwa hukuman mati kepada anak kandungnya sendiri yang melanggar hukum. Pada masanya pula hukum-hukum yang berlaku dikodifikasikan yang kemudian terkenal dengan Adat Meukuta Alam. Patriotisme yang ditanamkan pada setiap rakyatnya merupakan contoh abadi pada setiap putera-puteri Aceh berabad-abad kemudian. Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh teladan yang tidak habis-habisnya bagi rakyat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya tentang kesetiaan yang tulus terhadap tanah air. Walaupun ia tidak berhasil menghancurkan Portugis di Malaka, tetapi ia telah memaksa Portugis terpaku di kota tersebut sehingga tidak berdaya berbuat sesuka hati di kawasan selat Malaka.&lt;br /&gt;Sesudah Iskandar Muda meninggal masih satu abad lamanya kerajaan Aceh merupakan kekuatan yang disegani dan dihormati oleh lawan dan kawan. Pada abad ke-19 adalah abad di selat Malaka terjadi persaingan antara Inggris, Belanda dan Aceh. Meskipun Aceh di bawah Sultan Ibrahim Mansyur Syah berusaha memperbaiki posisi kerajaan Aceh di dunia internasional dengan perbaikan-perbaikan pemerintahan dan meningkatkan kerjasama internasional dengan beberapa negara seperti Amerika, Italia, Perancis dan Jepang, tetapi usaha tersebut sia-sia. Persekongkolan negara-negara imperialis telah melahirkan persetujuan-persetujuan yang tidak menguntungkan kerajaan Aceh. Persetujuan yang dicapai antara Inggris dan Belanda yang terkenal dengan Traktat Sumatera, telah menyebabkan perang antara Belanda dan Aceh tidak terelakkan.&lt;br /&gt;Demikian beberapa peristiwa yang berkaitan dengan perkembangan sejarah kerajaan Aceh. Banda Aceh Darussalam sebagai pusat kerajaan Aceh dalam perkembangan sejarahnya tentu berkaitan erat dengan perkembangan sejarah kerajaan Aceh sendiri. Dilihat dari sudut geografis letak Banda Aceh  di pesisir dan dekat dengan muara sungai. Pemilihan letak kota pusat kerajaan tersebut erat kaitannya dengan kepentingan militer dan ekonomi, oleh karena itu Banda Aceh adalah kota pusat kerajaan bercorak maritim. Masyarakat bercorak maritim lebih menitikberatkan kehidupannya kepada perdagangan yaitu suatu ciri yang erat hubungannya dengan kenyataan bahwa para pedagang lebih sesuai hidup  dalam masyarakat kota bercorak maritim. Sesudah Malaka dikuasai Portugis banyak pedagang-pedagang Islam yang pada umumnya tidak disukai, mereka mencari tempat-tempat baru di sekitar selat Malaka sebagai ganti Malaka. Sebagian besar dari mereka berpindah ke Banda Aceh. Sebagai kota maritim dan pusat kerajaan, maka kekuatan militer lebih dititikberatkan pada angkatan laut. Semenjak terbentuknya kerajaan Aceh, sultan-sultannya  berusaha membangun angkatan laut. Pada puncak kejayaannya kerajaan Aceh memiliki enam ratus buah kapal yang terdiri atas lima ratus buah kapal layar dan seratus buah galley yang penempatannya sebagian besar berada di pusat kerajaan. Kapal galley adalah kapal yang berukuran besar yang dapat memuat 600 hingga 800 orang penumpang. Agustin de Bealieu yang telah menyaksikan kapal tersebut mengatakan bahwa kapal-kapal itu besarnya tiga kali lebih besar dari kapal-kapal yang dibangun di Eropa pada masa itu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Salah satu di antaranya yang paling terkenal adalah Cakra Donya. Dalam laporan Agustin de Beaulie diketahui pula bahwa pasukan gajah merupakan inti pasukan darat yang jumlahnya 900 ekor.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Binatang itu dilatih sedemikian rupa sehingga tidak takut kepada api dan suara-suara tembakan. Alat-alat kebutuhan militer berupa mesiu dapat diproduksi sendiri karena tersedia belerang di pulau Weh dan pegunungan dekat Pidie. Minyak yang banyak terdapat di Aceh Timur telah dimanfaatkan untuk kebutuhan militer yang digunakan untuk membakar kapal-kapal musuh. Alat-alat persenjataan lain yang dimiliki berupa 2000 pucuk meriam, yang terdiri atas 800 meriam besar dan 1200 meriam biasa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Pada setiap saat kerajaan Aceh dapat mengerahkan bala tentara berpuluh ribu yang sebagian berdomisili di Banda Aceh dan sebagiannya diambil di Pidie dan tempat lain.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tata Letak&lt;br /&gt;Kota-kota kuno di Indonesia mempunyai struktur sosial dan marfologi yang umum dan jelas, seperti adanya tumbuh-tumbuhan sehingga kota-kota tersebut terlindungi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Sesuai dengan lokasinya, kota-kota kuno tersebut dapat digolongkan menjadi dua. Pertama, kota-kota pantai (coastal cities), baik yang terletak di muara sungai atau bukan, seperti Banda Aceh. Kedua, kota-kota pedalaman, seperti Surakarta dan Yogyakarta. Dari segi marfologi kedua tipe kota tersebut memiliki ciri-ciri atau komponen yang hampir bersamaan, yaitu alun-alun, istana, mesjid dan pasar di pusat kota.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, kota Bada Aceh termasuk dalam kategori kota Islam bercorak maritim. Kota-kota Islam yang bercorak maritim pada umumnya terletak di pesisir dan di muara-muara sungai. Kehidupan masyarakatnya lebih banyak menitikberatkan kepada perdagangan dan kekuatan militernya diarahkan kepada kekuatan angkatan laut.&lt;br /&gt;Banda Aceh sebagai ibukota kerajaan Aceh berkembang di pinggir sungai dan pada jalur lalu lintas perdagangan dengan dunia luar. Sungai berfungsi sebagai jalur utama untuk memasuki kota, walaupun muaranya sedikit dangkal dan wilayahnya agak sulit serta muaranya berawa-rawa. Banda Aceh tersebut terletak pada suatu daratan rendah dengan tanah subur sekelilingnya dan dilingkari oleh perbukitan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Letak istana kerajaan Aceh yang dinamakan Daruddunia itu menghadap ke barat laut, hampir sama dengan istana kerajaan lain di Indonesia yang menghadap ke utara, hal itu dapat dilihat pada peta yang dibuat oleh orang asing seperti Portugis dan Belanda serta peninggalan-peninggalan sejarah. Di sekeliling istana dibuat danau dan sungai buatan yang mengalir di tengah istana yang dinamakan Darul Asyiki. Di samping itu, bagian penting dari istana yang dinamakan dalam dikelilingi tembok dan di tempat itu pula bangunan tempat kediaman sultan didirikan. Kelengkapan lain adalah Taman Sari yang dinamakan Taman Ghairah, sungai Darul Asyiki mengalir juga di tengah-tengahnya. Di sebelah barat istana oleh Iskandar Muda dibangun sebuah mesjid raya (Mesjid Jamik) yang dinamakan Baiturrahman, sedangkan mesjid dalam istana dinamakan Baiturrahim. Di samping itu terdapat sejumlah mesjid kecil lainnya dalam kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Masyarakat&lt;br /&gt;Masyarakat kota pada waktu itu bersifat heterongen namun homogen. Pada setiap kampong dihuni oleh sekelompok penduduk yang pada umumnya bersifat homogen, baik dalam arti profesi, lapisan sosial, ras dan mungkin juga agama. Jumlah penduduk kota pada waktu itu belum ada catatan yang pasti. Hal itu karena terbatasnya sumber-sumber, lagi pula cara-cara sensus penduduk belum menjadi kebiasaan dan kalaupun ada angka untuk itu hanya bersifat perkiraan. Hanya didapat keterangan bahwa sultan dapat mengerahkan sekitar 30.000 prajurit dalam waktu sepuluh hari ; hal itu berarti jumlah penduduk sekitar 120.000, tetapi jumlah di atas harus dihitung jumlah laki-laki yang mampu berperang, baik dari dalam kota maupun yang dikerahkan dari luar kota.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1570-an, yakni periode kegiatan ekonomi dan militer ditetapkan angka sekitar 80.000 penduduk. Dalam naskah Roeiro menggambarkan tofografi kota dalam 2.5 km dari muara sungai Aceh di sebelah utara ke suatu titik yang terletak langsung di sebelah selatan lingkungan istana, dan terakhir ke titik ketiga di pantai utara, pada sungai yang bermuara di teluk Aceh di Ulee Lheue. Dengan demikian, diperoleh garis keliling sekitar 14 km dan bidang seluas sekitar 8 km, jadi sekitar 80.000 penduduk.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Anthony Reid menambahkan bahwa pada sekitar tahun 1570-1580 M, Banda Aceh merupakan sebuah kota pelabuhan khas Melayu. Lahan permukiman begitu luas, tetapi hanya pusat perdagangan dan politik saja yang berpenduduk padat, sekitar 20.000 orang penduduk per km.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt; Selanjutnya berdasarkan hasil penelitian Denys Lombard, bahwa pada abad XVII penduduk kota Banda Aceh berjumlah sekitar 50.000 jiwa.&lt;br /&gt;De Graaff, menyebutkan di Banda Aceh pada waktu itu ada 7000 atau 8000 rumah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Apabila setiap rumah dihuni rata-rata 5 orang saja, maka jumlah penduduk kota ditaksir antara 35.000 atau 40.000 orang. Kalau dilihat  jumlah pasukan Aceh yang dapat dikerahkan ke medan perang oleh Iskandar Muda yang sebagian besar berdiam di Banda Aceh, maka taksiran penduduk Banda Aceh akan melebihi angka tersebut di atas, kemungkinan mencapai 100.000 orang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penduduk yang tinggal di desa-desa terpisah oleh ladang dan kebun, semakin padat jumlahnya ketika mendekati pusat politik (dalam) dan pusat perdagangan (tepi sungai sebelah utara dalam). Desa-desa yang masih bersifat pertanian seperti Meurasa (Meuraxa) dan berangsur-angsur secara berkesinambungan dengan desa-desa urban yang lebih padat penduduk ke arah kota.&lt;br /&gt;Dalam kota Banda Aceh terdapat status kebiasaan yang didasarkan pada status sosial-ekonomi, status keagamaan, status kekuasaan dalam pemerintahan. Berdasarkan nama kampung yang sampai sekarang masih dipakai dapat diperkirakan bahwa kampung Mperum dan Bitai adalah tempat kediaman orang Turki dan Arab, kampung Biduen tempat kediaman orang penghibur, kampong Pandee tempat kediaman tukang-tukang. Dalam Hikayat Aceh disebutkan adanya kampung Birma dan Jawa, tempat-tempat kediaman orang asing, misalnya, kampung Kleng, Peunayong, Kampung Kedah dan lain-lain. Pada sekitar abad ke-16, John Davis memberitakan adanya perkampungan orang-orang Portugis, Gujarat, Arab, Benggala dan Pegu di samping perkampungan orang Cina. Selain itu, diketahui pula perkampungan tempat kediaman prajurit dan pembesar kerajaan seperti Neusu, Pelanggahan, Merduati dan lain-lain.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bangunan untuk perumahan pada umumnya dibuat dari kayu, hanya untuk bangunan tertentu saja dibuat dari batu, misalnya makam, tembok istana. Rumah-rumah didirikan di atas  tiang kayu yang tinggi, diatapi dengan ilalang dan rumbia, membujur arah timur barat, yang terakhir ini adalah pengaruh agama Islam yang dimaksudkan untuk memudahkan penentuan arah kiblat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;D.H. Burger dan Prayudi, Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia, (Jakarta : Padnya Pramita, 1962), hlm. 14.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Nj. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arif Effendi, (Jakarta : PT. Pembangunan, 1956), hlm. 9-10. B. HM. Vlekke,  Nusantara, A History of Indonesia, (Let Editions Mankan S.A. Bruzelles, 1961), hlm. 17.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia Malaya Complied from Chines Sources, (Jakarta : CV. Brata, 1960), hlm. 82-84. J.G. De Casparis,  Perkembangan Pengetahuan Sejarah Indonesia Lama, terjemahan Said Raksakusumah, (Bandung :Tetai, 1961), hlm. 32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; J.G. De Casparis,  Perkembangan Pengetahuan Sejarah Indonesia Lama, terjemahan Said Raksakusumah, (Bandung :Tetai, 1961), hlm. 32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt;T. Iskandar,  De Hikayat Atjeh (s-Gravenhage : N.V. De Nederlandsche Boek en Steendrukkerij V.H.H.L. Smits, 1959), hlm. 24. Dalam naskah Negara Kerta Gama terdapat nama Lamuri sebagai salah  satu negeri yang takluk kepada Maharaja Majapahit. Mohd. Jamin, Gajah Mada, (Djakarta : Balai Pustaka, 1956), hlm. 50-51.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt;Iskandar, op.cit., hlm. 25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;Ibid., hlm. 24-25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;A.K. Dasgupta, Aceh in Indonesia Trade and Politic ; 1600-1641, unpublished Ph. D, Thesis (Cornel University, 1962), hlm. 6.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt;R.O. Winstedt, A History of Malaya, (London : Luzak de co, 1935), hlm. 28.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt;Iskandar, op. cit., hlm. 25.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt;Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 26.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 27.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;[15]&lt;/a&gt;Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;[16]&lt;/a&gt; Tichelman, De Indische Gids, 61 (Amsterdam : N.V. Drukkerij Ingervery, 1939), hlm. 23-27.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;[17]&lt;/a&gt; W. P. Groenevelt, Historical Notes on Indonesian Malaya Complied from Chines Sources, (Jakarta : CV. Brata, 1960), hlm.98-100.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;[18]&lt;/a&gt;Iskandar, op. cit., hlm. 27-28.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;[19]&lt;/a&gt;Tome Pires, The Suma Oriental or Tome Pire vol. I, translated and edited by Arnando cortesao. (London Printed for the Hakluyt, Society, 1944)), hlm. 138.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;[20]&lt;/a&gt;Iskandar, op. cit., hlm. 28-30.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;[21]&lt;/a&gt; R. Hoesein Djajadiningrat, “ Critisch Overzicht van de in Maleische Werken Vervatte Gegevers oever Geschiedenis van het Sultanaat van Atjeh”, BKI, 65, 1911, hlm. 142-143 dan 146.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Iskandar, op.cit., hlm. 32.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;[23]&lt;/a&gt;Iskandar, op. cit., hlm. 35. Hoesen Djajadiningrat menyebutkan bahwa penobatan Ali Mughayatsyah pada tahun 1514 M. Djajadiningrat, op.cit., hlm. 213.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;[24]&lt;/a&gt; T. Branddel, “On the History of Acheen”, JIAEA, vol. V (Singapore : 1851), hlm. 16.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Zakaria Ahmad dan Muhammad Ibrahim, “Banda Aceh sebagai Pusat Pemerintahan Kesultanan Aceh”, dalam Kota Banda Aceh Hampir 1000 tahun (Banda Aceh : Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Banda Aceh, 1988), hlm. 221.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Ibid., hlm. 222.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;[27]&lt;/a&gt;Muhammad Ibrahim (ed),  Sejarah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta : Depdikbud, 1977/1978), hlm. 64.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Julius Jacobs, Het Familie en Kampongleven op Groot Atjeh (Leiden : E. I. Brill, 1894), hlm. 252.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Ibid.,  hlm. 252.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Kota Banda Aceh....hlm. 224.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;[31]&lt;/a&gt;Peter JM. Nas, “The Early Indonesian Town : Rise and Decline of the City-state and its Capital”, dalam Peter JM. Nas, The Indonesian City : Studies in Urban Development and Planning. VKI, 117 (Foris Publication, 1986), hlm. 23&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;[32]&lt;/a&gt;Ibid., hlm. 18-34.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;[33]&lt;/a&gt; Denys Lombard,  Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636. Terjemahan Arifin Winarsih (Jakarta : Balai Pustaka, 1991), hlm. 61. Pierre-Yves Manguin, “Demografi dan Tata Perkotaan di Aceh pada Abad ke-16”, dalam Henri Chambert-Loir &amp;amp; Hasan Muarif Ambary (ed.), Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard  (Jakarta : Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Yayasan Obor Indonesia, 1997), hlm. 236.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;[34]&lt;/a&gt; Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce, (New Haven : Yale University Press, , 1993), hlm. 69.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref35" name="_ftn35"&gt;[35]&lt;/a&gt;Pierre-Yves Manguin, “ Demografi dan Tata Perkotaan di Aceh pada Abad ke-16 : Data Baru menurut sebuah buku pedoman Portugis tahun 1584”, terjemahan Ida Sundari Husen &amp;amp; HCL, dalam Henri Chambert-Loir &amp;amp; Hasan Muarif Ambary, op.cit., hlm. 231.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref36" name="_ftn36"&gt;[36]&lt;/a&gt;Reid,  op. cit., hlm. 73.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref37" name="_ftn37"&gt;[37]&lt;/a&gt; Nicolaus de Graaff, Voyage de Nicolaus de Graaff aux Indes Orientales et end’autres Lieux de l’Asie (Ansterdam, J. Fred. Bernard, 1719), hlm. 23.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref38" name="_ftn38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Reid.,op.cit.,  hlm. 69.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref39" name="_ftn39"&gt;[39]&lt;/a&gt; Kota Banda Aceh....hlm. 225.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-2895423890009649379?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/2895423890009649379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/sejarah-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/2895423890009649379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/2895423890009649379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/sejarah-aceh.html' title='sejarah aceh'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-3431809568325780267</id><published>2009-03-04T22:39:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T22:46:26.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Hikayat Tsunami</title><content type='html'>ACEH MEUGONCANG&lt;br /&gt;by sudirman&lt;br /&gt;Alhamdulillah Tuhan lon pujoe&lt;br /&gt;Nyan peujeud bumoe alam semesta&lt;br /&gt;Nyan peujeud laot dengon daratan&lt;br /&gt;Asoe di dalam memacam rupa&lt;br /&gt;Neubri ya Allah seuhat pikeran&lt;br /&gt;Beu-ek lon karang saboh calitra&lt;br /&gt;Kadang cit jeud saboh peudoman&lt;br /&gt;Contoh teuladan bak manosia&lt;br /&gt;Jinoe lon kisah saboh riwayat&lt;br /&gt;Kisah baroe tat di Aceh Raya&lt;br /&gt;Aceh meugoncang judol ulon bie&lt;br /&gt;Ban lheuh teuka ie ngon gempa raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Han ek tapike karonya Tuhan&lt;br /&gt;Nyo kenyataan katroh ta rasa&lt;br /&gt;Tanggai dua ploh nam bak jeum poh lapan&lt;br /&gt;Aceh megoncang gempa tat raya,&lt;br /&gt;Watee kajijak jeum ka poh lapan&lt;br /&gt;Ka meuri goyang sang aras donya&lt;br /&gt;Hingga bala troh kuasa Tuhan&lt;br /&gt;Bumoe neugoyang neupeutron geumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ureung meurateb inong ngon agam&lt;br /&gt;Ulee ka mumang dum manosia&lt;br /&gt;Mandum teupike peu keujadian&lt;br /&gt;Nyan hantroh tapham le manosia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;han pre meungucap mandum bak babah&lt;br /&gt;geuseubot Allah teumakot raya&lt;br /&gt;meunan keuh kisah nibak uroe nyan&lt;br /&gt;lam kejadian musibah raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hana padup trep oh lheuh gempa nyan&lt;br /&gt;teuka gelombang nyan cukop raya&lt;br /&gt;Ie laot di-ek wahe rakan droe&lt;br /&gt;meutalo-talo oh lheuh ban geumpa&lt;br /&gt;lee tat manosia peuseulamat droe&lt;br /&gt;bek roh jitampo lee bakat raya.&lt;br /&gt;Ladum bak geuplung tan ija pinggang&lt;br /&gt;Ladum katinggai aneuk dengon ma&lt;br /&gt;Nacit bak kayee ladum geumumat&lt;br /&gt;Pue ka kiamaaat he…ya Rabbanaaa&lt;br /&gt;Bandum uroe nyan peusiblah untong&lt;br /&gt;Megulong-gulong dalam ie raya&lt;br /&gt;Hareuta ngon nyawong habeh dum jiron&lt;br /&gt;Keu deh jisintong u laot jiba&lt;br /&gt;Ie laot di ek lagee ban awan&lt;br /&gt;Nanyum bak sang-sang kiamat donya&lt;br /&gt;Lam siklep mata digisa ie nyan&lt;br /&gt;Allahuakbar mayet meukeuba&lt;br /&gt;Kaom geutanyoe ramee tat leupah&lt;br /&gt;Keunong musibah dalam ie raya&lt;br /&gt;Rumoh dum luroh geudong ka beukah&lt;br /&gt;Hilee ngon darah di Aceh Raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ladum gadoh ma ladum gadoh yah&lt;br /&gt;Ladum meutuah saboh tan lee na&lt;br /&gt;Ladum ureung cik geuwoe bak Allah&lt;br /&gt;Aneuk tat mirah tinggai di donya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meunan keuh bagoe nibak uroe nyan&lt;br /&gt;ulee ka mumang dum manusia&lt;br /&gt;saree watee nyan geu mehoi Tuhan&lt;br /&gt;jaroe meugawang dalam ie raya&lt;br /&gt;rayek ngon ubit lee tat nyan karam&lt;br /&gt;inong ngon agam hana meuhoka&lt;br /&gt;bacut drat donya Allah neugoyang&lt;br /&gt;nanggroe rab sikan habeh seureupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidumnan teuga meunimpa alam&lt;br /&gt;Putoh hubongan kayee dum bungka&lt;br /&gt;Mayet meugule bak taloe jalan&lt;br /&gt;Allah cok pulang nyanka geucepta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aleran lestrek pih matee total&lt;br /&gt;Telepon hai rakan hana beurita&lt;br /&gt;Dakna syedara keumeungjak keunan&lt;br /&gt;Hana hubongan rot jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Meulaboh putoh hubongan&lt;br /&gt;Di sinan korban ramee lagoina&lt;br /&gt;Meurebee matee di kota Calang&lt;br /&gt;Lamno hai rakan han ek takira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banda Aceh pih lee tat korban&lt;br /&gt;Seubab di sinan cit pusat kota&lt;br /&gt;Tangieng di Lhoknga pih cukop gawat&lt;br /&gt;Kapai meujungkat u be be raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukop lee matee nyawong meulayang&lt;br /&gt;Padumna korban ta-eu beurita&lt;br /&gt;Bak beurita TV sabee disiar&lt;br /&gt;Uroe ngon malam han reuda-reuda&lt;br /&gt;Rata jeud sagoe mayet meuriti&lt;br /&gt;Bala Tuhan bri keu Aceh Raya&lt;br /&gt;Ka padum uroe mayet dalam ie&lt;br /&gt;Tansoe paduli dum manusia&lt;br /&gt;Dak na padum droe seulamat bak ie&lt;br /&gt;Seutot fameli dengon syedara&lt;br /&gt;Seubab barokon hantom teurjadi&lt;br /&gt;Bak ta-eu dali si umue masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari Meulaboh ka troeh u Pidie&lt;br /&gt;ureung muengungsi eh di yub tenda&lt;br /&gt;cukop meukarat para pengungsi&lt;br /&gt;kresis dengon ie makanan hana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya Paloh hancu tat hatee&lt;br /&gt;Watee geupike keu nasib bangsa&lt;br /&gt;Digobnyan dak jeud sigra beuhase&lt;br /&gt;Peusapat mayet dum manusia&lt;br /&gt;Hareuta habeh hana geupike&lt;br /&gt;Geutanggong sabee dum sukarela&lt;br /&gt;Dak na nyang udep bek sampoe matee&lt;br /&gt;Lee tat geulangse makanan geuba&lt;br /&gt;Ngon reah reoh para relawan&lt;br /&gt;Kuburan masal sigra geubuka&lt;br /&gt;Peusapat mayet dum taloe jalan&lt;br /&gt;Pasoe lam uruk hana boeh kafan&lt;br /&gt;Inong ngon agam hana keurenda&lt;br /&gt;Meutindeh lapeh mayet di sinan&lt;br /&gt;Dengon kenderaan keunan troh jiba&lt;br /&gt;Nyan ladum uroh para pengungsi&lt;br /&gt;Kadek bu jibi saket peureksa&lt;br /&gt;Meu macam ubat kana jisinan&lt;br /&gt;Beureukat bantuan dalam ngon lua&lt;br /&gt;Beumurah hate ureung nyang leubeh&lt;br /&gt;Rakyat meu preh-preh bantoan neuba&lt;br /&gt;Beu lagee janji bek hek kamoe preh&lt;br /&gt;Di rakyat Aceh manoe ie mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uroe keu uroe meunganto malam&lt;br /&gt;Rab meuri normal di Kota Banda&lt;br /&gt;Seulamat tuboh para relawan&lt;br /&gt;Seumoga Tuhan neubalah jasa&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Nyoe saboh tanda donya ka akhee&lt;br /&gt;Beuna tapikee bandum syedara&lt;br /&gt;Sidroe dua droe nyang puebut jahee&lt;br /&gt;Bandum teuh sare tarasa bala&lt;br /&gt;Nibak buet salah bek roh gisalee&lt;br /&gt;Bak buet-buet jahe bek lee tagisa&lt;br /&gt;Beujeud keu seujarah kisah Meulaboh&lt;br /&gt;Umat neu sampoh ateuh rung donya&lt;br /&gt;Meureubee nyawong ka geucok pulang&lt;br /&gt;Aceh lon sayang katoe ie mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keu rakyat Aceh geubri cobaan&lt;br /&gt;Supaya sadar umat lam donya&lt;br /&gt;Sidum nan bala meuhan sadar lee&lt;br /&gt;Tapreh boh hatee geulungkop donya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa geutanyoe waheee ee… rakan&lt;br /&gt;Keu ureung karam dalam ie raya&lt;br /&gt;Neubri keuh beujroh tempat ureung nyan&lt;br /&gt;Bak saboh taman asoe syeruga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahee rakan lon nyang tat meutuah&lt;br /&gt;Nyan na musibah dalam ie raya&lt;br /&gt;Beu rayeuk saba hate beutabah&lt;br /&gt;Cobaan Allah lagee nyoe rupa&lt;br /&gt;Meunyoe na amai ngon kebajikan&lt;br /&gt;Meurumpok teuma di padang masya&lt;br /&gt;Seubab geutanyoe peunejeud Tuhan&lt;br /&gt;Mandum hee rakan keunan tagisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;Neubri ya Rabbi neubri ya Allah&lt;br /&gt;Ureung musibah asoe syeruga&lt;br /&gt;Beuneuterimong amai nyang saleh&lt;br /&gt;Neubri bek teupeh apui neuraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boh pisang manok mameh han sakri&lt;br /&gt;Boh pisang idi lepi lam dada&lt;br /&gt;Mangat on ubi tapeugot urap&lt;br /&gt;Mangat pisang krat tacroh keu bada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meunyoe na salah haba lon karang&lt;br /&gt;Maklom hai rakan gohlom beasa&lt;br /&gt;Jioh deungon to saleum lon intat&lt;br /&gt;Kadang cit mangat jeud keupeunawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banda Aceh, Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******(SudirMan)*********&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-3431809568325780267?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/3431809568325780267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/hikayat-tsunami.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3431809568325780267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3431809568325780267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/hikayat-tsunami.html' title='Hikayat Tsunami'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-3446528465090762754</id><published>2009-03-04T22:35:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T22:36:52.035-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Pala Aceh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Peluang Ekonomi Budidaya Tanaman P ala&lt;br /&gt;Oleh Sudirman BPSNT Banda Aceh&lt;br /&gt; Abstrak&lt;br /&gt;Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kabupaten Aceh Selatan identik dengan daerah pala. Tanaman ekonomi yang banyak menyokong penghidupan masyarakat, sehingga tanaman pala merupakan tumpuan harapan bagi sebagian besar masyarakat Aceh Selatan. Tanaman pala di Aceh Selatan merupakan tanaman yang sudah membudaya. Tidak pelak lagi, pala bagi masyarakat Aceh Selatan merupakan komoditas primadona, tanaman yang menghasilkan devisa terbesar bagi daerah. Kendala yang dihadapi, pengelolaan tanaman tersebut masih dilakukan secara tradisional, untuk itu perlu dipikirkan bagaimana mengelola tanaman pala tersebut dilakukan secara lebih baik dan ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Pala merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, kemudian terus meluas sampai Sumatera, khususnya di Aceh Selatan.&lt;br /&gt;Pada mulanya tanaman pala telah meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Namun, mengganasnya serangan hama pengerat batang dan bubuk cabang tanaman pala akhir-akhir ini hanya salah satu akibat terganggunya ekosistem di daerah Aceh Selatan sendiri. Yang utama karena memang makin banyak masyarakat yang melakukan pemotongan kayu liar di dalam daerah Taman Nasional Gunung Leuser.&lt;br /&gt;Belum lagi kurangnya pengetahuan petani untuk menggunakan insektisida. "Sebab dengan kesalahan dalam penggunaan insektisida tersebut justru akan memuat hama bersangkutan makin kebal terhadap insektisida. Akibatnya serangan berikutnya akan jauh lebih ganas lagi.&lt;br /&gt;Tentu kalau hal tersebut dibiarkan maka akan menurunkan produk minyak pala yang menjadi hasil utama home industri daerah tersebut. "Karena hingga saat ini jumlah perusahaan minyak pala yang telah tercatat sudah mencapai angka 35. Dari masing-masing perusahaan itu hasil minyak pala per tahunnya mencapai dua ton. Dengan demikian dari 35 perusahaan yang ada berarti per tahun hasil minyak pala Aceh Selatan mencapai 70 ton.&lt;br /&gt;Meski hasil minyak pala Aceh Selatan sudah beredar hingga ke Medan terus ke Hongkong, dank e Negara lain, namun kehidupan petani perajin minyak palanya masih jauh dari menyenangkan. Karena sebagian besar petani perajin minyak pala itu hanya menjadi operator dari ketel penyulingan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;Kalau begitu apa harus dilakukan guna perbaikan kehidupan petani tanaman pala dan petani penggarap minyak palanya. Karena membiarkan hama pengerat batang merajalela berarti membunuh mereka. Tetapi membiarkan mereka tergantung kepada para toke pun berarti tidak melepas tali penjerat leher mereka.&lt;br /&gt;Karena itu perlu dipikirkan bagaimana petani pala tersebut dapat mengelola secara mandiri berdasarkan pengetahuan dan bantuan modal usaha sehingga lebih meningkatkan kehidupan para petani, juga akan tetap membuat nama Aceh berada di urutan kedua sebagai penghasil pala terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;Tanaman Pala&lt;br /&gt;Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain: 1) Myristica fragrans Houtt, 2) Myristica argentea Ware, 3) Myristica fattua Houtt, 4) Myristica specioga Ware, 5) Myristica Sucedona BL, 6) Myristica malabarica Lam. Jenis pala yang banyak diusahakan adalah terutama Myristica fragrans, sebab jenis pala ini mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. Disusul jenis Myristica argentea dan Myristica fattua. Jenis Myristica specioga, Myristica sucedona, dan Myristica malabarica produksinya rendah sehingga nilai ekonomisnya pun rendah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik. Batang/kayu pohon pala dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala dapat menghasilkan minyak atsiri.&lt;br /&gt;Fuli, fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala (Aceh ; kawi pala). Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual di dalam negeri.&lt;br /&gt;Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa&lt;br /&gt;nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah, dan lain-lainya.&lt;br /&gt;Daging buah pala, daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kristal daging buah pala, di Aceh Selatan dikenal dengan kue pala dan sirup pala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;Tanaman pala membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan agak merata dan tidak banyak berubah sepanjang tahun. Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan curah hujan terbagi secara teratur sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering selama beberapa bulan.&lt;br /&gt;Tanaman pala membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organis yang tinggi. Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 – 6,5. Tanaman ini peka terhadap gangguan air, maka harus memiliki saluran drainase yang baik. Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang lereng. Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m, sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk Budidaya&lt;br /&gt;Pemilihan Biji&lt;br /&gt;Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari : 1. Biji sapuan, biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya. 2. Biji terpilih, biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu : (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih. Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya.&lt;br /&gt;Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera diambil bijinya, paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah disemaikan. Hal ini disebabkan oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya dapat cepat menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyemaian&lt;br /&gt;Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.&lt;br /&gt;Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.&lt;br /&gt;Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).&lt;br /&gt;Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polibag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.&lt;br /&gt;Polibag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami. Pemeliharaan dalam polibag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.&lt;br /&gt;Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;Melalui Cangkok (Marcoteren), perbanyakan tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat asli induknya (pohon yang dicangkok). Hal yang diperhatikan dalam memilih batang/cabangyang akan dicangkok adalah dari pohon yang tumbuhnya sehat dan mampu memproduksi buah cukup banyak, pohon yang sudah berumur 12–15 tahun. Batang/cabang yang sudah berkayu, tetapi tidak terlalu tua/terlalu muda.&lt;br /&gt;Cara mencangkok (marcotern), a) Batang/cabang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar sepanjang 3–4 cm. Posisi cangkokan sekitar 25 cm dari pangkal batang/cabang. Lendir/kambium yang melapisi kayu dihilangkan dengan cara disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut dibiarkan selama beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar. b) Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang dalam keadaan basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut ditempelkan/dibalutkan pada bagian batang yang telah dikuliti berbentuk gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian dibalut dengan sabut kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah dikuliti, maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada bagian bawa, bagian tengah dan bagian atas. Bila menggunakan pembalut dari palstik, maka bagian atas dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk memasukkan air siraman (lubang bagian atas) dan sebagai saluran drainase (lubang bagian bawah).&lt;br /&gt;Apabila pencangkokkan ini berhasil dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh perakarannya. Jika perakaran cangkokkan itu sudah siap untuk dipotong dan dipindahkan keranjang atau ditanam langsung di lapangan.&lt;br /&gt;Dengan Cara Peyambungan (Enten dan Okulasi), sistem penyambungan ini adalah menempatkan bagian tanaman yang dipilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni :  Penyambungan Pucuk (entern, grafting), penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu : Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar), Enten pangkas atau kopulasi, dan Enten sisi (segi tiga).  Penyambungan mata (okulasi), penyambungan mata ada tiga macam yaitu :  Okulasi biasa (segi empat),  Okulasi “T”, dan Forkert.&lt;br /&gt;Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu dilakukan dan jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;Dengan cara penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting), dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih besar jari tangan orang dewasa). Cara melakukannya adalah  :  Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama, lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk dan ukuran sampai terkena bagian dari kayu, dan tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan kuat tali rafia.&lt;br /&gt;Setelah beberapa waktu, kedua batang tersebut akan tumbuh bersama-sama seolah-olah batang bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam waktu 4–6 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat dipastikan berhasil. Setelah 4 bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan lagi dan boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh sempurna, maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di lapangan.&lt;br /&gt;Dengan Cara Stek, tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5% larutan hormaon IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya pada umur 4 bulan setelah dilakukan penyetekan sudah keluar akar-akarnya. Kemudian tiga bulan berikutnya sudah tumbuh perakaran yang cukup banyak. Percobaan lain adalah dengan menggunakan IBA 0,6% dalam bentuk kapur. Penyetekan dengan menggunakan IBA 0,6%, biasanya setelah 8 minggu sudah terbentuk kalus di bagian bawah stek. Kemudian jika diperlukan untuk kedua kalinya dengan larutan IBA 0,5%, maka setelah 9 bulan kemudian sudah tampak perakaran.&lt;br /&gt;Teknik Penanaman&lt;br /&gt;Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar bibit tanaman tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 3–5 batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga pertumbuhannya dapat baik.&lt;br /&gt;Penanaman yang berasal dari biji dilakukan dengan cara sebagai berikut: polybag (kantong pelastik) di lepaskan terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah permukaan lahan kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang tanam tersebut disiram dengan air supaya media tumbuh dalam lubang menjadi basah.&lt;br /&gt;Apabila bibit pala yang berasal dari cangkok, maka sebelum ditanam daun-daunnya harus dikurangi terlebih dahulu untuk mencegah penguapan yang cepat. Lubang tanam untuk bibit pala yang berasal dari cangkang perlu dibuat lebih dalam. Hal ini dimaksudkan agar setelah dewasa tanaman tersebut tidak roboh karena sistem akaran dari bibit cangkokan tidak memiliki akar tunggang. Setelah bibit di tanam, lubang tanam harus segera disiram supaya media tumbuhan menjadi basah.&lt;br /&gt;Penanaman bibit pala yang berasal dari enten dan okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit-bibit pala yang berasal dari biji. Lubang tanaman perlu dipersiapkan satu bulan sebelum bibit ditanam. Hal ini bertujuan agar tanah dalam lubangan menjadi dayung (tidak asam), terutama jika pembuatannya pada musim hujan, lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk jenis tanah ringan dan ukuran 80x80x80 cm untuk jenis tanah liat. Dalam menggali lubang tanam, lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua lapisan tanah ini mengandung unsur yang berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bagian bawah di masukkan lebih dahulu, kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk kandang secukupnya. Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah: pada lahan datar adalah 9x10 m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9x9 m.&lt;br /&gt;Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;Untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu di usahakan tanaman pelindung yang pertumbuhannya cepat, misalnya tanaman jenis Clerisidae atau jauh sebelumnya bibit pala di tanam, lahan terlebih dahulu di tanami jenis tanaman buah-buahan/tanaman kelapa. Penyulaman harus dilakukan jika bibit tanaman pala itu mati/pertumbuhannya kurang baik. Pada akhir musim hujan, setelah pemupukan sebaiknya segera dilakukan penyiraman agar pupuk dapat segera larut dan diserap akar. Pada waktu tanaman masih muda, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik ( pupuk kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman sudah dewasa/sudah tua, pemupukan yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Sebelum pemupukan dilakukan, hendaknya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk pohon), kemudian pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara merata dan segera ditimbun tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan padaawal musim hujan, setelah dilakuakan pada akhir musim hujan, maka untuk membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan penyiraman, tetapi jika kondisinya masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan penyiraman.&lt;br /&gt;Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;Hama&lt;br /&gt;Penggerek batang (Batocera sp). Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian. Gejalanya terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,5–1 cm, di mana didapat serbuk kayu. Pengendaliannya (1) menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan membunuh hamanya. Memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis yang dimasukkan sebanyak 15–20 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.&lt;br /&gt;Anai-Anai / Rayap. Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal batang dan akhirnya sampai ke dalam batang. Gejalanya terjadinya bercak hitam pada permukaan batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap) akan kelihatan. Pengendaliannya dengan menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.&lt;br /&gt;Kumbang Aeroceum fariculatus. Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan. Pengendaliannya dengan mengeringkan secepatnya biji pala setelah diambil dari buahnya.&lt;br /&gt;Penyakit&lt;br /&gt;Kanker batang. Gejalanya terjadi pembengkakan batang, cabang atau ranting tanaman yang diserang. Pengendaliannya dengan membersihkan kebun dari semak belukar, memangkas bagian yang terserang dan dibakar.&lt;br /&gt;Belah putih. Penyebabnya adalah cendawan coreneum sp. yang dapat menyebabkan buah terbelah dan gugur sebelum tua. Gejalanya terdapat bercak-bercak kecil berwarna ungu kecoklatcoklatan pada bagian kuliat buah. Bercak-bercak tersebut membesar dan berwarna hitam. Pengendaliannya dengan membuat saluran pembuangan air (drainase) yang baik dan pengasapan dengan belerang di bawah pohon dengan dosis 100 gram/tanaman.&lt;br /&gt;Rumah Laba-Laba. Menyerang cabang, ranting dan daun. Gejalanya daun mengering dan kemudian diikuti mengeringnya ranting dan cabang. Pengendaliannya memangkas cabang, ranting dan daun yang terserang, kemudian dibakar.&lt;br /&gt;Busuk buah kering. Penyebabnya jamur Stignina myristicae. Gejalanya berupa bercak berwarna coklat, bentuk bulat dan cekung dengan ukuran bercak bervariasi, yakni dari yang berukuran sangat kecil sampai sekitar 3 cm; pada kulit buah tampak gugusangugusan jamur berwarna hijau kehitam-hitaman dan akhirnya bercak-bercak tersebut terjadi kering dan keras. Pengendaliannya dengan kondisi kelembaban di sekitar pohon pala perlu dikurangi, misalnya dengan mengurang kerimbunan pohonpohon lain di sekitar pala dengan memangkas sebagian cabang-cabangnya yang berdaun rimbun, kemudian tanah di sekitar pohon dibersihkan, tidak terdapat gulma atau tanaman-tanaman perdu lainnya, dan buah dan daun pala yang terserang penyakit ini segera dipetik dan dipendam dalam tanah, serta dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida secara yang rutin, yakni 2–4 minggu sekali, baik pada saat ada serangan maupun tidak ada serangan dari penyakit ini, fungsida yang dapat digunakan adalah yang mengandung bahan aktif mancozeb, karbendazim dan benomi.&lt;br /&gt;Busuk buah basah. Penyebabnya jamur Collectotrichum gloeosporiodes, yang menyerang atau menginfeksi buah yang luka. Gejalanya buah pala tampak busuk warna coklat yang sifatnya lunak dan basah; gejala ini timbul pada sekitar tangkai buah yang melekat pada buah sehingga buah mudah gugur. Pengendaliannya dengan busuk buah kering.&lt;br /&gt;Gugur buah muda. Gejalanya adanya buah muda yang gugur. Penyebabnya penyakit ini belum diketahui dengan jelas. Pengendaliannya dengan mengkombinasikan (memadukan) antara pemupukan dan pemberian fungisida.&lt;br /&gt;Panen&lt;br /&gt;Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun. Buah pala dapat dipetik (dipanen) setelah cukup masak (tua), yakni yaitu sekitar 6–7 bulan sejak mulai bunga dengan tanda-tanda buah pala yang sudah masak adalah jika sebagian dari buah tersebut tersebut murai merekah (membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna merah. Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3 hari, maka pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya akan jatuh di tanah. Panen buah pala pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik (berkualitas tinggi) dan bunga pala (fuli) yang paling tebal.&lt;br /&gt;Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya diberi/dibentuk keranjang. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan memanjat dan memilih serta memetik buah-buah pala yang sudah masak.&lt;br /&gt;Pascapanen&lt;br /&gt;Pemisahan Bagian Buah. Setelah buah-buah pala masak dikumpulkan, buah yang sudah masak dibelah dan antara daging buah, fuli dan bijinya dipisahkan. Setiap bagian buah pala tersebut ditaruh pada wadah yang kondisinya bersih dan kering. Biji-biji yang terkumpul perlu disortir dan dipilah-pilahkan menjadi 3 macam yaitu :  yang gemuk dan utuh,  yang kurus atau keriput, dan yang cacat.&lt;br /&gt;Pengeringan Biji. Biji pala yang diperoleh dari proses ke-I tersebut segera dijemur untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Biji dijemur dengan panas matahari pada lantai jemur/tempat lainnya. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang lebih tinggi akan mengakibatkan biji pala pecah. Biji pala yang telah kering ditandai dengan terlepas bagian kulit biji (cangkang), jika digolongkan akan kocak dan kadar airnya sebesar 8–10 %.&lt;br /&gt;Biji-biji pala yang sudah kering, kemudian dipukul dengan kayu supaya kulit bijinya pecah dan terpisah dengan isi biji. Isi biji yang telah keluar dari cangkangnya tersebut disortir berdasarkan ukuran besar kecilnya isi biji. Isi biji yang sudah kering, kemudian dilakukan pengapuran. Pengapuran biji pala yang banyak dilakukan adalah pengapuran secara basah, yaitu : Kapur yang sudah disaring sampai lembut dibuat larutan kapur dalam bak besar/bejana (seperti yang digunakan untuk mengapur atau melabur dinding/tembok). Isi biji pala ditaruh dalam keranjang kecil dan dicelupkan dalam larutan kapur sampai 2–3 kali dengan digoyang-goyangkan demikian rupa sehingga air kapur menyentuh semua isi biji. Selanjutnya isi biji itu diletakkan menjadi tumpukan dalam gudang untuk dianginanginkan sampai kering.&lt;br /&gt;Setelah proses pengapuran perlu diadakan pemeriksaaan terakhir untuk mencegah kemungkinan biji-biji pala tersebut cacat, misalnya pecah yang sebelumnya tidak diketahui. Pengawetan biji pala juga dapat dilakukan dengan teknologi baru, yakni dengan fumigasi dengan menggunakan zat metil bromida (CH3 B1) atau karbon bisulfida (CS2)&lt;br /&gt;Pengeringan Bunga Pala (Fuli). Fuli dijemur pada panas matahari secara perlahan-lahan selama beberapa jam, kemudian diangin-anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli itu kering. Warna fuli yang semula merah cerah, setelah dikeringkan menjadi merah tua dan akhirnya menjadi jingga. Dengan pengeringan seperti ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan berkualitas tinggi sehingga nilai ekonomisnya pun tinggi pula.&lt;br /&gt;Pemecahan Tempurung Biji. Pemecahan tempurung biji pala dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :  Dengan tenaga manusia. Cara memecah tempurung dari biji pala dilakukan dengan cara memukulnya dengan kayu sampai tempurung tersebut pecah. Cara memecah tempurung biji pala memerlukan keterampilan khusus, sebab kalau tidak isi biji akan banyak yang rusak (pecah) sehingga kulitasnya turun. Dengan mesin. Cara ini banyak digunakan petani pala. Secara sederhana dapat diterangkan bahwa mekanisme kerja dan alat ini sama dengan yang dilakukan oleh manusia, yakni bagian tertentu dari mesin menghancurkan kulit buah pala sehingga yang tinggal adalah isi bijinya. Keuntungan dari penggunaan mesin adalah tenaga, waktu dan biaya operasionalnya dapat ditekan. Disamping itu kerusakan mekanis dari isi biji juga lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Ekonomi Tanaman Pala&lt;br /&gt;Standar Produksi&lt;br /&gt;Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan. Klasifikasi dan standar mutu, untuk menentukan kualitas dari inti biji pala yang dihasilkan, kriteria yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :  bji relatif berat, bentuknya sempurna dan tidak keriput, tidak diserang hama/penyakit, dan tidak pecah/rusak mekanis.&lt;br /&gt;Kriteria untuk menentukan standar kualitas fuli didasarkan pada warna, bentuk serta kematangan dari fuli. Kriteria kualitas fuli adalah : Fuli I (moce one): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli utuh; warnanya bagus (merah), Fuli II (moce two): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli tidak utuh lagi, dan Gruis I dan II: fuli hancur; lapuk dan mudah pecah; warnanya hitam. Khusus untuk Gruise II digunakan mesin penghancur untuk lebih menghaluskan fuli.&lt;br /&gt;Kualitas biji pala ditentukan oleh : Jarak tanam, jarak tanam bukan saja mempengaruhi kuantitas, tetapi menentukan kualitas pala yang dihasilkan. Dengan jarak tanam yang rapat biasanya kita akan dapatkan buah-buah yang kecil, pemeliharaan, pemeliharaan juga mempengaruhi kualitas pala yang dihasilkan. Akibat dari pemeliharaan yang tidak baik buah pala mudah diserang oleh hama atau penyakit (terbelah putih) sehingga kualitas buah kurang baik, dan cara pemetikan dan prosesing, buah yang dipetik pada waktu masih muda, biji dan fuli yang kita dapatkan kualitasnya akan rendah. Demikian pula dengan prosesing yang kurang baik, misalnya penjemuran yang dilakukan secara tergesagesa, biji pala yang dihasilkan tentu akan banyak yang pecah.&lt;br /&gt;Pengemasan. Tujuan pengemasan adalah mencegah kerusakan produk hingga ke tangan konsumen. Pengemasan yang umum adalah dengan karung plastik karena dapat mencegah kerusakan dalam waktu yang relatif lama. Pengepakan biji dan fuli pala dilakukan secara sederhana. Pala yang telah disortir dipak dengan menggunakan karung goni berlapis dua.  Khusus untuk pengepakan fuli biasanya dilakukan dalam peti kayu (triplek) dengan berat rata-rata 70-75 kg/peti. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan pengepakan adalah : fuli yang akan dipak harus difumigasi terlebih dahulu. Pemberian fumigant pada biji pala dan fuli harus dilakukan di suatu ruang yang tertutup rapat selama 2 x 24 jam. Fumigant yang biasa digunakan adalah Methyl Bromida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Aceh Selatan merupakan penghasil pala terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Maluku. Sebab, tanaman pala di Aceh Selatan memang hampir merata ditanami masyarakatnya di setiap kecamatan.  Sesuai data tahun 1999 lalu luas tanaman pala ini hanya tinggal 8.473 hektar saja. Sedangkan 6.119 hektar di antaranya merupakan tanaman yang masih menghasilkan dengan total produksi mencapai 6.705 ton.&lt;br /&gt;Apabila dibandingkan dengan luas tanaman pala pada tahun 1994 lalu yang mencapai 11.245 hektar tampak ada penurunan yang cukup drastis. Sebab berarti dalam jangka waktu hanya enam tahun sudah musnah 2.772 hektar atau per harinya susut lebih dari 1,265 hektar.&lt;br /&gt;Di Maluku sendiri berdasarkan data tahun 1998 lalu masih ada 17.000 hektar dengan hanya 8.100 hektar yang siap produksi. Sedangkan 4.500 hektar lainnya rusak. Namun demikian produksi per tahunnya bisa mencapai 10.000 ton per tahun atau hanya selisih 2.000 ton dari kebutuhan dunia yang per tahunnya mencapai 12.000 ton.&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, maka baik Maluku maupun Aceh Selatan menjadi tumpuan Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan pala dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;Sunanto,Hatta. Budidaya Pala Komoditas Ekspor . Yogyakarta: kanisius.1993.&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2000&lt;br /&gt;Sayed Mudhahar Ahmad, Ketika Pala Berbunga (Seraut Wajah Aceh Selatan), Pemda Tingkat II Aceh Selatan, 1992&lt;br /&gt;Cut Zahrina, Pengetahuan dan Kearifan Lokal Masyarakat Aceh Selatan Dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Tanaman Pala), Depbudpar, 2006.&lt;br /&gt;Pedoman Taknik Budidaya Pala, Departemen Pertanian, 1974.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-3446528465090762754?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/3446528465090762754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/pala-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3446528465090762754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/3446528465090762754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/pala-aceh.html' title='Pala Aceh'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-2228512720694671940</id><published>2009-03-04T22:31:00.000-08:00</published><updated>2009-03-04T22:34:45.981-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sabang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;MEWUJUDKAN SABANG SEBAGAI PUSAT PERDAGANGAN TRANSITO&lt;br /&gt;Oleh Sudirman BPSNT Banda Aceh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak&lt;br /&gt;Pembukaan kembali pelabuhan bebas Sabang diharapkan menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi daerah. Untuk mencapai harapan yang demikian, Sabang sebgai pelabuhan bebas di samping memiliki syarat-syarat geografis dan letaknya yang strategis bagi lalu lintas perdagangan internasional, juga harus memainkan peranan sebagai pusat upgrading dan processing industries, daerah perdagangan transito, daerah untuk menyediakan fasilitas perkapalan terutama bahan bakar dan air, pusat shopping centre dan daerah pariwisata. Dengan demikian, baik peningkatan ekonomi masyarakat maupun pemasukan kas daerah akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Pada tahun 1887 Firma De Lange &amp;amp; Co yang berkedudukan di Batavia mendirikan Sabang Haven yang mendapat bantuan dari Nederlandsch Handel Maatschappij setelah firma tersebut mendapat konsesi dari pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan kolenstation di pelabuhan Sabang. Pada tahun 1892 firma yang dipimpin oleh J. M. H. Van Oosterzee mengelola pangkalan dan gudang penimbunan batubara pertama untuk kapal-kapal pemerintah dan angkatan laut Belanda. Pembangunan kolenstation baru selesai pada tahun 1895. pembukaan pelabuhan bebas Sabang pada mulanya hanya melayani keperluan bahan baker berupa batubara dan kebutuhan air bagi kapal yang singgah di pelabuhan Sabang.&lt;br /&gt;            Pemerintah Hindia Belanda menghendaki Sabang selain sebagai stasiun penyimpanan batubara sekaligus juga sebagai pelabuhan transito barang-barang terutama dari hasil pertanian Deli yang telah menjadi daerah perkebunan tembakau semenjak tahun 1863. Pada tahun 1895 dilepaskan pemuatan batubara pertama yang dating dari tambang batubara Ombilin di Sumatera Barat. Pelabuhan juga menyediakan bahan bakar minyak yang dikirim dari Palembang dan hasil perkebunan berupa lada, pinang, dan kopra dari Aceh sendiri. Sebagai pelabuhan bebas untuk perdagangan umum baru dibuka di Sabang pada tanggal 4 April 1896, sehingga Sabang mulai dikenal bagi lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia.&lt;br /&gt;            Kegiatan ekspor dan impor meningkat setiap tahun. Kegiatan di sektor perdagangan itu ternyata telah membawa pengaruh besar bagi lapangan kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan Transito&lt;br /&gt;            Perdagangan transito merupakan main business dari suatu pelabuhan bebas, apabila main business itu dapat berkembang maka akan mendorong munculnya kegitan-kegiatan lain. Sabang dalam batas-batas kemapuannya dapat mengembangkan perdagangan transito walaupun belum setaraf dengan pelabuhan bebas internasional lainnya.&lt;br /&gt;Fungsi perdagangan transito akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh peraturan yang mengatur perdagangan antara suatu pelabuhan dengan daerah pabean dan luar negeri, fasilitas-fasilitas gudang, dermaga, kapasitas bongkar muat yang relatif murah dan cepat, pasilitas kebutuhan kapal seperti air, bahan bakar, tenaga kerja, peraturan maritim yang lebih fleksible. Fasilitas-fasilitas itu walapun belum setaraf dengan pelabuhan bebas internasinal, kiranya harus dapat dipenuhi oleh pelabuhan Sabang.&lt;br /&gt;            Apabila fungsi perdagangan transito itu dapat dikembangkan maka akan menimbulkan leverage effect bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi lain seperti processing industries, pusat-pusat perbelanjaan dan daerah pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan Luar Negeri Sabang (1964-1967)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun&lt;br /&gt;Export&lt;br /&gt;Import&lt;br /&gt;Ton&lt;br /&gt;US $&lt;br /&gt;Ton&lt;br /&gt;US $&lt;br /&gt;1964&lt;br /&gt;1965&lt;br /&gt;1966&lt;br /&gt;1967&lt;br /&gt;3.785&lt;br /&gt;7.334&lt;br /&gt;30.156&lt;br /&gt;21.105&lt;br /&gt;628.077,02&lt;br /&gt;1.270.138,13&lt;br /&gt;5.266.423,10&lt;br /&gt;3.724.088,24&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;74.567,50&lt;br /&gt;628.088,90&lt;br /&gt;1.435.548,30&lt;br /&gt;4.852.337,60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari angka-angka tersebut jelas menunjukkan bahwa trend perdagangan luar negeri Sabang terus meningkat, kecuali ekspor keluar negeri selama tahun 1967 yang agak menurun jika dibandingkan dengan tahun 1966. hal itu dikarenakan pada tahun 1967 ekspor Sabang merupakan re-ekspor barang hasil bumi yang berasal dari daerah pabean Indonesia. Oleh karena kegiatan ekspor secara menyeluruh menurun dari daerah pabean Indonesia, maka Sabang selaku intermediate market juga terna imbas.&lt;br /&gt;            Sebagai contoh target ekspor Aceh untuk tahun 1967 ditetapkan 11 juta US $, sedangkan realisasi hanya mencapai 7,8 juta US $. Pada tahun 1966 walapun targetnya tetap 11 juta US $, realisasinya hanya mencapai 9,2 juta US $. Menurunnya ekspor dari daerah pabean keluar negeri termasuk Sabang merupakan gejala umum, yang dihadapi oleh para pengusaha eksportir Indonesia akibat adanya keragu-raguan yang bersifat temporacy uncertanities terhadap pelaksanaan peraturan tanggal 20 Juli 1967. Selain itu, merosotnya harga pasaran internasional terutama karet dan kopi juga membawa pengaruh terhadap nilai ekspor Sabang. Karena barang-barang itu merupakan barang-barang ekspor utama pelabuhan bebas Sabang.&lt;br /&gt;            Sebaliknya, nilai impor Sabang dari luar negeri meningkat pada waktu itu, volume perdagangan secara total untuk tahun 1967 menunjukkan kenaikan (US $ 8.576.725,84) jika dibandingkan dengan tahun 1966 (US $ 6.701.974,40).&lt;br /&gt;            Impor yang dilakukan Sabang pada zaman dahulu berasal dari supplies credit di luar negeri, sehingga tidak memberatkan dana devisa negara. Selain itu, dapat menarik kembali devisa yang sementara menetap di negara lain. Hal ini berarti secara tidak langsung telah mendatangkan keuntungan bagi daerah dengan bertambahnya pemasukan bea cukai melalui pelabuhan Sabang sebagai pusat perdagangan transito.&lt;br /&gt;            Pembangunan ekonomi sesuatu daerah terutama mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riel melalui penanaman modal, penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, penambahan kemampuan berorganisasi dan managemen.&lt;br /&gt;Dengan demikian, pelabuhan bebas Sabang dapat menjadikan potensi ekonomi daerah yang dapat memainkan peranan sebagai salah satu regional leverage centre atau sebagai pusat tenaga pendongkrak dan penggerak ekonomi daerah Aceh. Sabang sebagai pusat perdagangan transito bagi daerah sekitarnya telah menimbulkan bermacam-macam spread effect bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi daerah yang berdekatan. Sebagai pusat tenaga penggerak ekonomi, Sabang diharapkan mampu menciptakan pekerjaan kepada penduduk sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Managemen Perdagangan Transito&lt;br /&gt;Sabang sangat cocok untuk dikembangkan menjadi free port karena letak geografisnya sehingga memudahkan pengawasan pisik dan administrasi. Sabang juga merupakan pintu gerbang di sebelah barat Indonesia dengan posisinya di selat Malaka, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas pelayaran niaga yang ramai. Pelabuhan Sabang merupakan pelabuhan alam yang merupakan perairan yang terlindung bagi kapal-kapal yang berlabuh. Sabang dapat dikembangkan untuk memiliki fasilitas gudang, air, bahan bakar, dan listrik yang cukup serta fasilitas bongkar muat yang memadai. Demikian juga fasilitas lainnya seperti telekomunikasi, perhotelan, bank, buruh dan lainnya harus tersedia secara cukup.&lt;br /&gt;            Setelah Belanda menyerahkan Sabang tahun 1952 kepada Pemerintah Republik Indonesia, semua kegiatan pelabuhan dan perdagangan bebas terhenti. Sabang kemudian dideklarasikan menjadi kotamadia (pemerintahan kota)  pada tahun 1964.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, pada tanggal 16 Oktober 1963, dengan ketetapan presiden No. 10 tahun 1963, Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan bebas. Pada tahun 1970, pemerintah Republik Indonesia merencanakan untuk membangun dan mengembangkan pulau Weh dari berbagai sektor dan aspek ekonomi, baik perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri akhirnya menjadi salah satu pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Pada tanggal 20 Maret 1970, dikeluarkan UU No. 3 tahun 1970 dan No. 4 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan Sabang dan tentang daerah perdagangan bebas dengan pelabuhan bebas untuk masa 30 tahun, dengan fungsi : Mengusahakan persediaan (stockpiling) barang-barang konsumsi dan produksi untuk perdagangan impor, ekspor, re-ekspor maupun industri. Melakukan peningkatan mutu (upgrading), pengolahan (processing), manufacturing, pengepakan (packing), pengepakan ulang (repacking), dan pemerian tanda dagang (marking). Menumbuhkan dan memperkembangkan industri, lalu lintas perdagangan, dan perhubungan. Menyediakan dan memperkembangkan prasarana dan memperlancar fasilitas pelabuhan, memperkembangkan pelabuhan, pelayaran, perdagangan transito, dan lain-lain. Mengusahakan memperkembangkan kepariwisataan dan usaha-usaha ke arah terjelma dan terbinanya shopping centre. Mengusahakan dan memperkembangkan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam sektor perdagangan, maritim, perhubungan, perbankan dan peransuransian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kunjungan Kapal Dagang ke Pelabuhan Sabang pada Tahun 1936-1937&lt;br /&gt; Kapal dari negara&lt;br /&gt;jumlah&lt;br /&gt;1936&lt;br /&gt;1937&lt;br /&gt;Belanda&lt;br /&gt;Hindia Belanda&lt;br /&gt;Inggris&lt;br /&gt;Jerman&lt;br /&gt;Norwegia&lt;br /&gt;Yunani&lt;br /&gt;Jepang&lt;br /&gt;Negara lain&lt;br /&gt;166&lt;br /&gt;269&lt;br /&gt;146&lt;br /&gt;27&lt;br /&gt;53&lt;br /&gt;87&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;39&lt;br /&gt;226&lt;br /&gt;224&lt;br /&gt;112&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;48&lt;br /&gt;46&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;804&lt;br /&gt;771&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai macam alasan, seperti maraknya penyeludupan, akhirnya pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1985 mencabut status Sabang sebagai kawasan pelabuhan bebas melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 1985. Padahal penyeludupan pada hakikatnya bukan ditentukan oleh free-port itu sendiri tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan keamanan di daerah pabean itu sendiri.&lt;br /&gt;Pada tahun 1998, Sabang dijadikan kawasan pengembangan ekonomi terpadu yang diresmikan oleh Presiden B.J. Habibie dengan Keppres no. 171 tanggal 26 September 1998. Kemudian dicanangkan kembali sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas oleh Presiden Abdurrahman Wahid dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000 dan pada tahun 2006 diterbitkan undang-undang no. 11 tahun 2006 tanggal 11 Juli tentang pemerintahan Aceh yang mengamanatkan kepada BPKS melalui DKS untuk pengembangan pelabuhan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dari kenyataan di atas bahwa keberadaan Sabang sebagai pelabuhan transito dapat mendorong tumbuh bermacam aktivitas penduduk, yang dengan itu diharapkan meningkatnya ekonomi masyarakat. Bagi sektor pemerintah kegiatan perdagangan transito sebab utama yang menciptakan sumber pemasukan dari berbagai macam jenis, antara lain uang sandar, sewa gudang, penjualan air kepada kapal-kapal, berbagai macam biaya tata laksana, pajak perusahaan, bea masuk barang, dan sebagainya. Dengan adanya pemasukan bagi pemerintah, terjadi pula serangkaian pembangunan dalam berbagai bidang dan sektor terutama bidang prsarana fisik pelabuhan, prasarana jalan, dan lain-lain yang dapat menciptakan employment opprtunities kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Pelabuhan Sabang diharapkan dapat menunjukkan usaha ke arah pengembangan fungsi utamanya sebagai pusat perdagangan transito. Sabang dengan segala peralatan dan keindahan alam yang dimilikinya serta dengan bermacam-macam fasilitas lainnya yang telah dibangun untuk menunjang terwujudnya pusat perdagangan transito. Selain itu, kawasan Sabang dapat difungsikan sebagai sentral pengembangan industri padat teknologi yang dapat memberi manfaat untuk mengembangkan industri, pengumpulan dan penyaluran hasil produksi dari dan ke seluruh nusantara serta luar negeri. Dengan itu diharapkan meningkat pula taraf kesejahteraan hidup masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.J. Piekaar, Aceh dan Peperangan dengan Jepang. Banda Aceh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Jongejans, Land en Volk van Atjeh Vroeger en Nu, Barn : Hollandia Drukkerij, 1939.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsuddin Mahmud, dkk., Pelabuhan Bebas Sabang 1967. Banda Aceh : LPES-BPKP4BS, 1968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.G De Boer, Zeehaven en Kolenstation Sabang 1899-1924, Gedenkschrift op 1 Januari 1924. Amsterdam : L. Van Leer &amp;amp; Co.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-2228512720694671940?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/2228512720694671940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/sabang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/2228512720694671940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/2228512720694671940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/sabang.html' title='Sabang'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-7466959996871971575</id><published>2009-03-02T00:59:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T01:01:33.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Aman Dimot</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pahlawan Aman Dimot&lt;br /&gt;by sudirman&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;I  Pendahuluan&lt;br /&gt;Perjuangan bangsa pada umumnya diartikan sebagai wujud rasa cinta tanah air, kerelaan dan kesadaran untuk membela negara yang timbul pada suatu bangsa. Sementara pengertian nasionalisme adalah hasil proses interaksi kesadaran subjektif antargolongan masyarakat dalam mengembangkan bangsa (Indonesia), dan di lain pihak adalah kondisi objektif sosial politik dalam kurun waktu tertentu yang berkembang di masyarakat Indonesia. Dalam hal ini nasionalisme tidak hanya terbatas pada ucapan saja, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata demi kepentingan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Nasionalisme suatu bangsa lebih disebabkan oleh adanya kemauan bersama dari kelompok manusia untuk hidup bersama dalam ikatan suatu bangsa tanpa memandang perbedaan kebudayaan, suku dan agama. Demikian juga oleh faktor geografis, ekonomis, historis dan lain-lain. Amanah itulah yang telah dilaksanakan oleh orang-orang cerdas dan tercerahkan pada zaman dahulu, di antaranya adalah Panglime Abu Bakar Aman Dimot, dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini demi kehidupan yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II Perjuangan dan Pahlawan Bangsa&lt;br /&gt;Bangsa kita pernah mengalami beberapa masa penjajahan, seperti masa Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang, serta masa Perang Kemerdekaan 1945-1949.     Dalam perjalanan sejarah masa penjajahan tersebut telah melahirkan aneka pengorbanan dan berbagai gumpalan mega derita dalam berbagai dimensi kehidupan anak manusia.&lt;br /&gt;Pada periode itu pula tampil tokoh masyarakat di setiap daerah untuk memimpin rakyatnya menentang penjajahan tersebut. Situasi konflik dan antagonisme itulah yang sesungguhnya melahirkan pahlawan. Periode kolonial dengan segala implikasi sosial-ekonomi-politiknya selalu dikambinghitamkan sebagai sumber segala jenis kepentingan, ketidakadilan, penindasan, diskriminasi, dan keterbelakangan. Sikap dan prilaku individu atau kelompok yang berkehendak mengubah dan atau mengakhiri keadaan serba tidak adil dan timpang itu dianggap sebagai tindakan kepahlawanan. Orang atau kelompok yang ingin dengan sepenuh hati, tenaga, dan pikiran yang mewujudkan kondisi-kondisi ideal bagi komunitasnya diberi predikat pahlawan. Seorang pahlawan dengan demikian adalah seorang yang dengan gigih dan semangat rela berkorban bersedia mengabdikan diri demi merealisasikan cita-cita yang sesungguhnya juga merupakan cita-cita yang kolektif. Biasanya pahlawan melakukan perjuangan mulia demi kepentingan umum tanpa memperdulikan resiko atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Untuk itu, kita mengenal adanya pahlawan dari berbagai daerah, salah satu di antaranya adalah Panglime Abu Bakar Aman Dimot, seorang pahlawan Aceh yang berasal dari Aceh Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III ACEH MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN&lt;br /&gt;Perjanjian Linggajati 1947, ternyata gagal dilaksanakan, yang berujung dengan ultimatum Belanda Mei 1947, karena Belanda ingin membentuk pemerintah bersama dengan pimpinan tertinggi berada di Nederland. Belanda ternyata masih berniat menguasai Indonesia, sehingga terjadi Agresi Belanda I dengan menyerbu berbagai daerah pada tanggal 21 Juli 1947. demikian juga dengan gagalnya perjanjian Renville, yang berujung dengan terjadinya Agresi Belanda II.&lt;br /&gt;Memahami situasi tersebut, masyarakat Aceh sudah dalam keadaan siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang akan dilakukan oleh Belanda. Hal itu dengan melakukan konsolidasi kekuatan divisi dan lasykar. Bahkan jauh sebelumnya, yaitu setelah Jepang dikalahkan oleh Sekutu 1945, ternyata Sekutu mendarat ke Indonesia, khususnya Sumatera Timur Oktober 1945, Sekutu ternyata membonceng tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Akibat rong-rongan yang terus-menerus dilakukan oleh tentara Belanda, sehingga mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat.&lt;br /&gt;            Masyarakat Aceh yang sudah memperhitungkan sebelumnya bahwa Belanda akan kembali lagi, sehingga sudah lebih siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi jika Belanda benar-benar kembali. Ternyata perkiraan itu benar, sehingga untuk mengantisipasi agar Belanda tidak dapat masuk dan menyerbu Aceh maka masyarakat Aceh yang tergabung dalam berbagai lasykar dan divisi terus menghadang gerak laju Belanda di daerah Sumatera Timur. Lasykar-lasykar rakyat Aceh kemudian terus membanjiri Sumatera Timur untuk menghempang Belanda masuk Aceh dan mengusir penjajahan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV Aman Dimot : Pahlawan Kemerdekaan dari Aceh Tengah&lt;br /&gt;Demikian halnya yang dilakukan oleh masyarakat di Aceh Tengah, mendengar keadaan tersebut mereka tidak tinggal diam dan merasa terpanggil untuk membantu perjuangan di setiap front di Sumatera Timur. Banyak pasukan pejuang dari Aceh Tengah yang berangkat ke sana, salah satu di antaranya adalah  Panglime Abu Bakar Aman Dimot.&lt;br /&gt;Panglime Abu Bakar Aman Dimot lahir di Tenamak, Linge Isaq tahun 1920. Sebagai seorang muslim, ia semenjak kecil telah ditempa dengan pendidikan agama oleh orang tuanya, sehingga ketika besar menjadi berkepribadian yang tangguh dan mandiri serta mampu menghadapi berbagai masalah dengan tegar dan sabar.&lt;br /&gt;Tidak hayal lagi ketika musuh sudah mengancam keyakinan dan tanah airnya maka bergelora jiwanya untuk tampil membela agama dan bangsa. Hal itu ia buktikan ketika Lasykar Mujahidin yang dipimpin oleh Teungku Ilyas Lebe menyerbu Belanda ke Sumatera Timur, Panglime Abu Bakar Aman Dimot ikut begabung. Dalam perjalanan ke Sumatera Timur, tiba-tiba dihadang oleh pasukan musuh yang sedang berpatroli di Bukit Talang, sehingga terjadi pertempuran sengit antara pasukan Panglime Aman Dimot dengan pasukan patroli Belanda.&lt;br /&gt;Pada tahun 1947, Batang Serangan, Langkat yang sudah terlebih dahulu dikuasai oleh pasukan Belanda sehingga pasukan Panglime Abu Bakar Aman Dimot bergabung dengan pasukan pejuang setempat menyerang Batang Serangan dan rumah sakit umum Batang Serangan yang sudah dijadikan markas militer Belanda. Dalam penyerangan tersebut pasukan pejuang menjadi terdesak karena pasukan musuh yang memiliki senjata berat, sehingga pasukan pejuang mengundurkan diri untuk mengatur strategi. Namun, apa yang terjadi, Panglime Abu Bakar Aman Dimot beserta dua orang temannya tidak mau mengundurkan diri dan terus maju mendekati markas militer Belanda. Ketika tengah malam ia menerobos masuk ke markas militer Belanda sehingga terjadi pertempuran sengit dengan pasukan Belanda di dalam markas tersebut. Panglime Abu Bakar Aman Dimot dengan kelincahannya dalam berperang sehingga dapat lolos dalam peristiwa tersebut, padahal kedua temannya tewas, Panglime Abu Bakar Aman Dimot hanya mengalami luka-luka ringan. Belanda terpaksa mengosongkan markas tersebut karena serangan yang terus-menerus dilakukan oleh pasukan pejuang.&lt;br /&gt;            Sekembali mereka dari Sumatera Timur ke Aceh Tengah, Teungku Ilyas Lebe membentuk Barisan Gurilla Rakyat Aceh Tengah untuk program gerilya jangka panjang mempertahankan kemerdekaan. Panglime Abu Bakar Aman Dimot ikut bergabung dalam barisan tersebut.&lt;br /&gt;            Atas instruksi Komandan Resimen Devisi Teungku Chik Di Tiro, Barisan Gurilla Rakyat dari Takengon menuju Tanah Karo pada bulan Mei 1949 untuk menyerang Belanda yang telah melancarkan agresinya yang kedua. Perjuangan ke Tanah Karo itu dipimpin langsung oleh Komandan Barisan Gurilla Rakyat Aceh Tengah, Teungku Ilyas Lebe dan pimpinan operasi di antaranya dipimpin oleh Panglime  Abu Bakar Aman Dimot.&lt;br /&gt;            Pasukan Barisan Gurilla Rakyat Aceh Tengah beberapa kali terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda. Panglime Abu Bakar Aman Dimot yang dipercayakan sebagai komandan pertempuran terus menghadang dan menghancurkan konvoi Belanda. Pada suatu hari, pasukan Belanda yang sedang menuju Tiga Binanga diserang oleh pasukan pejuang Panglime Abu Bakar Aman Dimot di jalan raya Kabanjahe jurusan Kutacane. Di tempat tersebut terjadi pertempuran sengit dan memakan banyak korban kedua belah pihak.&lt;br /&gt;Ketika pasukan pejuang mengurus pejuang yang gugur ke rumah sakit Kabanjahe, tiba-tiba datang bala bantuan tentara Belanda. Komandan Barisan Gurilla Rakyat Aceh Tengah, Teungku Ilyas Lebe, memerintahkan pasukan untuk mundur, Panglime Aman Dimot selaku komandan salah satu pasukan menyuruh anak buahnya untuk mundur. Akan tetapi, Panglime Abu Bakar Aman Dimot tidak mau mundur, bersama Pang Ali Rema dan Pang Edem bertahan menunggu musuh dengan cara menyatukan dirinya dengan mayat-mayat yang sudah bergelimpangan tadi, sehingga Belanda mengira mereka bertigapun sudah mati. Ketika Belanda meneliti mayat-mayat anggota pasukannya, tiba-tiba Panglime Abu Bakar Aman Dimot beserta temannya menyerang serdadu Belanda dengan pedang, banyak serdadu Belanda yang tewas dan kedua teman Panglime Abu Bakar Aman Dimot juga tewas, sedangkan Panglime Panglime Abu Bakar Aman Dimot terus mengejar serdadu Belanda dengan pedang. Belanda menjadi bingung karenan beberapa kali gagal membunuh Panglime Abu Bakar Aman Dimot, akhirnya pasukan Belanda menangkap Panglime Abu Bakar Aman Dimot dan meledakkan granat ke dalam mulutnya, tidak cukup dengan itu, pasukan Belanda menggilas tubuh Panglime Abu Bakar Aman Dimot dengan tank. Maka pada tanggal 30 Juli 1949, gugurlah Panglime Aman Dimot di Rajamerahe, Sukaramai, Karo dan dimakamkan di tempat itu. Beberapa tahun kemudian kerangkanya dipindahkan ke Tiga Binanga, selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V Penutup&lt;br /&gt;Merujuk kepada pemahaman nasionalisme klasik, yakni perjuangan kebangsaan untuk membebaskan negeri dari penjajah. Dalam konteks ini, nasionalisme suatu bangsa hanya sebatas berjuang membebaskan bangsa dari bangsa penjajah. Namun, dalam konteks kekinian, nasionalisme tidak hanya sebatas berkecimpung dalam pergolakan perjuangan merebut kemerdekaan, tetapi juga mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan bangsa yang telah diraih.&lt;br /&gt;Tiada semua pahlawan yang namanya abadi sepanjang masa, dan masih banyak pahlawan yang tiada dikenal dan tiada disapa lagi. Akibat perang ini telah membawa kehidupan anak manusia di bumi ini menjadi dua belah, pada satu belah ia mendapat nama dan harta, di belahan lain ia bergelut dalam berbagai gumpalan derita sampai kepada anak cucunya, dan tiada sedikit menjadi pengkianat bagi bangsanya.&lt;br /&gt;            Kecuali itu, sudah menjadi kepastian sejarah bahwa semangat rakyat di bumi Serambi Mekah ini tidak mudah dipadamkan dan ditaklukkan oleh penjajahan.&lt;br /&gt;            Namun pertanyaan selalu ada, apakah generasi sesudahnya dapat menyimak perjalanan sejarah itu, sehingga dalam gerak dan langkah mereka senantiasa menghayati nilai-nilai pengorbanan, ketaqwaan, ketulusan, cinta tanah air, tidak kenal menyerah dan tanpa pamrih. Apakah mereka tidak dapat menyingkirkan atau setidaknya tidak turut menabur kerikil-kerikil tajam di atas jalan raya perjalanan sejarah dan kehidupan umat manusia di negeri yang kita cintai ini.&lt;br /&gt;Panglime Abu Bakar Aman Dimot adalah seorang pahlawan yang dengan tindakan-tindakan nyata telah berjasa kepada nusa dan bangsa. Demikian besar jasanya dalam perjuangan menegakkan dan mempertahankan negara ini, sudah selayaknya untuk menghargai jasanya dengan mengangkat sebagai Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alfian, Ibrahim, Perang di Jalan Allah (Perang Aceh 1873-1912), Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim, Mahmud, Mujahid Daratan Tinggi Gayo, Takengon : Yayasan Maqamammahmuda, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kohn, Hans, Nasionalisme, Arti dan Sejarahnya, Jakarta : Pembangunan, 1876&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Isa, T.,  Mr. Teuku Moehammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa, Jakarta : Papas Sinar Sinanti, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional : Dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;van Niel, Robert, The Emergense of Modern Indonesian Elite, Den Haag : The Hague van Hoeve, 1960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiwoho, B., Pasukan Meriam Nukum Sanany,  Jakarta : Bulan Bintang, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zamzami, Amran, Jihad Akbar di Medan Area, Jakarta : Bulan Bintang, 1990.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-7466959996871971575?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/7466959996871971575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/aman-dimot.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/7466959996871971575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/7466959996871971575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/aman-dimot.html' title='Aman Dimot'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-8863912781065876325</id><published>2009-03-02T00:48:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T00:51:20.945-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Dokarim</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pengarang Hikayat Prang Compeuni&lt;br /&gt;by sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Dalam sastra Melayu, yang disebut hikayat adalah karya sastra yang berbentuk prosa. Di Aceh, uraian tentang perang sabil disajikan dalam bentuk hikayat. Meskipun demikian, beberapa di antaranya ada yang disajukan dalam bentuk prosa.&lt;br /&gt;Pemakluman perang serta serangan-serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda mengakibatkan Dalam (istana) Aceh jatuh ke pihak Belanda pada tanggal 24 Januari 1874, setelah pada serangan pertama April 1873 gagal karena dilanda kekalahan. Belanda menyangka bahwa dengan menguasai Dalam dan sebagian daerah Aceh Besar serta dengan secarik kertas proklamasi sudah cukup untuk membuat negeri Aceh yang lebihnya tunduk kepada Belanda. Yang terjadi adalah perlawanan Aceh bertambah meningkat.&lt;br /&gt;Tuanku Hasyim dan para pemimpin sagi di Aceh Besar menjelaskan kepada pemimpin-pemimpin Aceh yang lain. Dalam suratnya yang tertanggal 18 April 1874 kepada Imum Chik Lotan, raja Geudong, Pasai, Aceh Utara, Tuanku Hasyim bersama Sri Muda Perkasa Panglima Polem, Sri Muda Setia dan Sri Setia Ulama, menulis antara lain sebagai berikut : “...Demikianlah halnya, maka negeri yang sudah kebinasaan empat mukim, pertama Lheu dan Masijid Raya, Masijid Lueng Bata dan Gigieng dengan Lhok Gulong dan takluk setengah mukim orang Meuraksa, maka lain daripada itu Insya Allah Taala tiada ubah kepada Allah dan Rasul melainkan melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyirupun melawan juga, demikianlah pakatan orang tiga sagi dan ulama-ulama dan haji-haji dan sekalian muslimin, maka sekarang pun jikalau ada yakin saudara kami akan Allah dan Rasul dan akan agama Islam mendirikan syariat Muhammad dan bersaudara dengan kami semuanya dalam Aceh maka hendaklah saudara kami melawan dengan sekuat-kuat melawan mudah-mudahan terpelihara syariat Muhammad agama Islam dan nama agama bangsa Aceh adanya.”&lt;br /&gt;Surat senada juga ditulis oleh pemimpin lain. Pada bulan Desember 1877, Teungku Muhammad Amin Dayah Cut Tiro menyerukan agar barang siapa yang yakin akan Allah dan Rasul hendaklah berperang sabil ke Aceh Besar. Rakyat dianjurkannya untuk berpuasa tiga hari, membaca Quran dan mengadakan kenduri, memberi sedekah untuk menolak bala serta bertobat jika telah melanggar syariat Islam.&lt;br /&gt;Dari kedua surat itu tampaklah adanya usaha untuk mempersiapkan orang Aceh supaya melakukan aksi kolektif berdasarkan keyakinan agama dan ditopang dengan dasar moral yang tinggi.&lt;br /&gt;Dari kalangan pemimpin agama, terdapat misalnya Teungku Nyak Ahmad dari Gampong Cot Paleue, Pidie, mengubah karya sastra yang digolongkan dalam Hikayat Prang Sabil, yang isinya menyeru kaum muslimin untuk berperang melawan kafir Belanda berdasarkan keyakinan agama Islam. Hal itu seperti dijelaskan oleh Teungku Nyak Ahmad dalam hikayatnya adalah : soe prang kaphe lam prang sabi, niet peutinggi hak agama, kalimah Allah agama Islam, kaphe jahannam asoe nuraka, sabilullah geupeunan prang, Tuhan pulang page syeuruga, ikot suroh sampoe janji, pahala page that sampurna. (Yang memerangi kafir di medan sabil, niat meninggikan hak agama, kalimah Allah agama Islam, kafir jahannam isi neraka, Sabilillah dinamai perang, Tuhan berikan akhirnya surga, mengikuti suruhan sampai ajal, pahala nanti sangat sempurna.&lt;br /&gt;Pada masa perang Belanda Hikayat Prang Sabil dibaca di dayah-dayah, di meunasah-meunasah atau di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi berperang. Di Aceh di daerah yang diduduki Belanda orang membaca hikayat perang secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyebarkan isinya tidak hanya disampaikan dengan membaca, tetapi naskah hikayat itu disalin berkali-kali dan diusahakan tersebar ke pelbagai pelosok tanah Aceh.&lt;br /&gt;Melalui penyebaran ideologi perang sabil, para ulama berusaha menggugah rakyat menjadi lebih dinamis dalam menghadapi musuh. Strategi yang dijalankan adalah menumbuhkan kemauan keras untuk berperang yang berlandaskan agama Islam. Dari itu timbullah keberanian yang memungkinkan orang bersedia menempuh penderitaan guna mempertahankan prinsip-prinsip hidup. Di samping itu timbul pula kebencian yang tiada tara kepada musuh dan kecintaan yang mendalam kepada agama dan bangsa.&lt;br /&gt;Usaha yang sejajar diperankan pula oleh sekelompok cendikiawan yang mahir dalam sastra. Sebagian dari mereka adalah pembawa pantun dan hikayat yang mempunyai fungsi menghibur masyarakat tanpa membaca teks. Salah seorang di antaranya adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Bahan-bahan yang sudah terpatri dalam ingatannya tidak pernah sama benar dengan yang pernah dibawakan sebelumnya. Di sana-sini ada yang dikuranginya, adapula yang ditambahkannya dengan bahan-bahan lain dari waktu ke waktu sesuai dengan bahan yang diperolehnya dari saksi-saksi mata. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.&lt;br /&gt;Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.&lt;br /&gt;Contoh Hikayat Prang Compeni :&lt;br /&gt;Pada masa nyan raja that adee,&lt;br /&gt;Hana seunabee hukoom that seunang&lt;br /&gt;Meuneukat murah reundah bukon lee&lt;br /&gt;Are pih sabee nibak timbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigeunap uroe kapai jiteuka&lt;br /&gt;Jak maniaga nggroe suloothan&lt;br /&gt;Muwatan peunooh jiwoe ngon jiba&lt;br /&gt;Rakyat that muqa nibak masa nyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapai di bumoe di nanggroe Cina&lt;br /&gt;Geunap uroe na troh kapai dagang&lt;br /&gt;U Banda Aceh jadeh jiteuka&lt;br /&gt;Keudeeh u Daya nanggroe keuluwang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meusyeuhu meugah ban saboh doonya&lt;br /&gt;Trooh u Ierupa nama meuguncang&lt;br /&gt;Teuma teupikee raja Beulanda&lt;br /&gt;Aceh meurdeehka jikeumeung jak prang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meunan ka leumah jisah lam dada&lt;br /&gt;Raja Beulanda jieek gurangsang&lt;br /&gt;Jipeuduek rapat pakat panglima&lt;br /&gt;Pulo Sumatra jikeuheundak guncang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Kuneng masa nyan raja&lt;br /&gt;Sangat leupah kha hana soe lawan&lt;br /&gt;Oh saree habeeh bandum meusapat&lt;br /&gt;masa nyan deelat phoon buka kalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;geutanyoe bandum jinoe tabeudoh&lt;br /&gt;Aceh tareuloh nanggroe tajak prang&lt;br /&gt;Gata Rasid’en seureuta Uboh&lt;br /&gt;Tatimang beujroh sabda lon tuwan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U Banda Aceh jadeh tateuka&lt;br /&gt;Rakyat dum taba dengon siresan&lt;br /&gt;Padum nyang rakyat nyang kuasa&lt;br /&gt;Cuba takira wahee kapitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teuma jiseuoot jisamboot sabda&lt;br /&gt;Lamong ribee sa sidadu sajan&lt;br /&gt;Teuma oh lheuh nyan laeen takira&lt;br /&gt;Tame lom tantra meribee hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokarim&lt;br /&gt;Rujukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Jakarta : Beuna, 1983&lt;br /&gt;Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987&lt;br /&gt;Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis, (terj. Ng. Singarimbun), Jakarta : Yayasan Soko Guru, 1985&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-8863912781065876325?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/8863912781065876325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/dokarim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8863912781065876325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8863912781065876325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/dokarim.html' title='Dokarim'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-1351667758145630917</id><published>2009-03-02T00:39:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T00:44:26.641-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Martti Ahtisaari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tokoh Perdamaian Aceh&lt;br /&gt;By sudirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki usia lanjut bukannya memilih untuk istirahat, Martti Ahtisaari justru sering meninggalkan Helsinki, tempatnya bermukim. Mantan Presiden Finlandia itu punya banyak tugas kemanusiaan yang harus diselesaikan. Martti Ahtisaari menjadi penengah dalam perundingan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia melalui organisasi Crisis Management Initiative (CMI). Setelah sukses menjadi penengah antara GAM dengan RI, Oktober 2005 menjadi utusan khusus PBB/United Nation untuk Kosovo.&lt;br /&gt;Mengenai urusan diplomasi, kemampuan Martti Ahtisaari tidak diragukan lagi, ia lahir pada tanggal 23 Juni 1937 di Viipuri, Finlandia dan alumnus Universitas Oulu, Finlandia pada tahun 1959, semenjak usia muda, ia sudah banyak pengalaman ke berbagai negara. Pada tahun 1965, karir politik Martti Ahtisaari mencuat setelah ia bergabung sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri Finlandia. Ia pernah berkiprah di Eastwest Institute dan International Crisis Group. Berbagai tugas berat dapat diselesaikan dengan baik. Ia pernah bertugas di Pakistan dan sejumlah negara di Afrika. Selain tertarik di dunia politik, ia juga aktif dalam organisasi NGO International.&lt;br /&gt;Pada tahun 1978, Martti Ahtisaari dan keluarga pindah ke New York untuk bekerja sebagai tenaga administrasi dan manajemen di PBB, sehingga ia sangat dekat dengan sekjen PBB pada waktu itu, Kurt Waldheim dan Javier Perez de Cuellar. Sebagai utusan PBB, Martti Ahtisaari pernah bertugas menangani konflik di Namibia, membawahi sekitar 8000 pasukan perdamain dunia.&lt;br /&gt;Ketika konflik Bosnia mulai memanas pada tahun 1993, Martti Ahtisaari gencar melakukan kampanye untuk menentang pemerintahan Serbia. Lalu ia kembali ke Finlandia bergabung sebagai pengurus Partai Demokrasi Sosial. Akhirnya Martti Ahtisaari terpilih sebagai presiden Finlandia periode 1994-2000. Selama masa pemerintahannya, Finlandia tampil sebagai negara yang sangat menonjol di Eropa. Selain menjalankan tugas sebagai presiden, ia juga sering tampil memimpin delegasi PBB untuk menangani konflik global. Ketika terjadi invansi Irak ke Kuwait pada tahun 1991, Martti Ahtisaari juga ikut diterjunkan sebagai penengah. Jam terbang yang tinggi dalam menangani ksisis internasional menempatkannya sebagai peraih Franklin D Roosevelt Four Freedom Award pada tahun 2000.&lt;br /&gt;Setelah habis masa jabatannya sebagai presiden Finlandia pada tahun 2000, Martti Ahtisaari memutuskan untuk tidak mau dicalonkan lagi sebagai presiden. Setelah pensiun dari jabatan presiden, Martti Ahtisaari kembali aktif terlibat perdamaian di berbagai konflik di Afrika. Untuk kawasan Asia persoalan Aceh adalah konflik pertama yang ditanganinya. Langkah tersebut berhasil setelah 15 Agustus 2005, pemerintah Indonesia dengan GAM sepakat menandatangani kesepakatan damai.&lt;br /&gt;Penyelesaian konflik Aceh bukan hanya agenda pemerintah Indonesia saja. Di tingkat Internasional, konflik Aceh juga ramai dibicarakan. Hal itu sperti yang dilakukan oleh Martti Ahtisaari, telah melakukan pertemuan dengan sekjen PBB Kofi Annan di New York untuk membahas perdamaian Aceh.&lt;br /&gt;Martti Ahtisaari adalah ketua Dewan Pengurus The Crisis Management Initiative (CMI), fasilitator dialog antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki. Sebelum ke New York, Martti Ahtisaari juga telah melakukan perjalanan ke berbagai negara Eropa untuk mengkampanyekan perdamaian Aceh.&lt;br /&gt;Salah satu yang dijajakinya adalah mengundang pasukan Uni Eropa terlibat dalam proses perdamaian di Aceh. Beberapa media di Eropa menyebutkan, sedikitnya 25 negara yang dilobi Martti Ahtisaari. Aksi Marti Ahtisaari tidak mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia. Indonesia lebih menginginkan agar tim monitoring mengandalkan perwakilan negara ASEAN. Martti Ahtisaari tidak berhenti melakukan lobi. Setelah pertemuan babak keempat akhir Mei 2005, ia melanjutkan perjalanan keliling Eropa dan Amerika.&lt;br /&gt;Berdialog secara estafet selama tujuh bulan bukan pekerjaan yang mudah. Menyelesaikan konfilk yang telah mendarah daging selama 30 tahun, bukanlah masalah mudah. Tetapi Marti Ahtisari dengan kejeliannya mampu melakukan itu. Ia menjadi katalisator untuk melunakkan sikap GAM maupun pemerintah RI.&lt;br /&gt;Karena ketegasannya, tidak jarang kedua kubu merasa disudutkan. Misalnya, ketika delegasi Indonesia memprotes kehadiran Damien Kingsbury sebagai penasihat politik GAM, Martti Ahtisari dengan tegas menolaknya, sebagai penasihat, kehadiran Damien Kingsbury dianggap absah. GAM pun merasakan hal yang sama ketika mereka tertekan sampai akhirnya mencabut tuntutan merdeka. Pernah pula GAM ingin menghadirkan Drh. Irwandi Yusuf, M. Sc., tahanan politik GAM yang melarikan diri dari rutan Banda Aceh ketika bencana tsunami, sebagai peserta dalam perundingan itu, namun diprotes oleh delegasi Indonesia maka Martti Ahtisaari menolak kehadiran Irwandi Yusuf sebagai peserta.&lt;br /&gt;Kucuran keringat Martti Ahtisaari dan staf CMI lainnya telah membuahkan hasil, perdamaian Aceh berhasil ia gagas. Perjanjian damai Aceh adalah hasil karya mutakhir Martti Ahtisaari dan staf CMI lainnya dengan melahirkan UUPA (undang-Undang Pemerintahan Aceh). Ia tidak butuh pamrih apapun dari prestasinya itu. Hanya ada satu pesan, jangan sampai martil yang disimpan Martti keluar dari sarangnya. Biarkan Martil itu tersimpan selamanya. Tertidur lelap dalam keheningan Aceh tanpa nyalak senjata.&lt;br /&gt;Di negerinya, Finlandia, Martti Ahtisaari dianggap sebagai politisai tanpa cacat. Pemerintah yang berkuasa juga sangat mengagumi kepemimpinan Marti Ahtisaari. Setelah berhasil menyelesaikan masalah Aceh, pemerintah Finlandia mencalonkannya sebagai penerima Nobel Perdamaian dan pada tanggal 10 Oktober 2008, Martti Ahtisaari memperoleh hadiah nobel perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan&lt;br /&gt;Majalah Aceh Kita Juni 2005&lt;br /&gt;Majalah Aceh Kita Oktober 2005&lt;br /&gt;Majalah Aceh Kita September 2005&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-1351667758145630917?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/1351667758145630917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/martti-ahtisaari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1351667758145630917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/1351667758145630917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/martti-ahtisaari.html' title='Martti Ahtisaari'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-8371442574520361806</id><published>2009-02-26T00:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T00:28:20.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Aceh-Turki</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekilas Hubungan Aceh dengan Turki&lt;br /&gt;by sudirman&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hubungan antara Aceh dengan Turki sudah berlangsung lama. Disebutkan bahwa di Banda Aceh terdapat Kampung Bitai dan Emperom yang merupakan cikal bakal tempat tinggal orang Turki di Aceh. Di Kampung Bitai banyak terdapat makam yang diyakini sebagai keturunan Turki, dan Suriah di Kampung Surin. Asal kata Bitai disebutkan berasal dari kata Baital Maqdis, lama kelamaan berubah menurut lidah Aceh yaitu Bitai, sedangkan Emperum berasal dari Empe dan Rium, demikian juga dengan Surin, disebutkan berasal dari kata Suriah.&lt;br /&gt;Sumber Portugis menyebutkan bahwa pertengahan abad ke-16 (sekitar tahun 1540 M) Aceh telah mengadakan hubungan dengan Turki. Pinto, seorang petualang Portugis menyebutkan bahwa Aceh telah mendapat sumbangan dari Turki sebanyak 300 orang ahli, bantuan tersebut dibawa oleh kapal Aceh sebanyak 4 buah yang sengaja datang ke Turki untuk mendapatkan alat-alat senjata dan pembangunan.&lt;br /&gt;Selama abad ke-16 dan ke-17 terjadi pertukaran, baik dagang maupun diplomatik dan budaya antara Istanbul dengan Aceh. Utusan Aceh yang pertama ke Konstantinopel pada tahun 1562 M yang dikirim oleh Sultan Ala Addin Riayat Syah Al Kahhar.&lt;br /&gt;Dalam rangka memperoleh bantuan dari Kerajaan Islam terbesar pada waktu itu, pada tahun 1563 M sultan Aceh mengirim suatu utusan ke kerajaan Turki. Utusan tersebut membawa serta hadiah-hadiah berharga dari sultan Aceh kepada penguasa kerajaan Turki. Hadiah-hadiah itu berupa emas, rempah-rempah dan lada.&lt;br /&gt;Selain pemberian hadiah, para utusan Aceh juga telah meyakinkan pihak Turki mengenai suatu keuntungan yang akan diperoleh pihak Turki dari perdagangan rempah-rempah dan lada di Nusantara, apabila orang-orang Portugis telah diusir dari Malaka oleh Aceh dengan bantuan Turki. Perutusan Aceh itu dapat dikatakan berhasil karena suatu keputusan Sultan Selim II Turki bertanggal 16 Rabiul Awal 975 atau 20 September 1567, berisi penyambutan positif atas permintaan sultan Aceh yang dibawa oleh wazirnya bernama Husin. Dari pertemuan Husin dengan Selim II diketahui betapa besarnya tekad kaum muslimin di kepulauan Nusantara untuk mengusir kafir Portugis. Akhirnya pihak Turki bersedia mengirim bantuan kepada Aceh, berupa dua buah kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal itu. Di antara 500 orang Turki itu juga terdapat ahli-ahli militer yang dapat membuat kapal-kapal perang baik ukuran besar maupun kecil dan meriam berukuran besar. Selain itu, pihak Turki juga memberikan sejumlah meriam berat beserta perlengkapan-perlengkapan militer kepada pihak Aceh. Laksamana Turki Kurt Oglu Hizir diserahi tugas untuk memimpin ekspedisi tersebut dengan tugas khusus mengganyang musuh Aceh, mempertahankan agama Islam dan merampas benteng-benteng kafir.&lt;br /&gt;Di lain pihak, Portugis juga meningkatkan kegiatan-kegiatannya, sekitar tahun 1554-1555 M armada Portugis mengendap terus di pintu masuk laut Merah khusus untuk menyergap kapal-kapal yang datang dari Gujarat dan Aceh. Namun, pengalaman Portugis menunjukkan tidak begitu berhasil mematahkan kegiatannya. Lebih merepotkan Portugis, di samping kegiatan Aceh menghadapi Portugis di laut lepas, Aceh juga tidak henti-hentinya menyerang Malaka. Atau seperti dikatakan oleh Couto dalam ungkapannya bahkan di tempat tidurnya pun Sultan Riayat Syah (Al Kahhar) tidak pernah diam untuk memikirkan pengganyangan Portugis.&lt;br /&gt;Di samping bantuan militer yang diperoleh dari Turki, Aceh juga berusaha mendapatkan dari beberapa pemimpin kerajaan di Nusantara dan India tetapi Aceh hanya mendapatkan sekedar bantuan yang terbatas dari pemimpin Calicut dan Jepara. Selain itu, dalam rangka mengenyahkan Portugis dari kawasan selat Malaka, Aceh juga menggunakan tentara-tentara sewaan yang terdiri atas orang-orang Gujarat, Malabar dan Abyssinia.&lt;br /&gt;Pada masa Sultan Al Mukammil, juga melakukan hubungan dengan Sultan Turki, Mustafa Khan. Ketika itu Sultan Mustafa Khan mengirim subuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh dan memberi pula sebuah pernyataan dan izin bahwa kapal-kapal perang Kerajaan Aceh boleh mengibarkan bendera Turki di tiang kapal perangnya.&lt;br /&gt;Selain itu, dalam Hikayat Aceh terdapat cerita panjang lebar tentang penyambutan perutusan Turki oleh Sultan Iskandar Muda. Suatu perutusan yang dipimpin oleh dua orang datang mencari kamper dan nafta yang diperlukan untuk obat.&lt;br /&gt;Suatu ketika perutusan Aceh diberangkatkan ke Turki (Rum) untuk mengadakan perhubungan antara Aceh dengan Turki. Bingkisan yang dikirim untuk sultan Turki yang terpenting adalah lada, memenuhi semua kapal-kapal yang diberangkatkan. Karena terlalu lama dan banyak rintangan di laut, menyebabkan muatan lada menjadi habis di jalan dan tinggallah secupak lada saja yang dapat disampaikan sebagai bingkisan kepada Sultan Turki. Disebutkan bahwa kapal Aceh menempuh laut Merah lewat Mecha (suatu pelabuhan di Jazirah Arabia), lintasan laut sempit, dari situ berjalan darat melewati Palestina dan Syria (Suriah).&lt;br /&gt;Kisah lada sicupak ini meskipun sudah merupakan dogeng, tetapi terus hidup di tengah masyarakat Aceh. Walaupun demikian, dalam kisah tersebut dapat saja dicari kebenarannya. Salah satu dari bait syair yang dinyanyikan dalam tarian seudati, yang berhubungan dengan peristiwa lada sicupak, sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dengo lon kisah Panglima Nyak Dom, U nanggroe Rum troih geubungka, Meriam sicupak troih gepuwo, Geupeujaro bak po meukuta. (Dengarkan kisah Panglima Nyak Dum, Berlayar sampai ke negeri Rum, Meriam sicupak dibawa pulang, diserahkan kepada paduka Mahkota).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baba Daud : Ulama Aceh Asal Turki&lt;br /&gt;Pertama-tama, terlebih dahulu kita memberikan penjelasan tentang asal kata Rum. Kota Anatolia yang saat ini dikenal sebagai wilayah utama Turki, merupakan kawasan yang berada di bawah hegomoni kekaisaran Bizantium yang juga disebut Kekaisaran Timur Roma pada masa lalu. Masyarakat yang menduduki teritorial Anatolia saat itu, di panggil sebagai orang Rum Sebelum pusat negara Saljuki dan Turki Usmani dapat menguasai wilayah ini. Oleh sebab itulah, mengapa Anatolia telah jauh dikenal sebagai daratan Rum. Disisi lain, Sumber-sumber Arab dan Persia memakai nama Rum untuk kekaisaran Bizantium dan Roma.&lt;br /&gt;Setelah Bangsa Turki Saljuki berhasil merobohkan Anatolia pada permulaan abad ke-13, bangsa Turki mendiami Anatolia dan kemudian masyarakat yang hidup disekitar wilayah ini mulai memanggil mereka dengan gelar Rum.&lt;br /&gt;Setelah Fatih Sultan Mehmed II (sang penakluk) berhasil menguasai Konstantinopel&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;*&lt;/a&gt;, nama Rum mulai dipakai untuk golongan Turki. Oleh karena itu, telah menjadi suatu kebiasaan umum bangsa Turki dipanggil sebagai bangsa Rum, terutama mereka yang tinggal dikawasan Anatolia, tepatnya saat Turki Usmani berada pada puncak kekuasaan bagi seluruh dunia pada pertengahan kedua abad ke-15. kekuatan politik, ekonomi, dan budaya Turki Usmani juga mempengaruhi negara-negara Islam di dunia Melayu dan nusantara. Itulah sebabnya mengapa orang-orang Melayu memanggil Sultan Turki Usmani sebagai ‘Raja Rum’ dikarnakan keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel.&lt;br /&gt;Sebagai hubungan antara Kesultanan Turki Usmani dan Kesultanan Aceh Darussalam, bangsa Turki lebih banyak datang mengunjungi Aceh dan mereka juga dipanggil dengan panggilan yang sama, tidak hanya oleh orang-orang Aceh sendiri tapi juga oleh penduduk di dunia Melayu.&lt;br /&gt;Baba Daud di sebut Ar-Rum karena leluhurnya berasal dari Anatolia, Turki. Argumen lain yang mendukung pendapat ini adalah Emperum, sebuah desa yang terletak di pusat kota Banda Aceh. Alasan pemberian nama ini diketahui Sejak adanya pengunjung pertama yang berasal dari wilayah Turki pada abad ke-16. kata Emperium terdiri dari dua kata: ‘empe’ dan ‘rium’. ‘Empe’ berarti sebuah penghormatan. Sedangkan ‘Rium’, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, dipakai untuk sekelompok orang yang datang dari Anatolia. Maka, kata ‘Emperium’ mulai dipakai oleh masyarakat Aceh untuk mengekspresikan penghormatan mereka pada komunitas Turki di Aceh.&lt;br /&gt;Baba Daud salah seorang murid Syeikh Abdurrauf As-Singkili. Kedudukan Baba Daud sebagai seorang Ulama besar dapat dilihat dari kontribusinya dalam mendirikan Dayah Manyang Leupue bersama-sama dengan gurunya. Disamping itu, Baba Daud juga mencurahkan jasanya dalam penulisan tafsir alquran dan tafsir Melayu pertama yang dipakai oleh As-Singkili sebagai referensi utama penulisan Tafsir Bayzawi. Buku tersebut berjudul Turjumanul al-Mustafid yang telah berperan penting dalam peningkatan pemikiran Islam di dunia Melayu.&lt;br /&gt;Cetakan asli tulisannya dapat ditemukan pada salah seorang cucu Baba Daud yang berkediaman di Patani yang kemudian dipindahkan kepada Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain Al-Patani. Karya tulis ini telah diterbitkan berkat bantuan Syeikh Ahmad Al-Patani. Berdasarkan penuturan oleh keturunan-keturunan Baba Daud bahwa ada beberapa karya lainnya yang dikarang oleh Baba Daud sendiri. Akan tetapi hingga kini belum ada data-data konkrit yang dapat ditemukan. Karya tulisan tangan Baba Daud tersebut disalin kembali oleh Syeikh Daud bin Ismail Al-Patani, salah seorang keturunannya yang juga dikenal sebagai Tok Daud Khatib. Tulisan tersebut diwasiatkan kepada sepupunya, Syeikh Ahmad Al-Patani yang kemudian ditulis kembali oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain Al-Patani, Syeikh Daud bin Ismail Al-Patani dan Syeikh Idris bin Husein Kelantan. Edisi pertama diterbitkan di Istanbul, Mekkah, dan Mesir. Ketiga pemuka agama tersebut juga melakukan beberapa koreksi pada karya tulis asli Baba Daud. Baba Daud, tak hanya mengkontribusikan hasil karya tulis gurunya, Syeikh Abdurrauf As-Singkili tapi juga menulis hasil karyanya sendiri. Salah satu tulisannya yang terkemuka adalah Risalah Masailal li Ikhwanil Muhtadi yang telah dijadikan sebagai buku pedoman utama tak hanya di Aceh tapi juga di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand yang semua negara ini dulunya saling berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Melayu selama kurun waktu 300 tahun terakhir. Buku yang ditulis dengan menggunakan bahasa Jawi dan teknik tanya-jawab ini telah diakui sebagai salah satu cara terbaik untuk mengajarkan pengetahuan agama dasar bagi murid-murid yang tidak mengenal bahasa Arab. Buku ini juga menampilkan beberapa mata pendidikan yang berlainan seperti Akidah, Ibadah, dan lain sebagainya tanpa ada perubahan sedikitpun. Di samping itu pula, ajaran-ajaran dalam tulisan Baba Daud ini telah berperan banyak dalam pembentukan karakter keagamaan murid-murid di Aceh.&lt;br /&gt;Sepanjang karirnya, Baba Daud juga dikenal sebagai seorang guru dan banyak orang-orang penting yng memilih untuk menjadi muridnya. Salah satunya adalah Nayan Baghdadi, anak dari Al-Firus al-Baghdadi, pendiri Dayah Tanoh Abee. Nayan Firus al-Baghdadi menjalani satu fase pendidikannya di Dayah Leupu Peunayong, sebuah dayah terkemuka di Aceh saat itu dan Baba Daud yang bergelar sebagai Teungku Chik di Leupu adalah salah satu gurunya. Setelah menyempurnakan pendidikannya di sini, Baba Daud menganjurkannya untuk kembali ke Seulimeum dan mendirikan sebuah pusat kegiatan pendidikan di sana. Selain Nayan Firus al-Baghdadi, Syeikh Faqih Jalaluddin juga tercatat sebagai salah seorang murid Baba Daud lainnya yang popular.&lt;br /&gt;Tidak Diketahui apakah ada atau tidak keturunan Baba Daud yang masih hidup di Aceh saat ini. Bagaimanapun, seorang pemuka agama yang terkenal, Syeikh Daud bin Ismail al-Jawi al-Patani yang menetap di Patani, bagian selatan Thailand, diperkirakan sebagai salah seorang keturunanya. Haji Nik Wan Fatma binti Haji Wan Abdul Kadir Kelantan bin Syeikh Daud bin Ismail al-Patani (Kak Mah) yang disebut-sebut sebagai keturunannya yang lain telah menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Senin, 26 Juli 1999, di Kota Baru Kelantan.&lt;br /&gt;Makam Baba Daud terletak berdekatan dengan lokasi Mesjid di Leupu, Peunayong (nama wilayah sebenarnya). Tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang dahsyad diterjang Tsunami, kondisi makam tersebut juga menjadi rusak. Meskipun begitu, masyarakat dengan inisiatifnya sendiri memutuskan untuk meletakkan pagar di sekeliling makam tersebut dengan polesan tulisan, “ Makam Ulama Aceh. Anak Murid Tgk. Syiah Kuala.”&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;*Nama Konstantinopel diberikan sebagai nama kota karena kaisar Bizantium yang berkuasa saat itu bernama Konstantin. Nama ini merupakan nama lama kota Istanbul. Bahkan selama masa kerajaan Turki Usmani, nama ini juga dipakai oleh orang-orang Turki. Kemudian nama tersebut diubah menjadi Istanbul. Pemakaian nama Konstantinopel dapat ditemui dalam beberapa buku atau teks yang ditulis pada abad ke- 19 juga. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8226938115052725370-8371442574520361806?l=dirmanmanggeng.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/feeds/8371442574520361806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/02/aceh-turki.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8371442574520361806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8226938115052725370/posts/default/8371442574520361806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/02/aceh-turki.html' title='Aceh-Turki'/><author><name>Dirman Manggeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06791250050240196968</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8226938115052725370.post-243372114573926697</id><published>2009-02-26T00:19:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T00:57:24.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Portugis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;KONFLIK ACEH DENGAN PORTUGIS&lt;br /&gt;By sudirman&lt;br /&gt;A. Kontak Awal dengan Portugis&lt;br /&gt;Daerah Aceh yang terletak di ujung sebelah utara pulau Sumatera, merupakan bagian yang paling utara dan paling barat kepulauan Indonesia. Di Sebelah barat terbentang lautan (Hindia) Indonesia, sedangkan di sebelah utara dan timur terletak selat Malaka. Semenjak zaman kuno selat Malaka merupakan jalur perniagaan yang ramai, banyak dilalui kapal dagang dari berbagai negara Asia. Tempat-tempat di sepanjang selat Malaka, silih berganti menempati kedudukan sebagai pelabuhan tempat mengambil perbekalan bagi kapal-kapal yang melewati jalur itu. Selama beberapa abad Malaka terkenal sebagai pusat perdagangan tiga jurusan antara negeri India, Cina dan negeri-negeri Asia Tenggara. Pelabuhannya banyak disinggahi kapal dari berbagai negeri yang membawa barang-barang dagangan dari India, Asia Barat, Eropa, Cina dan negeri-negeri di Asia Tenggara. Selain itu, Malaka pada waktu itu (abad XV) juga berfungsi sebagai pusat penyebaran agama Islam yang disebarkan oleh pedagang-pedagang Islam, baik yang berasal dari negeri-negeri Asia Barat maupun Gujarat (India).&lt;br /&gt;Melihat posisi yang demikian, Aceh dapat disebut sebagai pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia. Letaknya yang strategis itu, dalam perjalanan sejarahnya, Aceh banyak didatangi oleh berbagai bangsa asing dengan berbagai macam kepentingan, seperti kepentingan perdagangan, diplomasi, dan sebagainya. Kedatangan berbagai bangsa asing itu merupakan hal yang penting bagi perkembangan Aceh sendiri, baik secara politis, cultural, maupun ekonomis. Meskipun demikian, di antara para pendatang asing itu terdapat pula pendatang yang melakukan tindakan-tindakan yang didorong oleh kolonialisme dan imperialisme, baik di Aceh sendiri maupun di kawasan sekitarnya. Oleh karena itu, timbullah sikap antagonistis dan reaksi dari berbagai pihak yang dirugikan, misalnya pihak Aceh, dalam bentuk perlawanan-perlawanan terhadap bangsa asing yang melakukan tindakan di atas. Perlawanan-perlawanan itu terutama dilakukan hanya demi mempertahankan eksistensi pihak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Bangsa asing pertama, tepatnya Barat, yang melakukan kontak dan kemudian berkonflik dengan Aceh adalah bangsa Portugis. Pada tahun 1498 M, bangsa Portugis telah tiba di Calicut di bawah pimpinan Vasco da Gama. Sebelum kejadian itu terjadi, telah berlangsung serangkaian usaha dari bangsa Portugal mencari sendiri jalan ke Timur. Pada abad ke-10 perdagangan di Eropa dikuasai oleh pedagang-pedagang Islam yang berpusat di Byzantium dan kota-kota lain seperti Venetia, Florensa, Genoa dan Antwerpen menjadi pusat perdagangan. Setelah Perang Salib berakhir dengan kemenangan orang Kristen, maka perdagangan berpasar di Laut Tengah. Meskipun demikian peranan pedagang-pedagang Islam masih berpengaruh juga karena kunci perhubungan dagang Barat dan Timur masih dikuasai oleh orang Muslim. Terlebih dengan dikuasainya Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II pada tahun 1453 M, pedagang-pedagang Islam semakin memegang peranan penting. Perdagangan antara Timur dan Barat menjadi terganggu. Timbul ide-ide baru untuk mencari jalan sendiri ke Timur, terutama ide tersebut sangat berkembang pada orang-orang Spanyol dan Portugal.&lt;br /&gt;Orang Spanyol dan Portugal yang masih meneruskan Perang Salib untuk mengusir orang-orang Islam, mendapat kemenangan-kemenangan besar. Orang Portugis pada abad ke-14 berhasil mengusir orang-orang Islam ke seberang Selat Gibraltar dan bahkan menguasai Ceuta di seberang selat tersebut di Afrika. Kemenangan-kemenangan yang diperolehnya itu merupakan dorongan besar bagi bangsa Portugis untuk mengadakan perlawatan ke berbagai tempat di dunia. Pada mulanya tujuan pokok dari perlawatan orang-orang Portugis masih tetap bersifat agama, mengejar dan memerangi orang Islam di mana saja mereka jumpai.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Pada pertengahan abad ke-15, misi-misi agama sebelumnya bertambah dengan tujuan-tujuan bersifat ekonomi dan perhitungan-perhitungan komersial.&lt;br /&gt;Penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan di Eropa, seperti kepandaian membuat kompas, kemajuan dalam ilmu bumi, terutama pengetahuan tentang perpetaan, sangat besar pengaruhnya bagi kemajuan pelayaran orang-orang Portugis dan Spanyol. Pada permulaan abad ke-15 itu pula Portugal diperintah oleh seorang raja yang menaruh perhatian terhadap pelayaran. Jasanya dalam bidang pelayaran menyebabkan ia diberi gelar Henry Navigator. Setelah ia menaklukkan Ceuta pada tahun 1415 M, Henry mengatur persiapan yang sistematis untuk penjelajahan bangsa Portugis ke beberapa tempat di dunia. Berturut-turut mereka menjumpai Madeira pada tahun 1419 M, kepulauan Azores 1432 M, Teluk Verdi 1456 M, dan Bartolamiuz Diaz menemukan ujung selatan Afrika pada tahun 1487 M. Pada tahun 1498 M sampailah Vasco da Gama di Calicut pantai barat India. Peristiwa terakhir itu sangat penting dalam sejarah dunia sehingga dengan penemuan Vasca da Gama itu dimulai satu kurun sejarah yang dinamakan oleh Pannikar da Gama epoch &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang Portugis yang pertama-tama menginjakkan kakinya di pulau Sumatera, khususnya di Aceh ialah Diogo Lopes de Sequeira yang mengemban perintah Raja Dom Manuel dari Portugal untuk menemukan pulau Madagaskar dan Malaka. Sebelum sampai di Malaka dia berlabuh di Pedir dan Pasai (Aceh) pada bulan September 1509, yang merupakan kerajaan terpenting di pulau Sumatera dan mempunyai banyak vasal. Di pelabuhan itu ia bertemu dengan lima buah junk Benggali dan Pegu. Orang-orang Portugis diterima baik oleh raja yang menunjukkan persahabatan dan perdamaian dengan Portugal. Raja Pedir juga menghadiahkan lada, damar dan barang-barang dagangan tetapi tidak diterima oleh Lopes de Sequeira karena takut akan datang terlambat di tempat tujuan, yaitu Malaka.&lt;br /&gt;Ketika orang Portugis singgah di Pasai, sedang terjadi sengketa saudara, sultan Pasai, Zainal Abidin, telah ditumbangkan oleh saudaranya yang mengaku lebih berhak menjadi sultan. Sultan Zainal Abidin lari ke Malaka, sultan pun menjadi tamu yang dihormati ketika tiba di Malaka. Selama di Malaka ia menyaksikan berbagai kekejaman Portugis sehingga sangat tidak menyenangkan bagi Sultan Zainal Abidin. Tokoh-tokoh yang sudah membantu Portugis dan mengkhianati Sultan Malaka, tidak mendapat balas jasa sebagaimana mestinya. Ada di antara mereka yang dibunuh dengan kejam, Sultan Zainal Abidin lalu mengambil keputusan untuk angkat kaki dari Malaka. Kejadian itu sehari sebelum Afonso de Albuquerque berangkat pulang ke India (Januari 1512), dengan suatu rencana untuk singgah di Pasai dan melantik Zainal Abidin menjadi sultan kembali di Pasai. Atas bantuan Portugis, raja yang direvolusi berhasil naik tahta kembali. Sebagai tanda balas jasa dari perbuatan itu, Portugis mendapat hak mendirikan kantor dagang yang dilengkapi 100 orang tentaranya dengan komandan Antonio de Miranda de Azevedo di Pasai.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Islam Samudera Pasai berdasarkan data arkeologi, dianggap sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara. Di kerajaan itu sudah tumbuh peradaban yang tinggi menurut waktu itu dan juga sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Nusantara bahkan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Kapan sebenarnya Kerajaan Islam Samudra Pasai berdiri tidak ada suatu kepastian tahun yang didapat. Para peminat dan ahli sejarah masih belum bisa memperoleh suatu kesepakatan mengenai hal ini. Menurut tradisi dan berdasarkan penyelidikan atas beberapa sumber sementara&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;, terutama yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat khususnya para sarjana Belanda sebelum perang seperti Snouck Hurgronje, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain, menyebutkan, bahwa Kerajaan Islam Samudra Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke XIII. Sebagai pendiri kerajaan itu adalah Sultan Malik as Salih yang meninggal pada tahun 1297.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana Belanda itu, baik dalam seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan semenjak tanggal 17 - 20 Maret 1963, maupun dalam seminar masuk dan berkembang Islam di Daerah Istimewa Aceh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) yang berlangsung di Banda Aceh pada tanggal 10 - 16 Juli 1978, oleh beberapa sejarawan dan cendikiawan Indonesia (di antaranya Prof. Hamka, Prof. A. Hasjmy, Prof. H. Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said, dan M. D. Mansoer) yang ikut serta dalam kedua seminar tersebut telah pula melontarkan beberapa pendapat dan dalil-dalil baru yang berbeda dengan yang lazim dikemukakan oleh para sarjana Belanda seperti tersebut di atas.&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru yang mereka kemukakan di antaranya keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt;, mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudra Pasai sudah berdiri semenjak abad XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M). Sebagai pendiri serta sultan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470 H atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.&lt;br /&gt;Atas dasar peninggalan-peninggalan dan penemuan-penemuan dari hasil penggalian dan yang dilakukan oleh Kepurbakalaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dapat diketahui bahwa lokasi kerajaan itu di daerah yang dewasa ini dikenal dengan nama Pasai. Suatu daerah di pantai timur laut pulau Sumatera yang terletak antara daerah Peusangan dengan Sungai Jambo Aye di kabupaten Aceh Utara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang menyelidiki tentang kerajaan itu menyatakan bahwa Pasai mula-mula terletak di sebelah kanan Sungai Pasai, sedangkan Samudra berada di sebelah kirinya, tetapi lama kelamaan Samudra dan Pasai ini menjadi satu dan disebut Kerajaan Samudra Pasai&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Selain sebagai pusat pengembangan dan studi Islam, Pasai juga sebagai pusat kegiatan politik dan perdagangan. Kedudukan Pasai pada jalur lalu lintas perdagangan internasional yang menghubungakan antara India dan Cina adalah faktor penting bagi perkembangan Pasai sebagai salah satu pusat politik dan perdagangan di kawasan selat Malaka.&lt;br /&gt;Selain Pasai, Pedir (Pidie) pada waktu itu juga merupakan kerajaan yang berkembang, terutama hasil lada, sehingga wajar apabila kerajaan itu melayani kapal-kapal asing sebagaimana halnya Portugis yang singgah di Pedir. Sebelum meninggalkan Pedir, Diogo Lopes de Sequeira mendirikan sebuah padrao (padrao merupakan gagasan D. Joao II sebagai pengumuman kepada dunia atas penemuan dan pemilikan daerah-daerah baru oleh Portugal. Adapun karakteristik padroa adalah sebagai berikut : sebuah monopolist dengan tinggi 21/2 meter, berat + ½ ton, mempunyai kapiteel (bagian atas dari sebuah tiang) yang dinahkodai oleh sebuah salib. Lambang kerajaan Portugal dipahatkan pada salah satu sisi kapiteel, juga dipahatkan dua buah tulisan ; satu dalam bahasa Portugis dan yang lain dalam bahasa latin, menyebutkan nama raja Portugal yang sedang memerintah, tahun penemuan dan pemimpin yang mendirikannya&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; untuk menandai perjalanannya. Dari Pedir Diogo Lopes de Sequeira menuju Pasai. Pasai terletak sekitar 20 legua ( 1 legua 3 mil) dari Pedir. Di tempat itu orang-orang Portugis diterima dengan baik dan juga diberi izin mendirikan padrao.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Pasai Diogo Lopes de Sequeira menuju ke Malaka dan tiba pada tanggal 16 September 1509. Pada mulanya Diogo Lopes de Sequeira diterima dengan baik oleh Sultan Mahmud di Malaka tetapi atas bujukan orang-orang Gujarat dan Jawa akhirnya Sultan Mahmud berbalik memusuhi orang-orang Portugis dengan menangkap dan menawan orang Portugis yang berada di daratan, sedangkan Diogo Lopes de Sequeira berhasil meloloskan diri dan meninggalkan Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu yang menjabat sebagai wakil raja Portugal di Asia adalah Afonso de Albuquerque yang berpusat di Cochin. Setelah mendengar peristiwa Diogo Lopes de Sequeira di Malaka seperti itu, Afonso de Albuquerque ingin membalas dendam dan kebetulan pada waktu itu Raja Dom Manuel mengirim ekspedisi II dengan tujuan Malaka (sebelumnya Raja Dom Manuel belum mengetahui tentang peristiwa di Malaka). Setelah Afonso de Albuquerque berhasil menguasai Goa dan Ormuz, dia berangkat dari Cochin pada bulan Mei 1511 menuju Malaka dengan kekuatan 18 buah kapal dan 800 orang serdadu Portugis ditambah 400 orang Malabar. Dalam perjalanannya itu Afonso de Albuquerque singgah di Pedir. Raja Pedir yang ketakutan dengan kedatangan gubernur jenderal Portugis, menyerahkan kesepuluh orang Portugis dan anak buah Ruide Araujo yang berhasil melarikan diri dari Malaka. Mereka memberi informasi tentang revolusi yang berlangsung di Malaka. Sultan Malaka memerintahkan untuk memenggal kepala bendahara. Hal yang sama juga menanti nasib syahbandar Gujarat tetapi dia berhasil melarikan diri ke istana raja Pasai. Sebagaimana bendahara dan syahbandar adalah pelaku utama dalam pengkhianatan yang dilakukan terhadap Diogo Lopes de Sequeira, informasi itu menggembirakan hati sang jenderal, kemudian armada itu meninggalkan Pedir menuju Pasai.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di Pasai, Afonso de Albuquerque memerintahkan kepada Joao Viegas, pemimpin pelarian dari Malaka untuk mengunjungi raja dan mengatakan kepadanya bahwa Afonso de Albuquerque mengetahui bahwa di negerinya ada seorang Moor yang melarikan diri dari Malaka, yang dahulu membantu membunuh orang-orang Portugis, memerintahkan kepada yang bersangkutan untuk minta maaf kepada Afonso de Albuquerque dan menyerahkan diri. Raja Pasai menjawab bahwa hal itu memang benar, yaitu bahwa orang Moor itu ada tetapi sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Raja Pasai berjanji akan mencarinya dan apabila kedapatan segera diserahkan kepada Afonso de Albuquerque. Setelah mengirim pesan itu kepada Afonso de Albuquerque, dia pun menasihati orang Moor yang dicarinya itu, supaya syahbandar Gujarat di Malaka yang melarikan diri langsung pergi ke Malaka untuk memberi tahu Sultan Malaka akan kedatangan Afonso de Albuquerque. Segera Afonso de Albuquerque berangkat menuju Malaka karena sudah ketahuan bahwa ada sebuah kapal Melayu sudah duluan berangkat menuju Malaka untuk memberitahukan bahwa Portugis sudah berada di Pasai. Dengan terburu-buru Afonso de Albuquerque mengejar kapal Melayu itu. Kapal itu dapat diburunya, dirampok dan nahkoda Melayu itu dibunuh dengan kejam. Sebenarnya Afonso de Albuquerque sudah tahu apa yang dilakukan oleh raja Pasai tetapi karena ia ingin tetap bersahabat dengan raja, dia pun meninggalkan Pasai.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan dari Pasai menuju Malaka, rombongan Afonso de Albuquerque masih harus menghadapi dua kendala. Dalam pertempuran yang pertama ternyata yang bertindak sebagai kapten kapal lawan adalah Naodabeguea, yaitu pelarian tadi, syahbandar Gujarat. Dalam pertempuran itu ia menderita luka-luka.&lt;br /&gt;Adapun kendala kedua yang harus dihadapi Afonso de Albuquerque hanya merupakan kesalahpahaman saja. Kapal yang harus dihadapi Afonso de Albuquerque ternyata membawa raja Pasai yang digulingkan, pergi meminta bantuan untuk mengembalikannya di atas tahta kerajaannya. Setelah tahu bahwa kapal itu tidak akan menyerangnya, Afonso de Albuquerque pun menyetujui uluran tangan raja yang terguling untuk mengadakan perjanjian perdamaian dan raja terguling itu pun dibawanya dalam pelayarannya ke Malaka.&lt;br /&gt;Didorong oleh semangat monopoli, Portugis tidak membiarkan daerah-daerah di Aceh dapat berdiri sendiri. Portugis berusaha dengan tipu daya untuk menguasai daerah itu. Portugis berhasil mengadakan hubungan dagang dengan daerah-daerah di Aceh dan sekaligus mendapat kesempatan mendirikan kantor dagang. Kantor itu diperkuat dengan kekuatan senjata sehingga secara diam-diam dapat membangun benteng di beberapa pelabuhan di Aceh. Tampaknya orang Portugis berhasil menanamkan pengaruhnya karena kekuatan daerah-daerah di pantai utara Sumatera ketika permulaan Portugis datang masih samar-samar. Hal itu dibuktikan, pada sekitar bulan Juni 1511, Afonso de Albuquerque telah memimpin armada laut yang besar berjumlah 19 kapal perang dengan penuh tentara dan alat-alat perang yang moderen menurut waktu itu.&lt;br /&gt;Orang Portugis dengan sendirinya mendapat hak monopoli hasil bumi di Pasai. Praktek-praktek dengan kekuatan senjata dan pembangunan banteng di Pasai, mengesankan bahwa Pasai sudah di bawah kekuasaan Portugis. Pada tahun 1520 M, sultan Zainal Abidin, mengirim surat kepada raja Portugis mengenai kesediaannya memberi keuntungan yang lebih besar untuk Portugis apabila Zainal Abidin didukung menjadi sultan kembali.&lt;br /&gt;Sipat Portugis yang hanya mencari keuntungan, kembali mendukung Zainal Abidin menjadi sultan dan menjatuhkan lawannya. Akan tetapi pada tahun 1521 M, orang Portugis kembali mengkhianati jaminannya atas Zainal Abidin.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Sasaran Portugis selanjutnya adalah Pedir. Portugis berhasil melemahkan kekuatan penguasa di sana dengan politik pecah belah.&lt;br /&gt;Pada awal Desember 1511, Afonso de Albuquerque meninggalkan Malaka dengan menumpang kapal Flor de La Mar yang juga membawa anak-anak, laki-laki dan perempuan serta benda-benda berharga. Dalam perjalanannya itu kapal Flor de Mar kandas di pantai Pedir tetapi Afonso de Albuquerque berhasil diselamatkan dan tiba di pelabuhan Cochin pada awal bulan Februari 1512.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit perbedaan pendapat tentang hal ini, Gois menyebutkan bahwa Afonso de Albuquerque berangkat dari Cochin dalam bulan Januari 1513 dengan beberapa buah kapal untuk menjabat sebagai penguasa di Malaka. Dalam perjalanannya itu ia singgah di Pasai, dia mendapatkan raja yang merupakan sahabat Portugis sedang berperang melawan salah satu vasal yang memberontak terhadapnya. Afonso de Albuquerque pun membantu raja Pasai dan akhirnya para pemberontak dapat dikalahkan dan banyak dari mereka yang meninggal. Setelah itu, Afonso de Albuquerque meninggalkan Pasai menuju Malaka dan tiba di sana dalam bulan Juli.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut Luiz, setelah Afonso de Albuquerque tiba di Malaka, pengalaman berikutnya mengantarnya ke pulau Sumatera, memasuki pelabuhan Pasai dengan tujuan mengusahakan pengambilan tahta kerajaan kepada raja yang sah, yaitu orpacam sesuai dengan tugas yang diembannya dari gubernur jenderal. Afonso de Albuquerque pun berlabuh di pelabuhan Pasai, memberitahukan maksud kedatangannya kepada para penguasa kerajaan tetapi ternyata mereka itu merasa cemas dengan kedatangan raja yang sah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Afonso de Albuquerque tahu bahwa raja dikelilingi benteng yang sangat kuat berbentuk segi empat dan dipersenjatai dengan meriam dalam jumlah besar. Namun demikian, hal itu tidak menjadi panghalang bagi Afonso de Albuquerque untuk memberi ultimatum kepada raja untuk menyerahkan kerajaannya dengan damai atau pihaknya akan menyerang raja, yang dijawab oleh raja bahwa kerajaan adalah miliknya dan alangkah hinanya apabila bersedia menjadi vasal raja Portugal. Mengetahui sifat keras kepada raja, pihak Portugis memutuskan untuk melancarkan serangan.&lt;br /&gt;Sementara itu, datang pula raja Aru di Pasai disertai angkatan perang yang besar dan juga mengumumkan perang kepada raja Pasai karena raja yang sah adalah orang tuanya. Mengetahui akan kedatangan tentara Aru yang tidak terduga itu, Afonso de Albuquerque kemudian meminta kepada seorang berkebangsaan Pasai untuk mengatakan kepada raja Aru bahwa dia datang ke situ juga dengan maksud yang sama, yaitu mengembalikan tahta kerajaan Pasai kepada raja yang sah dan mengusir raja absolute yang telah menjatuhkannya. Karena mengetahui bahwa dia adalah sahabat raja Portugal, dimintanya apabila dia membuka serangan mengizinkannya untuk melakukannya juga. Karena tentaranya mengenakan pakaian yang sama dengan tentara raja maka Afonso de Albuquerque meminta supaya pada hari penyerangan, anak buahnya diperintahkan untuk mengenakan ikat kepala berwarna hijau untuk membedakan dari musuh. Raja Aru pun menyetujuinya dan perang pun berkobar. Dalam pertempuran itu pihak Pasai lebih dari 3000 orang tewas, sedangkan pihak Portugis hanya empat orang yang meninggal tetapi tidak sedikit yang menderita luka-luka. Kemudian raja Aru menemui Afonso de Albuquerque untuk menunjukkan kegembiraannya dengan kata-kata. Dikatakannya bahwa hubungan antara Aru dan Portugal akan lebih dipererat lagi. Setelah yakin bahwa sang diktator telah tewas dalam pertempuran dengan sendirinya tidak ada kendala untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada raja yang sah maka Afonso de Albuquerque beserta anak buahnya pergi menuju ke armadanya. Adapun raja Pasai yang telah dikembalikan di atas tahtanya menjadi vasal Portugal.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam Dicionario disebutkan bahwa pada tahun 1520 M, Afonso de Albuquerque menaklukkan raja Pasai yang memberontak terhadap raja Portugal dan dengan bantuan raja Aru didirikan sebuah benteng dan sebuah kantor dagang untuk urusan barang-barang dagangan negeri itu. Sebagai komandan pertama benteng itu bertindak Antonio Miranda de Azevedo, pada bulan Mei 1522 digantikan oleh Andre Henriques. Adapun sebagai alcaidemor diangkat Antonio Barreto dan sebagai manajer ditetapkan Pero Silveira. Setelah ditambah dengan pegawai dan serdadu, jumlahnya mencapai 100 orang.&lt;br /&gt;Bagian yang lebih ke arah barat pulau Sumatera terdapat enam buah kerajaan Islam yang mengakui supremasi kerajaan Pedir, termasuk Aceh dan Daya. Tetapi kemudian ganti Aceh yang menjadi superior pada tahun 1523 M.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Cita-cita sultan Aceh untuk menyatukan seluruh pulau Sumatera yang dimulainya dengan menguasai bagian timur laut pulau itu tetapi Portugis dengan penguasaannya di Malaka akan menghalang-halangi kehendak sultan Aceh untuk dapat merealisasikan harapan-harapannya itu. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan yang terletak di bagian timur laut pulau Sumatera terancam, apalagi setelah gubernur memberontak melawan raja Pasai. Raja Pedir mencari perlindungan bersama-sama dengan kemenakannya, penguasa dari Jawa, ke benteng Portugis tetapi ternyata kedudukan benteng Portugis terancam karena kekuarangan orang, senjata dan bahan makanan.&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan informasi mengenai situasi benteng Portugis di Pasai, Gubernur Duaerte de Meneses mengirim sebuah kapal dengan persediaan makanan dan minuman di bawah komando Lopo de Azevedo, yang akan menggantikan kedudukan Andre Hendiques. Kapten yang baru itu tiba di Pasai pada bulan Juni 1523. Sultan Aceh bergerak di darat dan laut dengan kekuatan yang besar dan menghasilkan kemengangan yang satu disusul kemenangan yang lain sampai masuk ke negeri Pedier. Dalam pertempuran yang menyusul kemudian, 35 orang Portugis meninggal, yang lain melarikan diri, sehingga tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan benteng mereka. Dari Pedir orang-orang Aceh menuju kerajaan Pasai, mereka menaklukkan negeri itu dan menguasainya. Meskipun pada mulanya orang-orang Portugis berusaha mempertahankan benteng mereka namun akhirnya mereka harus meninggalkannya. Pasai kemudian jatuh ke tangan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Portugis melarikan diri dari Pasai, setiba mereka di pantai sudah menunggu 300 buah lanchara&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; yang membawa bahan makanan yang dikirim oleh raja Aru, sahabat orang-orang Portugis, melalui lautan. Bersama mereka ikut pula raja Pasai yang terguling bersama ibunya, raja Pedir dan raja Daya menuju ke Aru.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Portugis Menguasai Malaka&lt;br /&gt;Telah disinggung di atas bahwa Portugis dapat merebut Malaka pada tahun 1511 M dari Sultan Mahmud, yang menjadi sultan Malaka pada waktu itu. Tetapi sebelumnya mereka telah berusaha untuk mengadakan hubungan dengan kota tersebut. Untuk itu Gubernur Portugis yang berkedudukan di Goa (India) mengirim Lopes de Sequeira bersama dengan empat buah kapal ke Malaka. Ekspedisi itu berangkat dari Cochin pada permulaan bulan September 1509. Sebelum sampai di Malaka Lopes de Sequeira singgah di Pedir dan Pasai (Aceh), dua buah pelabuhan yang terletak di pantai utara Sumatera yang terkenal dengan ekspor ladanya. Di kedua tempat itu Lopes de Sequeira diberi izin untuk berdagang. Kemudian ia melanjutkan pelayaran ke Malaka. Setibanya di Malaka rombongan itu diterima dengan baik oleh sultan Mahmud.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu perjanjian diadakan antara Sultan Mahmud dengan Lopes de Sequeira dan orang Portugis diizinkan untuk mendirikan kantor dagangnya di Malaka. Tetapi ternyata kemudian hubungan itu menjadi tidak baik. Terjadi konflik antara pihak Malaka dengan pihak Portugis dan sebagian besar tentara Portugis berhasil ditawan tetapi Lopes de Sequeira berhasil melarikan diri dengan kapalnya dan kembali ke India.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan dan rasa dendam Portugis atas peristiwa tersebut, pada tahun 1511 M pimpinan Portugis di India mengirim suatu armada di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque untuk menyerang Malaka.&lt;br /&gt;Setibanya di Malaka, Afonso de Albuquerque mengadakan kontak dengan Sultan Mahmud melalui surat yang intinya menuntut pelepasan para tawanan Portugis. Dalam hal ini Sultan Mahmud selalu mengulur-ulur waktu sehingga Afonso de Albuquerque habis kesabarannya dan melancarkan serangan terhadap Malaka. Akhirnya runtuhlah Malaka dan Sultan Mahmud melarikan diri meninggalkan Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sultan Mahmud pindah dari satu tempat ke tempat lain, baik untuk menghindari kejaran Portugis maupun untuk mengadakan penyerangan melawan orang Portugis. Pada mulanya Sultan Mahmud dan anaknya, Alauddin, pindah ke Pahang kemudian ke Bintan (1513 M).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Dari tempat itu Sultan Mahmud diserang oleh orang Portugis, lalu pindah ke Johor Lama kemudian ke Kampar. Setelah Sultan Mahmud meninggal, ia digantikan oleh anaknya, Alauddin Riayat Syah. Ia pindah dari Kampar ke Johor. Pada tahun 1536 M, Estavao de Gama memimpin penyerangan benteng Alauddin. Alauddin terus dikejar oleh Portugis dan akhirnya Alauddin mengajukan permintaan damai dengan Portugis. Alauddin mendirikan ibukota baru di Muar tidak jauh dari Malaka pada tahun 1536 M.&lt;br /&gt;Afonso de Albuquerque, yang oleh raja Portugal diangkat sendiri menjadi “Raja Muda”, India, berhasil merebut Bandar Malaka pada tahun 1511 M.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Perubahan besar terjadi, kedatangan mereka tidak saja kemerdekaan rakyat setempat menjadi hilang tetapi juga kebengisan, kekuasaan dan senjata adalah alat yang mereka lancarkan terhadap penduduk. Keleluasaan berdagang menjadi punah dan memang itu yang menjadi salah satu tujuan orang Portugis. Keadaan itu mengakibatkan penduduk Malaka menjadi tidak aman. Orang-orang Nusantara yang tadinya berdagang di Malaka, ternyata tidak tentram sehingga mereka pindah mencari tempat lain, seperti Sumatera Utara, Pasai, Pedir dan Aceh. Namun, orang Portugis itu juga mencari barang dagangan yang ada di daerah luar Malaka, yaitu ke pantai-pantai di kepulauan Nusantara hingga ke Aceh.&lt;br /&gt;Beralihnya pedagang-pedagang muslim ke Aceh menyebabkan Aceh menjadi ramai dan mulai berkembang sebagai tempat berdagang. Sebelumnya, atau pada saat orang-orang Portugis pertama muncul di perairan sekitar selat Malaka, Aceh masih merupakan sebuah kerajaan kecil yang tunduk kepada kerajaan tetangganya, Pedir. Para saudagar Islam, Aceh digunakan sebagai pengganti Malaka untuk tempat berdagang dan tempat menyebarkan agama Islam. Hal itu tidak disia-siakan oleh sultan Aceh (yang pada waktu itu bernama Sultan Ali Mughayat Syah) memanfaatkan kesempatan untuk membina kerajaan supaya benar-benar dapat menjadi pusat perdagangan sebagai pengganti Malaka yang telah dikuasai oleh orang Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah menguasai Malaka, pihak Portugis selanjutnya berusaha menguasai lalu lintas perdagangan di kawasan selat Malaka. Tujuan mereka tidak hanya bersifat ekonomis tetapi juga bersifat religius, yaitu menyebarkan agama mereka dan meneruskan memerangi orang-orang Islam sebagai kelanjutan dari Perang Salib. Oleh karena itu, selat Malaka menjadi tidak aman lagi bagi pedagang-pedagang muslim, lalu pedagang-pedagang muslim mencari tempat-tempat lain di sekitar itu, seperti Aceh, Pedir (Pidie) dan Pasai. Namun ternyata tempat-tempat tersebut juga menjadi incaran pihak Portugis. Portugis tidak menginginkan daerah-daerah di sekitar selat Malaka berkembang menjadi saingan Malaka yang sudah mereka kuasai.&lt;br /&gt;Pihak Portugis di Malaka mengirimkan armadanya ke Pedir dan Pasai. Sesampai di kedua tempat itu pihak Portugis belum menampakkan keagresifannya. Karena mereka mendapat sambutan baik dari penguasa Pedier dan Pasai. Mereka menerima hadiah-hadiah sebagai tanda persahabatan dengan kedua kerajaan itu.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt; Khusus di Pedir pihak Portugis berhasil mendapatkan izin untuk mendirikan sebuah kantor dagang. Kantor itu oleh Portugis diperkuat dengan mendirikan sebuah benteng di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Aceh Menentang Portugis&lt;br /&gt;Penjajahan biasanya berlangsung melalui sistem kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh bangsa asing. Perlawanan untuk itu merupakan tindakan-tindakan dari mereka yang tertekan dan tertindas, diberikan sebagai usaha membebaskan diri dari situasi yang demikian ke situasi yang mereka citakan, yaitu bebas dari penekanan dan penindasan. Di sini dijelaskan beberapa penentangan yang dilakukan oleh sultan Aceh bersama rakyatnya terhadap kafir Portugis.&lt;br /&gt;Zaman Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)&lt;br /&gt;Sebelum Ali Mughayat Syah naik tahta masih ada beberapa nama sultan Aceh tetapi pada umumnya ialah sultan-sultan kecil yang takluk pada kekuasaan Pedir. Di antaranya Sultan Inayat Syah. Inayat Syah mempunyai dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Salah satu dari anak laki-lakinya bernama Sultan Alaaddin Riayat Syah memerintah di kerajaan Daya dan seorang lagi bernama Muzaffar Syah menjadi raja Meukuta Alam (Kuta Alam) yang juga takluk pada kerajaan Pedir. Sultan Syamsu Syah mempunyai dua orang anak yaitu Ali Mughayat Syah dan Raja Ibrahim. Sultan Ali Mughayat Syah dianggap sultan pertama yang meletakkan dasar yang kuat bagi perkembangan Kesultanan Aceh Darussalam. Bantuan besar dari adiknya, Raja Ibrahim, kedua kakak beradik itu membantu ayahnya dan menunjukkan kecakapannya dalam pemerintahan, politik dan militer.&lt;br /&gt;Sultan Ali Mughayat Syah menyadari betapa situasi sejarah permulaan abad ke-16, kedatangan orang-orang Portugis telah membawa perubahan-perubahan yang besar, terutama di sekitar selat Malaka. Orang Portugis memblokir seluruh lalu lintas internasional di selat itu. Daerah-daerah di sekitar selat Malaka termasuk Aceh berada dalam ancaman penaklukan Portugis.&lt;br /&gt;Seperti telah disinggung bahwa menjelang akhir abad XV arus penjajahan Barat ke Timur sangat deras, terutama penjajahan Barat Kristen terhadap Timur Islam. Di antara bangsa Eropa Kristen yang pada waktu itu sangat haus tanah jajahan adalah Portugis. Setelah orang Portugis dapat merampas Goa (India), selanjutnya mengincar Malaka dan kerajaan-kerajaan Islam yang telah berdiri di pantai utara Sumatera.&lt;br /&gt;Untuk itu, setelah dilantik menjadi sultan pada Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Ali Mughayat Syah terus menetapkan suatu tekad untuk mengusir orang Portugis dari seluruh daratan pantai utara Sumatera. Untuk melaksanakan tekad itu sangat mustahil apabila kerajaan-kerajaan kecil yang masih tetap berdiri sendiri tidak bersatu dalam suatu kerajaan yang besar dan kuat.&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan tekadnya itu, Sultan Ali Mughayat Syah mengambil langkah yang cepat dan tegas. Dikirimnya peringatan tegas kepada raja-raja Jaya, Pedir, Pase supaya mereka mengusir orang Portugis dari negerinya masing-masing dan kemudian bersatu menjadi satu kerajaan yang besar. Tetapi, peringatan Ali Mughayat Syah yang bertujuan baik itu bukan saja tidak diindahkan, bahkan mereka tambah mempererat hubungan dengan orang Portugis.&lt;br /&gt;Dari hasil bergabungnya beberapa negeri itu terbentuklah kerajaan yang lebih besar, bernama Kesultanan Aceh Darussalam, oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Karena itu, jasa Ali Mughayat Syah dalam hal itu sangat besar. Dia telah mematahkan bahaya musuh dari luar dan dari dalam dalam waktu yang singkat.&lt;br /&gt;Suatu percobaan agresi dilakukan oleh Portugis di bawah pimpinan Gaspar de Costa ketika pada tahun 1519 M, dengan perangkatannya tiba-tiba muncul di Kuala Aceh. Da Costa dapat ditangkap oleh orang Aceh. Dengan perantaraan Nina Cunapam, syahbandar Pasai, Da Costa ditebus lalu dibawa oleh orang Portugis ke Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Mei 1521, armada Portugis yang lebih besar muncul lagi dan mengamuk di perairan Aceh. Kali ini panglima Jorge de Brito tampil memimpin penyerangan. Dalam pertempuran besar itu, Portugis mengalami kekalahan dan Jorge de Brito tewas bersimpah darah. Pengejaran terhadap Portugis dilakukan terus ke Pedir oleh angkatan perang Ali Mughayat Syah. Orang Portugis dan raja Pedir (Sultan Ahmad) akhirnya mengundurkan diri ke Pasai. Ali Mughayat Syah terus mengejar Portugis ke Pasai, pengejaran dipimpin oleh panglima perang Ibrahim, adik Sultan Ali Mughayat Syah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Ibrahim mempercepat penyerangannya ke Pasai karena ia mengetahui bahwa kerajaan Aru ingin bersekutu dengan Portugis. Sebelum pasukan Aru datang, Ibrahim sudah menguasai Pasai.&lt;br /&gt;Panglima Ibrahim memberi ultimatum kepada penduduk Pasai supaya jangan melakukan perlawanan, siapa saja yang menyerah akan dilindungi dan dijamin hak milik, nyawa dan keluarganya. Akan tetapi barang siapa yang melawan akan diberi tindakan. Selama beberapa hari Pasai terkepung, banyak lasykar yang menyerah dan yang tidak menyerah telah diserang. Melihat tanda-tanda yang sudah tidak menguntungkan lagi, akhirnya Portugis melarikan diri sambil membawa senjata dan pembekalan lain yang dapat dibawa. Di antara alat-alat perang, banyak pula meriam-meriam berat yang tidak sempat terbawa dibiarkan dalam benteng lalu dibakar. Namun panglima Ibrahim mengetahui rencana Portugis itu sehingga langsung menyerbu ke dalam benteng untuk menyelamatkan senjata tersebut. Senjata rampasan itu justru digunakan untuk mengejar Portugis pimpinan Don Sancho Henrique yang sedang menyelamatkan diri ke Aru.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Pihak Aceh pada waktu itu juga menggunakan “meriam tangan” (kain yang diikat pada kayu kemudian dicelupkan dalam minyak dan dibakar) lalu dilempar kea rah Portugis.&lt;br /&gt;Semenjak bulan Juni 1521, Portugis membangun lagi benteng dekat sungai di Pasai. Benteng itu kemudian juga diserang oleh Panglima Ibrahim, Don Sancho Henrique sendiri belum sempat melakukan perlawanan karena ketika mengetahui bahwa Aceh hendak menyerang dia duluan melarikan diri ke Malaka. Karena sudah melarikan diri, lalu digantikan oleh Sebastian de Sousa untuk menghadapi gerak maju pasukan Ibrahim. Namun Sebastian de Sousa juga melarikan diri karena tidak mungkin lagi melakukan perlawan.&lt;br /&gt;Demikian keberhasilan panglima Ibrahim dalam mengusir Portugis. Namun ia sendiri kemudian meninggal dan dimakamkan di Banda Aceh. Pada batu nisannya dinukil 21 Muharram 930 atau 30 November 1535.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Valentijn menyebutkan bahwa kekalahan Portugis itu sangat memalukan karena Aceh dapat merampas perlengkapan senjata Portugis sehingga dapat memperkuat lagi pasukan Aceh dengan senjata tersebut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;C. R. Boxer mencatat bahwa menjelang tahun 1530 M, Aceh sudah memiliki kelengkapan perang yang terdiri atas meriam-meriam. Sejarawan Portugis sendiri, Fernao Loper de Costanheda, membandingkan bahwa sultan Aceh telah lebih banyak mendapat supalai meriam-meriam dibanding dengan benteng Portugis di Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sultan Ali Mughayat Syah tidak berapa lama berkesempatan membangun dan membesarkan Aceh. Dia meninggal pada 12 Zulhijjah 936 atau 7 Agustus 1530. Sekitar 10 tahun lamanya semenjak ia mengambil tahta dari ayahnya. Landasan utama sudah dibangun oleh Ali Mughayat Syah tetapi sebelum seluruhnya selesai ia telah duluan meninggal. Untuk itu, kemungkinan penyempurnaan telah terbuka bagi angkatan yang menyusul setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Sultan Alaudin Riayat Syah Al Kahhar ( + 1537-1568 M)&lt;br /&gt;Pada zaman pemerintahan Al Kahhar prioritas utama yang dijalankan adalah peningkatan perdagangan, jaminan keselamatan dan meneruskan penentangan imperialis Portugis yang terus-menerus mengancam, antara lain ditandai oleh kegiatan-kegiatan Portugis di Selat Malaka dan di Lautan Hindia. Sambil menghadapi rintangan-rintangan Portugis, perdagangan internasional yang telah berkembang lama semenjak Ali Mughayat Syah, ditingkatkan terus. Ekspor Aceh terutama lada diangkut oleh saudagar Gujarat dan asing lainnya maupun oleh orang Aceh sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan bahwa sebelum orang Portugis, pedagang-pedagang dari India, Parsi dan Arab telah datang ke Malaka karena negeri itu merupakan tempat pengumpulan semua barang kebutuhan yang datang dari kawasan Nusantara. Malaka yang berkembang pada awal abad ke-15 telah berhasil menggantikan Pasai yang pernah memegang peranannya menjelang akhir abad ke-13.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn35" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn35" name="_ftnref35"&gt;[35]&lt;/a&gt; Ketika Portugis merampas Malaka tahun 1511 M, para saudagar bangsa Asia yang kehilangan pasaran bebas memindahkan pusat pembeliannya selain ke Jawa juga memilih tempat terdekat yaitu Aceh. Dengan sendirinya semangat pertanaman lada menjadi besar, demi perkembangan perekonomiannya Sultan Al Kahhar berjuang mengimbangi dan sedapat mungkin menekan peranan orang Portugis yang sudah menguasai Malaka dan berusaha memonopoli lintasan laut yang penting yaitu selat Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn36" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn36" name="_ftnref36"&gt;[36]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya kekayaan alam di kepulauan Nusantara maka keinginan Portugis untuk menguasai Nusantara semakin besar. Sikap orang Portugis yang demikian itu tidak asing lagi bagi Aceh sehingga Aceh bertekad menentang Portugis di Nusantara. Oleh karena itu, berdasarkan kekuatan sendiri dan juga sedapat mungkin kerajaan-kerajaan yang ada di pantai selat Malaka bersatu padu menggalang kekuatan untuk mengusir orang Portugis. Tetapi sebagian besar kerajaan-kerajaan itu bersekongkol dengan Portugis menghadang gerak maju Aceh yang dikendalikan oleh gubernur Portugis di Malaka, Estevao de Gama. Menghadapi orang Portugis yang semakin giat membina kekuatan, terutama melalui adu domba di sepanjang selat Malaka maka pada pertengahan abad ke-16, Aceh telah mengadakan hubungan diplomasi ke Turki. Seperti yang dilaporkan dalam catatan petualang Portugis, Pinto, bahwa Aceh telah mendapat sumbangan dari Turki sebanyak 300 orang ahli yang dibawa oleh kapal Aceh sendiri yang sengaja datang ke Turki untuk mendapatkan persenjataan dan alat pembangunan. Tentang diplomasi Aceh itu juga diketahui berdasarkan cerita lada sicupak, yaitu ketika perutusan Aceh yang diutus ke Turki untuk mengadakan perhubungan antara Aceh dengan Turki. Bingkisan yang dikirim untuk Turki yang terpenting adalah lada, memenuhi semua kapal itu. Karena terlalu lama sampai dan banyaknya rintangan di laut, menyebabkan muatan lada yang dibawa untuk sultan Turki menjadi habis di jalan dan hanya tersisa sicupak lada yang dapat disampaikan kepada sultan Turki.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn37" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn37" name="_ftnref37"&gt;[37]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tentang kisah lada sicupak terdapat pula dalam bait syair seudati di Aceh, yaitu : Deungo lon kisah Panglima Nyak Dom, U nanggroe Rom troih geubungka, Meuriam sicupak troih geupuwo, Geupeujaroe bak po Meukuta. (Dengar kisah Panglima Nyak Dum, berlayar sampai ke negeri Rum, meriam sicupak dibawa pulang, diserahkan kepada paduka Mahkota).&lt;br /&gt;Sifat Portugis yang tidak senang melihat Aceh menjalin hubungan dengan Johor dan daerah lain di sekitarnya, selalu berusaha untuk mengadu domba agar Aceh dimusuhi oleh pihak lain. Demikian, misalnya ketika Portugis mengetahui bahwa Aceh sedang menjalin hubungan dengan Johor, segera Estevao de Gama, panglima Portugis di Malaka (1534-1539 M) melaporkan hal itu ke Lisabon dengan surat tertanggal 20 November 1538. Antara lain dikatakan dia telah mendapat keterangan bahwa sultan Johor telah mengirim surat kepada sultan Aceh supaya Johor dibantu untuk menyerang Malaka. Pada tahun 1539 M, Estevao de Gama ditarik ke Goa (India) dan penggantinya ialah Pero de Faria untuk menjadi gubernur militer di Malaka.&lt;br /&gt;Menurut keterangan Pinto, pada masa ratu kerajaan Aru telah datang ke Malaka untuk meminta bantuan Portugis terhadap serangan Aceh yang baru menguasai Aru karena Aru bekerjasama dengan Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn38" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn38" name="_ftnref38"&gt;[38]&lt;/a&gt; Namun setelah Sultan Alauddin Johor berhasil membantu ratu Aru mengusir Aceh dari Aru dan memulihkan negerinya maka hubungan Aceh dengan Johor menjadi renggang. Hal itu dimanfaatkan oleh Portugis yang segera melakukan pendekatan dengan Aru karena Aru bagi Portugis merupakan imbangan bagi kekuatan Aceh.&lt;br /&gt;Aceh ternyata juga tidak tinggal diam, giat membangun dan kontak luar negeri. Pembangunan kapal digiatkan. Demikianlah hampir semua pertukangan dan kerajinan yang dikerjakan orang-orang di luar negeri sudah dapat dikerjakan sendiri di Aceh pada masa Al Kahhar. Kemajuan industri meriam dan senjata di Aceh telah sedemikian meningkatnya sehingga pesanan-pesanan dari negeri lain, di antaranya dari Demak dan Banten dapat dipenuhi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn39" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn39" name="_ftnref39"&gt;[39]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Aceh yang semakin pesat, Portugis menjadi khawatir dapat mengimbangi kekuatannya di Malaka. Oleh karena itu, pada tahun 1548 M memperketat pengawasannya di selat Malaka dan memperkuat benteng-bentengnya yang ada di Malaka. Sebaliknya, armada Aceh terus memobilisasi kekuatannya sehingga pada sekitar tahun 1547 M, tiba-tiba armada Aceh telah berada di pelabuhan Malaka. Dua buah kapal perang Portugis ditembak dalam suatu penyerangan sehingga kedua kapal itu terbakar. Portugis ternyata tidak sanggup melakukan perlawanan dari darat. Beberapa orang Portugis yang melarikan diri dari kapal ditangkap oleh orang Aceh namun karena melawan terpaksa dibunuh. Untuk memprovokasi perlawanan pihak Portugis, orang Aceh lalu menggunakan darah orang Portugis yang terbunuh itu sebagai tinta dari sepucuk surat tantangan Aceh yang dikirimkan ke darat. Pada waktu itu yang menjadi gubernur Portugis di Malaka ialah Simao de Mello (1545-1548 M), dia dituntut supaya menyerahkan Malaka kepada Aceh dan kalau tidak menyerah akan digempur. Atas tantangan itu, Simao de Mello tidak berani melawan, melainkan bertahan di dalam benteng bersama dengan serdadu dan orang Portugis yang berlindung di dalamnya. Orang-orang Portugis tidak berani melakukan perlawanan karena armadanya yang tidak memungkinkan untuk melawan. Karena tidak ada perlawanan, pasukan Aceh keluar lagi dari Malaka.&lt;br /&gt;Meskipun demikian usaha Aceh mengusir orang Portugis dari Malaka belum berhasil. Hal itu disebabkan berhasilnya pihak Portugis memecah belah antara Johor dan Aceh. Berita yang diterima oleh pasukan Aceh tentang bala bantuan untuk Portugis yang datang dari lautan serta pertempuran antara pasukan Aceh dengan serdadu Portugis yang dibantu oleh Johor di Perlis, memaksa pasukan Aceh menarik diri dari Malaka dengan maksud untuk menghadang pasukan bantuan Portugis di laut. Tetapi pasukan itu tidak dijumpainya.&lt;br /&gt;Walaupun penyerangan itu gagal namun Aceh terus memperkuat kedudukannya. Laporan yang disampaikan oleh pembesar Portugal kepada rajanya di Lisabon membuktikan betapa khawatirnya Portugal terhadap Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn40" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn40" name="_ftnref40"&gt;[40]&lt;/a&gt; Karena kerajaan Johor dianggap oleh Aceh selalu membantu pihak Portugis maka pada tahun 1464, Aceh menyerang Johor dan berhasil menguasainya. Sultan Johor terbunuh dalam penyerangan itu dan sejumlah tawanan dari Johor diangkut ke Aceh. Untuk beberapa tahun Johor menjadi vasal kerajaan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn41" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn41" name="_ftnref41"&gt;[41]&lt;/a&gt; Tindakan itu juga dimaksudkan oleh kerajaan Aceh sebagai persiapan untuk menyerang orang Portugis di Malaka, agar Johor tidak mendapat kesempatan membantu Portugis seperti pada penyerangan Aceh pada tahun 1547. Sementara itu orang Portugis juga merencanakan memperbesar kekuatannya di Malaka dan mengatur persiapan untuk melakukan serangan balasan terhadap Aceh. Don Antonio de Noronda, penguasa Portugis yang baru untuk Malaka, ketika masih berada di Goa (India), pada tahun 1564 M telah mendapat kabar pula tentang Aceh yang telah membentuk suatu persekutuan antara kerajaan-kerajaan Islam untuk menentang Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn42" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn42" name="_ftnref42"&gt;[42]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1568, terjadi lagi serangan Aceh terhadap orang Portugis. Serangan itu terdiri atas seperangkatan armada yang mengangkut sejumlah 15 000 prajurit dan 400 orang Turki, 200 meriam tembaga. Pada penyerangan Portugis kali ini, sultan Al Kahhar sendiri tampil memimpinnya. Pertempuran besar berlangsung seru antara Portugis dengan Aceh, kedua belah pihak banyak korban. Pada pertempuran tanggal 16 Februari 1568, sultan kehilangan puteranya yaitu Sultan Abdullah yang menjadi sultan Aru. Dalam peretmpuran itu Portugis dibantu oleh Johor, sehingga Johor juga mendapat serangan dari pasukan Aceh.&lt;br /&gt;Dalam rangka memperoleh bantuan dari Kerajaan Islam terbesar pada waktu itu, pada tahun 1563 M sultan Aceh mengirim suatu utusan ke kerajaan Turki. Utusan tersebut membawa serta hadiah-hadiah berharga dari sultan Aceh kepada penguasa kerajaan Turki. Hadiah-hadiah itu berupa emas, rempah-rempah dan lada.&lt;br /&gt;Selain pemberian hadiah, para utusan Aceh juga telah meyakinkan pihak Turki mengenai suatu keuntungan yang akan diperoleh pihak Turki dari perdagangan rempah-rempah dan lada di Nusantara, apabila orang-orang Portugis telah dapat diusir dari Malaka oleh Aceh dengan bantuan Turki.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn43" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn43" name="_ftnref43"&gt;[43]&lt;/a&gt; Perutusan Aceh itu dapat dikatakan berhasil karena suatu keputusan Sultan Selim II Turki bertanggal 16 Rabiul Awal 975 atau 20 September 1567, berisi penyambutan positif atas permintaan sultan Aceh yang dibawa oleh wazirnya bernama Husin. Dari pertemuan Husin dengan Selim II diketahui betapa besarnya tekad kaum muslimin di kepulauan Nusantara untuk mengusir kafir Portugis. Akhirnya pihak Turki bersedia mengirim bantuan kepada Aceh, berupa dua buah kapal perang dan 500 orang tenaga berkebangsaan Turki untuk mengelola kapal-kapal itu. Di antara 500 orang Turki itu juga terdapat ahli-ahli militer yang dapat membuat kapal-kapal perang baik ukuran besar maupun kecil dan meriam berukuran besar. Selain itu, pihak Turki juga memberikan sejumlah meriam berat beserta perlengkapan-perlengkapan militer kepada pihak Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn44" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn44" name="_ftnref44"&gt;[44]&lt;/a&gt; Laksamana Turki Kurt Oglu Hizir diserahi untuk memimpin ekspedisi tersebut dengan tugas khusus mengganyang musuh Aceh, mempertahankan agama Islam dan merampas benteng-benteng kafir.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn45" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn45" name="_ftnref45"&gt;[45]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Portugis juga meningkatkan kegiatan-kegiatannya, sekitar tahun 1554-1555 M armada Portugis mengendap terus di pintu masuk laut Merah khusus untuk menyergap kapal-kapal yang datang dari Gujarat dan Aceh. Namun pengalaman Portugis menunjukkan tidak begitu berhasil mematahkan kegiatannya. Lebih merepotkan Portugis, di samping kegiatan Aceh menghadapi Portugis di laut lepas, Aceh juga tidak henti-hentinya menyerang ke Malaka. Atau seperti dikatakan oleh Couto dalam ungkapannya bahkan di tempat tidurnya pun Sultan Riayat Syah (Al Kahhar) tidak pernah diam untuk memikirkan pengganyangan Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn46" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn46" name="_ftnref46"&gt;[46]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di samping bantuan militer yang diperoleh dari Turki, Aceh juga berusaha mendapatkan dari beberapa pemimpin kerajaan di Nusantara dan India tetapi Aceh hanya mendapatkan sekedar bantuan yang terbatas dari pemimpin Calicut dan Jepara.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn47" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn47" name="_ftnref47"&gt;[47]&lt;/a&gt; Selain itu, dalam rangka mengenyahkan Portugis dari kawasan selat Malaka, Aceh juga menggunakan tentara-tentara sewaan yang terdiri atas orang-orang Gujarat, Malabar dan Abyssinia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn48" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn48" name="_ftnref48"&gt;[48]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Sultan Ali Riayat Syah 1568 -1575 M&lt;br /&gt;Semenjak pertempuran antara Aceh dengan Portugis di Malaka 1568 M, Portugis menganggap persoalannya dengan Aceh mengandung alternative satu antara dua, yakni akan tetapkah Malaka itu buat Portugis atau terpaksa dilepaskan saja dikuasai oleh Aceh. Apabila kekuatan tidak ditambah, Aceh tentu dapat merebut Malaka dan untuk ini tentu hanya menunggu waktu saja. Portugis mengetahui bahwa membiarkan Aceh mengambil Malaka akan berarti membunuh diri sendiri di semua lapangan kehidupan. Diputuslah di Lisabon untuk mengirim sebanyak-banyaknya kekuatan armada ke Malaka. Semenjak itu, rencana membuat kapal-kapal perang digiatkan oleh Portugis.&lt;br /&gt;Untuk melancarkan pekerjaan dan tanggung jawab itu, pemerintah Portugis di India semenjak tahun 1571 M mencoba melakukan pembagian pemerintahan menjadi tiga gubernur yang berkuasa sendiri-sendiri dan langsung bertanggung jawab ke Lisabon. Kawasan Selatan, yang meliputi kepulauan Nusantara dan Tiongkok dijadikan kegubernuran sendiri. Kawasan ini diserahkan kepada Monitz Bareto, kepadanya juga diberikan pangkat sebagai Gubernur Sumatera, dan dialah yang diberi tugas untuk menaklukkan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn49" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn49" name="_ftnref49"&gt;[49]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1576 M, raja Portugal memutuskan memberi tugas kepada Mathias de Albuquerque untuk berangkat ke Malaka dengan dua buah kapal perang, yaitu Santa Catherina dan Sao Jorge, berikut segala tentara dan perlengkapannya, yang dikirim pada 2 Maret 1576. Mengdengar kabar bahwa kedua kapal Portugis tersebut akan melewati perairan Malaka, armada Aceh yang terus-menerus mengawal di selat Malaka, segera mengatur persiapan untuk mencegatnya. Tetapi Mathias de Albuquerque telah memperhitungkan bahwa ia akan dicegat oleh kekuatan Aceh yang lebih besar, lalu ia merubah waktu perjalanan, akhirnya lolos dari pencegatan pasukan Aceh dan dapat mendarat di Malaka. Armada Aceh kemudian memburunya ke Malaka sehingga pada tanggal 1 Januari 1577, Aceh menggempur Portugis di Malaka. Namun karena Portugis sudah lebih siap melayani pasukan Aceh sehingga tidak dapat mendarat di Malaka.&lt;br /&gt;I. A. Macgregor menyebutkan bahwa kekuatan Aceh saat itu sebanyak 10.000 orang bayak sekali meriam dan Sultan Ali Riayat Syah sendiri yang memimpin pasukan itu. Kesiagaan orang Portugis bertahan secara mati-matian dikarenakan apabila Malaka dapat dikuasai oleh Aceh maka putra Johor, Ali Jalla, akan diserahi kesultanan Malaka. Dengan rencana Aceh itu, Portugis memperhitungkan bahwa Johor akan menyerangnya dari belakang. Kemungkinan Aceh dan Johor bersekutu dalam suasana seperti itu dapat diamati bahwa Ali Jalla beristrikan dua putri Aceh, seorang di antaranya adalah puteri Mansur bangsawan Perak yang kemudian menjadi sultan Aceh. Dengan memperhitungkan bahwa Ali Jalla dapat berpengaruh dari hubungan perkawinannya maka Portugis melipat gandakan daya kekuatannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn50" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn50" name="_ftnref50"&gt;[50]&lt;/a&gt; Kegagalan Aceh maupun Johor menghadapi Portugis apalagi untuk mengusirnya dari Malaka, disebabkan berhasilnya Portugis memecah belah antara Aceh dengan Johor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Sultan Alaudin Riayat Syah Al Mukammil (+ 1588-1604 M)&lt;br /&gt;Ketika Aceh berada di bawah sultan Al Mukammil, sikapnya sangat berbeda dengan sikap sultan Aceh yang lain. Sultan ini telah mencoba mengadakan suatu kontak untuk berdamai dengan pihak Portugis di Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn51" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn51" name="_ftnref51"&gt;[51]&lt;/a&gt; Usaha Sultan Al Mukammil mendapat sambutan baik dari pihak Portugis di Malaka sehingga tercapai suatu situasi damai antara pihak Aceh dengan Portugis. Semenjak waktu itu lambat laun hubungan yang normal telah terjadi antara kedua lawan itu, bahkan pada tahun1600 sebuah delegasi atas nama Raja Portugal telah datang di Aceh untuk mengadakan perundingan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn52" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn52" name="_ftnref52"&gt;[52]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sebab-musabab Aceh dan Portugis menjalin suatu hubungan yang baik, C.R. Boxer menyebutkan bahwa perubahan sikap dari kedua belah pihak yang sebelumnya saling bertentangan itu, sebenarnya disebabkan kejenuhan pada kedua belah pihak yang terus-menerus telah melibatkan diri dalam perselisihan-perselisihan dan peperangan-peperangan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn53" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn53" name="_ftnref53"&gt;[53]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Portugis ingin memanfaatkan masa damai tersebut untuk beristrirahat dan untuk menyiapkan suatu serangan secara besar-besaran terhadap Aceh. Tetapi dari perkembangan situasi selanjutnya pihak Portugis benar-benar telah merubah maksudnya itu. Mereka tetap ingin memelihara suatu suasana damai dengan Aceh. Hal itu karena maksud lain dari pihak Portugis, yakni keinginan mereka untuk mengadakan suatu hubungan dagang dengan Aceh. Dari itu dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar.&lt;br /&gt;Sultan Al Mukammil mengirim seorang utusan ke Malaka. Utusan Aceh itu membawa serta hadiah-hadiah berharga untuk dipersembahkan kepada penguasa Malaka yang pada waktu itu dijabat oleh D. Paulo de Lima.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn54" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn54" name="_ftnref54"&gt;[54]&lt;/a&gt; Tujuan utusan Aceh tersebut untuk mengucapkan selamat kepada Portugal yang telah berhasil mengadakan penghancuran atas kerajaan Johor, yang juga bermusuhan dengan kerajaan Aceh dan Portugis di Malaka. Selain itu, Aceh juga meminta kepada Portugis agar seorang wanita Aceh yang berpangkat, yang sedang ditahan oleh Portugis pada salah satu perahu yang sedang menuju Malaka supaya dibebaskan. D. Paulo de Lima mengabulkan permintaan Aceh dan juga bersedia mengadakan suatu perjanjian damai dengan utusan Aceh tersebut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn55" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn55" name="_ftnref55"&gt;[55]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semenjak adanya perdamaian itu (1587 M) maka pihak Aceh tidak lagi menyerang kapal-kapal Portugis yang lewat di perairan Aceh dan selat Malaka. Kemudian kepada orang-orang Portugis oleh sultan Aceh juga diberi kebebasan untuk datang dan berdagang di ibu kota kerajaan Aceh, yaitu Bandar Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;Suasana damai antara Aceh dengan Portugis tidak berlangsung lama, hingga tahun 1602 M, saat sudah berdatangan para pedagang bangsa Barat lainnya ke Aceh (Belanda dan Inggris). Sementara para pedagang-pedagang itu berada di Aceh, orang-orang Portugis yang juga berada di Aceh semakin lama semakin menunjukkan pengaruhnya di kalangan istana Aceh. Mereka menghasut pedagang-pedagang Belanda kepada sultan Aceh agar memerangi para pedagang Belanda yang sedang berada di Aceh. Sultan Aceh mulai menunjukkan kecurigaannya kepada orang-orang Portugis, ketika mereka pada tahun 1602 M mengajukan suatu permohonan kepada sultan agar mereka diberi suatu tempat, yakni salah satu di antara pulau-pulau yang terletak di depan pantai Aceh. Tujuan mereka adalah untuk mendirikan sebuah benteng di tempat itu, dengan alasan untuk menjamin keselamatan perdagangan mereka di Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn56" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn56" name="_ftnref56"&gt;[56]&lt;/a&gt; Semenjak saat itu sultan Aceh mulai berprasangka buruk kepada orang-orang Portugis yang berada di Aceh dan sekaligus mulai merubah kembali sikapnya terhadap Portugis. Mulai saat itu terjadi lagi hubungan yang tidak baik antara kerajaan Aceh dengan Pihak Portugis.&lt;br /&gt;Pada masa sultan Al Mukammil muncul seorang tokoh wanita terkemuka, ia adalah Keumalahayati atau Malahayati atau Hayati. Keumalahayati ialah wanita berpangkat laksamana Kesultanan Aceh dan merupakan salah seorang pemimpin armada laut. Menurut sumber tradisi lisan, pasukan wanita yang dipimpin oleh Keumalahayati terdiri atas para janda yang suaminya telah gugur dalam peperangan-peperangan yang terjadi antara Kesultanan Aceh dengan Portugis, termasuk suami Keumalahayati sendiri.&lt;br /&gt;Pasukan wanita yang dipimpim Keumalahayati dinamakan Armada Inong Bale. Untuk kepentingan pasukan itu dan juga sebagai pangkalan mereka, didirikan sebuah benteng yang dalam istilah Aceh disebut Kuta Inong Bale (Benteng Wanita Janda). Hingga sekarang bekas benteng itu masih dapat disaksikan di Teluk Krueng Raya, dekat pelabuhan Malahayati. Ketika orang-orang Portugis pada bulan Juni 1606 menyerang Aceh, Keumalahayati bersama Darma Wangsa Tun Pangkat (Iskandar Muda) berhasil mengusir Portugis dari Aceh.&lt;br /&gt;Karena jasa-jasa kepahlawannya dalam membela tanah air, Keumalahayati menjadi figure yang selalu dikenang dan dihormati. Itulah sebabnya, Pemerintah Republik Indonesia mengabadikan namanya pada sebuah Kapal Perang Republik Indonesia, yaitu KRI Malahayati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636 M.&lt;br /&gt;Sultan Alaudin Riayat Syah Al Mukammil yang sudah lanjut usia maka dalam memerintah kerajaan dibantu oleh Sultan Muda. Namun ternyata putranya itu sangat berambisi untuk menjadi sultan penuh, untuk itu ia menyingkirkan ayahnya dari kedudukan sultan dan ia sendiri naik tahta memerintah sebagai sultan dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).&lt;br /&gt;Tahun-tahun pertama dari pemerintahan sultan ini ditandai dengan adanya musibah-musibah besar yang menimpa kesultanan Aceh, yaitu adanya musim kemarau panjang dan ganas luar biasa telah menimbulkan bahaya kelaparan dan berjangkitnya suatu wabah penyakit yang menimbulkan banyak kematian di kalangan penduduk. Sultan ini tidak mampu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, masih ditambah lagi dengan suatu pertikaian berdarah dengan saudaranya yang menjabat sebagai sultan di Pedir. Meskipun untuk beberapa lama Sultan Ali Riayat Syah masih menjabat sebagai sultan tetapi kesultanannya pada waktu itu merupakan kancah perampokan, pembunuhan dan ketidakteraturan yang sangat menyedihkan. Oleh karena itu, pemerintahannya berjalan dengan tidak memuaskan rakyatnya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn57" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn57" name="_ftnref57"&gt;[57]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hal itu, disebabkan karena ia menduduki jabatan sultan dengan menyingkirkan ayahnya sendiri dan ia memperhatikan bahaya yang mengancam kerajaannya. Rasa tidak puas terhadap kepemimpinannya diperlihatkan pula oleh kemenakannya Darma Wangsa Tun Pangkat. Hal itu menyebabkan sultan tidak senang kepadanya sehingga dia ditangkap dan dijatuhi hukuman. Darma Wangsa Tun Pangkat kemudian dapat melarikan diri dari tahanan dan mencari perlindungan pamannya yang bernama Sultan Husen di Pedir (Pidie). Di sana ia diterima dengan baik tetapi sultan Aceh menghendaki Darma Wangsa Tun Pangkat diserahkan kembali kepadanya oleh sultan Pedir. Namun sultan Pedir tidak bersedia, mengingat Darma Wangsa Tun Pangkat adalah cucu dari anak kesayangan ayah mereka. Keadaan itu menimbulkan ketegangan antara kerajaan Aceh dengan kerajaan otonom Pedir. Setelah terjadi beberapa kali pertempuran antara kedua kerajaan itu menimbulkan banyak korban jiwa, akhirnya rakyat Pedir tidak mampu lagi mengahadapi pihak Aceh dan Sultan Husen terpaksa menyerahkan kemenakannya kepada saudaranya sultan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn58" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn58" name="_ftnref58"&gt;[58]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Portugis di bawah pimpinan Don Martin Alfonso de Castro pada bulan Juni 1606 menyerang Aceh, Darma Wangsa Tun Pangkat masih ditahan sebagai tahanan,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn59" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn59" name="_ftnref59"&gt;[59]&lt;/a&gt; Ketika ia mendengar adanya penyerangan itu maka ia memohon kepada sultan supaya ia diperkenankan ikut berperang melawan orang-orang Portugis. Permohonan itu rupanya dikabulkan oleh sultan Aceh. Kemudian ia bersama-sama dengan tentara Aceh lainnya melakukan penyerangan terhadap orang-orang Portugis di sebuah benteng Aceh yang telah direbutnya. Sesudah beberapa lama bertempur, tentara Aceh berhasil menghancurkan benteng terakhir Portugis, Kuta Lubok, dekat Krueng Raya, Aceh Besar, dengan pasukan kaveleri bergajah dan mengusir kembali armada orang-orang Portugis dari Aceh dengan kerugian besar. Karena jasa dan keberaniannya, Darma Wangsa Tun Pangkat menjadi terkenal dan menarik perhatian orang-orang di kalangan istana Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn60" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn60" name="_ftnref60"&gt;[60]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meninggalnya Sultan Muda Ali Riayat Syah menurut Bustanus Salatin, pada hari Rabu 4 April 1607. Sebagai penggantinya ialah kemenakannya sendiri yaitu Maharaja Darma Wangsa Tun Pangkat dengan gelar Sultan Iskandar Muda. Pada mulanya sebagian pejabat-pejabat di istana berkeberatan untuk menobatkan Darma Wangsa Tun Pangkat sebagai sultan karena mereka menganggap masih ada saudara Sultan Ali Riayat Syah yang lebih berhak untuk menjabat jabatan tersebut yaitu Sultan Husen dari Pedir. Menurut laporan Augustin de Beaulieu, Darma Wangsa Tun Pangkat dapat diangkat karena ibunya (Putri Raja Indra Bangsa) yang berhasil mempengaruhi orang-orang di kalangan istana, sebelum Sultan Husen datang dari Pedir. Setelah Sultan Husen mengetahui tentang kematian saudaranya itu, ia datang ke Aceh untuk menerima warisan dari saudaranya itu. Ketika sampai ke Aceh, ia tidak mendapatkan penyambutan yang selayaknya. Tatkala memasuki istana Aceh, sultan Aceh yang baru yaitu Sultan Iskandar Muda yang dahulu dibela dan dilindunginya, kini segera menangkapnya dan memasukkan ke dalam penjara.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn61" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn61" name="_ftnref61"&gt;[61]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa Sultan Iskandar Muda adalah salah satu sultan di Kesultanan Aceh yang sangat populer. Pada masa sultan Iskandar Muda, kesultanan Aceh berkembang pesat, baik ekonomi, militer, politik maupun sosial budaya.&lt;br /&gt;Letak geografis Aceh yang strategis, yaitu di jalan lalu lintas perdagangan antara Eropa, Asia Barat dan Cina merupakan salah satu faktor perkembangan kesultanan. Banyaknya pedagang yang datang ke Aceh semenjak kota Malaka dikuasai oleh Portugis, juga merupakan salah satu faktor. Adanya suatu aliansi antara kesultanan Aceh dengan kerajaan Islam terkemuka pada waktu itu yakni Kerajaan Turki membawa pengaruh pula bagi perkembangan kesultanan Aceh. Sebagai sebuah kesultanan pantai, Negara maritim Aceh mempunyai armada laut yang kuat untuk dapat mengawasi perdagangan.&lt;br /&gt;Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda dengan tindakan-tindakan hukum yang tegas dan kebijakan-kebijakan yang berkeadilan yang dijalankannya mampu membawa kesultanan Aceh ke puncak kemakmuran dan kejayaan. Dia berhasil memperluas daerah kekuasaannya, melanjutkan pekerjaan yang sudah dirintis oleh sultan Aceh sebelumnya.&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda tidak hanya penaklukan-penaklukan, tetapi juga melakukan tindakan-tindakan dan menciptakan peraturan-peraturan hukum bagi kesultanan Aceh. Sebagian besar tindakan dan peraturan itu berhubungan dengan kepentingan ekonomi. Tindakan pertama yang berhubungan dengan kepentingan ekonomi adalah menolak mensahkan berlakunya suatu perjanjian yang telah ditandatangani oleh sultan Aceh sebelumnya dengan pihak Belanda. Sultan menyadari akan adanya keuntungan yang didapat dengan datangnya pedagang-pedagang Eropa dan pedagang asing lainnya sebagai pembeli lada Aceh.&lt;br /&gt;Dalam bidang pemerintahan, Sultan Iskandar Muda menciptakan suatu bentuk kesatuan wilayah yang disebut mukim untuk mengkoordinir gampong-gampong. Walaupun pada mulanya untuk kepentingan keagamaan yaitu untuk didirikan sebuah mesjid tetapi kemudian dimaksudkan pula untuk kepentingan politik dan ekonomis. Politis untuk memudahkan dalam mengkoordinir tenaga-tenaga tempur apabila terjadi peperangan, sedangkan ekonomis untuk memudahkan pengutipan pajak. Selain melakukan tindakan-tindakan yang bertujuan ekonomi, Sultan Iskandar Muda juga membuat ketetapan-ketetapan atau peraturan tentang tata cara yang berlaku di Kesultanan Aceh. Kumpulan ketetapan itu disebut dengan nama Adat Meukuta Alam.&lt;br /&gt;Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Sultan Iskandar Muda melakukan ekspansi ke kerajaan sekitarnya. Dalam ekspansi-ekspansi yang dilakukan itu, meskipun dalamnya terkandung suatu kekuatan militer bertujuan untuk kepentingan politik dengan nuansa agama tetapi sebenarnya lebih menjurus untuk kepentingan ekonomi, yaitu untuk mendapatkan monopoli perdagangan di daerah-daerah yang berhasil ditaklukkannya. Selain ekspansi-ekspansi juga melakukan penyerangan terhadap kedudukan Portugis di Malaka dan menguasai kerajaan-kerajaan yang berpotensi ekonomi di kawasan itu dan bersama-sama mengepung dan mengembargo Portugis yang berkedudukan di Malaka. Sultan Iskandar Muda juga melihat kedudukan Portugis sebagai rintangan bagi keinginannya. Ia khawatir terhadap kekuatan Portugis di Malaka dan kelemahan-kelemahan Sultan Melayu dalam menghadapi pihak Portugis. Oleh karena itu, Sultan Iskandar Muda berusaha mengusir Portugis dari Malaka yang dianggap sebagai penghalang dan saingannya dalam menguasai perdagangan di selat Malaka. Apalagi pihak Portugis sering mengadakan hubungan untuk mendapatkan barang-barang dagangan dan mencari pengaruh atas kerajaan-kerajaan Melayu yang lemah di Semenanjung Tanah Melayu. Kerajaan Melayu yang berhubungan dengan kafir Portugis di Malaka dimusuhi oleh Aceh. Sedangkan kerajaan-kerajaan itu menginginkan supaya mereka bebas memperdagangkan barang-barang dagangan mereka kepada siapa saja yang mereka anggap lebih menguntungkan. Adanya perbedaan kepentingan itu, timbul persaingan terus-menurus antara Kesultanan Aceh dengan kafir Portugis di Malaka dan dengan kerajaan Melayu yang bekerjasama dengan Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn62" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn62" name="_ftnref62"&gt;[62]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;J. Jongejans dalam karyanya Land en Volk van Atjeh Vroege en Nu, berpendapat bahwa tujuan peperangan dan ekspansi yang dilakukan Aceh terhadap Malaka Portugis dan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu adalah untuk kepentingan agama.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn63" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn63" name="_ftnref63"&gt;[63]&lt;/a&gt; Namun menurut Brian Harrison, salah seorang yang banyak menulis dan menyelidiki tentang Sejarah Asia Tenggara, berpendapat bahwa peperangan yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda dengan pihak Portugis dan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu bukanlah peperangan karena agama tetapi peperangan untuk mendapatkan kekuasaan perdagangan di perairan selat Malaka dan untuk menempatkan orang-orang Melayu di bawah kekuasaannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn64" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn64" name="_ftnref64"&gt;[64]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sikap Sultan Iskandar Muda dalam melakukan ekspansi kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung Tanah Melayu atau di Sumatera tidak memandang apakah kerajaan-kerajaan itu menganut agama Islam atau tidak, yang penting dengan mengembargo Malaka Portugis, kerajaan-kerajaan itu dapat mendatangkan keuntungan perdagangan bagi kerajaan Aceh dan merugikan Portugis. Embargo itu berhasil menyulitkan Portugis hingga pada titik gawat yang membawa kebangkrutannya. Sebuah surat dari Malaka dalam dokumen Spanyol, menyebutkan dalam laporan Portugis, menyatakan bahwa akibat embargo itu penguasa Portugis di Malaka tidak sanggup membayar gaji pegawainya. Selain karena kerajaan-kerajaan itu bersahabat dengan Portugis di Malaka atau setidak-tidaknya membuka kesempatan atau membiarkan pihak Portugis di wilayahnya. Hal seperti itu memang dilakukan oleh Johor, Pahang, Kedah dan Patani. Mereka membiarkan Portugis berdagang di kerajaannya.&lt;br /&gt;Kerajaan Johor sebagai salah satu kerajaan yang berpengaruh di Semenanjung Tanah Melayu justru pernah mengadakan persahabatan dengan Portugis. Semenjak abad XVI kerajaan Johor bermusuhan dengan Aceh. Berulang kali pada abad itu Kerajaan Johor mendapat serangan dari pihak Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn65" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn65" name="_ftnref65"&gt;[65]&lt;/a&gt; Namun terkadang terjadi juga hubungan baik antara kedua kerajaan itu tetapi kemudian terjadi permusuhan lagi begitu embargo Malaka Portugis mereka kendorkan. Demikian pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda terjadi lagi penyerangan dan penghancuran terhadap ibu kota kerajaan Johor yang bernama Batu Sawar yang dihancurkan habis-habisan oleh tentara Aceh. Sultan Johor yang sudah berusia lanjut sempat melarikan diri ke Pulau Bintan, tetapi Sultan Muda yang bergelar Raja Sabrang bersama keluarganya dan 22 orang Belanda yang mencoba membantu kerajaan Johor dapat ditawan oleh tentara Aceh dan mereka dibawa ke ibu kota kerajaan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn66" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn66" name="_ftnref66"&gt;[66]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Raja Sabrang selama ditawan di Aceh dapat meyakinkan Sultan Iskandar Muda bahwa dia juga merupakan orang memusuhi Portugis seperti juga orang-orang Aceh. Oleh karena itu, Sultan Iskandar Muda menaruh kepercayaan kepada Raja Sabrang dan kemudian ia dikawinkan dengan saudara perempuannya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn67" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn67" name="_ftnref67"&gt;[67]&lt;/a&gt; Setelah beberapa lama tinggal di Aceh, pada bulan September 1614 Raja Sabrang bersama istrinya dikembalikan ke Johor diantar bersama 2000 orang Aceh. Pengantar sebanyak itu dimaksudkan untuk membangun kembali ibu kota kerajaan Johor yang telah hancur oleh tentara Aceh sebelumnya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn68" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn68" name="_ftnref68"&gt;[68]&lt;/a&gt; Di Johor Raja Sabrang menjadi sultan dengan gelar Sultan Hammat Syah. Namun setelah beberapa lama di kerajaannya, Sultan Hammat kembali bekerjasama ekonomi dan politik dengan pihak Portugis di Malaka, diwakili oleh Fernao da Costa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn69" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn69" name="_ftnref69"&gt;[69]&lt;/a&gt; Hal itu menimbulkan kembali kemarahan Sultan Iskandar Muda, adik sultan diceraikan oleh Sultan Hammad Syah, pada tahun 1615 M dikirim kembali ke Aceh. Pada tahun itu juga tentara Aceh yang sudah dipersiapkan oleh Sultan Iskanda Muda untuk menyerang Malaka Portugis ; diperintahkan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menggempur kembali Kerajaan Johor. Setelah tentara Aceh tiba di ibu kota kerajaan Johor telah dikosongkan. Sultan Hammat Syah bersama dengan sebagian penduduknya yang mengetahui akan adanya serangan dari pihak Aceh telah melarikan diri ke Pulau Bintan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn70" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn70" name="_ftnref70"&gt;[70]&lt;/a&gt; Dalam perjalanan kembali ke Aceh, armada Aceh bertemu dengan kapal-kapal orang Portugis yang dipimpin oleh Miranda dan Mendoca sehingga terjadi pertempuran. Orang-orang Portugis dapat dikalahkan, banyak di antara mereka yang ditawan dan diangkut ke ibu kota Kerajaan Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn71" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn71" name="_ftnref71"&gt;[71]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan kerajaan Melayu di Semenanjung Tanah Melayu juga menjadi sasaran penguasaan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda. Dengan alasan bahwa mereka sering berhubungan dengan Portugis Malaka maka pada awal tahun 1618 M, Sultan Iskandar Muda mengirim armada 17.000 tentara menuju Kerajaan Pahang. Kotanya dihancurkan oleh sultan Pahang sendiri bersama 10.000 ditawan dan dibawa ke Aceh. Masih dalam tahun 1618, ketika armada Aceh di depan pelabuhan sebuah kapal Gayyun Portugis dijumpai di sana yang memuat 40 buah meriam. Meriam-meriam itu dirampas dan awak kapalnya ditawan di antaranya terdapat seorang anak laki-laki yang ternyata anak penguasa Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn72" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn72" name="_ftnref72"&gt;[72]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1619 M tentara Aceh menuju sebelah utara yakni Kerajaan Kedah dan Patani. Di Kedah, Patani dan daerah-daerah sekitarnya tentara Aceh telah merusak tanaman-tanaman lada. Karena di daerah itu lada sering dijual secara gelap kepada orang-orang Portugis. Sultan Kedah yang sudah tua bersama 4000 rakyatnya dibawa ke Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn73" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn73" name="_ftnref73"&gt;[73]&lt;/a&gt; pada tahun berikutnya Kerajaan Perak yang banyak menghasilkan timah mengalami hal yang sama. Ibu kotanya dapat dikuasai dan 5000 rakyat dibawa ke Aceh sebagai tawanan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn74" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn74" name="_ftnref74"&gt;[74]&lt;/a&gt; Selanjutnya, pada tahun 1635 M, Sultan Iskandar Muda masih melakukan suatu serangan atas Kerajaan Pahang. Kota Pahang kembali dihancurkan dan rakyatnya banyak yang ditawan. Alasan penyerangan itu karena Kerajaan Pahang ikut membantu Portugis ketika Aceh menyerang Malaka pada tahun 1629 M. Permusuhan Aceh dan Pahang baru terhenti ketika putra Kerajaan Pahang didudukkan sebagai sultan di Aceh, yaitu yang bergelar Iskandar Thani sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn75" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn75" name="_ftnref75"&gt;[75]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Raja atau pembesar yang dapat ditawan dari kerajaan-kerajaan Melayu oleh tentara Aceh dibwa ke ibu kota kerajaan Aceh. Meskipun pada mulanya mereka diperlakukan sebagai tawanan tetapi akhirnya di antara mereka ada juga yang dikawinkan dengan keluarga Sultan Iskandar Muda. Misalnya, mereka harus tunduk di bawah pengaruh Aceh dan mengembargo Malaka Portugis, yaitu dilarang mengadakan hubungan dengan atau memberi bantuan dalam bentuk apapun kepada Portugis di Malaka. Demikian seperti yang dilakukan pada Sultan Muda, sultan Johor. Namun Sultan Johor kembali berkhianat terhadap Aceh.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn76" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn76" name="_ftnref76"&gt;[76]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menurut N. J. Ryan, penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh kerajaan Aceh di Semenanjung Tanah Melayu dimaksudkan pula oleh Aceh untuk memudahkan penyerangan yang akan dilakukan secara besar-besaran terhadap Malaka Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn77" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn77" name="_ftnref77"&gt;[77]&lt;/a&gt; Hal itu dimaksudkan oleh Aceh apabila mereka melakukan serangan terhadap Malaka Portugis, kerajaan-kerajaan Melayu tidak dapat membantu Portugis. Namun apa yang diharapkan oleh Aceh tidak terjadi. Karena ketika penyerangan benar-benar dilakukan oleh sultan Iskandar Muda pada tahun 1629 M, kerajaan Pahang, Johor dan Patani masih juga bekerjasama dengan Portugis. Pada tahun 1615 M, Kerajaan Aceh pernah mencoba melakukan serangan terhadap Portugis di Malaka tetapi karena sebelumnya Aceh dahulu menyerang Kerajaan Johor dengan armada yang seharusnya untuk menyerang Malaka Portugis, sehingga Aceh terpaksa membatalkan maksudnya. Meskipun demikian, seperti sudah disebutkan di atas ketika armada Aceh dalam perjalanan pulang ke Aceh sempat juga terlibat perang dan berhasil menang dalam suatu pertempuran dengan kapal-kapal Portugis di lepas pantai dekat Malaka.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn78" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn78" name="_ftnref78"&gt;[78]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu penyerangan secara besar-besaran terhadap kedudukan Portugis di Malaka dilakukan oleh sebuah armada Aceh yang cukup besar menurut ukuran pada waktu itu, pada tahun 1629 M. Dalam pertempuran itu pihak Aceh mengalami kekalahan total. Banyak tentara Aceh yang gugur dalam pertempuran itu termasuk perdana mentrinya, sedangkan Laksamana Aceh yang cukup terkenal dalam ekspansi-ekspansi Aceh sebelumnya ke kerajaan-kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu dapat ditawan oleh pihak Portugis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn79" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn79" name="_ftnref79"&gt;[79]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah dijelaskan di atas, peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Aceh, yaitu peperangan pada tahun 1629 M antara kerajaan Aceh dengan Portugis dan beberapa kerajaan Melayu yang membantu Portugis di Malaka. Pada mulanya rencana Sultan Iskandar Muda untuk melakukan penyerangan terhadap Malaka Portugis pada tahun 1629 M belum disetujui oleh Laksamananya yang sudah berpengalaman dalam melakukan ekspansi-ekspansi ke kerajaan-kerajaan Melayu di seberang lautan. Menurut Laksamana penyerangan yang dilakukan itu belum tepat waktunya. Ia melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila Aceh benar-benar menyerang Malaka pada waktu itu. Perdana Menteri Aceh pada waktu itu bergelar Maharaja Sri Maharaja mengajukan kesediaannya kepada Sultan Iskandar Muda supaya dialah yang memimpin armada Aceh dalam penyerangan yang akan dilakukan terhadap Malaka Portugis. Sultan Iskandar Muda dapat menyetujuinya. Oleh karena itu, perdana menteri kemudian diangkat sebagai pemimpin armada laut Aceh, menggantikan tempat laksamana. Walaupun demikian, laksamana diikutsertakan juga dalam rombongan Aceh itu, tetapi dia hanya diserahkan untuk memimpin sepasukan kecil marinir dari tentara Aceh. Karena Laksamana merasa disisihkan dan sikap perdana menteri yang angkuh, ingin menunjukkan bahwa ia juga dapat memimpin armada laut seperti yang pernah dipimpin oleh Laksamana pada penaklukan ke Semenanjung Tanah Melayu maka antara kedua pimpinan Aceh itu tidak ada satu kekompakan. Sebaliknya antara kedua mereka terjadi pertentangan-pertentangan yang berakibat fatal.&lt;br /&gt;Dengan kekuatan 250 perahu layar ditambah 47 buah kapal galley yang besar menurut ukuran pada waktu itu dan dengan sekitar 20 000 tentara berangkatlah armada Aceh menuju ke Malaka. Menurut Denys Lombard, Sultan Iskandar Muda mempersenjatai armada yang dapat mencapai 400 kapal banyaknya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn80" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn80" name="_ftnref80"&gt;[80]&lt;/a&gt; Pada bulan Juli 1629 mereka tiba di perairan Malaka. Tidak lama sesudah armada itu tiba telah dihadang oleh anggkatan laut Portugis. Pemimpin pertahanan Portugis pada waktu itu ialah Diego Lopez de Fonseco. Dalam pertempuran pendahuluan angkatan laut Portugis dapat dikalahkan. Laksamana yang memegang pimpinan pasukan angkatan darat berhasil mengadakan pendaratan ke pinggir kota Malaka. Beberapa tempat di benteng kota Malaka dapat dikuasai olen tentara Aceh. Di antaranya bukit S. Joao (St. John), yang dikenal pula sebagai Bukit Cina, sangat strategis letaknya. Di tempat itu mereka mendirikan perkemahan-perkemahan. Dari sana tentara darat Aceh dapat melepaskan tembakan meriam kearah benteng Portugis yang terkenal dengan nama La Famosa, namun pihak Portugis terus bertahan di benteng itu. Perdana menteri yang memegang pimpinan armada laut mencoba mendekati benteng kota Malaka dengan memasuki muara sungai Pongor di sebelah selatan Malaka. Ketika mereka sudah berada di sungai itu dengan tidak disangka-sangka muncul armada Johor, Pahang, Patani yang berkekuatan 2000 orang tentara untuk membantu Portugis. Kemudian muncul lagi bantuan dari pihak Portugis sebanyak 5 buah kapal perang yang dipimpin oleh Michael Pereira Botello. Bantuan kepada pihak Portugis yang datang dari laut dengan tiba-tiba tidak diperhitungkan oleh Perdana Menteri Maharaja Sri Maharaja. Dalam bulan Oktober tahun itu pula tiba armada Portugis dari Goa (India) yang dipimpin Nuno Alvarez Botello. Mereka semua memblokir muara sungai tempat armada Aceh berada. Dengan pemblokiran itu pihak Portugis dapat dengan mudah melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap armada Aceh yang berada di sungai sehingga banyak tentara Aceh yang gugur.&lt;br /&gt;Laksamana Aceh yang memimpin tentara darat melihat saja armada Aceh yang sedang terkepung di sungai Pongor. Dia seolah-olah membiarkan saja armada Aceh yang dipimpin oleh perdana menteri itu hancur dipukul oleh tentara Portugis bersama dengan sekutu-sekutunya. Batello meminta agar armada Aceh menyerah saja kepada mereka, tetapi permintaan itu ditolak secara tegas oleh perdana menteri. Setelah terkepung dan bertempur beberapa lama armada Aceh tambah terdesak. Perdana menteri Maharaja Sri Maharaja mencoba berbagai cara untuk menembus blokade itu. Ia menggunakan kapal-kapal yang besar dimiliki armada Aceh di antaranya kapal yang bernama Tjakra Donja, tetapi tanpa hasil. Semakin lama-semakin banyak kapal yang tenggelam dan dapat dirampas oleh tentara Portugis. Begitu pula dengan tentaranya semakin banyak yang tewas. Laksamana yang berada di darat melihat saja armada Aceh dalam kesulitan mereka tidak dapat berbuat banyak, kecuali mencoba mengadakan suatu perundingan asalkan tentara Aceh terlebih dahulu mau membebaskan orang penting Portugis yang bernama Pedro de Abreu yang berada dalam tawanan tentara Aceh. Permintaan itu ditolak oleh Laksamana.&lt;br /&gt;Pada akhir November 1629 perdana menteri Maharaja Sri Maharaja gugur. Pada saat itu datang lagi tentara gabungan dari Kerjaan Melayu, terdiri dari Johor, Pahang, Patani sekitar 100 buah perahu layar untuk menambah bantuan kepada Portugis. Tentara Aceh tambah terdesak, Pedro de Abreu terpaksa dibebaskan oleh pihak Aceh. Laksamana meminta kelonggaran kepada pihak Portugis untuk mengundurkan diri bersama 3 buah kapal Aceh supaya dapat membawa serta sisa-sisa tentara Aceh. Permintaan itu ditolak oleh Portugis dan mereka meminta Laksamana dan sisa-sisa anak buahnya menyerah saja kepada mereka, permintaan itu juga ditolak oleh Laksamana. Kemudian dengan sisa-sisa anak buahnya ia mencoba melarikan diri melalui daratan agar dapat terhindar dari tangkapan orang-orang Portugis tetapi di daratan mereka dihadang oleh tentara Pahang. Tatkala keadaan benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi maka Laksamana menyerahkan diri kepada orang-orang Pahang.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn81" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8226938115052725370#_ftn81" name="_ftnref81"&gt;[81]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah diadakan perundingan antara Sultan Pahang dan orang-orang Portugis di Malaka maka orang-orang Pahang berkhianat tidak menepati janjinya kepada Laksamana Aceh. Laksamana diserahkan kepada musuh utamanya, Portugis. Orang-orang Portugis yang berada di Malaka begitu gembira dan menawan Laksamana Aceh yang sangat terkenal karena penaklukan-penaklukan yang pernah dilakukannya. Mereka berniat membawa Laksamana itu ke Lisabon untuk dipertontonkan kepada umum di sana tetapi dalam perjalanan menuju
